
...Vote,like dan komentar ya...
...🍃...
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...🍃...
Hening yang mencekam,langit malam yang begitu gelap dengan hembusan angin dingin menusuk.
Lorong demi lorong yang panjang,kaki jenjang berbalut celana hitam kulit dan sepatu boots berwarna senada itu melangkah.
Melangkah dengan samar tanpa suara yang berarti.
Perempuan dengan surai hitam terikat tinggi itu meraih pistolnya,membidik dua orang pria yang terlihat lagi olehnya.
Dor......
Dor.....
Letupan dengan bunyi teredam melesatkan dua buah jarum bius berdosis tinggi.
Brakhhh...
Dua tubuh besar itu jatuh setelah dua jarum menusuk tepat diurat nadi leher mereka.
Perempuan yang berdiri dibalik tembok itu menyeringai dingin,memasukkan kembali jarum bius baru sebelum semua anggota penjaga dilorong itu tumbang semua.
Dan kembali melangkah dengan waspada.
"Aku tidak mau hidup terus dibawah ketakutan oleh kalian..maka...kalian atau aku yang mati!"Perempuan itu berucap samar,menarik masker hitam kembali menutupi wajahnya begitu dari jarak tak jauh dirinya berada,terlihat sebuah pintu yang dijaga oleh para anggota khusus terlatih.
Orang -orang yang sama dimana dulu ia juga di tempa dengan kejam disana.
Perempuan bermasker hitam itu meraih sebuah tas kecil yang ia bawa,membuka dan mengeluarkan dua buah bola biogas.
Ctesss...
Membuka kait pemicu.
Wushhhh.....
Asap berwarna putih pekat mulai terlihat kala benda itu menggelinding kearah enam orang pria besar yang berdiri menjaga pintu ruangan itu.
"Apa ini?!!"
"Sabotase!"
"Sial!!"
"Cepat tahan nafas kalian!"
"Kunci pintu......"
Brughhhhh..
__ADS_1
Tubuh-tubuh itu perlahan jatuh menerima efek kuat dari gas bius berdosis tinggi itu.
Kekehan sinis dari Perempuan bermasker hitam itu terdengar .
"Bukankah menyenangkan membuat kalian merasakan benda yang dulu kalian dan aku pelajari bersama? " ucapnya sarkasme.
Menunggu beberapa detik hingga gas bius itu habis.
Melangkah menuju pintu ruang rawat itu dengan manik berkilat badai.
Meraih sebuah belati dari tas kecil itu kembali.
Ctakhhhhh..
Kunci pintu terbuka dengan celah kecil .
Kriettttt..
Pintu itu tergeser perlahan.
Masuk dengan wajah penuh dengan senyum rumit.
Disana terbaring seorang pria dengan leher terbalut perban.
"Aku entah berterima kasih atau sedih karena papi Rion tidak membunuhmu, Devano? kurasa aku mungkin harus bersyukur,karena dengan begitu aku bisa membunuhmu dengan tanganku sendiri! devano Alinston.Sudah sangat lama.....lama sekali aku ingin mencabut nyawamu dan keluarga biadapmu itu! harusnya pria bajingan seperti dirimu tidak pantas hidup lama!" Victoria.
Berbalik dan mengunci kembali pintu ruang rawat itu dengan cepat.
Perempuan itu adalah Victoria.
Meraih sebuah set jarum yang ia ambil diam-diam di kamar pribadi milik Diego di mansion Wiguna.
Beruntung dokter muda itu tidak tinggal menetap di mansion hingga Victoria bisa masuk dan mengambil set jarum serta botol racun milik dokter muda itu.
Berjalan mengitari ranjang,dengan kedua tangan memegang botol racun dan satu lagi memegang jarum suntik.
"Aku tidak ingin membunuhmu dengan cara kasar,karena....aku tak ingin darah kotormu mengotori tubuhku! dan ini........cukup satu suntikan dan kau akan mati esok harinya..." kekeh Victoria menatap wajah terlelap Devano dengan penuh kebencian.
"Matilah!!"
Wushhhh..
Victoria tersentak dengan jarum yang berhenti beberapa centimeter saja dari jantung Devano,suara langkah kaki yang berhenti tepat didepan pintu dari arah luar.
"Damn it!!" Victoria menyimpan kembali jarum suntiknya dan berlari kearah balkon.
Traphh..
Begitu pintu balkon tertutup,pintu rawat itu terbuka dengan seorang pria muda yang menyerigai dalam,bersamaan dengan mata Devano yang terbuka dengan kilat dingin.
"Kau lihat? wanita manapun yang masuk kedalam circle clan itu akan menjadi pembangkang! bergabunglah....."
Pria dengan topeng putih menutupi sebagian wajah itu berucap penuh makna,Devano terkekeh dalam.
"Deal....."
Dan kedua pria itu terkekeh penuh rencana.
.........🍃..........
Victoria menghembus nafasnya yang memburu,menutup mata kala emosinya beranjak naik.
"Sial!! sedikit lagi maka bajingan itu akan mati,siapa yang datang? siapa mengapa aku tak mampu merasakan kehadiran orang itu?" Victoria duduk di bangku taman tak jauh dari rumah sakit,ini pukul dua pagi dan gadis itu tak merasa takut sama sekali duduk sendiri menikmati angin kesunyian ditengah kegelapan malam.
Dia telah membuang semua pakaian luar yang ia pakai beraksi malam ini,kini tubuhnya hanya terbalut sport br* yang ditutupi hodie putih kebesaran dan celana training press body.
Simple....
"Aku harus kembali sebelum ada yang menyadari aku tidak ada di bungalow mansion barat!" Victoria berucap gusar,berdiri dan berlari cepat menuju dimana mobilnya terparkir diantara pohon tinggi taman.
