
...Vote,like dan komentar ya ❣️...
...🔱.....🔱...
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...🔱.....🔱...
Seluruh lorong di lantai utama sebuah rumah sakit swasta terbesar di London kini terasa begitu mencekam ditengah aura penindasan kuat dari sosok putra sulung dari Arkansas itu.
Raino,Ryuga,bahkan Alarik.Ketiga pria tampan dengan wajah tegang itu menatap pada sosok tinggi nan tegap yang kini tengah berdiri didepan ruangan yang didalamnya nampak lebih tegang.
Wajah datar,penuh dengan darah pada pakaian depan pria itu.Rayganta berdiri menatap tajam nan dingin sesuatu yang tengah terjadi didalam ruang operasi dari balik kaca pintu.
"Ini gila!!! bagaimana gadis layaknya singa betina itu bisa terhubung oleh Zeus itu?!! aku..aku merasa ini sangat mustahil!! dan lagi...sejak kapan tiran bengis itu perduli mengurusi urusan orang lain terlebih perempuan?!! dia...dia membuatku mengebut dari pelabuhan dan menginstruksikan para pengintai untuk mencari seorang keparat Zergan?! aku rasa aku akan menjadi gila!!" Monolog Raino melihat sosok Zeus yang agung itu kini tampak rapuh meski wajahnya tetap terlihat datar tanpa ekspresi.
Ryuga melirik jengah wajah pias Raino,pria itu menggeleng pusing sendiri mendengar ratapan nestapa yang kini diperlihatkan oleh saudaranya itu.
"Rik...kau tau sejak kapan mereka memiliki 'sesuatu' mungkin?!" ucap Raino dengan kedua jari menunjukan tanda petik.
"Gadis yang kau tabrak ferarry-nya itu? "Tanya Alarik malas.
Raino mengangguk dengan wajah penuh semangat.
"Yah...long story dan aku tak berniat menjadi narasumber mu" Balas Alarik acuh.
"Setan!!" Maki Raino jengkel.
Sungguh dia sudah penasaran tingkat tinggi dan pria jenius itu justru mempermainkannya,sungguh tidak berotak bukan?.
"Sudah diam...kembali saja no,ini sudah mendekati senja!" Ryu mendengus jengah,menarik tangan Raino lelah.
Raino berdecak dan melotot geram pada seringai licik Alarik yang kini tengah melambai tangan padanya dengan wajah pongkah.
Sementara itu...
"Go....Peluru ini ada racunnya!!" Ucap Gion yang kini baru saja memulai menyayat luka Asline yang tengah terbius lebih lebar.
"Hm....aku tau....dan sebaiknya fokus jangan sampai ada pembuluh darah yang pecah,sayat dengan posisi melintang!" Balas Diego cepat.
Ia tau gadis ini,gadis yang dibawa langsung oleh Zeus ke mansion pribadi pria itu.
Mansion dimana tak ada satupun wanita lain yang pernah melihatnya,bahkan Archana.
Diego tak mau melakukan kesalahan sekecil apapun dalam operasi ini,tekanan yang kuat dapat ia rasakan dari balik pintu ruang ICU.
Menunduk dan mulai membuka luka yang telah tersayat oleh Gion.
"Go....Ingat keluarkan pelurunya jangan sampai merusak jaringan yang lain!!" Gion memperingatkan dengan keringat dingin kala dirinya juga merasakan sepasang mata predator yang tengah mengintai mereka dari balik pintu.
Diego mendengar,ayolah dirinya sudah pro dalam operasi apapun .
Yah,hanya saja kali ini mereka melakukan dibawah tekanan kuat dari pemimpin mereka.
Jadi sebaik apapun dokter jenius seperti dirinya dan Gion,tetap saja tangan mereka akan bergetar jika manik dewa maut itu tidak juga pergi dari mereka!.
" Siapkan anestesi dosis tinggi!!" Titah Diego yang langsung dilakukan oleh para perawat yang ikut membantu.
"Sialan racun ini benar-benar kejam!! jika kita tidak mengeluarkannya dalam waktu 25 menit setelah terkena,maka gadis ini pasti akan lumpuh!! waktu kita hanya 10 menit...keluarkan pelurunya dulu!!" Sentak Diego begitu melihat darah yang mulai menghitam dari luka tembak dipaha Asline.
