Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
broken angel


__ADS_3

...Vote,like dan komentar ya🌹...



...♣️......♣️...


...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...♣️.....♣️...


Angin kala langit senja mulai menyapa,gadis dengan blouse formal putih itu terduduk,terduduk menengadah menatap langit senja dengan mata dipenuhi kesedihan.


Helaan nafas panjang tak berhenti terhembus dari bibir cerinya.


Duduk menatap kosong suasana sore menjelang petang di taman belakang sebuah hotel berbintang tiga dimana tempat dirinya bekerja.


"Kenapa masih duduk disini Rubi? apa lagi yang membuatmu seperti anak ayam kehilangan induknya ini?" Gadis itu,Rubi.


Duduk tegak dan menoleh kebelakang dimana berjalan kedua sahabatnya sembari menatap dirinya iba.


"Masih tentang pria itu? Niel.Apa dia masih juga belum memberimu kabar?" Aira duduk disisi kiri,sedang raels duduk disisi kanan Rubi.


Kedua gadis cantik itu menatap sahabat mereka dengan iba.


"Makanya Rubi,kalau dikasih tau itu jangan keras kepala! sudah kami beritahu bahwa pria itu adalah pembohong dan laki-laki breng*ek yang tak tau diri!! kau saja yang bodoh,buta karena cinta pada orang tak tau malu seperti itu,jadi..sakit sendiri bukan?!" Aira menggeleng,mulut wasabi raels ini benar-benar parah.


"Lalu aku harus apa raels?...aku juga tak ingin merasakan perasaan digantungkan seperti ini,tapi apa daya....Niel adalah satu-satunya pria yang aku cintai sejak masa senior high school..aku...harus apa Aira?" Rubi melirih,wajah gadis itu memerah dengan mata sembab.


Raels menghela nafas berat,Aira menepuk punggung rapuh Rubi dan gadis itu mulai terisak pelan.


" Untuk apa kamu tangisi pria pecundang seperti dia Rubi? kau itu cantik... berpendidikan dengan etika sempurna dan kau juga gadis yang pengertian...jangan menangis sia-sia!!" Raels dan Aira menoleh kebelakang,tepat disana mendekat Aldo dengan wajah geram dan Jaiden dengan wajah dingin seperti biasanya.


"Kenapa? dia benar-benar tidak mengabarimu sejak pesta pertunangan kalian itu? ini sudah 2 tahun sejak itu dan dia benar-benar hilang tanpa kabar?! apa kau belum sadar artinya ini Rubi?! tolong jadilah realistis!" Jaiden menatap datar wajah sedih sahabatnya itu.


Benar,Niel dan Rubi baru saja bertunangan dua tahun yang lalu.


Tepatnya perasaan itu tumbuh sejak Rubi kelas dua senior high school,gadis itu sudah berusaha mendekati Niel meski ia tau pria itu tak sebaik kelihatannya.


Niel bukanlah pria dari kalangan berada,dan mengetahui rasa cinta gadis itu padanya,Niel memutuskan menjadikan Rubi kekasihnya saat masa awal memasuki perguruan tinggi.


Meski hubungan mereka terkesan dingin,namun Rubi rela demi bisa selalu didampingi Niel.


Bahkan biaya pendidikan dokter Niel rubilah yang memohon pada ayahnya untuk membantu .


Hingga,dua tahun sebelum kelulusan,Rubi meminta agar mereka setidaknya bertunangan dulu.


Dan ikatan itu terjadi,Niel yang begitu berambisi menjadi seorang dokter di rumah sakit besar akhirnya bersedia dan berjanji menikahi Rubi setelah lulus.


Namun,sudah setahun lewat dari hari kelulusan,dan pria itu menghilang tak memberi kabar apapun.


"Sudahlah...untuk apa bersedih,jika dia memang menganggap dirimu,dia pasti akan datang sendiri Rubi.Bagaimana kalau malam ini kalian para gadis itu kami ke Royal Club night?!" Aldo berseru antusias.


