Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
Kepergian Grizela


__ADS_3

...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya 🌹...


...Vote,like and content...


...Happy reading...


...And...


...Keep health...


.........



Lucinda dan Dante baru kembali dari perjalanan mencari investor demi hotel baru yang ingin Dante bangun di wilayah Irlandia nanti,yah.Mereka berencana pindah saat tak ada jalan lagi untuk menguasai hotel Gradian saat Willie memutuskan berhenti menjadi dokter dan mengambil alih bisnis peninggalan kakak juga ayahnya.


Lucinda memicing,mengapa kediaman tua gradian ini terasa lebih hening dari biasanya?.


"PELAYAN!! APA KALIAN TIDAK TAU MAJIKAN KALIAN KEMBALI?! KEMARI DAN ANGKAT KOPER-KOPER INI!" Lucinda meraung emosi.


Cuaca memasuki awal musim semi cukup hangat,perjalanan jauh membuatnya kelelahan dengan emosi yang tidak stabil.


Hansel membuka pintu,dua orang pelayan wanita berjalan dibelakang kepala pelayan tua itu.


"Butler...dimana putriku? Grizela..cepat panggil dia aku membawa sebuah hadiah untuknya!" Lucinda berucap sembari membiarkan para pekerja wanita dikediaman Gradian itu membawa masuk koper-koper miliknya dan sang suami.


Hansel diam,manik tuanya terlihat begitu intens menatap pasangan Alfarezho itu.


Lucinda menatap aneh kepala pelayan tua itu.


"Ada-apa diwajah kami hingga kau menatap seperti itu? menyingkir,tidak lihat kau menghalangi pintu?" Ucap Lucinda sarkas.


Hansel tetap diam dan bergerak menepi.


Dante dan Lucinda masuk, keduanya tersentak begitu mendapati Willie dan Sagara yang duduk di kursi ruang tamu dengan wajah yang terlihat tenggelam oleh sebuah pemikiran?!.


Dante bertanya-tanya.


"Sagara...dimana adikmu?" Dante bertanya pada putranya,Sagara menatap wajah pria yang telah mengecewakan dirinya.


Tidak,bukan benci.


Sagara hanya merasa kekecewaan besar hingga perasaannya pada pria yang berstatus sebagai ayah kandungnya itu terasa hampa.


"Aslien tentu saja bersama suaminya..." Jawab Sagara dengan wajah acuh tak acuh.


Dante menghela nafas berat sedang Lucinda sudah mengeram menahan emosi atas sikap Sagara.


Anak tirinya ini benar-benar membuatnya merasa tidak dianggap!.


"Bukan gara..maksud papa,grizela...dimana dia?"Dante bertanya kembali dengan sabar.


Pria baya itu membawa Lucinda duduk di sofa ruang tamu, sofa kiri sedang bagian kanan diduduki Sagara dan tengah diduduki willie.


Pelayan segera menyuguhkan teh dingin dengan potongan buah diatasnya.


Sagara terdiam,Willie melirik keponakanya itu dengan senyum nanar.


Bangkit dan pergi begitu saja tanpa menjawab,Lucinda melempar gelas teh-nya akibat sikap dingin gara yang semakin hari semakin menjadi!.


Prankkkkk....!


"Apa-apaan anak itu?! tidak tau sopan santun!" Hardik Lucinda melihat Sagara yang tetap berlalu tanpa menoleh.


"Berkacalah...." Lucinda menoleh pada Willie yang berucap dingin sembari menatapnya hina.


Tangan Lucinda terkepal disertai urat-urat wajahnya yang tercetak.


"Apa maksudmu!" Lucinda mengeram rendah,Willie terkekeh geli menarik tatapannya dari pasangan Alfarezho itu.


Meraih cangkir tehnya,meneguknya perlahan dengan senyum jenaka.

__ADS_1


"Sopan.... bagaimana orang akan sopan padamu jika kau sendiri tidak punya harga diri dan rasa malu? perusak rumah tangga orang lain dan ibu yang bahkan tak mampu mendidik anak perempuannya dengan benar! setidaknya...jangan sampai mengikuti jejaknya yang hanya tau melirik milik orang lain dan berakhir tragis...." ucap Willie penuh arti.


Meletakkan cangkir tehnya dan bangkit perlahan dengan bertumpu pada sandaran sofa.


"Aku merasa ada maksud terselubung dari kata-kata Willie,kau merasakannya juga suamiku?" Lucinda menatap punggung Willie yang perlahan menjauh.