"A70,ini racun syaraf pelumpuh total! aku memiliki antidot-nya,tapi ada di lap markas...kau...tangani ini go,aku akan memberi tahu big bos!!" Diego segera berbalik dan berlari cepat menuju pintu.
Bankkkkk.....
Rayganta tersentak namun secepat kedipan mata wajahnya kembali datar.
"Big bos....cepat ambil antidot A70 di lap markas...kita diburu waktu,botol berwarna hitam dengan selotip merah di brangkas penyimpan racunku!!" Diego berbicara dengan memburu,Rayga tanpa kata segera berbalik pergi dan berlari menuju basemant menuju mobil Supercar paling cepat yang bersyukur dibawa Ryuga tadi,dan nasib baik pria itu meninggalkan mobil markas dan pergi bersama Raino.
Ryuga memasuki mobil dengan wajah gelap,keringat yang membasahi wajah tampannya menjadikan sosok pria itu jauh lebih menyeramkan sekaligus mempesona dalam satu kali kedipan mata.
Cahaya lampu menyinari wajahnya dan dengan sekali pijakan mobil itu melaju kencang meninggalkan area rumah sakit.
...........🔱............
__ADS_1
Brakhhhhh....
"Astaga......" Raino mengelus dada sabar melihat pintu markas yang di dobrak dengan kasar dari luar,sosok Rayga masuk menuju lab dengan langkah besar dan manik berkilat tajam.
Seluruh anggota yang telah selesai bertugas dan kini beristirahat dimarkas segera menyingkir melihat aura pembunuh yang menguar mencekik siapapun disekitarnya.
Rayga masuk menuju lab penelitian racun milik Diego dengan manik memburu setiap sudut mencari brankas serum yang dikatakan Diego.
"Dimana.... dimana?!!!" Raung Rayga kalap.
Maniknya bergetar melihat sebuah lemari layaknya kulkas mini yang berada di pojok lab bagian terdalam.
"Tunggu...tunggu aku dear...bertahan untukku sayang...bertahan karena kamu kuat!!" Rayga bergumam penuh harapan,berlari.Bukan menuju basemant,namun kearah rooftop markas dimana sebuah helikopter terlihat disana.
Benar,Rayga tak ingin membuang waktu kembali ke rumah sakit melalui jalan kota yang padat.
Ia memiliki helikopter pribadi,untuk apa dia membuang waktu?.
"RYUGA IKUT AKU!!" Ryu segera bangkit cepat begitu suara menggelegar Rayganta terdengar .
Ryuga baru saja kembali dari pengecekan bersama Raino ,baru duduk selama 5 detik dan kini ia harus kembali bertugas!.
Sabar.......
Helikopter gagah berwarna hitam itu segera menderu memecah suasana menjelang malam
..........🔱...........
Asline membuka mata,gadis itu membola begitu melihat tiga orang yang begitu dirinya benci tengah menyeretnya ke arah laut.
"Lepaskan aku Dante!! kau...kau manusia hina tidak tau terimakasih!! ayahku sudah membesarkan namamu,dan kau membalas ayahku dengan perbuatan jahat!! kau manusia rendah!!" Asline meraung memberontak dari kuncian tangan pria itu.
Dante menyerigai,Lucinda yang entah bagaimana Asline merasa menjadi sangat kuat.Wanita itu dan putrinya menyeret tubuh Asline dengan kasar menuju sebuah speed boat.
"Hahaha Asline...kau harus mati ditangan kami!! kau hanya bisa menjadi mayat yang hanya diam melihat kami menguasai seluruh kediaman Gradian dan asetnya!! matilah Asline...matilah dengan seluruh penyesalan mu!!" Lucinda tertawa bengis mencengkram semakin kuat lengan kiri Asline dimana Grizela mencengkram lengan kanannya dengan tawa penuh penghinaan.
Asline menatap pantai,disana.Disana Jonathan berdiri dengan sorot mata datar menatap dirinya yang berteriak putus asa.
Mengapa orang-orang ini menjadi sangat kuat?.
Lucinda bahkan tak bisa ia lawan seperti biasanya.
Grizela terbahak penuh kemenangan.
"Jonathan...lihat sayang...lihat gadis ja*ang yang sok suci ini?!! dia tidur dengan pria sepanjang malam dengan tubuh penuh kissmark dan dia bertingkah layaknya kita yang bersalah menghianati dirinya.Hahah....Jonathan lihat wajah jal*ng yang bertingkah layaknya Dewi seluruh pria!!" Grizela terkekeh,menatap wajah datar Jonathan yang tengah ditatap Asline dengan sorot mata penuh luka, kekecewaan dan kebencian.
