Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
The princess Wiguna


__ADS_3

...Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🌹...



...🥀...


...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...🥀...


Mansion besar bercat putih gading itu perlahan mulai terlihat ramai oleh kesibukan para maid yang bersiap melakukan tugas mereka masing-masing.


Para pekerja mulai turun mengurus taman,baik taman belakang sampai taman depan mansion.


Matahari yang baru saja naik tak membuat satupun pemilik dari mansion itu menampakkan diri.


Hingga...



Seorang gadis manis dengan wajah cemas menatap sekeliling mansion.Turun dari tangga dengan berjinjit,tentu saja ia tak mau menggunakan lift,karena benda itu akan mengeluarkan bunyi nyaring saat terbuka maupun tertutup begitu digunakan.


"Kakek butler....sini...sini....!" Archana,gadis dengan bisikan tertahan itu memanggil kepala pelayan Dyazel dengan senyum manis.


Butler yang telah melayani keluarga Wiguna dari generasi Arkansas itu menatap nona mudanya dengan senyum geli.


Baru semalam dimarahi habis-habisan dan kini gadis itu sudah kembali terlihat ceria,yah.Meski ada jejak air mata dipipi putih itu dan mata yang terlihat bengkak meski tertutupi sedikit make up.


Gadis yang malang.....


"Ya nona cha-cha butuh apa? apa ingin sedikit camilan sebelum sarapan dimulai?" Butler tua itu tersenyum lembut.


Gadis ini sudah selayaknya putrinya sendiri,salahkan saja putranya.Imanuel yang bahkan sampai kini masih betah melajang!.


Memikirkan putra kurang ajarnya itu,Dyazel merasa tertekan.


Harus menunggu sampai kapan dia baru bisa memiliki cucu?!.


"Kakek Dyazel....apa kakek Rafen,Daddy dan semuanya sudah bangun?" Archana bertanya dengan melirik keadaan dengan was-was.


Kepala pelayan tua itu tersenyum geli.


Nona-nya seperti pencuri yang takut tertangkap saja!.


Lihatlah wajahnya yang menatap sekeliling dengan cemas,sungguh Dyazel rasanya ingin tertawa namun tak tega.


"Belum nona... tapi tuan Arkansas dari semalam tidak ada di Mansion,dan yang lain sepenuhnya masih dikamar masing-masing" Jelas Dyazel merasa tertekan atas situasi mansion sejak nona-nya ini ketahuan jalan dengan sang putra mahkota.


Archana diam,nampak sangat sedih begitu mendengar sang ayah tak pulang semalaman.


Apakah ayahnya benar-benar marah? marah besar ?.


Gadis itu menunduk dengan senyum nanar.


Dyazel mendekat dan mengelus pucuk rambut sang nona.


Yah, itulah adanya.


Di mansion besar Wiguna ini,bagi setiap keluarga yang tinggal telah menganggap Dyazel tak ubah layaknya keluarga sendiri.


Dan para generasi muda bahkan menganggap pria itu sebagai kakek!.


Jadi,bukan hal yang aneh jika melihat Dyazel berani mengelus kepala anak majikannya.


"Kakek Dyazel...em.... sebenarnya archa ingin minta sesuatu,tapi tidak tau apa kakek butler mengizinkan..." archana mendongak,menatap pria tua ramah itu dengan manik memohon.


Dyazel tertawa kecil.


"Jika saya mampu akan saya berikan apapun yang nona muda saya ini minta! bukankah archa tau bahwa kakek tak pernah menolak keinginanmu sedari kamu dan para kakakmu kecil dulu? bahkan meski ujung-ujung semua itu ,kakek akan menjadi korban kemarahan tuan besar. Kakekmu rafendra dan para ayahmu? beruntung masih ada nyonya besar yang menyelamatkan hidup butler tua ini...." Dyazel tertawa dengan jenaka mengingat masa-masa mudanya dulu saat membantu para cucu tuan besarnya membuat kenakalan hingga berakhir dirinya yang menjadi kambing hitam!.


Benar-benar masa-masa keemasan dalam titik balik hidupnya!.


Archa tertawa geli ikut mengenang masa lalu.


"Kakek benar!" Ucap gadis itu mengangguk setuju


"Jadi ingin minta apa kini pada butler tua ini?" Dyazel berucap jenaka.


Archa terdiam cukup lama.


