
Reader tercinta
Author coba perbaiki dan kurangi typo.
Mohon koreksinya di kolom komentar.
Terimakasih.
...🙏🙏🙏...
Selamat membaca
...........
Aku selalu memperhatikan tingkah aneh Jafar tersebut, bukan mengistimewakan dari lainnya. Akan tetapi karena Jafar seperti menyimpan sebuah misteri yang harus aku pecahkan.
Dan yang membuat aku kaget lagi ketika aku memegang tangan Jafar yang keras berotot, lebih keras dan lebih berotot dari tangan Sidiq. Padahal justru Sidiq lah yang kadang memintaku mengajarinya pencak silat. Sementara Jafar diajarin pun tidak pernah mau sama sekali.
“Buat apa.” Selalu begitu jawabnya ketika aku mengajaknya ikut latihan bersama Sidiq. Malah Nisa anak gadisku yang kadang ikut latihan pencak Silat….???
Setahu aku Jafar itu anaknya pendiam, jarang berolah raga apa lagi olah kanuragan gak pernah kulihat sama sekali. Tapi kenapa tangan Jafar seperti ini ? urat uratnya terbentuk bagus dan sangat kelihatan menonjol pada otot otot lengannya.
Bahkan di pinggang kanan kirinya seperti menunjukkan sering melakukan gerakan gerakan menarik benda berat. Kalo gen gak mungkin juga terbentuk begitu. Otot ku dulu terbentuk begitu karena secara tak sengaja tiap pagi dan sore harus menimba air memenuhi tempat mandi dan tempat wudhu.
Jafar anakku yang menyimpan misteri yang belum berhasil aku pecahkan. Dan saat hendak berangkat sekolah aku sengaja menahan Jafar lebih dulu.
“Jafar, kamu selalu tidur larut hingga susah dibangunin subuh. sebenarnya kamu kalo malam ngapain saja ?” tanyaku ke Jafar.
“Gak papa kok yah, Cuma baca baca buku saja.” Jawab Jafar seperti menyembunyikan sesuatu.
“Cuma baca buku saja ?” tanyaku.
Jafar memandangku sebentar seakan menyelidiki apa maksutku, kemudian Jafar memasukan buku bukunya kedalam tas sekolahnya.
“Jafar suka mimpi aneh yah !” kata Jafar kepadaku.
“Mimpi apa Jafar ?” tanyaku pada Jafar.
“Nanti pulang sekolah saja Jafar mau cerita sama Ayah.” Jawab Jafar.
Aku heran dengan jawaban Jafar tersebut, namun waktu yang sudah cukup siang membuat Jafar dan Sidiq harus segera ku antar ke sekolah. Setelah bersalaman pada ibu dan Nisa adiknya.
Sepulang mengantar kedua anakku ke sekolah aku kembali menyeruput kopi pagi ku sebelum membantu Amir dan lainya mempersiapkan bibit tanaman yang akan segera dikirim dan di tanam nanti. Aku sengaja berangkat agak siang saja, karena harus mengikuti acara Kenduri ( Sedekah ) dan doa bersama di sana.
“Mas belum berangkat ?” Tanya Fatimah.
“Belum, nanti agak siangan saja soalnya nanti aku diminta mengikuti kenduri di sana sekalian mengikuti doa bersama.” Jawabku.
Mau berangkat jam berapa nanti ?” Tanya lanjut Fatimah.
“Mungkin habis dhuhur saja, biar Amir dan lainya duluan, sudah aku kasih alamat dan biar mereka mulai menanam nanti.” Jawabku.
“Kalo begitu Nisa sama mas dulu saja ya, kalo ikut ke sana suka ribet gangguin mbak surti soalnya.” Kata Fatimah.
“Namanya juga anak anak ya biasa lah Fat.” Jawabku. Entah kenapa aku kalo diminta mengajak Nisa juga kadang merasa agak ragu. Karena keusilan dan jahilnya Nisa kadang membuatku juga seringkali harus memutar otak menjawabnya.
“Yang ini beda mas, mbak surti selalu pusing kalo Nisa Tanya macem macem pada mbak Surti.” Jawab Fatimah.
“Ya gak usah dijawab pertanyaan anak anak ini.” kataku enteng.
“Iiih mas ini kayak gak ngerti Nisa aja kalo nanya harus di jawab sampai detail baru dia diem.” Jawab Fatimah dongkol.
“Iyaaah aah gitu saja ngajak ribut pagi pagi juga…!” gerutuku pada Fatimah.
