
...Vote,like dan komentar ya...
...🌠...
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...🌠...
Rafendra dan sang istri,Anggita Veleri.
Keduanya terlihat duduk bersama menikmati suasana malam bertabur lampu taman depan mansion turun-temurun clan Wiguna itu.
Duduk hingga.
Sepasang suami istri itu menatap kala sebuah mobil hitam Mesereti perlahan memasuki gerbang utama dengan kecepatan yang sangat lambat!.
Tidak biasanya!.
"Itu Rayga bukan? kenapa dia membawa laju mobilnya begitu lambat?" Anggi mendongak menatap wajah Rafendra yang terlihat acuh.
Pria tua itu lebih memilih mengelus rambut istrinya dengan mata yang memandang hamparan bunga mawar merah dihadapanya dibanding menatap sosok kurang ajar cucu sulungnya itu.
Tidak berminat,tentu saja!
Anggi menggeleng lemah,kepala batu!.
Hendak bangkit sebelum sebuah telapak tangan menghentikannya.
"Mau kemana? biar saja anak itu yang kemari dan menyapa kita! duduk dan temani saja suamimu ini!" Rafendra menatap istrinya lembut dibalik ketegasan.
Anggi menghela nafas.
Mengangguk dan duduk kembali menunggu mesin mobil mewah itu berhenti .
Hingga..
"Eh..astaga itu kenapa calon cucu menantuku?!" Anggi tersentak kala melihat Rayga keluar dari mobil dan menggendong tubuh asline ala bridal.
Gadis yang telah terlelap,atau mungkin tak sadarkan diri.
"Rayga...asline kenapa?" Anggi bertanya dengan langkah cepat mendekat pada cucunya itu.
Tak perduli dengusan kesal suaminya yang kini terpaksa berdiri dan mendekat.
"Tidak apa nenek.. Ray masuk dulu mau membawa asline beristirahat" Ucapanya dengan suara berat yang terdengar jelas menahan amarah.
Rafendra memicing dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
Pria tua itu tau,ini tak sederhana.
"Bawa masuk calon istrimu, pernikahan kalian tidak lebih dari tiga hari lagi...jangan sampai asline drop,kakek harap..jaga calon istrimu,kakek tidak punya keturunan pecundang yang bahkan tak bisa menjaga pasangannya!" Rafendra berucap tegas,Rayga mengangguk samar dan berlalu pergi tanpa kata.
"Rafen..harusnya jangan terlalu keras berbicara pada cucu kita,siapapun itu! beri mereka nasihat dan tuntun jalan mereka agar bisa menapaki masa depan seperti kita dimasa lalu,kamu terlalu kejam dalam mendidik! bahkan dari Arkansas yang dulu hampir kehilangan satu tanganya,lalu triple R saat umur 7 tahun di hutan itu....tidak bisakah memberi sedikit kelembutan untuk mereka? meski mereka laki-laki..." Anggi menatap wajah tua suaminya sendu.
Rafendra menatap dalam wajah sang istri yang kini terlihat begitu tertekan.
"Dunia yang clan kita jalani tidak mengizinkan para penerus yang lemah, Veleri.Penculikan,pembunuhan bahkan penyiksaan hingga lebih baik mati! jika aku tidak mendidik mereka keras,apa yang bisa mereka lakukan saat dewasa dan harus menghadapi kejamnya dunia? kita adalah keluarga yang setara dengan royal family,banyak musuh yang mencari kelemahan kita... Laki-laki adalah baju zirah untuk keluarganya disamping mereka juga harus menjadi senjata tajam dalam waktu bersamaan! aku kejam...tapi dunia lebih kejam,kamu tau sendiri itu sayang? aku hanya ingin para keturunan kita menjadi kuat..kuat menghadapi kerasnya dunia!" Rafendra menatap tegas wajah Anggi,menuntun istrinya untuk memasuki mansion,Anggi mengangguk paham.
Pahami dengan jelas,dunia seperti apa yang sudah clan Wiguna ini masuki.
Mereka bukan keluarga biasa,mereka terlalu gelap untuk itu!.
.........🌠..........
Kamar menuansa dark blue itu terlihat begitu suram.
Rayga perlahan memasuki kamar pribadinya di mansion utama.
Membawa tubuh asline melewati lorong ruang kerjanya lalu ruang gym sebelum akhirnya sampai ke ranjang king size miliknya.