"Royal Club night? aku dengar itu Club yang baru setahun lalu berdiri? itu Club malam terbesar dan termegah di pusat kota!" Raels menimpali dengan antusias.


"Bagaimana tidak? Club itu dibangun dari 9 koneksi keluarga konglomerat kaya raya di Eropa ini!" Aldo membalas heboh.


"Sudahlah Rubi..jangan jadi seperti dunia akan berakhir dengan tiadanya kabar pecundang itu! ikut dengan kami" Titah jaiden mutlak.


Rubi,gadis itu terlihat kacau dengan mata sembab dan wajah pucat.


Terlalu lama berdiam diri di cuaca dinginnya malam membuatnya sedikit pusing.


"Atau mungkin biarkan Rubi pulang dan beristirahat?" Aira memberi usul ketika melihat wajah Rubi yang nampak pucat.


"Kau mau dia duduk termenung dikamar dan melamun seperti orang bodoh?! seakan dia tak memiliki seorangpun teman disaat terpuruk?! jangan salahkan aku jika pada akhirnya kalian akan mendengar berita seorang gadis bunuh diri karena cinta! Buldshit!" Raels dan Aldo saling melirik dengan meringis ngilu sendiri mendengar siraman rohani dari mulut wasabi jaiden.


Aira berdecak kesal,jaiden ini sekalinya diam akan diam terus bahkan jika ada bencana alam sekalipun,dan sekalinya bicara.

__ADS_1


Sungguh kata-kata menohok yang akan pria berdarah Italia itu keluarkan.


"Let's go... Royal Club night we are coming!!" Raels bangkit menarik Aldo mereka lebih baik menghindari sosok jaiden yang dalam mode sinis.


Panas telinga...panas hati....


Aira melotot kesal melihat raels yang telah kabur bersama aldo.


Akhirnya dibawah tatapan mata tajam jaiden,Aira dengan kikuk menarik Rubi yang nampak linglung.


Melihat keempat sahabatnya telah memasuki mobil masing-masing, akhirnya jaiden mendengus dingin dan berjalan menuju mobil Audi hitam miliknya.


Mereka harus bersiap dan mengganti pakaian jika ingin menuju Club termegah itu atau mereka akan dianggap salah kostum dengan datang ke Club memakai pakaian formal.


..........♣️...........


"Wahhh...lihat betapa besar dan riuhnya Club ini?!"


"Benar...ku dengar pendiri Club ini adalah para tuan muda 9 keluarga konglomerat!"


"Wah....andai bisa melihat satu saja dari para tuan muda tampan itu!!"


"Hei..apa kalian tau siapa pemegang kendali terbesar di Club ini?"


"Siapa...aku bahkan belum pernah melihat secara langsung para tuan muda itu dari dekat...aku hanya tau tuan dari keluarga Houston!"


"Kuberi tahu...pemilik card golden di Club ini adalah tuan muda dari clan Wiguna!!!"


"Akhhhh..mereka terkenal sangat tampan dan kaya raya!!"


"Siapa? bukankah di clan Wiguna ada lima orang tuan muda dari setiap keturunan generasi ketiga sekarang? Tuan muda Raider....Raino...Diego...Arshenio atau tuan muda pertama yang misterius itu?!"


Raels dan Aira memasang wajah tenang begitu mendengar suara-suara riuh bisikan para wanita berpakaian ketat dan berani yang akan memasuki Club sama seperti mereka.


Namun,tidak ada yang menyadari wajah dingin raels yang mendengar nama raider yang disebut oleh salah satu wanita asing itu.


Terlalu riuh dan terlalu ramai.


Raels tersentak begitu Aldo merangkul tubuhnya berjalan meninggalkan Aira yang berjalan perlahan meraih lengan Rubi yang terlihat tak bersemangat.


Jaiden datang terakhir,tepat dibelakang Aira dan Rubi yang malam ini terlihat cantik dengan mini dress sederhana namun tidak merusak mata seperti para wanita yang datang ke Club biasanya.