“Awas kalo nanti belum belum udah dianterin ke kios ya, pokoknya sebelum berangkat gak boleh dianterin ke kios.” Ucap Fatimah padaku.
Memangnya seperti apa sih Nisa kok Fatimah sampai segitunya ?, pikirku.
Kemudian Fatimah segera berangkat ke Ruko dan bilang ke Nisa kalo disuruh di rumah dulu denganku.
“Berarti nanti bunda pulang bawa oleh oleh buat Nisa ya ?” kata Nisa pada bundanya.
Ini anak, oleh oleh mulu yang dipikirin batinku.
“Iya kalo nanti bunda pulang cepat sayang, kalo pulang sore nanti Nisa nyusul ke sana sama Ayah ya !” jawab Fatimah.
“Iya Bunda, tapi Nisa minta di beliin kebab lagi nanti Sore ya ?” pinta Nisa.
Haddewh ini anak makanan mulu yang diminta, udah gitu ajan nya ya ampun sehari bisa berkali kali ke warung sekedar minta jajanan. Eeh apa lagi kalo dipasar ya ? tentu ini salah satu alasan Fatimah memilih gak ajak Nisa, batinku. Nanti biar kuhibur ajak jalan jalan saja dia, biar gak banyak jajan pikirku.
Fatimah pun segera berangkat ke Kios, setelah mencium pipi Nisa dan mencium tanganku.
“Hati hati Bundaaaa….!” Teriak Nisa panjang melihat bundanya mulai menjalankan motornya.
“Gak usah teriak teriak Nisa, Bunda pakai helm gak denger.” Kataku pada Nisa.
“Tumben ayah gak kerja ?’ Tanya Nisa padaku.
“Kerja tapi nanti sayang, ayah masih mau menyiapkan bibit tanaman yang mau du jual dulu.” Jawabku.
“Terus Nisa di tinggalin sendirian yah, kan ayah tadi suruh jagain Nisa kok Nisa mau ditinggal ?” Tanya Nisa mulai membuatku jengkel.
__ADS_1
“Kan ayah sambil kerja sayang…!” jawabku ke Nisa.
“Ayah jahat,,, lebih sayang tanaman dari pada Nisa…!” gerutu Nisa.
Hadeewwh kenapa anak ini bisa ngomong begitu sih, lah aku harus gimana ini, batinku.
“Bukan begitu Nisa, ayah kerja kan buat Nisa juga ?” kataku pada Nisa.
“Tapi Nisa gak mau ditinggalin sendiri yah, Nisa maunya ditemenin ayah bermain.” Kata Nisa.
Pantas saja Fatimah suka ngeluh kalo Nisa diajak ke Kios, ya permintaan nya begini. Aku jadi pusing padahal harus memilihkan bibit tanaman yang akan aku kirimkan nanti.
“Yaudah Ayah bilang mas Amir dulu ya, biar di siapkan mas Amir.nanti Ayah tinggal kirim saja !” kataku pada NIsa.
“Nisa ikut dong Yah !?!” rajuk Nisa padaku.
Bener bener ini anak bikin pusing orang tuanya, mau ke kebun belakang saja ikut.
“Yaudah ayuk jalan.” Kataku sedikit jengkel.
“Gak mau, Nisa minta Gendong ayah…!” jawab Nisa.
Yaa Allah, berikan kesabaran hamba Mu ini menghadapi anak satu ini, kataku dalam hati.
“Udah gede masih minta gendong sih, Nisa ?” kataku kesal.
“Kan ayah kemarin bilang Nisa masih kecil waktu NIsa minta di beliin sepeda, ayah bohong ya ?” jawab Nisa.
Aku jadi merasa bodoh dihadapan anakku sendiri, kenapa dengan bocah kecil ini aku sering kali dibuat tidak berkutik kalo bicara, batinku.
“Yaudah ayuk Ayah gendong.” Kataku sambil menggendong Nisa dari pada gak selesai selesai ngomongnya. Ada aja kelakuan dan omongan anak ini kayak gak habis bahan pembicaraannya. Mana yang menanyakan tentang buah lah, pohonnya lah, bagaimana buah itu bisa keluar lah. Sampai kenapa rasanya manis, kasih gulanya bagaimana. Sampai Amir bahkan hery juga kebingungan menjawab pertanyaan Nisa saat ikut ke kebun penanaman bibit buah buahan.
Pantas saja mbak surti bilang pusing kalo ditanya Nisa, sedangkan aku bahkan Hery yang terpelajar pun ikut pusing karena pertanyaan Nisa.