Membaringkan tubuh mengigil gadis itu diatas ranjang,melepas sweeternya hingga hanya tersisa sebuah crop top putih yang membalut tubuh ideal gadisnya.
Rayga mengepal kedua tangannya begitu murka,maniknya menatap tajam luka goresan belati di lengan cantik calon istrinya.
Melepas sepatu sport yang dikenakan asline dengan sabar dan mulai bangkit menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Kenapa harus sampai terluka dear? tidak bisakah hubungi aku jika ada masalah? apa gunanya aku jika kamu sampai terluka begini?" Rayga melirih,membasuh luka gores itu dengan sebuah handuk kecil yang telah dibasahi oleh air hangat.
Dengan sabar,tak pernah seorang Zeus sudi untuk merawat orang lain selain adik perempuannya.
Bahkan para saudaranya ia tak sudi meski mereka tertembak sekalipun.
Tapi asline...
Entahlah,dia sudah jatuh terlalu dalam!.
Jahitan kecil ia lakukan,membalut perban dan setelah semua beres dirinya mengusap wajah sembab Asline yang terlelap dengan handuk basah dan dengan menahan nafas,mengganti pakaian gadisnya dengan sebuah kemeja hitam miliknya yang meski terlihat begitu besar dari tubuh ramping gadisnya.
Tapi sebelum itu selesai dilakukan.
"Engghhhh..Ray..Rayga..kamu mau apa?" Rayga tersentak kala sebuah tangan halus menghentikan gerakan tangannya yang hendak melepaskan crop top gadisnya.
Keduanya saling bertatapan linglung.
"Hah..rasanya aku putus asa oleh pesonamu dear..." gumamnya menatap lembut garis wajah halus asline.
Menurunkan tangannya kala melihat wajah syock asline yang terlihat begitu lucu.
Drttttt...
Rayga menatap ponselnya yang bergetar di atas nakas.
"Dear..ganti bajumu dengan kemeja itu,aku akan mengangkat telpon ini dulu!" Asline mengangguk dengan pipi bersemu merah.
Apa tadi pria tampan itu berniat menggantikan pakaiannya?!
Asline seketika merasa seluruh wajahnya terbakar!.
Menatap lengannya yang kini terbalut perban dengan senyum haru.
Masih ada cahaya untuknya selain dari paman juga kakak angkatnya.
Wili dan Sagara.
Yah,dia masih punya sosok Zeus.
Sementara itu...
Menyerigai dingin dan menggeser icon hijau disana.
"Kau tak perlu turun brother...aku akan tangani wanita sialan itu! aku yang akan menghabisinya!"
Berjalan kearah balkon dengan ponsel yang bertengger ditelinganya.
"Jangan berlama-lama,besok semua sudah para ibu siapkan! bunuh saja malam ini...buat para wolf kenyang!" Mencengkram pagar pembatas balkon,menatap lurus kearah hutan buatan kakeknya.
Hutan tempat para hewan liar dilatih untuk patuh!.
"Yes...i Will kill the god damn bit*h!"
Rayga menutup sambungan,menatap sinar rembulan yang kembali mengisi posisi sang mentari.
"Mereka akan membersihkan ular itu untukmu dear..." Rayga bergumam,berbalik dan menatap asline yang kini juga menatapnya.
"Kenapa belum tidur dear..tidur dan istirahatlah,aku akan mandi dulu" Rayga mendekat dan mengusap wajah cantik itu dengan lembut.
"Aku tidak bisa tidur...aku tidak mengantuk" Asline menjawab lemah.
Rayga menggeleng geli,menaiki ranjang dan berbaring disisi gadisnya.
"Sini..berbaring dan peluk aku" Asline menatap wajah tampan itu dengan gugup.
Asline perlahan berbaring,tubuhnya langsung diraih dan dipeluk lembut dengan kepala yang bersandar di atas dada bidang berbalut kemaja yang rompinya telah lepas itu.
"Asline..kau tau cinta sejati selalu berjalan perlahan...ketika mereka diluar sana telah temukan satu-satunya makna cinta itu yang sebenarnya,maka kamu akan tau..perasaan ini akan menjadi segala obat untuk seburuk apapun masa lalu.Yah,ibuku pernah mengatakan itu" Rayga berucap samar,nadanya terdengar sendu.