Begitu gadis itu pergi,sosok pria dengan topeng putih itu keluar dan tersenyum dingin sembari mulai menurunkan topengnya.
Wajah tampan dengan mata beriris hitam itu menatap tajam penuh makna.
"Let's play Wiguna... mari bermain permainan harga diri dan kehormatan seorang pria! wanita dan hidup!' Pria itu tertawa lepas,membuang topengnya dan pergi.
..........🍃............
TRANGGG....
__ADS_1
Suara tubrukan besi baja dan deru nafas terdengar dikeheningan malam.
"Masih lemah! percepat!!" Pria tampan dengan tubuh atletis yang dihiasi peluh yang membingkai otot perut dan dada itu berucap diktator tanpa perduli keadaan lawannya yang sudah hampir kehabisan nafas.
"Raino...Maju!" Raino,pria yang membungkuk mengatur nafas itu membelalakkan horor, bahkan tongkat tombak yang ia pegang baru saja patah menjadi dua oleh keganasan saudaranya itu.
"Bro Rayga! kau kalau mau membantai kami kira-kira saja! jangan itu....itu....hah...itu raider saja !" Raino menolak keras,pria dengan Dobok yang sudah koyak itu menolak ngeri sembari menunjuk raider yang sudah terlentang dengan kondisi tak lebih baik darinya dengan luka sayat dimana-mana.
Raider mendengus dingin sembari mengatur nafasnya yang memburu.
Gila!...
Ini benar-benar gila!...
TRANGGG.
Rayga membuang pedangnya,meraih dua buah katana sebesar belati namun sedikit lebih panjang tanpa perduli ucapan Raino.
"Arshen! your next..." Rayga bertitah kejam dengan gerakan cepat memburu sang adik yang sudah bergerak cepat meraih tombak lain kala senjata mikinya yang pertama telah parah oleh keganasan sang kakak.
Trank.....
Arshenio dengan gesit menahan serangan Rayga yang memburu setiap jengkal tubuhnya dengan bringas.
Yah,meski wajah tampan itu tetap datar dengan deru nafas stabil berbanding terbalik dengan ketiga saudaranya yang lain.
Prankk..
Tombak Arshenio terhempas keluar arena.
"Rayga enough! what happened to you?! jam 1 malam kau menyeret kami untuk sparing dan membantai kami seperti ini? come on dude!! kami punya batas tenaga dan bukan monster gila sepertimu!" Suara Diego mengundang puji syukur dari para inti lainya,yah.
Kini para pria tampan itu sudah tepar dengan kondisi mengenaskan meski tak berujung maut kali ini.
Trankkk..
Rayga membuang senjatanya asal,menyugar rambutnya kasar dan meraih botol berisi air mineral dan menumpahkan cairan itu tepat diatas kepalanya.
"Kurasa kita harus memanggil alarik kembali! hanya otaknya yang bisa membuat kita bisa mengetahui apapun!" Maxim berucap samar,tubuhnya kini begitu remuk dihempas dan dilempar oleh Rayga beberapa waktu yang lalu dalam tanding ini.
"Benar bro! masalah yang menimpa salah satu pabrik senjata kita harus segera diatasi,kau memang bisa mengatasi ini..tapi kau juga tak bisa sendiri! tarik alarik dari liburannya setelah dia bekerja kita bisa tau akar masalahnya!" Raider menginterupsi.
Rayga terdiam,benar.
Dia bisa menghandle masalah itu,namun bagaimana jika terjadi lebih dari satu masalah?.
Dengan bantuan alarik,mereka bisa menghemat banyak waktu.
"Hm...." Berdehem samar,pria tampan itu berbalik dan pergi meninggalkan ruang sparing begitu saja tanpa perduli kedelapan sosok tampan yang sudah terlentang setengah hidup akibat perbuatannya.
" Bedebah itu!! ingin sekali kulempar dia keliang kubur!" Seru Diego kesal.
"Memang kau berani? belum naik saja tanganmu sudah terpotong menjadi delapan bagian!" Remeh Raino menatap jengah wajah kesal Diego.
"Sudah....huh.....aku rasanya tidak akan mau lagi diajak sparing bersama Zeus itu! lihat kondisi kita tidak lebih dari para gembel!!!!!" Raung Maxim putus asa.
Xain dan raider terkekeh dengan posisi tidur pasrah sembari mengatur nafas yang memburu.
Sungguh ini sama saja dengan latihan bertahan hidup!.
"Aku akan tidur disini saja,kakiku bahkan tak sanggup lagi melangkah pulang...." Ryuga berucap lelah.
"Jangankan kaki...bahkan tanganku mati rasa!" Gion berucap sembari mulai memejamkan mata dengan tangan terlentang di atas lantai arena latihan mereka.
"Selamat malam dunia yang kejam..jangan kirimi aku mimpi buruk meski aku harus tidur diantara para iblis ini...." gumam Raino yang telah setengah sadar..
Dan yah,para pria tampan itu akhirnya tidur sembarangan didalam arena latihan keras itu tanpa repot lagi harus mandi ataupun berganti baju.
......✴️......
"Sayang....mama akan pastikan gadis sial itu kembali untuk menyerahkan jantungnya padamu..papa..mama..kami tidak merawatnya untuk pergi sia-sia tanpa bisa menukarkan hidup putri kami lagi..sayang....bersabarlah,meski harus menantang maut.....mama akan bawa jantungnya untukmu " Ucap seorang wanita paruh baya didepan sebuah ranjang yang ditutupi tabung kaca transparan dimana seorang gadis tertidur lelap dengan berbagai kabel penunjang hidup.
...🌹...
...TBC...
See you next time...
Have you enjoy and give me support 😘
__ADS_1