Jaiden mengangguk puas.


Melempar tatapan dingin pada setiap pria hidung belang yang menatap Rubi juga Aira dengan tatapan lapar.


Raels tak terlalu jaiden fikirkan,karena gadis itu tidak hanya cantik,namun cukup pandai bela diri.


"Wah...Club ini tidak main-main!!" Seru Raels begitu penjaga memperbolehkan mereka masuk ke lobi satu.


Manik Aira dan Rubi saling melirik ngeri.


Ini apa-apaan?!


Kedua gadis itu saling merapat melihat banyaknya pria dan wanita yang tumpah memenuhi dancing floor.


Musik keras menyentak terdengar memekakkan telinga.



Royal Club Night.


Seperti namanya.


Sebuah Club malam yang dibangun dengan semua kemewahan yang ada.


DJ terbaik,minuman termahal serta pelayanan dan dekorasi yang begitu berkelas.


"Kau tau raels? Club ini menurut rumornya,hanya dibangun untuk tempat bermain-main para tuan muda itu.Hanya tempat main! gila tidak?! bahkan lampu Cristal yang berkedip itu dihias batu permata! gaji menjadi pelayan atau bartender disini setara dengan gaji seorang pegawai negeri selama 1 tahun bekerja!" Heboh Aldo dengan wajah syok raels.


"Gila......kau serius do?! " Seru Aira tidak percaya.


"Dan yang parah lagi,Club ini tidak menyediakan layanan wanita berbayar...hanya teman minum tanpa ons! para wanita yang berhasil bekerja di Club ini semua mendapat perlindungan dan asuransi medis untuk kecelakaan kerja! dahsyat....." Aldo semakin semangat memberi penjelasan.


"Dan yah...Club ini tidak bisa dimasuki melebihi lantai dua tanpa kartu VIP,jadi kenapa kau memiliki kartu member? bukankah harga member card disini begitu mahal? kau korupsi ya...." Tuduh Rubi memicing tajam.


Takhhh...


"Akhhhh..kau kenapa?!! sakit tau!!" Amuk Rubi saat Aldo dengan kejam menyentil keningnya begitu pintu lift menuju lantai dua Club tertutup.


"Mulutmu lemas sekali! ini aku diberi gratis oleh tuan raider! entah mimpi apa aku bisa dapat 6 member card begitu saja,lalu aku bagilah pada kalian,kau hati-hati bicara rubi! bagaimana jika tuduhan jahatmu didengar oleh asline dan dia percaya?! kau mau membunuhku ya?!" Sembur Aldo jengkel.


Rubi terkekeh kikuk,Aldo ini lebih garang dari wanita pms sekalipun jika sudah tersinggung.


"Hehe..maaf Aldo...aku hanya menerka saja" Rubi mundur dan bersembunyi dibalik punggung tegap jaiden menghindari mata iblis Aldo yang seakan ingin mencincang dirinya.


Sementara itu..


Raels terdiam.

__ADS_1


Mengapa nama raider tak bisa lepas dari pendengarannya?...


Raels menunduk dengan semburat merah yang entah mengapa tiba-tiba wajahnya terasa panas.


Beruntung cahaya Club ini sedikit remang hingga ia selamat dari mata para sahabatnya.


Begitu lift terbuka,Aldo berbelok menuju meja bartender untuk pesanan antar.Sedang jaiden membawa ketiga sahabat perempuan mereka menuju ruang pribadi di lantai dua.Dimana mereka bisa melihat seluruh eksistensi lantai satu dari atas.


"Sayang...kali ini saja.Lagipula aku hanya menemani pria tua itu minum tidak lebih, lagipula ini juga demi promosi yang akan kamu lakukan bulan depan agar terpilih!"


"Bagaimana aku rela membiarkan kamu bersama pria yang umurnya saja lebih cocok jadi ayahmu?! sayang....aku tau direktur rumah sakit itu orang seperti apa! dia pasti akan berbuat macam-macam nanti padamu!"


