
...Vote,like dan komentar ya 🌹...
...♣️.....♣️...
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...♣️.....♣️...
Wanita itu membuka mata,menatap ke arah langit-langit dimana dirinya terbaring.
Berkilat akan kebencian......
"Aku akan membunuhmu Asline...meski aku harus menyerahkan nyawaku pada iblis sekalipun!" Grizela.
Yah,wanita itu kini entah bagaimana terbaring di kamar miliknya.
Menyentuh perutnya dengan tawa bak seseorang yang telah kehilangan akal sehatnya.
Ceklek.....
"Zela....." Grizela menoleh maniknya berkaca-kaca melihat Lucinda datang dan menatapnya nanar.
"Bayiku hilang ma...mereka...mereka melenyapkan bayiku!! bagiamana aku bisa mendapatkan lagi keluarga Fernandez?! bagaimana aku bisa menjerat pasangan tua bangka itu untuk dengan suka rela menerimaku kembali?! HAHAHAH..." Tertawa dengan keras,kepalanya berdenyut hebat dan perlahan akal sehatnya mengabur.
Lucinda mendekat,memeluk tubuh grizela dengan wajah penuh amarah.
"Ma... Bagaimana aku bisa disini lagi? bagaimana aku bisa pulang?" Grizela menatap wajah yang berganti pias Lucinda dengan manik bergetar.
"Me...mereka sangat kejam! tidak ma..manusiawi!! kau dikirim dengan tubuh penuh darah,didalam sebuah peti kayu yang dipenuhi dengan bunga lili,seakan mereka mengirim jasadmu...ada sebuah surat.dan mama telah membakarnya!" Lucinda berucap,wajahnya yang penuh polesan make up mengeras.
Kedua tangannya terkepal dan nafasnya memburu.
Grizela melihat reaksi ibunya,tau dengan jelas.
Ini telah mendorong mereka hingga keambang batas!.
"Surat? apa ma?" Grizela bertanya setelah berhasil menormalkan jejak kemarahannya.
"Jika kau masih melewati batas...bukan tubuh yang masih bernyawa,namun potongan yang akan kukirim,camkan itu!" Lucinda mengingat kembali isi surat ancaman itu,tubuhnya masih mengigil setiap melihat bagaimana tubuh grizela saat putrinya itu dikembalikan.
Bahkan, luka-luka dengan pengobatan asal-asalan hingga tubuh putrinya begitu mengerikan.
Nanah,darah yang mengering serta daging kulit yang koyak akibat luka cambukan!.
Mengigil...
Pertama kali Dante memerintahkan untuk membuka peti,hampir seluruh orang yang melihat Grizela tidak dapat menahan mual!.
Grizela tersenyum nanar,benar.Tubuhnya masih dipenuhi rasa sakit akibat penyiksaan yang berakhir dengan bayinya yang dikeluarkan paksa!.
"Ma..semuanya berakhir ma....zela sudah tidak punya apa-apa lagi..." Grizela berucap lirih.
"A..apa maksudmu? kamu tidak menandatangi apapun bukan?!" Lucinda terserang panik.
"Tanda tangan? hahah..mereka mengambil cap jariku! mereka...mereka tidak butuh tanda tangan ku! aset dibawah namaku sudah hilang ma! kenapa papa dan mama mentransfer semua aset gradian atas nama kalian padaku?! kini semua hilang!!" Grizela meraung keras,hatinya terbakar dengan semua penyesalan.
"Apa yang bisa kami katakan Zela?! jangan cemas sayang..itu hanya harta yang terdaftar berbagai aset Gradian! tapi...tidak ada yang tau aset nyonya tua gradian bahkan lebih besar dari kekayaan tertulis kita! dengar...papa sudah lama mempersiapkan ini demi sesuatu hal yang buruk! dan papa tidak menyangka kita akan menggunakan ini juga!" Dante masuk dengan wajah penuh kelicikan,menutup pintu dan memastikan tidak ada yang mendekati kamar putrinya.
Grizela terbelalak tidak percaya,menoleh mendapati senyum culas ibunya.
"Kita akan tinggalkan negara ini begitu kita bisa membunuh gadis itu! papa tidak rela jika dia bisa hidup bahagia setelah semua usaha papa selama ini! gadis celaka itu harus mati!" Dante duduk dengan kaki bersilang, tersenyum sinis menatap ekspresi bengis istri juga putrinya.
