Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Jafar mengaku Sidiq membalas Jaka


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


🙏🙏🙏


Selamat mengikuti alur ceritanya


...........


Semua pun terdiam tampaknya keteranganku sedikit membuat mereka agak tenang. Paling tidak mendengar aku juga tidak akan tinggal diam dan akan membantu mas Sidiq. Sehingga mereka tidak begitu khawatir lagi…!!!


“Tapi tadi ada beberapa orang yang mencari Sidiq di sekolahan sampai pada ketakutan dan dipulangkan lebih awal satu persatu dengan diawasi orang yang mencari Sidiq.” Kata mbak  Dina.


“Soal itu biar Jafar yang menyelesaikan mbak. Agar nanti tidak ada yang berani mengganggu di sekolah lagi.” jawabku.


“Caranya bagaimana Jafar, jangan malah membuat kamu sendiri celaka nanti.” Mbak Riska menasehati aku.


“Iya mbak, Jafar hanya akan membuat perjanjian saja agar mereka tidak mencari mas Sidiq di sekolah.” Kataku.


“Perjanjian semacam apa ?” sahut mbak Lita.


“Mau gak mau suatu saat pasti akan terjadi pertempuran mbak. Jadi Jafar akan tentukan waktu dan tempat, dengan syarat mereka tidak mendatangi ke sekolah.” Jelasku.


“kenapa harus bikin perjanjian seperti itu Jafar ?” tanya mbak Dina.


“Karena mereka semua, termasuk yang namanya Jalu itu sebenarnya menaruh dendam pada ayah kami. Dan suatu saat mereka akan tahu jika orang yang mereka cari adalah ayah kami dan itu pasti terjadi juga.” Jawabku ke mereka.


Mereka terdiam beberapa waktu, entah apa yang mereka pikirkan saat itu. hanya wajah cemas yang dapat jafar lihat dari mereka.


“Aku takut Jafar, aku takut dan khawatir dengan mas Sidiq. Karena dia kadang kurang perhitungan, tidak melihat kekuatan lawan.” Ucap mbak Riska dengan berkaca kaca.


“Mbak Riska dan semuanya saja tidak usah terlalu khawatir, bagaimanapun kebatilan tidak akan menang melawan kebenaran. Dulu ayah kami juga melawan banyak orang jahat, bahkan orang yang menjadi guru besar mereka semua. Tapi berkat kesabaran dan keteguhan hati ayah kami berhasil menumpas mereka semua.” Jawabku.


“Tapi kami tetap saja khawatir Jafar.” Sahut mbak Lita.


“Kalau begitu bantu kami dengan doa mbak. Karena kekuatan doa itu tidak terduga, bisa membuat yang tidak mungkin pun menjadi terjadi.” Jawabku.


Akhirnya setelah cukup lama kami berbicara teman teman mas Sidiq itu pun bisa mengerti. Dan aku segera minta diri untuk pulang. Meski aku sebenarnya hendak mendatangi padepokan itu lagi untuk mengadakan perjanjian. Aku akan tentukan waktu dan tempat untuk menyelesaikan masalah ini. sebelum mereka bersatu dengan yang lain untuk menyerang ayahku.


Jika suatu saat mereka tahu aku dan mas Sidiq adalah anak dari orang yang mereka cari aku berharap sudah lebih siap lagi untuk berhadapan dengan mereka. Entah apa yang akan diberikan oleh eyang Sidiq Ali dan eyang Jafar ataupun yuyut nanti. Yang jelas aku yakin akan mendapat tambahan pengetahuan dari beliau semua.


Aku pun segera kembali menuju ke padepokan Ki Marto Sentono. Namun kali ini aku harus lebih waspada akan munculnya tokoh baru di kalangan mereka. Hanya sebagai antisipasi jika nanti ada orang selain Jaka yang dianggap mumpuni.


Ketika aku sampai di padepokan itu kondisi masih berantakan seperti tadi. Dan kedatanganku diketahui oleh beberapa orang anggota padepokan tersebut yang tadi pagi sempat melihat pertarunganku dengan Jaka.


“Tunggu jangan kabur, aku hanya mau bicara baik baik…!” ucapku pada salah seorang anggota padepokan yang hendak kabur.