"Hm..bolehkan archa meminjam dapur untuk membuat sarapan?"


Duarr....


Bak petir di siang bolong,namun kini matahari bahkan belum naik tinggi!.


Dyazel tercengang!.

__ADS_1


Bukan masalah apa,namun archa sedari kecil tidak pernah diizinkan memasuki dapur.Bahkan untuk membedakan gula dan garam saja Dyazel sangsi nona-nya ini bisa!.


"U...untuk apa nona? didapur bukan tempat bermain....ada banyak hal berbahaya yang bisa terjadi! ada pisau,kompor gas, minyak panas,bahkan piring dan sendok bisa menjadi gerbang maut bagi kami jika nona memasuki dapur! nona duduk dan tunggu saja Maid bagian dapur bekerja...jangan merusuh ya.." Dyazel sudah panas dingin.


Archana menatap kepala dengan wajah mencebik kesal,apa segitu tidak berguna dirinya dimata kepala pelayan tua ini hingga mengatakan dirinya akan membuka gerbang maut hanya dengan memasuki dapur?!.


"Tapi archa mau buat sarapan untuk Daddy dana kakek! archa mau menebus kemarahan Daddy juga kakek semalam..tolonglah bantu archa ya kakek Dyazel....please..." Archana menagkup kedua tangannya dan menatap wajah tua Dyazel penuh harap.


Pelayan tua itu menghela nafas tak tega kala mendengar alasan gadis manis itu.


"Baiklah,tapi kakek akan menemani dan archa harus mendengar instruksi dari kepala koki jika ingin membuat sarapan!" Tegas Dyazel akhirnya mengalah.


Archana mengangguk dengan manik berbinar.


Kini....


...........


Kini...


Dyazel membuka pintu besar dapur utama Mansion,dapur dimana tempat para koki memasak untuk seluruh anggota keluarga Wiguna,bahkan hingga para pekerja.


Ini bukan dapur khusus yang hanya digunakan para nyonya memasak acara pribadi,namun ini digunakan untuk makan besar tiga kali sehari beroperasi.


Wiguna mansion dihuni begitu banyak orang,baik dari sang pemilik hingga para pekerjanya.


Dan nyonya besar tak membedakan siapa yang harus memasak makan utama.


Hanya yang membedakan adalah menu yang dimasak para koki.


Karena dimansion ini ada dua jenis dapur.


Dapur umum untuk para koki memasak,memasak untuk makan tiga kali dari sehari, sedang dapur khusus digunakan para nyonya untuk menyalurkan hobby kuliner mereka .


Prok....prok...prok..


"Attention please!' Dyazel menghentikan semua kegiatan para koki yang sibuk mempersiapkan breakfast.



Nampak para maid dapur menatap satu sama lain dengan horor kala melihat celemek yang terpasang ditubuh mungil nona merek.


Dapur dengan dekorasi mewah nan indah itu kini hanya diisi keheningan.


"Para koki.. sarapan hari ini menu utamanya akan dimasak oleh nona Archana! kalian semua persiapkan menu pendamping,dan kepala koki....tuan Mozan saya percayakan anda membimbing nona muda untuk memasak hari ini!" Dyazel mengintruksikan.


Archana melambai gugup kearah sederet pria yang menggunakan seragam koki,lengkap dengan topi tinggi jenjang berwarna putih.


Para pria yang bekerja disini memiliki umur yang dipilih sama, masing-masing berusia 30-40 tahun.


Para koki menunduk hormat pada nona muda majikan mereka .


Dan tak lama, seorang pria dengan wajah ramah serta rambut pirang tertutup topi khas koki berjalan maju.



"Saya Mozan akan dengan senang hati memberi anda intruksi nona..." Archana tersenyum riang,koki ini terlihat ramah dengan senyum penuh kesabaran.


Semua bergerak sibuk.


Setelah para tuan mereka makan makan para pekerja memiliki waktu jeda selama 30 menit untuk bertukar shif makan.


Dan waktu tidak akan menunggu mereka yang bergerak lambat!.


Dan disebuah table kitchen.


Kompor gas menyala dengan api sedang,Mozan memberi instruksi dengan sabar


Air mendidih,satu panci besar berisi makaroni telah direbus.


dan dibagian lain pada sisi kompor.


