Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
Feeling


__ADS_3

...Pertemuan adalah awal dimana perpisahan akan datang menyapa,cinta tak terukur waktu....


...Dua manusia yang disatukan oleh takdir maka takdir pun akan mempertemukan mereka lagi meski 100 tahun perpisahan....


.....Ellysa Amellia.....


...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya 🌹...


...Vote,like dan komen...


...🍃 Happy reading and keep smile 🍃...



Prankkkk.....!


Deggg...


Kayra berdiri mematung, darah mulai merembes dari kakinya.


"Honey?!" Rion berseru kaget dan cemas.


Memasuki dapur dan melihat istrinya nampak linglung sembari meremat pakaian di area posisi jantungnya,ada pecahan gelas disamping kakinya dan istrinya itu nampak menangis tanpa sadar.


"Oma!!!" Pekik Rexion dan Raindres yang berlari dibelakang ibu mereka masing-masing.


"Mi..mami kenapa ?! astaga ini minum dulu .." Raels segera memberi segelas air putih pada kayra yang nampak linglung,Wanita baya itu dibawa duduk di sofa ruang santai disamping dapur khusus mansion oleh Rion.


"Mi..mami kenapa coba kasih tau papi? wajahnya sampai pucat begini?" Rion segera mengusap pipi kayra dengan suara dipenuhi kekhawatiran.


Kayra mengerjap,meraih telapak tangan suaminya.


"Pi... perasaan mami tidak enak...entah bagaimana bayangan wajah mommy velery tadi seperti sekelebat lewat saat mami hendak minum...Pi...kenapa?" Kayra berucap dengan tubuh gemetar.


Takut....


Ketakutan besar entah mengapa datang disertai bayang wajah ibu mertuanya.


Rion bungkam,entah bagaimana perasaannya seketika jatuh begitu mendengar ucapan istrinya.


...........


Takhhh....!


Prankkkk...!


Arkansas terdiam mematung melihat figura foto ayah dan ibunya jatuh dari dinding kantornya.


Dinding itu berlapis beton,dan figura itu bukan digantung menggunakan paku! namun besi pengait yang langsung menyatu dengan dinding!.


Mengapa bisa jatuh?!.


"Mom...dad...?" Arkansas bergumam lirih,entah bagaimana jantungnya berdebar kencang.


Bukan perasaan baik,namun seperti sebuah cakar tajam tak kasat mata meremat jantungnya!.


Berdiri dan melangkah mendekati figuran besar yang kacanya telah pecah itu.


"Ishhh!!" Arkansas mendesis saat tak sengaja jarinya tergores kaca saat hendak meraih lembar foto besar berisi sang ayah , Rafendra dan ibunya,Anggita.


Darahnya mendarat di tengah foto dan manik tajam itu bergetar hebat.


.........


Prankkkk....!


Guci itu pecah seketika saat tak ada satupun yang menyentuhnya.


Rayga menatap guci antik hasil lelang yang diberi oleh sang nenek.


Deg....


"Kenapa dengan rasa gelisah ini?! " rayga bergumam samar.


Berbalik dan mencari istrinya.


Asline terlihat duduk diam di ruang keluarga sembari menatap foto besar berisi sosok Anggi dan Rafendra yang tengah menggendong Rexion bayi.


Anggi yang tersenyum cerah dan Rafendra yang terlihat berwajah masam.


"Hubby...semalam aku bermimpi... nenek memberiku tiga buah jeruk yang sangat besar! sedang kakek rafen terlihat bermain dengan tiga ekor bayi harimau! mereka tersenyum padaku tapi aku tak bisa mendekat...dan..sejak pagi aku tak pernah bisa berhenti memikirkan kakek dan nenek...apa mereka baik-baik saja?" Asline bertanya sembari menoleh menatap wajah tampan dengan sedikit riak yang terlihat.


Gugup....


Dan...


Takut?...


Rayga berdiri disamping istrinya.


Meraih ponselnya dan segera menghubungi sang ayah, Arkansas.


Tut..


"Hm...."


" Grandpa..Grandma?"


"....."


"Dad..?"


Rayga mengeryit dalam kala keheningan menjawab.