Kalo hak malu sama Fatimah udah ku anterin ke ibunya ini anak, rupanya itu yang membuat Fatimah tadi bilang gak boleh dianterin ke Kios kalo belum mau berangkat kerja. Rupanya dia sengaja ngerjain aku bagaimana rewelnya Nisa kalo lagi diasuh.
Sial aku dikerjain istriku rupanya, batinku. Tapi gak papa lah jarang jarang juga akau bersama Nisa di rumah saat jam segini. Meski juga pusing ternyata mengasuh Nisa yang gak bisa diem.
Hingga waktu dhuhur tiba,aku sangat lega kemudian melaksanakan sholat dhuhur dan segera mengantar Nisa menyusul bunda nya ke Kios.
Sesampai di Kios Fatimah malah senyum senyum.
“Halo sayang, tadi ngapain saja sama ayah di rumah ?” Tanya Fatimah ke Nisa. Bukanya menyapa aku tapu malah langsung ke Nisa duluan.
“Gak ngapa ngapain, sama ayah bosen gak asik bunda. Mau nanya nanya saja gak boleh.” Jawab Nisa cuek ngatain ayahnya bosenin.
Fatimah hanya tertawa diikuti mbak Surti yang tertawa tertahan karena sungkan denganku.
Bukan menjawab malah tawa Fatimah dan mbak surti semakin keras. Hingga jadi pusat perhatian orang orang sekitar yang sudah pada bersiap pulang karena pasar sudah sepi.
“Lah kalian gak pulang kenapa, kan udah pada tutup yang lainnya ?” tanyaku.
“Sengaja nungguin kamu mas, dari pada kita selisih jalan nanti.” Jawab Fatimah.
“Owh aku tahu, pasti kamu sengaja mengulur ulur waktu ya ?’ kataku pada Fatimah.
Kembali disambut tawa oleh Fatimah dan mbak Surti, wah kayaknya beneran mereka ngerjain aku ini,kataku dalam hati.
Aku pun segera pamitan berangkat dan bilang jika pulangnya nanti sampai malam.
“Nanti Sidiq dan Jafar di jemput ya, kasihan kalo jalan kaki pulangnya.” Kataku sebelum pergi meninggalkan kios. Pasti Amir dan lainya sudah mulai menanam bibit buah nih, pikirku, aku pun segera melajukan motorku dengan kecepatan sedang. Amir sudah berangkat menggunakan pick up membawa bibit anggur dan apukat pesanan rumah makan bernuansa alam tersebut.
Jarak yang ku tempuh lumayan jauh, sehingga aku berniat mencari tempat istirahat sejenak sambil ngopi dan makan. Karena tadi gak sempat makan siang akibat harus melayani Nisa bermain dan bertanya tentang apa saja yang dia ingin ketahui. “lah aku lupa bilang kalo Nisa juga belum makan siang, biarin saja lah nanti aku kasih kabar ke Fatimah saja sambil makan siang di warung.” Kataku dalam hati.
Sambil mengenang masa lalu cari makanan di angkringan saja lah, batinku. Sambil memperlambat motor aku mencari barangkali ada angkringan yang buka siang hari, di wilayah jalan wates. Akhirnya aku menemukan sebuah angkringan antara wilayah sedayu dan gamping, kalo gak salah ini masih masuk wilayah Sleman yang utara jalan sedangkan yang selatan jalan masuk wilayah bantul. Aah jadi ingat Sena dan Nurul kalo ingat wilayah Bantul, sudah cukup lama kami gak bertemu.
Aku menepikan motorku dan memesan menu makan dan minum di warung angkringan itu. ya ampun yang jualan cewek cakep lagi, pantesan banyak pengunjungnya.
“Kopi hitam tanpa gula mbak, sama minta di bakarin kepala ayam ya !” pintaku.
“Gak pakai gula kan pahit mas ?” jawab penjual itu agak genit.
“Iya mbak, saya gak suka manis manis.” Jawabku.
“Lihat penjualnya juga udah manis ya mas ?” celetuk seorang pembeli.
“Aah saya gak berani mas, saya udah tua gak berani macam macam. Bisa di damprat orang rumah nanti.” Gurauku mengimbangi candaan itu.
“Wkakaka…. Suami takut istri ya mas ini ?” ledek pembeli satunya.
“Gak juga sih mas, hanya gak mau aneh aneh saja kok. Malu sama anak, apa lagi aku juga punya anak cewek.” Jawabku.
“Biasanya laki laki itu kalo keluar rumah kan ngakunya bujangan mas.” Sahut pembeli lainnya.