Dante terdiam,melirik pelayan yang membereskan set teh diantas meja begitu semua orang bangkit.


"Kau..kemari!' Panggil Dante.


Pelayan wanita itu mendekat ragu,maniknya terus menatap kebawah tak berani menatap Dante dan Lucinda langsung.


"Ada-apa tuan....tuan Alfarezho?" Gugup pelayan itu sangat terlihat aneh dimana Lucinda.


Apakah suaminya ini begitu menakutkan hingga bahkan pelayan ini gemetar?.


"Dimana Grizela? apa yang dia lakukan selama kami tidak ada?" Dante bertanya dengan mata memandang selidik.


"No..nona? sa..saya tidak tau t-"


"Sofia....kembali ke dapur!" Hansel yang tak sengaja lewat segera memanggil pelayan itu dengan cepat.


"Apa-apaan kau butler?! kau lihat suamiku masih berbicara pada pelayan ini dan kau seenaknya menyuruh dia pergi tanpa izin dari suamiku?! lancang sekali kau!"Lucinda benar-benar tak menahan emosi,wanita baya itu menunjuk wajah tanpa ekspresi Hansel dengan nafas memburu.


"Tenang Lucinda!" Dante memperingatkan istirnya itu,Hansel punya kuasa atas semua pelayan disini atas perintah aslien dan persetujuan gara sebagai pemilik kediaman tua ini dan terakhir, atas keputusan Willie saat Rayga membawa asline pindah dulu.


"Untuk nona Grizela..tuan Alfarezho dan nyonya Lucinda bisa bertanya langsung pada tuan muda Sagara..saya permisi .." Hansel segera berlalu tanpa menunggu reaksi dari pasangan Alfarezho itu.


"Ada-apa sebenarnya? mengapa aku merasa aneh dengan reaksi semua orang?!" Lucinda menatap Dante dan tanpa berkata lagi segera naik kelantai dua menuju kamar putrinya.


Namun,apa yang didapat Lucinda adalah kamar kosong .


Meski pakaian masih memenuhi lemari,namun ada yang terasa aneh.


Kamar ini terasa lebih dingin dengan hawa yang terasa membuat Lucinda bergidik.


Urung membuka pintu lebih lebar dan akhirnya Lucinda kembali menutup pintu bercat pink itu.


"Mama...."


Deg


Lucinda menegang,pintu entah bagaimana terbuka dan suara lirih dengan angin dingin datang dari balik punggungnya!.


Lucinda berbalik dengan gerakan perlahan.


"KYAAAAAA......!!"


BRUKHHH...


Wanita baya itu jatuh pingsan dengan pintu yang kembali tertutup rapat.


Suara langkah kaki menderu dengan cepat mendekat,suara teriakan Lucinda mengagetkan seluruh penghuni vila tua gradian.


Para penjaga segera mengangkat tubuh Lucinda atas perintah Dante,wanita baya itu dibawa kekamar mereka dilantai satu.


Sagara dan Willie berdiri diam,menatap pintu kamar grizela dengan manik mendingin.


Keduanya segera berbalik menatap Dante.


"Biarkan kamar itu seperti keadaannya! jangan biarkan satupun pelayan mendekatinya dan jangan membahas kejadian seminggu yang lalu pada ayahku..." Sagara berucap saat melihat ayahnya pergi,dan Hansel mengangguk paham.


Sebagian pelayan yang tidak kuat atas insiden grizela itu mengundurkan diri,dan yang bertahan memilih bungkam atas ketakutan dari kekejaman sosok Rayganta dan pewaris Wiguna lainya itu.


Lucinda belum menyadari bahwa kebanyakan pelayan yang bekerja adalah orang-orang baru yang tidak tau apa-apa.


..........


Apartemen South west...


Manik itu bergerak meliar,meringkuk sembari memeluk tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Mati...!


Mati...!


Dan mati...!


Hanya satu kata,dan itu terus berputar bak kaset rusak di kepalanya.


"Karena mereka...karena mereka...karena para ja*ang itu grizela, Patricia dan Aubrie mati! kenapa harus kami yang mengalami semua ini?! mereka hanya para wanita murahan yang baru masuk kedalam kehidupan para pewaris itu! tapi aku....aku yang tau mereka sejak lama tapi mengapa aku harus ketakutan akan akhir yang sama dengan Grizela? Patricia? Aubrie...? jika..jika Victoria tidak datang kedalam hidup Raino,pasti raino perlahan akan menerimaku! dia... Victoria harus mati!" Margaretha bergumam rendah,menggores ujung pisau pada lantai kayu kamarnya.