"Perasaanku dan Asline tidak enak..bisakah Daddy telpon grandpa? aku menelepon pagi tadi..tapi vila tidak ada jawaban..." Rayga berucap dengan senyum nanar.


"Not just you son...nenek kalian sakit sejak beberapa bulan ini...kamu pasti mengerti... Daddy akan tutup ! persiapkan dirimu akan yang terburuk...Daddy hanya....."


Tut..


Arkansas menutup sambungan terlebih dahulu,rayga mendengar nada getir dari suara berat ayahnya itu.


Menutup mata.


Mengusap pucuk rambut istirnya.


Apa yang menunggu mereka?.


Perasaan keluarga yang saling terhubung .


Kental darah yang sama mengalir membawa pesan tak tersirat.

__ADS_1


Badai internal bukan eksternal.


Kini siapkah hati menerima uji?.


..........



Swiss...


Pantulan cermin menampakkan seorang wanita yang dimana waktu telah menunjukkan kekuatannya,kulit kencang itu telah terganti guratan keriput dimana-mana.


Anggi,tersenyum menatap pantulan sosoknya pada cermin.


"Hidupku telah berlalu pada masa emas-nya.Gadis remaja yang dulu ditinggal ibunya akhirnya bertemu dengan pangeran berkuda putihnya....membina rumah tangga hingga menyaksikan anak dan cucunya berdiri menghadapi dunia.... Ughh....." Wajahnya berubah pucat,rasa sakit menghatam.


"Sudah 75 tahun....hah........rasanya waktuku semakin habis...." Anggi menutup matanya,menarik nafas yang kian membawa rasa sakit.


Siapa yang mengira? dirinya bahkan tidak pernah menduga!.


Anggi membasuh wajahnya diwastafel kamar mandinya.


Inilah alasan ia ingin menepi.


Menepi dari kesibukan dunia dan menghabiskan waktu bersama suaminya disini.


Kota kecil di negara Swiss.


Keluar dari kamar mandi.


Anggi menatap suaminya yang nampak terlelap.


Mengusap wajah tua itu penuh cinta.


Mereka telah lalui kerasnya dunia bersama,melebarkan sayap Wiguna hingga seluruh penjuru Eropa dan kini anak dan para cucu mereka bisa hidup dengan nyaman.


Kini para putra dan cucu laki-lakinya begitu tangguh,mereka mampu berdiri sendiri lebih baik dari masa jaya suaminya dulu.


Inilah yang membuat hati Anggi merasa lapang.


Menatap kembali wajah suaminya,wajah yang dimasa mudanya dulu adalah sosok yang begitu digilai oleh para wanita dari kalangan manapun.


Senyum tulus terbit dengan begitu lepas.


Anggi berbalik dan berjalan menuju jendela kamarnya,jendela bergaya Prancis dengan penampakkan tanah lapang dengan berbagai kawanan angsa yang bergerombol riang ditengah danau sana.


"Ada kalanya hidup sudah tak lagi menyimpan keinginan...segala harapan yang Tuhan telah kabulkan dititik segala usaha yang telah kita lalui . Masa-masa muda telah lewat... usaha telah membuahkan hasil...aku berterima kasih Tuhan....meski masa mudaku dulu diisi oleh air mata dan kerja keras,kau limpahkan aku buah surga yang manis.Anak-anakku,suamiku,menantu dan para cucu yang saling mengasihi.Tolong selalu jaga mereka dan lindungi mereka.....Ya Allah.....segala puji bagi engkau kusampaikan....terima kasih atas hidup yang engkau limpahkan ditengah ujianmu...kasihmu selalu bersamaku dan para keturunanku" Air mata kelepasan hati mengalir.


Deggg...


"Hah......" Anggi menarik nafas panjang,nafas yang terasa berdenyut berat menghimpit.


Berjalan kearah meja dengan sebuah kursi,dimana meja itu langsung menghadap jendela dimana sinar senja memberi penghiburan bagi jiwanya yang letih.


...Dear my famili.........


...Untuk putra-putra mommy......


...Selalu kuat ya sayang...hidup akan selalu ada perpisahan,mommy bangga melihat bagaimana kalian bertumbuh....