Aku hanya tersenyum mendengar celotehan mereka, hal yang biasa di warung angkringan meski belum kenal sudah berani bercanda ke arah yang agak sensitive. Kalo gak faham memang bisa jadi ribut antar pembeli, makanya aku hanya senyum senyum saja di ledek seperti itu.
“Kok diam saja mas, kita Cuma bercanda saja kok jangan diambil hati.” Ucap salah seorang pembeli yang masih muda banget mungkin juga masih remaja.
“Gak kok saya gak papa, biasalah namanya di warung biar akrab kan saling bercanda.” Jawabku agar suasana tidak kaku.
“Owh kirain diem karena marah mas atau nyesel berhenti disini karena kami suka bercanda ?” Tanya seseorang yang lain yang mungkin sebaya denganku.
__ADS_1
“Nyesel juga sih, tadi terlanjur mengaku punya Istri. Kalo tahu yang jualan cantik tadi mending ngaku bujangan aja ya !” candaku ikut membuat lelucon saja.
“Wkakaka…. Dasar lelaki sama saja dimana mana.” Sahut lainya.
“Lah mas nya ini kelihatan nya kalem ternyata…..!?!” kata penjual itu gak dilanjutin.
“Ternyata apa mbak ?” tanyaku menggoda.
“Ternyata sama saja sama mereka sukanya godain cewek.” Kata penjual angkringan itu.
‘Aah kalo saya gak kok mbak, sadar sudah tua ya Cuma seneng saja kan lihat yang cantik karena itu manusiawi. Gak ada keinginan ingin menjadikan pacar atau apa, kecuali…..!?” kataku ku jeda biar penjual itu penasaran.
“Kecuali apa mas ?” Tanya penjual itu.
“Ya kecuali kalo mbak nya mau jadi istri ke duaku…!” jawabku santai. Disambut tawa yang lainnya, bahkan ada yang sampai mengeluarkan kata kata umpatan menyebut binatang berkaki empat.
“uaasss**** kirain orang lurus lurus saja ternyata juga sama dengan kita,wkakakaka….!” Komentarnya sambil ngakak.
Begitulah suasana keakraban di sebuah warung angkringan, bahkan kata kata umpatan semacam itu biasa digunakan. Namun bukan untuk menghina melainkan justru menunjukkan sebuah keakraban. Karena mereka juga berani bilang begitu jika yang diajak bicara itu sudah dikenal atau sudah tahu kebiasaan mereka yang begitu.
“Lah jangan tertipu penampilan mas, meski saya kalem tapi kalo di hadapkan mbak nya yang cantik seperti itu juga bisa lebih ganas dari kalian.” Gurauku pada mereka.
Sehingga suasana obrolan pun menjadi semakin hidup, dan tak segan segan lagi ketika mereka merasa perlu menggunakan kata kata yang dianggap ‘Kasar’. Seperti A*u, dan*uk ba****an dan sebagainya. Aku gak kaget dengan hal seperti itu, karena pernah juga hidup dengan komunitas seperti itu.
Aku juga menikmati suasana keakraban disitu, dan setelah selesai aku menghitung jajananku dan menyerahkan uang lima puluh ribu rupiah.
“Kemabli nya buat temen temen saja mbak, kalo kurang ya mereka suruh nambahin jangan boleh hutang.” Kataku sambil melangkah pergi.
Merekapun tampak senang dengan suasana keakraban yang terjadi meski tidak saling kenal satu sama lain juga tidak saling kenalan.
Akhirnya aku segera melajukan kendaraanku menuju ke tempat lokasi penanaman bibit buah yang dilakukan oleh Amir dan kawan kawan.
Sesampai di sana, sudah hampir Asar aku lihat proses penanaman pohon buah sudah lumayan banyak. Aku bangga dengan hasil karya Amir dan kawan kawannya.
Kemudian aku menemui pemilik tempat tersebut, dan membahas acara kenduri untuk nanti sore.
“Apa sih maksut kenduri itu pak ?” Tanya pak Zulkifly padaku.
“Sebenarnya itu hanya sebuah istilah pak, kata sebenarnya dari bahasa Arab sebenarnya.” Jawabku pada pak Zulkifly.
“Dari bahasa Arab ? maksut kamu gimana ?” Tanya pak Zul.