Orang itu pun menghentikan langkahnya, kemudian aku dekati.


“Siapa tadi yang berani mengganggu datang ke sekolahku “ tanyaku pelan.


Orang itu hanya diam seperti ketakutan, bahkan kulihat badannya sampai gemetaran.


“Kami hanya disuruh oleh guru kami ki Marto Sentono lewat kakak seperguruan kami.” Jawabnya.


“Siapa nama kakak seperguruan kamu itu dan dimana dia sekarang aku mau bicara kepadanya.” Kataku.


“Namanya kakang Bayu Aji, sebentar lagi pasti keluar.” Jawab orang itu.


“Baiklah aku akan tunggu, tapi sebelum dia datang kamu tidak boleh pergi dari sini.” Ancamku.


“Iya saya akan tetap di sini.” Jawabnya.


Aku menunggu beberapa menit kemudian tampak ada sekitar empat orang datang menghampiriku.


“Hmmm… inikah yang bernama Sidiq Sekartadji ? tidak kusangka masih begitu belia tapi sudah berani melukai kakang Jaka.” Katanya.


“Tidak salah lagi, aku adalah Sidiq Sekartadji. Apa kamu yang bernama Bayu Aji ?” tanyaku.


“Tidak ada dua yang namanya Bayu Aji disini hanya aku seorang.” Jawabnya.


“Aku harap kamu bisa bersikap jantan, jangan hanya menakut nakuti orang yang tidak bersalah di sekolah. Jika ada sesuatu langsung bicarakan saja denganku sekarang.” Kataku.


“Masih juga tidak merasa bersalah ? Bukankah kamu yang telah merusak Padepokan ini.” tanya Bayu Aji.


“Memang aku akui, tapi bukan tanpa sebab. Aku lakukan itu karena melanjutkan pertarunganku kemarin dengan Jaka yang terhenti karena sudah sore.” Jawabku.


“Berani sekali kamu berkata seperti itu, aku yaki kang Jaka lengah karena kemarin matanya  cedera karena kamu taburi pasir.” Jawabnya.


“Kemarin juga aku sedang terkilir jadi sudah seimbang. Dan tadi adalah pertarungan yang jujur.” Jawabku.


“Terus apa tujuan kamu kesini sekarang ?” tanya Bayu Aji.


“Jika ingin melanjutkan pertempuran tunggu saja setelah seminggu dari sekarang aku akan datang lagi kesini. Sebelum itu jangan sekali kali mendatangi aku di sekolah, akan beda akibatnya nanti.” Kataku.


“Boleh saja, aku tidak akan datang ke sekolah kamu lagi. Tapi aku mau lihat dulu permainan jurusmu beberapa saat. Apakah kamu layak kami tunggu untuk pertempuran yang sesungguhnya.” Kata Bayu Aji.


“Maksut kamu apa ?” tanyaku.


“Aku ingin mencoba kemampuan kamu sebentar saja, jika kamu mampu bertahan lebih dari sepuluh jurus baru perjanjian tadi aku setujui. Tapi jika kamu kalah sebelum sepuluh Jurus buat apa nunggu besok kalau sekarang saja kamu bisa aku lumpuhkan.” Kata Bayu Aji


“Baik aku akan layani kamu sesuai permintaan kamu.” Jawabku. Sebenarnya aku juga sudah siap dari tadi, karena tidak mau kecolongan seperti saat melawan Bagas pertama kali yang langsung menyerang saat sedang bicara.


“Kemudian kami dikelilingi oleh teman teman Bayu Aji yang mengitari kami dan memberikan dukungan ke Bayu Aji.


Aku sudah siap lahir batin dengan segala kemungkinan yang ada. Dan segera kami saling berhadapan untuk saling menguji kekuatan masing masing.


“Berhati hatilah anak Muda…!” Ucap Bayu Aji yang langsung menyerangku dengan cepat. Secara gerakan Bayu lebih menguasai gerakan daripada Jaka, namun tenaganya tidak sebesar Jaka. Aku mengimbangi gerakan Bayu yang melompat kesana  kemari menghindari serangan ku sambil sekali kali juga melayangkan serangannya padaku.