...Mommy tak akan banyak berpesan.......


Garis demi garis untaian kata terukir indah,dibawah tulisan tangan yang begitu anggun juga terhias tinta putih diatas sebuah kertas hitam berhias kelopak mawar kering.


Melipat kertas yang telah selesai ia tulis.


Anggi meletakkan sebuah kotak berisi 14 pin yang terbuat dari emas putih juga emas murni dan 1 buah kotak berisi beberapa kalung yang jumlahnya setara dengan banyak menantu dan cucu menantu clan Wiguna.


Setelah dua kotak berjajar,Anggi meraih sebuah kotak beludru lain berwarna putih.


"Jika mimpiku benar....maka salah satu anak Rayga dan Asline akan menjadi cicit perempuan pertamaku...Maka ini kusiapkan jauh hari sejak mimpi itu datang...." Anggi tersenyum,merapikan semua diatas meja disamping suratnya.


Bangkit dan berdiri melangkah keluar vila sederhana berlantai dua ini.


Tempat dimana dirinya tinggali bersama sang suami jauh menepi dari urusan dunia.


Tak lupa bersama Dyazel,butler yang kini sudah ikut menua meninggalkan masa muda mereka.


Anggi menatap setiap sudut vila,setiap barang dan setiap lukisan keluarganya di dinding.


"Nyonya....ini sudah malam kenapa tidak beristirahat?" Dyazel menatap heran,pria tua itu terbangun karena merasa haus dan apa yang ia lihat begitu melangkah kearah dapur adalah nyonya besarnya.


Pelayan hanya bekerja pagi hingga sore hari, sementara malam vila ini hanya berisi Dyazel bersama tuan dan nyonya besar Wiguna saja.


Anggi tersenyum,menatap seluruh vila dalam ketenangan.


Auranya begitu damai juga entah mengapa Dyazel merasakan ketenangan yang begitu besar dari wajah sang nyonya.


"Butler.....sudahkah kau merasa bahagia atas segala kehidupan yang kau jalani?" Anggi berucap pertanyaan yang entah mengapa terasa berat di telinga pria tua itu.


Kini keduanya terduduk di teras vila, Rafendra yang terbangun kini ikut bersama istirnya dan kepala pelayan-nya.


Ketiganya menikmati sinar rembulan ditengah aroma air danau dan rumput yang tersiram embun malam.


Sangat damai....


Dyazel termenung.


Pria itu akhirnya menjawab pertanyaan sang nyonya sebelumnya.


"Nyonya besar....selama saya mengikuti anda dan tuan besar Rafendra...bahagia tidaklah cukup menggambarkan betapa bersyukurnya saya telah mengabdi pada keluarga ini..meski dunia mengenal tuan besar...tuan muda dan para tuan muda generasi ketiga sebagi para pria berhati dingin,namun hanya mereka yang dekat yang menyadari....keluarga ini adalah gerbang dunia yang penuh kehangatan dan kasih sayang...bukan maksud saya menyanjung...tapi inilah faktanya...tidak pernah saya melihat atasan dari keluarga kaya lain yang akan menjaga dan merawat para bawahan mereka dengan sepenuh hati! keluarga ini tak pernah berfikir untuk berbuat royal pada bawahan apalagi kami yang berdedikasi...dan setia sampai mati! Nyonya...hanya satu keyakinan saya...Keluarga ini tidak pernah meninggalkan penyesalan bagi para bawahannya!" Dyazel berucap dengan senyum tulus.


Anggi mengangguk samar, Rafendra yang tetap diam dimana maniknya terus menatap bulan dengan tangan yang meremat jemari istrinya.


Tangan yang dulu begitu halus dan lentik,kini terasa telah berkerut,waktu mengalahkan manusia! begitu juga dirinya.


"Rafen...aku mengantuk ingin...ti..tidur...." Rafendra mengigit bibir bawahnya getir, Dyazel yang telah mengerti menunduk dengan air mata mengalir deras tanpa suara.


"Hm....aku akan temani..dan bawa kamu tidur sayangku...." Ucap Rafendra dengan senyum teduh,maniknya yang memerah dengan senyum begitu rapuh.