"Tunggu gadis itu kembali" Ucap Lucinda bengis.
Ketiganya terkekeh dipenuhi niat jahat.
.......♣️.......
Gadis cantik dengan kaos putih dengan lipatan dibagian perut hingga menampakkan pusar imutnya itu tersenyum,menatap ke depan dimana sosok remaja manis juga anak laki-laki dengan sibuk dengan acara mereka sendiri.
"Kak Asline...foto Archa ya!!" Archana,gadis imut itu segera berlari kearah dimana bunga berwarna orange cerah tumbuh dengan subur.
entah bunga apa? Archana tidak tau!.
__ADS_1
"Tunggu...kak Asline harus foto Shura dulu!" Protes anak laki-laki dengan topi berwarna coklat gandum tidak terima.
"Hei...jangan bertengkar ya,kakak Asline akan foto kakak Archana dulu baru Shura kakak foto,jadilah anak laki-laki yang baik" Asline membujuk lembut,mencubit pipi chubby putra Tristan dengan gemas.
"Ia..." Akhirnya demi jaga image anak manis yang penurut,Shura mengalah.
Demi cake lezat buatan kakak cantiknya lagi!.
"Archana... pose!" Asline memanggil menghentikan Archana dari mengejek Shura kecil yang nampak melotot jengkel.
"Baiklah" Archana menjulurkan lidah,berlari dan mulai bergaya sesuka hati.
"1....2...3"
Cekrekkk....
"Mana Archa mau lihat kak!!" Archana berlari dengan semangat,meraih kamera yang dibawa asline.
"Woahhhh...anak Daddy Arkansas memang cantik!! hihihi...Archana cantik!!" Gadis itu memuji diri dengan heboh sendiri.
Asline menggeleng geli.
Diam-diam asline menoleh,melihat wajah bertekuk Shura dan dengan jahil mulai mengambil gambar anak itu.
Cekrekkk...
"KAKAK...SHURA BELUM SIAP!" anak imut itu menjerit kesal.
Archana dan Asline tergelak.
"Wow...Shura cantik..." Goda Archana dengan jahil.
Tau adiknya itu tak suka disebut cantik.
Dia imut dan jantan oke!.
"Baiklah... baiklah,sekarang senyumnya mana?" Asline mengalah,menghentikan tawanya dan anak laki-laki imut itu akhirnya tersenyum lebar.
Cekrekkk...
"Woahhhh..lihat siapa pangeran tampan ini?" Shura berucap penuh percaya diri tinggi.
Archana mendengus dan mulai berlari mengelilingi taman kota lagi,taman dengan bunga yang ditanam masyarakat dengan suka rela.
.......♣️........
Vila peristirahatan, Swedia.
Ruangan yang semula penuh kehangatan meski ditutupi oleh wajah-wajah para pria yang dingin.
Namun kehangatan keluarga tetap terasa.
Rayga menatap wajah penasaran sang nenek.
Rafendra,pria tua itu meneguk cangkir tehnya dengan santai.
"Asline Alfarezha Gradian, right? Kakek tau gadismu itu!" Rayga menyerigai dalam.
Kakeknya sungguh punya mata dimana-mana!.
Benar,jika ayahnya saja bisa tau tanpa dia membuka mulut, lalu Rayga tak terkejut lagi jika sampai tiran tua tau!.
"Asline?! jadi calon cucu menantuku itu bernama Asline? wah....nama yang cantik,nenek tidak sabar ingin bertemu" Anggi berseru menarik telapak tangan Rayga dan menggenggamnya erat penuh binar.
Rayga tersenyum dan menatap wajah tenang sang kakek.
"Aku tidak terkejut jika kakek tau! yah...kakek itu punya seribu mata di ibu kota" Raider mendengus jengah.
Rasanya dimata Rafendra,mereka.Para generasi seakan tak punya privasi.
Bahkan ayah mereka saja tak begitu ketat dalam pengawasan.Namun raider tau,inilah cara Rafendra menjaga kebesaran clan Wiguna.
"Hm....kakek ingat gadis itu..... dulu....."
...# Back #...
Jamuan besar tengah diselenggarakan di sebuah kapal pesiar besar.
Perkumpulan tahunan dari para pebisnis besar untuk mempererat tali relasi, Rafendra masuk bersama Arkansas yang kala itu menjadi sosok penting yang akan memberi sedikit masukan pidato singkat sebagai salah satu pengusaha paling sukses sepanjang tahun.