Beberapa kali juga kami harus saling beradu pukulan ataupun saling menerima pukulan lawan. Untung saja pukulan Jaka tidak terlalu bertenaga sehingga tidak berefek padaku. Sehingga aku merasa tidak perlu mengembangkan jurus untuk menghadapinya.

__ADS_1


Dan pada beberapa jurus kemudian aku merasakan gerakan Bayu agak menurun. Ternyata stamina Bayu tidak mendukung tidak sesuai dengan gerakan dia yang cepat. Sehingga aku jadi tahu jika Bayu ini peredaran darahnya kurang bagus, banyak pembuluh darah yang kurang lancar yang membuat dia cepat lelah. Pantas saja mengukur hanya dengan sepulu jurus, ternyata karena dia sadar Staminanya tidak maksima setelah sepuluh jurus.


Dengan dua jari tangan kananku saja aku sudah bisa menghentikan Bayu dengan menotok urat besar di lehernya. Bayu tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Sehingga kembali anggota padepokan itu ketakutan.


“Ini sudah lebih dari lima belas jurus, aku rasa sudah cukup. Dan kamu juga sudah tidak bisa bergerak, tapi tenang saja. Sidiq adalah orang yang sportif, kamu tidak akan aku lukai. Tapi jika melanggar Janji, aku akan kejar kamu meski ke lobang semut sekalipun.” Ucapku pada Bayi Aji.


“Baik, kali ini aku mengaku kalah tapi lain kali jangan harap kamu bisa kalahkan aku nanti.” Kata Bayu Aji.


“Aku tunggu kesempatan berikutnya, tapi ingat jangan pernah ganggu teman teman sekolahku. Karena seorang Sidiq tidak akan segan untuk menghajar kamu sampai seperti  Jaka tadi.” Ancamku pada Bayu Aji.


Akupun kemudian meninggalkan tempat itu dan kali ini tujuanku adalah menemui mas Sidiq sekalian melihat perkembangan kaki mas Sidiq.


…..


…..


…..


Sesampai di kamar Mas Sidiq aku melihat mas Sidiq sudah belajar Jalan dengan bantuan tongkat penyangga. Sesekali telapak kakinya juga ditempelkan ke lantai sampai sekedar menapak rata. Kemudian diangkat lagi, sekedar melancarkan peredaran darah di simpul saraf yang ada di ujung kakinya.


“Perbanyak Kalsium mas biar kalesnya cepat tumbuh menyambung tulangnya.” Kataku.


“Iya,,, eeh kamu sudah pulang mampir kemana saja tadi. Ketemu Riska atau tidak ?” mas Sidiq langsung mengajukan beberapa pertanyaan.


“Iya ketemu mbak Riska, mbak Lita dan mbak Dina ?” jawabku.


“Dina itu teman satu kelasku, ketemu dimana ?” tanya Mas Sidiq lagi.


“Di rumah mbak Riska.” Jawabku.


“Di rumah Riska ? Memang kamu kesana tadi ?” tanya mas Sidiq.


Kemudian aku menceritakan kronologis dari saat bertemu pagi harinya sampai dengan kedatanganku kembali di rumah mbak riska setelah dari tempat kerjanya mas Sidiq. Termasuk juga harus kembali ke padepokan bikin perjanjian dengan orang orang padepokan tempat Jaka. Namun aku tidak menceritakan jika mereka adalah musuh musuh Ayah yang sangat besar kemungkinan akan bergabung dengan Jalu. Agar mas Sidiq tidak makin emosi.


“Kenapa aku kemarin bisa dibuat seperti ini ya ?” Ucap mas Sidiq.


“yang sudah ya sudah mas, tapi kemarin mas Sidiq ibarat hujan bawa jas hujan tapi tidak dipakai jadi ya basah kuyup.” Jawabku.


“Maksutnya ?” tanya mas Sidiq.


“Mas Sidiq tidak menggunakan batiniahnya, hanya mengandalkan kekuatan fisik saja.” Jawabku.


Mas Sidiq terdiam seakan baru ingat jika kemarin memang hanya mengandalkan fisik saja.


“Iya benar, aku agak ceroboh kemarin Jafar sehingga kakiku sampai retak.” Ucap mas Sidiq.