Asline mendongak,dan senyum teduh lah yang dirinya lihat kala menatap wajah tampan yang selalu orang lain katakan bak gunung es yang tak tersentuh.
"Masa lalu memang tidak bisa dihapus...kematian memang tidak bisa dihindarkan.Namun..masa depan ada untuk mengganti rasa pahit itu jika kita mau percaya.Mengetahui seseorang mencintaimu,awal yang dilukis oleh rasa sakit yang berakhir sebagai sebuah memori" Rayga mengecup kening gadisnya dengan sayang.
Mengeratkan pelukan kala hujan mulai turun dengan deras.
"Kisah kita berbeda,tapi percayalah..semua diambil dari cerita sedih masa lalu dimana Tuhan ingin kita belajar merubah masa depan!Jangan takut akan hal yang lalu,jangan terpengaruh mereka lagi! berbagilah semua denganku,dan sekarang aku percaya apa yang ibuku dulu pernah katakan" Rayga tersenyum simpul,mengusap pipi lembut yang kini sosok itu berbaring dipeluknya.
"Apa..yang ibumu dulu katakan?" Asline berucap penuh tanya,wajahnya yang semula murung kini berubah sedikit demi sedikit.
Tersenyum gemas.
Rayga menaikan selimut menutupi tubuhnya dan calon istrinya.
"Sebuah rasa....saat ayahku dulu memeluk ibuku dalam pelukannya.Kini aku memelukmu dalam pelukanku,kamu berbaring disisiku.Tak ingin semua ini berlalu,sampai aku berfikir...ini terasa seperti mimpi,kini tak perlu kubertanya....aku kini tau..kamu juga mencintaiku,seperti cintaku padamu,tak perlu menunggu kata lagi" Rayga berucap dengan kekehan yang terdengar panas menyentuh hati asline.
"Terlalu percaya diri.....aku..cinta...tidak ya!" Gagap Asline akan tatapan membara sosok bak pahatan dewa Yunani itu.
Rayga kini tertawa,tawa lepas yang begitu luar biasa berdampak bagi semua orang yang menguping.
Yah,peredam suara telah dimatikan dengan jahil oleh Raino.
Kini empat orang pria yang tak berakhlak tengah menguping dengan wajah serius.
Raino,Maxim,Gion juga Shura.
Anak kecil itu ikut tertular gila oleh ketiga kakak laki-laki nya.
"WOAH...iblis Zeus itu belajar menggoda dari mana?" Raino memekik tertahan,wajah jahilnya benar-benar membuat kayra mendengus melihat kelakuan putra-putranya dari sofa santai.
__ADS_1
"Kurasa dia mencuri buku kiat menggoda gadis milikku!"Maxim berucap santai.
"Elehhh..kau memang punya? begitu rencana saja kau sudah disembur mami Jessy!"Gion mendengar jijik.
"Hm..kak Max terlalu menghayal tinggi!"Shura ikut tertular mulut sinis Gion.
Para ibu yang menggeleng miris melihat kelakuan putra mereka.
Disisi sepasang sejoli yang terlihat manis.
"Cinta? aku tidak perlu menunggu calon istriku ini mengumbar kata itu...kamu sudah memberi semua yang hatiku ini inginkan,rasa takutku kehilanganmu.Tapi waktu sudah memberiku semua jawaban atas semua keinginan ini,karena dear...cinta ini dari perlakuan dan tatapan mata saja... mencintaimu seperti nafas kehidupan untukku..Tidak perlu mengaku,tapi cukup tau..aku cinta kamu,seumur hidupku..jadi simpan masa lalumu,ada aku sebagai masa depanmu!" Asline mengangguk cepat,memeluk tubuh maskulin itu semakin erat.
Sudah cukup...
Dia mengakui,hatinya juga telah jatuh.
Cinta ini...
Terimakasih.
Rayga menunduk,merasakan deru nafas halus nan perlahan yang menerpa lehernya.
Gadisnya sudah terlelap.
Tersenyum dan mengecup bibir pink itu lembut ,bangkit perlahan menuruni ranjang .
Berbalik dan mulai memasuki kamar mandi sebelum ikut berbaring menyelami mimpi bersama sang pujaan hati kembali.
.......🌠........
Sebuah cafe...