Kamera paparazi dan reporter dari berbagai macam media berita bisnis bekerja ekstra sekedar untuk mendapat gambar pasangan ayah dan anak pewaris perusahaan multinasional Wiguna itu.
"Arkansas..kau pergilah bersiap,dad akan pergi menemui penyelenggara" Rafendra menepuk pundak putra sulungnya,Arkansas mengangguk acuh dan berbalik pergi sebelum.
"Tuan besar Rafendra?" Langkah kaki Arkansas berhenti,berbalik dan menatap seorang pria seusia ayahnya dan seorang pria yang usianya sepantaran dengannya.
Namun...
"Ayah...kakek tampan itu siapa?" Arkansas menatap seorang gadis kecil yang begitu manis berusia mungkin sekitar 5 tahunan.
"Hahaha...Sayang ini kakek Wiguna,kamu tidak boleh sembarangan bersikap,jadilah gadis kecil yang baik right" Pria seusia Arkansas berjongkok dan membelai rambut panjang gadis kecil itu.
"Hallo..apa kabar tuan besar Wiguna? ahhh..sudah lama saya tidak melihat Anda mengambil proyek besar!" Rafendra menatap wajah pria yang seusia dengan dirinya acuh.
__ADS_1
Yah begitulah.
Para Wiguna ini terlalu acuh tak acuh dengan orang lain.
"Gradian...yah,aku sudah memiliki seorang pewaris,jadi untuk apa aku bekerja lagi? lebih baik bersantai dengan istriku" Rafendra menjawab acuh.
Arkansas mendengus.
Pria tua ini!....
"Hallo kakek Wiguna...dan paman....?" Gadis kecil manis dengan rambut panjang bergelombang halus itu mengulurkan tangannya dengan sopan,senyum keluguan benar-benar menghangatkan hati kedua tiran itu.
"Arkansas..kamu bisa panggil aku paman Kansas" Arkansas menjawab sedikit lembut.
Yah,Gadis ini mengingatkan dirinya pada putri kecilnya dirumah.
Meski mereka berbeda usia.
"Hallo paman Kansas! namaku Asline Alfarezha Gradian,ini ayahku...namanya Santanu Gradian,senang berjumpa dengan paman dan kakek Wiguna" Asline kecil memperkenalkan diri dengan suara manis yang penuh dengan keluguan anak-anak.
Rafendra tersenyum simpul,mengusap rambut panjang gadis kecil itu dan mulai menekan ponselnya.
"Ya tuan besar?"
" Bawa sebuah kotak beludru,koper yang baru saja aku ambil dari pengrajin perhiasan. Ambil kotak yang berwarna putih bawa kemari cepat!" Rafendra bertitah dan segera menutup sambungan telepon.
Arkansas menatap ayahnya aneh.
Keajaiban....
Pria tua tiran ini begitu murah hati pada anak-anak lain!.
Tuan Gradian juga putranya Santanu tak berani beranjak sebelum pasangan ayah dan anak Wiguna mempersilahkan.
Jadi,meski tak tau apapun.Mereka dengan sabar menunggu.
Tak lama...
"Tuan besar,ini kotak beludru yang anda inginkan" Seorang pria muda berwajah kaku mendekat dan menyerahkan kotak beludru kecil namun elegan kearah sang tuan.
Rafendra menerima senyum simpul.
Membuka kotak kecil beludru hingga sebuah cincin cantik yang terbuat dari emas murni terlihat jelas.
Gradian dan Santanu tersentak tak percaya.
"Ini adalah yang kakek pesankan khusus untuk para cucu perempuan kakek...tapi karena pengrajin salah menghitung maka cincin ini lebih satu,maukah kamu mengambil ini sebagai hadiah dari kakek...anggap saja sebagai hadiah karena menjadi gadis kecil yang baik" Rafendra tersenyum melihat wajah polos putri Santanu itu.
Manik polos asline kecil berbinar.
Ini adalah cincin anak-anak yang cantik!.