"Baiklah nona archa..sekarang nyalakan kompor yang ini lalu letakkan pan besar itu!" Mozan menunjuk kearah sebuah pan yang cukup besar,karena dia akan memasak untuk porsi seluruh keluarga tuanya.


"Setelah itu masukan minyak goreng sedikit saja" Archa dengan kaku mengikuti instruksi,hampir saja dia memasukan satu botol penuh minyak jika tangan Mozan tidak menghentikan dengan cepat.


Mozan menggeleng frustasi.


"Lalu masukan tomato paste,black pepper 1/4 sendok makan bukan itu! itu cengkeh nona..astaga!!" Mozan terpekik horor.


Bukanya lada hitam,nona muda ini justru mengambil satu sendok makan penuh cengkeh!.


Archana menggaruk pipinya kikuk,padahal terlihat sama,sama-sama hitam!.


Akhirnya Mozan menunjukkan kotak bumbu berisi lada hitam.


"Sedikit saja...aduk perlahan,masukan gula pasir 1 sendok makan ya benar..aduk dengan pelan,bubuk cabai 3 sendok makan garam... bagus...sekarang beri daun basil...bawang putih 6 siung..rajang tipis dahulu..." Mozan berbalik untuk melihat makaroni yang sebelumnya mereka rebus.


Hingga...


"ASTAGA! NONA ITU BAWANG MERAH BUKAN BAWANG PUTIH! LAGIPULA MENGAPA DAUNNYA TIDAK DIBERSIHKAN?!" Mozan meruang frustasi dibawah tatapan iba para rekannya.


Archana terbengong dengan menatap bawang yang sudah masuk semua kedalam pan bercampur dengan bumbu lain yang sudah dimasukkan terlebih dahulu.


Mozan menggeleng frustasi,ingin menangis melihat semua bahan yang tak lagi singkron pada menu utama! jiwa koki-nya meruang frustasi.


"Sudahlah Mozan...mau apa lagi? ikhlaskan saja dan buat baru tidak sampai 30 menit lagi para tuan akan turun!" Seorang pria yang juga memakai pakaian koki berucap iba.


Dan akhirnya,dengan mata tajam Mozan yang tak beranjak archana mulai mengolah bahan baru!.


..........


Satu persatu keluarga Wiguna turun menuju ruang makan.



"Rion,Axel berkata pernikahan alarik akan berlangsung seminggu lagi.Undangan sudah tersebar?" Rafendra berucap begitu dirinya sudah menduduki kursi kepala keluarga.


"Sudah dad.Amber bahkan sudah memberi rancangan gaun pengantin pada Samantha" Rion berucap begitu selesai menarik kursi untuk istrinya.

__ADS_1


"Bener...perut Aira mulai membuncit! tidak baik menunda lagi,sudah tiga bulan!" Anggi menimpali begitu para pelayan mulai selesai menghidangkan menu menu dessert.


"Raider..dimana Daddy kalian?apa Rayga juga tak sarapan di mansion?" Rafendra menatap cucu keduanya yang baru saja keluar dari lift.


"Daddy dikamarnya, sepertinya baru kembali entah dari mana.Dan saudara Rayga akan sarapan di Kediamannya sendiri..." Raider berucap sembari membenahi jam tangan yang ia kenakan kemudian mencium pipi nenek juga ibu mereka.


Yah,kebiasaan pagi yang mencerminkan rasa hormat dan kasih mereka pada wanita keluarganya.


Raino menguap lebar dengan dengusan jijik arshenio melihat kakak sepupunya itu,setelah itu melakukan hal yang sama dengan saudara kembarnya.


"Kenapa kau menatapku? tidak pernah melihat orang mengantuk?" Sinis Raino mendelik tajam.


Mendengus jijik, Arshenio menarik kursinya yang berhadapan dengan Raino dengan acuh.Tentu setelah melakukan ritual pagi mengecup pipi nenek juga ibunya.


"Entah bagaimana kak Victoria bisa terjerat pria ceroboh seperti dirimu?" Arshenio berucap dengan tatapan mengejek yang dibalas dengusan tak perduli Raino.


"Mana cha-cha? panggil cucuku itu untuk sarapan!" Rafendra menatap para maid tajam.


"Tidak perlu kakek.. cha-cha disini.." gadis itu sudah keluar dari dapur dibawah tatapan heran keluarganya.