"Lepaskan aku!! akan kuhabisi kalian begitu aku bebas!!" Asline terus memberontak,namun tangan Lucinda dan Grizela layaknya besi baja yang tak terpengaruh oleh kekuatan penolakannya.
"Tidak......" Asline meraung begitu dirinya dinaikan keatas speed boat dimana Dante telah menunggu.
Tubuhnya disuntikan sesuatu cairan,mati rasa!.
Spead boat melaju hingga ketengah,jauh sangat jauh dari pantai.
"Hahahaha...kau akan mati oleh kami Asline...kau akan mati!!!" raung Dante begitu membakar hati Asline.
Byuuurrrr...
Perlahan demi perlahan,senyum nanar Asline terbit kala tubuhnya mulai tenggelam.
Dante,Lucinda dan Grizela membuang tubuh lemas gadis itu kelautan lepas.
"Ombak datang perlahan mama...papa...datang menghanyutkan putri kalian ini...." Asline membatin dengan mata perlahan terpejam.
"Pasang ini semakin menarik Asline kedasar papa...apakah aku akan pergi seperti ini? pergi tanpa hasil dan kata-kata? suaraku tenggelam dalam gemuruh ombak ini papa..." perlahan air mata bersatu bersama air laut yang dimana samar-samar bayang Dante beserta anak dan istrinya mengabur.
"Tapi...tapi aku tak punya hak untuk menagis lagi papa....tapi...tapi aku tak sudi untuk menjadi hancur...setiap bahkan setiap kali mereka mencoba membunuhku...biarkan,mungkin kali ini aku harus menyerah....papa...mama....." Asline perlahan menutup mata dengan bibir yang tertarik lembut,tersenyum disaat seluruh rongga, pernafasan terasa tercekik.
Rasa sakit ini......
"Asline....putri papa.....bangunlah nak...kamu ,ini bukanlah waktumu menyerah sayang...bangunlah sayang...bangunlah putri papa...."
Deg....
Aslien membuka mata ditengah keputusasaan.
Santanu dan Amrika tersenyum menatap wajahnya .
"Pa...papa...ma..mama!!!" Aslien menangis pilu,memeluk tubuh kedua orang tuanya ditengah ombak yang terasa tenang.
"Ke...kenapa hiks...kenapa harus asline yang menghadapi ini pa...ma? Asline lelah...bolehkah hiks...bolehkah asline ikut kalian?" lirih Asline pilu.
Asline terhenyak,didalam laut ini.Dirinya bisa bernafas,berbicara bahkan bergerak bebas?.
Wanita paruh baya dengan gaun putih bersih itu tersenyum teduh,mengelus pipi lembut putrinya.
"Tidak sayang....takdirmu disana tengah terpuruk...dia menantimu sayang...menanti saat untuk menjalankan kewajiban untuk membahagiakan dirimu sayang...menebus masa kelammu dengan cahaya terang!" Amrika membelai wajah ayu asline,putri kecilnya yang telah beranjak dewasa.
Asline terdiam sejenak,apa yang ibunya katakan? Asline tak memikirkan lebih jauh dan kembali memeluk tubuh ibunya dengan haru.
"Sayang...dengarkan papa...meski kami tiada...jangan habiskan hidupmu untuk membalas dendam.Jalani dan biarkan takdir yang direstui oleh Tuhan yang mengambil lukamu dan mengobati ini... disini...dihatimu" Santanu menatap wajah cantik Asline dengan lembut penuh kasih.
Wajah Asline yang cantik perpaduan antara gen Rusia dari dirinya dan Indonesia dari Amrika benar-benar indah.
Sosok gadis yang mampu membuat pria manapun akan berpaling dari dunia.
__ADS_1
Cantik itu relatif...
Tapi cantik dengan keteguhan hati dan mental baja itu yang langka.
Dan putrinya memiliki itu,kecantikan teduh dan hati yang kuat.
"Sayang...jangan pernah menganggap kami meninggalkan dirimu...kembali dan sadarkan pamanmu itu...buat dia melihat apa itu karma, tapi jangan gunakan tanganmu untuk balas dendam,ada dia...dia yang akan mengambil seluruh lukamu sayang..bangun dan sadarlah nak..kami mencintaimu!!" Santanu dan Amrika berbalik,asline menegang dengan fikiran kosong seketika.