“Coba istirahat dulu mas, Jafar periksa perkembanganya mudah mudahan tidak bergeser posisi tulangnya.” Kataku.


Kemudian aku mulai memegang titik titik tertentu untuk melihat  kondisi kaki mas Sidiq. Alhamdulillah tulangnya tidak bergeser. Kemudian aku memegang jari jari kaki mas Sidiq, sepertinya darh juga sudah cukup lancar mengalir.


“Terasa gak mas aku sentuh jari jari kaki mas Sidiq begini ?” tanyaku.


“Ya terasa lah, tapi masih agak kebas rasanya.” Jawab mas Sidiq.


“Syukurlah kalau semua akan baik baik saja.” Jawab Mas Sidiq.


“Ini luar biasa mas, biasanya tiga hari baru saraf bisa merespon rangsangan pada kulit jari kaki.” Kataku.


“Masak sih ? Apa ada hubungannya dengan mimpiku semalam ya ?” tanya mas Sidiq.


“Memang mas Sidiq mimpi apa semalam ?” tanyaku.


Kemudian mas Sidiq menceritakan jika semalam mimpi di datangi seseorang yang mengaku eyang Jafar Sanjaya dan memijit kakinya yang Sakit sambil berpesan agar lebih hati hati. Dan mengatakan jika eyang Jafar Sanjaya pun pernah mengalami sampai jari dekat kelingkingnya patah dan hilang. Sehingga setelah itu jari kaki kanannya hanya tinggal empat.


Aku jadi teringat dengan pesan eyang Mustolih waktu itu, yang mengatakan jika mas Sidiq akan dibimbing langsung oleh beliau eyang Jafar Sanjaya.


“Bersukurlah mas, kata Eyang dan abah guru itu memang eyang Jafar Sanjaya yang akan membantu mengobati mas Sidiq.” Jawabku.


“Eyang siapa yang kamu maksut ?” tanya mas Sidiq.


Kemudian aku menceritakan pertemuanku dengan eyang mustolih dari mulai saat Ziarah dan semalam setelah keluar dari Masjid. Aku juga menceritakan jika Eyang mustolih akan menemui mas Sidiq setelah menemui aku di makam saat Ziarah.


“Berarti aku gak hanya mimpi ketika diberi Tasbih ini ?” kata mas Sidiq sambil memberikan sebuah Tasbih kepadaku.


“Iya mas, itu bukan mimpi biasa eyang Mustolih yang member mas Sidiq Tasbih, Jafar sudah konsultasi dengan abah guru.” Sahutku.


“Iya benar, dan eyang Jafar semalam juga berpesan dalam mimpi jika sudah saatnya kita harus bekerja sama dalam meneruskan perjuangan ayah kita.” Kata mas Sidiq.


“Benar mas, Jafar juga sudah dikasih tahu. Makanya mulai sekarang kita harus sering saling berkunjung dan nanti setelah sembuh kita sama sama pulang mengunjungi Ayah bunda. Mohon doa restu beliau, karena kita sudah terpilih meneruskan perjuangan Ayah dahulu.” Kataku pada Mas Sidiq.


“Bagaimana dengan Nisa, apakah dia juga akan kita ajak menemui Ayah Bunda kita ?” tanya mas Sidiq.


“Bagaimana nanti saja mas, yang paling utama adalah kita berdua dulu.” Jawabku.


Setelah yakin perkembangan kaki mas Sidiq sangat baik aku pun mohon pamit untuk kembali ke pesantren. Juga berpamitan dengan abah gurunya mas Sidiq. Dan berjanji tiga hari kemudian akan datang lagi, sekaligus mengajak Nisa. Karena tentu saja Nisa pasti juga akan dengar. Kalau gak diajak bisa ngamuk ke Jafar nanti, karena Nisa sangat dekat dengan mas Sidiq.


*****


Author POV


Persiapan Jalu melakukan ritual khusus


Setelah Jalu menentukan titik titik tempuran yang akan digunakan untuk berendam. Jalu pun menyiapkan semua ‘Ubo Rampe’ yang dibutuhkan nanti. Dari mulai dupa/ kemenyan kembang setaman juga sepasang ayam jantan dan betina yang belum bertelur. Serta khusus ayam betinanya mencari ayam ‘Putih Mulus’ ( putih semua dari mulai bulu kaki sampai dengan paruhnya juga putih) yang biasa dipergunakan dalam ritual ritual khusus aliran tertentu.