Salah satu bisnis sampingan dari seorang tuan muda relasi Wiguna.
X'cafe and resto.
Yah..
Cafe milik Xain,bisnis yang dilakukan untuk bermain-main dikala waktu senggang.
Kini cafe itu telah disulap menjadi sebuah tempat dengan dokorasi penuh bunga lili juga lampu-lampu yang berpijar menghiasi seluruh sudutnya.Cafe dengan tema endorse.
"Mi..apa..apa semua sudah siap?" Sosok pria tampan dengan toksedo putih bertanya gugup pada sosok wanita paruh baya yang terlihat begitu cantik dengan gaun pesta selutut berwarna dark blue.
"Raider..jangan gugup sayang! mami yakin semua pasti berjalan lancar..tunjukan isi hatimu seperti bagaimana papi kamu dulu bertindak pada mami.Cinta butuh perjuangan ingat....?" Kayra,yah.Wanita paruh baya dengan dress dark blue itu tengah menyemangati sang putra.
"Benar son!! kalau kamu begitu gugup,lebih baik pulang sana lalu teruslah bermimpi menyusul kakak sulungmu Rayga!jadi pria jangan terlalu bawa hati! harus tegas,maju ya maju jangan lagi berfikir kemana-mana!" Rion berujar tegas,meski kata-katanya begitu menyakitkan hati.Namun raider sadar.
Keluarganya ,mereka sudah berusaha semaksimal mungkin membantu.
Lalu kini semakin terserah usaha terakhirnya.
Diterima atau tidak,itu semua ada ditangannya .
Mengangguk tegas,raider memeluk tubuh ayahnya penuh tekad.
"Thanks.. papi,your are my hero..."Gumam raider tulus.
Rion terkekeh menepuk punggung putranya keras.
"Hm..kau sopan begini jika ada maunya saja! hahah..ya..sudahlah pergi bersiap dan jadikan gantle!"Raider terkekeh,melepas pelukannya pada tubuh sang ayah.
"Mi.. terimakasih raider berisap dulu!" Raider berbalik meninggalkan kedua orang tuanya yang berdiri dengan senyum simpul.
"Putra kita satu persatu telah dewasa honey..tak terasa mungkin sebentar lagi kita akan menjadi seorang kakek dan nenek!" jenaka Rion dengan suara yang sedikit serak,kayra tau.Meski terlihat tak perduli akan kisah percintaan para putranya,Rion .Suaminya ini memendam rasa khawatir yang tersembunyi di balik wajah tidak perdulinya.
Sama seperti para para saudara suaminya yang lain.
Mereka terlalu gengsi mengatakan rasa sayang mereka pada masing-masing putra mereka.
Namun,kasih sayang tidak perlu berkata,cukup melihat dan mendukung serta memberi nasihat dikala anak-anak mereka mulai melenceng.
Para pria Wiguna yang kaku,namun kasih sayang mereka seluas samudra.
Kayra bersyukur,hidupnya berakhir ditengah keluarga hangat penuh kasih sayang ini.
.......🌠.......
"Asline.... kalian ini sebenarnya kenapa?!! KENAPA APARTEMENKU MENDADAK JADI TOKO PAKAIAN DAN KOSMETIK SEPERTI INI?!!"Raels berteriak frustasi.
Bagaimana tidak?.
Bangun-bangun setelah semua masalah yang ia lalui,entah bagaimana tiba-tiba ruang tamunya berubah menjadi layaknya toko pakaian dengan semua baju bermerek serta para sahabatnya yang berdiri dengan peralatan make up ternama ditangan mereka masing-masing, belum lagi senyum iblis asline juga victoria yang menatapnya licik.
Tatapan iba Rubi,serta Aira yang terus tertawa tak ada sebab!.
"Jangan banyak bicara raels..cepat mandi!! waktu kita hanya dua jam lagi!! aduh...cepat girls!!" Deliana,yah.
Istri dari Diego itu masuk dengan wajah gusar.
"Victoria...." Panggil asline licik.
"Asline....." Balas kekasih Raino itu penuh arti.
"Go GIRLS!!!" pekik Rubi dengan segera mendorong raels menuju kamar mandi dengan Aira dan victoria yang sibuk memilih dress.
Ada-apa?!.
__ADS_1
Raels pusing,namun tak berdaya.
...TBC...