"Archa...kamu dari dapur? buat apa?! sudah kakek katakan jangan ke dapur! ingat terakhir kali kamu hampir membakar seluruh dapur hanya untuk menggoreng telur?" Rafendra menatap cucunya frustasi.


"Tidak kakek..archa hanya pergi mengambil susu " Gadis itu berucap dengan senyum penuh kecemasan.


Rafendra memicing tajam dan akhirnya menghela nafas mengalah.


"Sudahlah jangan marahi cucumu pagi-pagi begini dad! kasihan putri kecilku!" Kayra bangkit dan membawa archana duduk disampingnya.


Kriettt....


Hingga kursi yang bersebrangan dengan kursi sang kepala keluarga berbunyi.


Arkansas duduk tanpa siapapun menyadari kehadirannya..


"Daddy....."Cicit archana sedih,wajah ayahnya terlihat begitu suram.


"Kemari..." archana tersentak saat sang ayah memanggil dengan suara yang sudah kembali lembut.


Gadis itu bangun dengan kepala tertunduk menuju ayahnya .


Arkansas menghela nafas sesal.


"Daddy tidak marah...maafkan Daddy karena sudah marah pada cha-cha.Sekarang mari lupakan semua yang terjadi dan jadilah putri Daddy yang manis dan penurut lagi" Arkansas menarik putrinya duduk di kursi sampingnya,meriah tisue yang menghapus air mata anak gadisnya dengan getir.


Dan,satu persatu tudung saja yang terbuat dari platinum terbuka.


"Apa menu utama sarapan hari ini butler?" Rion bertanya begitu melihat desert pembuka tersaji.



Sepiring pancake dengan sirup maple juga potongan segar buah berry dan blue berry tersaji dengan uap panas yang mengepul menguarkan aroma manis susu berpadu dengan sirup maple yang kental.


Dyazel tersenyum profesional,tak menjawab kala Rion menatapnya acuh.


"Selamat menikmati...." Dyazel mundur saat tuan mereka mulai makan.


Hingga...


Setelah dessert selesai sebagai pembuka sarapan pagi,kini piring demi piring keluar dengan aroma yang begitu menggugah selera.


Archana menatap wajah-wajah keluarganya dengan cemas,terutama kakek dan ayahnya.


"Italian pasta? for breakfast ? Tidak biasa sekali kepala koki membuat pasta untuk sarapan biasanya dia akan mengolah sup dengan campuran daging dan sayuran.." Raino berkomentar.Namun pria itu dengan santai meraih piring dan mulai mendekatkan pasta beruap itu kearah hidungnya.



"Hm...nice smell,tapi sepertinya sedikit berbeda dari jejak tangan Mr Mozan?" Rion menatap putranya datar,anak ini terus saja berkicau meski mulutnya mulai terisi penuh!.


Rion bahkan sangsi,dari mana putra keduanya ini mengambil sifat?.


Makan ribut....


Tidur ribut....


Mandi ribut.....


Bahkan meski tak ada yang mengajak bicarakan mulutnya tetap berkicau!.


Archana menatap binar semua piring pasta yang telah habis tak bersisa,bahkan kakaknya Raino.Pria itu bahkan mencecap sisa saos pasta dengan jari!.


"Dyazel...pasta ini sedikit berbeda dari buatan Mozan...siapa yang memasak kali ini?" Kayra berucap puas,meski sedikit aneh pada awalnya namun lama kelamaan rasa masakan ini menjadi begitu sedap.


"Tebaklah nyonya...." Dyazel berucap penuh binar.


Hingga...


"Mami apa masakan archa enak?"


"Tentu saja!.....eh... ?!!!!"


Begitu kayra selesai berucap dalam kebingungan.


Manik semua membulat horor .


"Archa masak?! demi apa?!!!" Raino berucap heboh.


"Impossible!!" Arshenio menatap piring pasta dan adik kembarnya dengan wajah terdistorsi.


"Cucu nenek sudah besar!!" Anggi mendramatis.


"Mi..putri kita akhirnya tidak menghancurkan dapur!!" Rion menatap wajah tercengang istrinya bangga.


Sedangkan Rafendra,Arkansas juga raider.


Tiga pria tiga generasi itu menatap wajah manis itu memicing!.


Archana menghela nafas,sulit sekali membuat tiga pria ini menghilangkan sifat overprotektif mereka!.


...🥀...

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2