Anggi mengangguk,membiarkan tubuhnya diangkat dan digendong ala bridal.


Seperti saat mereka muda dahulu kala.


Dyazel menatap kedua majikanya nanar,mengapa dan mengapa?!.


Rahasia ini tersimpan begitu rapat! ditengah senyum dan tawa keluarga besar ini..


Sang ibu suri mereka begitu berhati malaikat,tak ingin membuat semua anak cucunya terluka ditengah semua masalah dan hanya bisa tersenyum memberi kehangatan.


Dan mengapa?! mengapa ini semua terlambat?!.

__ADS_1


"Rafen....kamu tau betapa aku cinta kamu bukan? kita akan tetap bersama...maafkan aku yang tak bisa lebih kuat...semua sudah terlambat saat aku dan kamu tau....tapi...semua sudah terjadi....meski dokter dan obat terbaik sekalipun...Tuhan memang sudah memutuskan batas waktu manusia..termasuk aku...rafen....demi ikrar suci dan atas nama cinta....aku selalu istrimu...akan selalu jadi istrimu dikehidupan manapun aku akan terlahir kembali....."Anggi yang terbaring berucap sembari tersenyum indah,sangat indah bagai seluruh cahaya dunia memeluk tubuhnya.


Rafendra tersenyum bibirnya kelu tak sanggup berucap.


"Atas nama cinta...darah...nafasku....nadiku...Tuhan tau betapa aku mencintaimu...kekasih hidupku..cinta sejati ku...istri hidup dan mati ku..."


Rafendra berucap rendah,nadanya bergetar dan tubuh mengigil samar.


Malam ini menjadi titik balik Lucifer menunduk dan menangis pada dunia.


Tapi tentu saja,dibalik pertemuan selalu ada perpisahan.


Tak ada penyesalan,hidup telah mereka lalui dalam cinta,kasih sayang juga pengorbanan .


Rafendra menarik selimut,menutupi tubuh istrinya hingga batas dada.


Menatap sekali lagi wajah cantik yang kini telah terhias sapaan waktu.


Gadis cantiknya telah menua bersama dirinya menembus waktu dalam suka dan dukanya.


Matahari telah terbit,pria tua itu berjalan menuju ruang tengah dimana piano istrinya berada.


Piano yang selalu dimainkan istirnya untuk menghabiskan waktu.


Dyazel berdiri dengan kemeja putihnya,para pelayan vila semua diliburkan.


Dan kini hanya menunggu waktu.


Denting nada dari tuts piano mulai terdengar.


Kesunyian tertembus melodi yang menyayat.


...Empty spaces...


...Fill me up with holes...


...Distant faces...


...With no place left to go...


...Without you within me...


...I can't find no rest...


...Where i'm going...


...Is anybody's guess...


...I tried to go on like...


...I never knew you...


...I'm awake but my world is half asleep...


...I pray for this heart to be Unbroken...


...But without you all i'm going to be is incomplete...


Air mata mulai jatuh berderai,wajah tua itu jatuh tenggelam dalam pilu.


Getar suaranya begitu menyayat.


...Voices tell me...


...I should carry on...


...But i am swimming...


...In an ocean all alone...


...Baby,my baby...


...It's written on your face...


...You still wonder...


...If we made a big mistake...


...I tried to go on like...


...I never knew you...


...I'm awake but my world is half asleep...


...I pray for this heart to be unbroken...


...But without you all i'm going to be is incomplete...


...I don't mean to drag it on...


...But i can't seem to let you go...


...I don't want to make you...


...Face this world alone...


...I wanna let you go...


...Alone.........


Suara itu melirih.


Dan.


Tubuh renta itu akhirnya jatuh.


Brakhhh...


"TUAN BESAR!!!"


Dyazel meraung pilu.


Melodi itu terhenti,kesunyian membawa kematian datang kala waktu telah berakhir.


.........


...TBC...


Sumpah,El nangis saat menulis part ini.


El nulis ini sembari dengar lagu backsound backstreet boy.. Incomplete.

__ADS_1


Jadi...saat baca part ini silahkan putar lagunya di YouTube kalian ya supaya bisa dapat felling.


Thanks for support 🙏


__ADS_2