“Kenduri itu dari kata ‘Kun Daron Khoiron’ pak karena lidah jawa berubah jadi Kenduren kemudian jadi istlah nasional kenduri.” Jelasku pada pak Zul. Kemudian aku jelaskan pula maksut dari semua ubo rampe yang di pertanyakan pak Zul. Sehingga beliau tidak lagi berprasangka bahwa itu adalah hal yang bertentangan dengan Syariat Islam.
“Kalo seperti itu gak papa, sayangnya banyak orang yang gak ngerti dan gak ada yang menjelaskan. Jadinya suka timbul salah faham.” Komentar pak Zul.
Obrolan kami hentikan untuk melihat hasil penanaman hari itu, sudah hampir semua tanaman bibit tertanam. Tinggal separuh lagi yang masih di rumah belum terangkut. Kemudian setelah selesai Amir dan kawan kawannya aku minta untuk tidak pulang dulu. Memenuhi undangan pak Zul untuk doa bersama memohon keselamatan dan keberkahan usaha yang akan di jalankan.
Amir dan kawan kawannya ikut mengepung ( istilah untuk menghadiri kenduri ) kenduri tersebut. sementara pak Zul mengajak aku untuk memeriksa tempat yang dianggap cukup angker itu.
“Pak Yasin, pernah di pesantren tentunya bisa mendeteksi apakah di tempat ini memang ada makhluk gaib yang suka mengganggu atau tidak. Jadi saya minta tolong pak Yasin untuk melihat tempat ini.” kata pak Zul.
Akupun terpaksa memeriksa tempat itu, dan membuka mata batinku atau kalo istilah dalam pesantren yang aku ikuti adalah Lathoif Nafsi. Seperti sebelumnya kemarin aku memang melihat beberapa makhluk Astral yang berada di tempat itu.
Dan yang membuat akau terkejut saat berinteraksi dengan mereka, mereka mengatakan jika mereka adalah pengikut dalang Anyi Anyi yang beberapa waktu lalu sudah aku penjarakan / aku larung.
Dan ketika pimpinan mereka yang ada disitu aku desak, akhirnya mereka mengaku bahwa Raja Khodam Jin itu memang masih terkurung. Namun akan lepas suatu saat apa bila kemaksiatan sudah semakin terbuka dan orang tak lagi peduli dengan kemaksiatan yang terjadi. Karena sudah dianggap sebagai hal yang lumrah.
Saat itu, selama orang itu todak merugikan orang lainya maka berbuat mesum di tempat umum pun tidak akan di gubris. Apa lagi hanya bertransaksi ****, itu sudah dianggap sebuah kewajaran. Bahkan menurut mereka ( para Makhluk Astral itu ) sepasang suami istri sudah terbiasa bermaksiat bareng dengan terang terangan bahkan saling mengetahui dan saling bekerja sama dalam melakukan dalam kesepakatan. ( Budaya Swinger / bertukar pasangan suami istri semalam dengan kesepakatan antara pihak kedua suami istri tersebut.) saat itulah dalang Anyi anyi akan terlepas dari kurungan nya.
Aku jadi merinding mendengarnya, bukan karena akan bebasnya dalang Anyi anyi, akan tetapi karena suatu saat kemaksiatan akan di anggap hal yang biasa saja.
“Kalian sebaiknya menyingkir dari tempat ini, karena tempat ini akan digunakan oleh bangsa manusia yang memang berhak untuk mengelola tempat ini.” kataku pada pimpinan mereka.
“Aku dan rakyatku mau pergi asal kami di beri mahar perawan ontang anting ( anak perawan tinggal tak punya saudara) yang lahir di hari Anggoro Kasih.” Jawab pimpinan jin disitu.
“Aku tidak akan memenuhi permintaan apa pun dari kalian, karena aku tahu jika sekali aku turuti maka kalian akan terus dan terus meminta hal tersebut.” jawabku.
“Kalo begitu kami juga tidak mau pergi dan akan terus mengganggu mereka setiap ada kesempatan.
jawabnya.
“Kalo begitu jangan salahkan jika kalian semua akan tersiksa disini.”jawabku.
Sejurus kemudian pemimpin Jin tempat itu memanggil para anak buahnya untuk menyerang aku secara batiniyah. Dengan berusaha memasukan benda benda tertentu ke dalam tubuhku, aku sempat kaget juga ketika tiba tiba dari pusar ku terasa ada sesuatu yang bergerak. Yang ternyata adlah sebuah kelabang, yang hendak masuk kedalam perutku…..???
...Bersambung...
Jangan lupa mohon dukungan
Like
Komentar
Vote
dan lainya, episode awal belum masuk ke konflik.
...🙏🙏🙏...
__ADS_1