"Gradian tua..Santanu...tidak perlu merasa terbebani,aku menyukai sikap baik gadis kecil kalian,jadi terimalah dan simpan ini hingga saat dewasa nanti,jika asline mendapat masalah dan butuh bantuan,jangan sungkan datanglah padaku.Aku sudah menganggap asline layaknya cucu perempuanku sendiri,dia gadis kecil yang lugu,jangan sampai hatinya tercemar keburukan dunia.Didik dia dengan benar!" Rafendra berbalik setelah memasangkan cincin yang entah mengapa sangat pas di jari kecil asline.
"Hm....aku sudah mendapatkan calon cucu menantuku!"
Tanpa siapa saja menyadari, Rafendra menyerigai puas.
Pengrajin salah menghitung?.
Omong kosong!.
Sebenarnya cincin itu untuk Archana,namun karena cucunya masih terlalu kecil dan jarinya ternyata tak sesuai dengan ukuran cincin,maka entah ide dari mana,saat melihat Asline, Rafendra tanpa sadar mendorong cincin itu ke jari Putri Santanu ini.
Dan siapa yang menyangka bahwa ukuran cincin itu pas?.
Arkansas menggeleng lemah melihat kelakuan aneh ayahnya itu.
Setelah kepergian kedua Wiguna ternama itu,Santanu berjongkok memegang kedua bahu putri kesayangannya itu.
"Asline...dengar ayah,jaga cincin ini dengan baik,apapun yang terjadi jangan lepaskan itu.Bila asline sudah besar dan cincinnya tidak muat,ayah akan buat cincin ini jadi mata kalung.Kita tidak tau apa yang terjadi di masa depan nanti,setidaknya asline harus tau...benda ini mungkin akan menjadi kunci berharga untukmu dimasa depan" Santanu mengingatkan sang putri,karena entah mengapa perasaannya tidak enak selama beberapa hari kebelakang.
...# Back off #...
"Jadi kakek sudah pernah bertemu asline bersama ayah juga kakeknya dulu?" Raider bertanya tak percaya.
Dunia ternyata sesempit ini!.
"Rayga....Kakek meski hanya sekali saja bertemu dengan Asline,itupun saat gadis ini masih kecil.Tapi....kakek tau dia gadis yang baik,sayangnya....takdirnya tidak sebaik hati juga parasnya! Kakek harap...kamu bisa merubah takdir kelam yang dialaminya 13 tahun yang lalu.....kakek sudah mencari tau semuanya...dan yah,kakek bisa mengatakan satu hal" Rafendra menghela nafas,melihat Asline serasa ia melihat kehidupan salah satu menantunya.Kayra!.
Kedua orang tua yang dibunuh,hanya karena harta dan kekuasaan.
Menghela nafas dan kembali berucap saat semua masih terdiam takjub mendengar penjelasan panjang penuh kemanusiaan dari tiran tua itu.
"Gadis itu cukup tangguh sebagai putri yang dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang ..kekayaan keluarganya.Gadis kecil baik hati yang selalu dimanjakan sejak lahir itu tiba-tiba diterjang badai.Orang tua yang mati terbunuh,hidup dengan ketakutan kala setiap detik bisa saja nyawanya akan hilang! Yah,Archana masih lebih baik dari kehidupan Asline.Meski keluarga kita adalah keluarga mafia dengan semua kejahatan yang mendatangkan ribuan malaikat maut! namun kita ada,semua pria di keluarga kita menjaga putri kecil kita.Tapi asline,siapa yang menjaganya?" Rafendra menatap wajah dingin penuh badai besar dari sosok tampan cucunya itu.
Rayganta terdiam dengan manik berkilat,badai besar menggulung hatinya.
"Rayga akan menjadi pelindung asline mulai dari sejak aku melihatnya kakek....aku ingin melamarnya sejak mata ini pertama kali bertemu dengan senyumanya.Kakek...aku tau ini terdengar tiba-tiba bagimu,tapi jika kakek merestui setiap tindakanku...aku akan sangat berterima kasih! Dad sedang melakukan perjalanan bisnis,dan saat dia kembali.Aku akan melamar Asline!" Rayga berucap dengan wajah penuh keyakinan,manik tajamnya dipenuhi tekad dan Rafendra menyerigai puas.
"Bagus! nenek dan para ibu kalian akan menyiapkan semuanya" Anggi berucap penuh rasa syukur, semangatnya menggebu
"Raider...kamu ingin bagiamana?" Rafendra bertanya pada cucu keduanya yang nampak tersenyum simpul.
"Sebenarnya...."
.......♣️.......
__ADS_1
...TBC...