"PAPA...MAMA...JANGAN...JANGAN LAGI...JANGAN TINGGALKAN ASLINE PA...MA... TOLONG..... BERBALIK!!" Asline meraung namun seketika tubuhnya seakan kembali tenggelam,jatuh lebih dalam.
Hingga....
" Dear...jangan pergi...jangan membuatku semakin membenci dunia..jangan tinggalkan aku seperti ini....tolong....tolong...."
Deg.....
Bipppppp....bipppppp....
"damn it!!" Diego memaki,jantungnya berdebar hebat disertai peluh yang membanjiri kening juga punggungnya.
Gion bergerak cepat meraih alat pacu jantung.
"Cepat jahit rapi lukanya gobl*k!! tunggu saja masih ada 3 menit sebelum racun itu pecah dan menyebar!!" Amuk Gion yang melihat wajah pias Diego.
Sementara itu seluruh lobby hospital dipenuhi oleh orang-orang yang berdesakan keluar kala mendengar suara baling-baling helikopter yang mendekat turun,bukan di area tanah rumah sakit,namun atap gedung elit itu.
"Sabar Ryu...sabar..." Ryu mendesah begitu melihat sang bos turun langsung dan berlari meninggalkannya begitu helikopter mendarat di helipad area rooftop.
Pria itu, Rayganta berlari sembari melirik jam dengan satu tangan memegang hati-hati sebuah botol kecil.
"Kumohon...sekali saja....jangan biarkan aku kehilangan lagi tuhan...aku merendah...aku memohon!!" Rayga mengetatkan rahangnya kala maniknya terasa panas.
Drap.....drap....drap.....
Brakhhhh...
"ASTAGA NAGA!!!" Sentak Gion hingga jantungnya layaknya habis berlari maraton.
Pintu ICU itu terbuka kasar,dengan sosok yang berdiri didepan pintu itu.Menatap mereka dengan nafas memburu.
"Antidot!!" Ucap Rayga dengan alunan suara berat dan serak.
Brrrrrrrrr...
Semua orang mengigil dengan manik melotot horor.
Diego berlari cepat meraih botol kecil penyelamat mereka.
Rayga berdiri mematung,menatap sosok rapuh yang kini terbaring lemah dimana sebuah kain hijau gelap menutupi separuh tubuhnya dengan dua buah selang yang mengaliri darah tertanam ditubuh gadisnya.
Ratunya......
"Bos...keluarlah kami akan segera meny_"
"Tutup mulutmu dan mulai bekerja!!" Putus Rayganta membungkam Diego yang menghela nafas pasrah.
Baiklah,siapa yang berani mengusir tiran Wiguna ini keluar?.
Sudahlah......
Diego menyuntik serum antidot A70 dengan cepat begitu Gion selesai menutup jahitan dan para perawat selesai membersihkan seluruh luka-lukanya.
Namun.....
bip....bip...bip...
"Oh God!! tekanan darah turun...dia kejang!!" Gion berseru panik.
Tubuh Rayga membeku,wajahnya menggelap dengan kedua tangan terkepal.
Berlari..........
Mendekat......
Bip....bip.....bip.....
"Ada-apa ini?!! bukankah kita tidak terlambat?! masih ada waktu 1 menit sebelum racun pecah?!!" Gion panik,Diego mengecek tekanan darah dan serum yang bekerja apakah sudah mengikat racun itu atau malah menolak !.
BRUKHHHH...
Diego menjatuhkan catatan medisnya,Gion menggeleng dengan nafas tercekik.
Tidak mungkin mereka gagal!..
"Tidak...tidak...jangan...jangan pergi asline...jangan....jangan membuatku membenci dunia lebih dari ini!!!" Batin Rayganta
Grephhhh....
Rayga membungkuk memeluk tubuh indah yang tak bergerak itu,memeluk dengan wajah dan manik yang memerah.
Rayga menatap wajah pucat yang entah mengapa terlihat lebih cantik dan berseri.
Tersenyum pedih dan membelai pipi lembut sang gadis.
Asline...gadisnya....
"Dear...jangan pergi...jangan membuatku semakin membenci dunia...jangan tinggalkan aku seperti ini....tolong... tolong..." Bisik Rayga mengecup sayang kedua mata indah yang masih terpejam itu.
Layar monitor telah lurus sempurna.
__ADS_1
Deg.....
...TBC...