“Beberapa hari lagi adalah malam Jumat Kliwon, waktunya aku memulai ritual di tujuh  tempuran sungai.” Kata Jalu dalam hati.


Jalu sangat bersemangat karena sangat ingin mendapatkan ‘Susuk Emas’ di makam ayahnya. Sebagai sarat penyempurnaan ilmu giling wesinya. Dan suatu saat Jalu akan bergabung dengan Jaka, sehingga akan terjadi pertemuan anak dari Maheso Suro dan Mentorogo yang akan berhadapan dengan dua anak Yasin Sidiq dan Jafar.


Jalu menyiapkan juga baju jamasan senopati ( Pakain serba putih untuk persiapan mandi besar sebelum maju dalam peperangan) yang akan dipakai selama proses ritual berendam di tujuh tempuran sungai.


“aku harus fokus dulu dengan ini, selama proses ritual Hpku harus off agar tidak terganggu dengan urusan lain.” Batin Jalu yang kemudian memberitahu beberapa orang yang dipercaya tentang rencananya.

__ADS_1


Setelah itu Jalu pun memasuki sebuah kamar khusus untuk bermeditasi dengan arahan dari Gede Paneluh. Untuk meminta segera dipertemukan dengan orang yang bernama Yasin.


*****


Perkembangan Nia di rumah Yasin.


Yasin POV


“Bagaimana kesan kamu setelah beberapa hari ini mengajar ngaji anak anak Isna ?” tanyaku pada Isna.


“Awalnya Isna suka jengkel bi, anak anak susah sekali untuk diajari Makhorijul Huruf  saja. Belum sampai masuk ke ilmu Tajwid tanda mad ( Panjang pendek bacaan ) washol ( terus ) waqof ( berhenti ) dan lainya. Isna hampir nyerah bi, Apa Isna yang tidak bisa ngajar ya bi ?” jawab Isna.


Aku hanya tersenyum saja, Isna memang harus banyak dilatih kesabaran dulu, pikirku.


“Sabar dong Isna, kan mereka memang baru belajar jangan nyerah gitu.” Sahut Fatimah.


“Tapi mereka sangat lambat umi beda dengan anak anak pesantren.” Jawab Isna.


“Apa yang buat Isna mau menyerah ?” tanyaku.


“Karena Isna merasa sia sia bi, kayak gak ada perkembangan saja mereka itu bi…!” jawab Isna mengeluarkan kekesalan hatinya.


“Pertama yang harus Isna pahami, bahwa kewajiban orang itu belajar tapi tidak wajib pintar. Yang kedua Isna mengajar itu memang tidak bisa membuat mereka menjadi pintar. Karena yang bisa memberi ilmu itu adalah Allah Swt bukan Isna.” Jawabku memberi pengertian kepada Isna atau Nia panggilan di rumahnya.


“Terus apa gunanya Isna ngajari mereka bi kalau mereka tidak bisa bertambah pintar ?” protes Isna.


“Kamu mengajar mereka itu sebuah kewajiban, dan kamu melaksanakan kewajiban harus dengan Ikhlas.” Pancing ku menunggu jawaban Isna selanjutnya. Karena orang seperti Isna memang butuh kesabaran untuk menjelaskan sedikit demi sedikit.


“Isna Ikhlas kok bi, Isna tidak mengharap apapun dari mereka.” Jawab Isna terpancing juga akhirnya.


“Yakin kamu ikhlas Isna ?” tanyaku kemudian.


“Iya bi Isna ikhlas kok.” Jawab Isna.


“Kalau Isna Ikhlas tidak berharap apapun dari mereka berarti Isna tidak boleh berharap mereka menjadi pintar. Tapi doakan saja agar mereka jadi bertambah Pintar, ikhlas itu bukan hanya tidak berharap Materi saja. Menuntut mereka harus paham harus pintar itu juga tidak ikhlas mengajar namanya.” Kataku ke Isna.