.........


"Apakah kau sudah dengan kabar? tidak tau benar atau tidak juga! tapi menurut kabar burung artis dari perusahaan hiburan playboy! Grizela Alfarezho itu sudah dikabarkan meninggal!"


"Kau yang benar?! seminggu tidak kelihatan dan dia meninggal? bagaimana bisa?"


" Eh..dan tau tidak? putri angkat Sebasta? itu yang menjadi penyanyi baru yang baru saja akan debut...katanya dia juga sudah meninggal!"


"Serius...?! bagaimana bisa?! keduanya tiba-tiba meninggal begitu saja?! bagaimana ceritanya?"


"Pstt..pelankan suara kalian dan dengarkan aku! ini semua berhubungan dengan kepala pewaris generasi ke tiga! maksudku para wanita mereka...."


"Dan apakan kalian tidak tau rumor baru mengenai calon istri tuan muda ketiga Wiguna? dia ternyata wanita yang merebut dari wanita lain...kudengar kekasih kecil tuan muda Wiguna Raino kembali tapi dia disingkirkan!"


"Sttttt...jangan bicara begitu bahkan dinding dan udara jika menyangkut para pewaris akan menjadi hidup-"


BRAKHHH.


Sebuah cup kopi yang uap panasnya masih ada melayang.


Seorang gadis dengan rambut dikuncir ponytail cepat melangkah mendekati wanita dengan pakaian ala wanita sosialita dan mencengkram kuat dagu wanita itu.


"Siapa yang kau sebut perebut?" Victoria berucap rendah.


Wanita itu terbelalak dan menepis telapak tangan Victoria yang mencengkram dagunya.


"Memangnya aku salah? Kau jelas bukan siapa-siapa tapi kau masih berani bersaing dengan seorang model ternama sekelas Margaret?! kami lebih suka jika wanita berkelas seperti Margaret bersanding dengan tuan muda ketiga dibanding dirimu! Jangan berfikir terlalu tinggi hanya dengan mengandalkan wajahmu!" Wanita itu menunjuk Victoria geram.


Hingga...


"Sudah Susan! jangan berkata seperti itu..mungkin Raino hanya suka gadis dengan tipe seperti dia..bukan wanita pekerja keras seperti diriku..." Victoria berbalik dan mendapati sosok Margaretha yang tersenyum menyedihkan.


Rencana awal ingin berjalan menghabiskan sore hari sembari menuju kediaman z manor dari Bungalow,siapa yang tau ditengah perjalanan keluar dari cofee shop, Victoria harus menghadapi sebuah drama sabun?.


Menatap Margaret dengan senyum jenaka.


"Pekerja keras ya...? maksudmu bekerja dengan mengobral bentuk tubuh didepan kamera yang dipenuhi laki-laki?!"


"VICTORIA GRISHAM!!!!"


Pekik Margaret sembari menatap bengis wajah santai Victoria.


Mereka memprovokasi dirinya,jadi jangan salahkan jika dia membalas.


Victoria berbalik dan sebelum memasuki mobilnya .


"Jangan terus jadi penguntit! kau fikir dengan membawa sekumpulan wanita penyebar gosip ini akan membuatku jatuh? Kekasih kecil? ck... pemimpi!" Victoria mengejek dengan senyum jenaka.


"VICTORIA KAU PELA*UR! AKU AKAN MEMBALASMU!!" Margaret berlari menerjang, Victoria berbalik dan segera membalas tendangan yang ingin dilakukan Margaret padanya.


Bukhhhh...


Pinggang Margaret mendapat kick telak,wanita itu jatuh dengan wajah terdistorsi.


"Lain kali..bukan pinggang tapi mulutmu yang akan aku tendang! kau hanya pemimpi atas cinta calon suamiku...biar kukatakan! terimalah kenyataan dan....kau akan mendapat undangan pertama dariku nanti!" Victoria berucap sembari berjongkok merapikan rambut Margaretha.


"Bye...poor human..." Victoria tertawa dan masuk kedalam mobilnya,mobil itu berlalu pergi dengan asap hitam yang mengenai wajah Margaretha yang masih terduduk.


"Lihat siapa yang akan berdiri pada akhirnya! kau boleh menikahi tapi Raino harus menjadi milikku!"


......TBC......

__ADS_1


__ADS_2