Isna agak kaget mendengar jawabanku, kemudian merenung sejenak. Aku pun masih menunggu respon Isna bagaimana.


“Astaghfirullah,,, berarti Isna selama ini salah ya bi ?” kata Isna.


Aku tersenyum lebih dulu sebelum menjawab, jika sudah seperti ini maka kalimat support yang harus diberikan bukan lagi kritik yang bisa membuat Isna malah menjadi minder.


“Bukan salah Isna, hanya belum bener saja.” Jawabku.


“lah bedanya apa bi ?” tanya Isna.


“Kalau masih berproses ( terus berjalan ) itu namanya belum benar. Tapi kalau Isna menyerah itu baru namanya salah Isna.” Jawabku.


“Kok bisa begitu bi ?” tanya Isna lagi.


“Karena orang yang benar itu pasti pernah mengalami salah. Seperti kita saja sholatnya gak bisa khusuk, itu bukan salah hanya belum benar kalau masih mau Sholat. Kalau lantas gak mau sholat itu baru salah.” Jawabku.


“Wah Abi hanya main kata kata saja biar Isna senang aja kan ?” kata Isna.


“Tidak Isna, memang seperti itu kenyataanya, orang yang tidak pernah salah dalam sholatnya itu hanya orang yang tidak pernah sholat. Orang yang tidak pernah salah dalam mengajar itu juga hanya orang yang tidak pernah mengajar. Bagaimana mau salah dalam mengajar, pernah juga tidak…!” kataku pada Isna.


“Owh iya ya bi, benar juga jadi intinya bagaimana bi ?” tanya Isna.


“Jangan takut salah selama kita berniat mau benar, asal jangan merasa dirinya yang paling benar.” Ucapku.


Isna mengangguk angguk mendengar penjelasanku tersebut. sepertinya Isna cukup paham dengan apa yang aku sampaikan.


“Ya sudah Isna siap siap sekarang, sebentar lagi anak anak yang mau ngaji pada datang.” Sahut Fatimah.


“Iya Umi, Abi Isna siap siap ngajar ngaji anak anak dulu nanti habis Isya lanjutin ngaji sama Abi dan Umi lagi ya.” Kata Isna yang mulai ada perubahan dalam bersikap.


“Insya Allah Isna…!” jawabku.


Kemudian Isna pun segera bersiap untuk mengajar ngaji anak anak kampung yang heterogen. Dan tak lama anak anak pun mulai pada datang, meskipun agak cemberut karena yang mengajari Isna yang katanya galak menurut sebagian anak.


“Coba kamu perhatikan cara mengajar Isna sudah ada perubahan belum. Aku mau keluar sebentar.” Kataku pada Fatimah.


Aku pun keluar rumah untuk mencari udara segar, sekaligus cari inspirasi agar Isna bisa berubah sikap dan lebih sabar. Tidak membandingkan anak anak pesantren yang memang sudah punya dasar dan niat mau ngaji dengan anak anak kampung yang sebagian hanya sekedar ikut ikutan.


Aku menyusuri jalan dusun keliling wilayah Desaku, tanpa sengaja mendengar pembicaraan orang akan adanya sebuah padepokan yang diserang oleh seorang anak. dan menjadi topic pembicaraan banyak orang.


“Apa lagi nih, kenapa berita kriminal dan kekerasan selalu muncul setiap saat. Gak ada capeknya pada ribut, enak juga hidup damai dengan keluarga dan masyarakat sekitar. Malah sukanya pada bikin perkara saja, apa sih yang diperebutkan.” batinku.


Aku jadi ingat ketika padepokan Sena dan Nurul adik sepupuku di serang dan menewaskan Zulfan. Sehingga aku harus berjibaku dengan seorang tokoh hitam yang sangat sakti. Tapi ini seorang anak yang menyerang padepokan. Siapa lagi anak itu, masih muda sudah bikin ulah macam macam, gerutuku dalam hati. Aku jadi berniat mencari informasi lebih lanjut,jika mungkin akan memberi pelajaran anak yang bikin kacau tersebut.  Kapan bisa keluar menjenguk anak anakku sekalian cari informasi hal tersebut, batinku…???


...Bersambung....


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2