Rubi terhenyak,langkahnya terhenti.


Jantungnya bergemuruh kala pendengarannya menangkap suara familiar yang memasuki gendang telinganya.


"Rubi....cepatlah,kenapa justru melamun disana!" Aira datang dan membuyar lamunan Rubi .


Raels dan jaiden sudah memasuki ruang pribadi dan Aira yang terhenti kala merasakan sosok Rubi yang tidak berada di belakangnya.


Dan benar,gadis itu berdiri diam tak mengikuti .


"RUBI!!" sentak Aira kesal melihat Rubi yang tak merespon sama sekali,justru terlihat semakin tenggelam dalam lamunannya.


"Ah..i..iya Aira,maaf...aku..aku ingin ke toilet dulu" Rubi menyahut cepat,menarik senyum simpul yang terasa aneh dimata Aira.


"Kamu bercanda? kita ini baru pertama datang ke sini Rubi! kamu ingin ke toilet seorang diri? jangan macam-macam disini penuh dengan predator!" Aira berbisik tajam,maniknya melirik kesepanjang lorong,dimana ada begitu banyak pria yang setengah mabuk berjalan dan sebagian menatap mereka penuh minat.


Aira memgigil....


Rubi melirik sekitar,dan benar.


Tapi ada hal penting yang lebih dari sekedar mencemaskan para pria asing itu, seseorang dibalik pintu yang tepat berada beberapa langkah dibelakang ia berdiri.


"Tidak Aira,aku akan cari Aldo dan memintanya membantuku mencari toilet,Aldo akan menjagaku,sekarang pergilah raels dan jaiden akan marah jika kita terlalu lama tidak menyusul" Rubi berucap cepat,ia tak ingin Aira mengetahui apa yang ia dengar.


Terlebih dirinya harus melihat sendiri asal suara itu!.


"Baiklah,tapi ingat telfon salah satu dari kami juga kamu dalam masalah,aku tak ingin paman Sanders memarahi kami semua jika tak bisa menjaga putrinya!" Aira bergurau,menepuk lengan Rubi sebelum berbalik memasuki ruang VIP 3.


Rubi menatap kepergian Aira dengan wajah hampa,berbalik berjalan menuju pintu vip nomor 5 dimana asal suara berasal.


"Ahhh...sayang...jangan gigit disitu...geli...ahhh...jangan dihis*p...bagai.. bagaimana jika bairon,rixi atau Cullen datang!"


"Tidak sayang...mereka masih sedikit lama lagi,sekarang aku ingin menikmati waktu bersamamu,sekarang duduk di pangkuanku,jangan berdiri aku sudah tak tahan!"


Rubi tercengang,nafasnya tercekat seolah sebuah batu besar telah menghantam tepat dijantungnya.


Dari sela pintu yang sedikit terbuka,adegan panas itu bagai pisau yang menusuk jantungnya.


Ia melihat wajah sang pria dengan jelas,meski wanita dengan dress merah ketat itu tak terlihat karena membelakangi pintu,tapi Rubi jelas apa yang mereka lakukan.


Nyuttttt....


Rubi mencengkram cardigan putih yang menutupi dress yang ia kenakan.


Wajahnya memerah,air mata menggenang di pelupuk matanya yang telah memerah.


Menutup mulutnya,bibirnya bergetar kelu.


Tes....


Jatuh...


Air mata kehancuran,kekecewaan,rasa marah.


"Ahhhhh......kamu nikmat sekali sayang...tubuh ini miliku!!


"Ahhh..akuh...aku cepat Niel...lebih cepat...."


Rubi menggeleng lemah.


Brakkk...


Tersentak,kedua orang berbeda gender itu menoleh cepat kearah pintu masuk.


Rubi ,gadis itu masuk berdiri dengan air mata deras menatap wajah Niel dengan nanar.


"Tega...tega sekali kamu Niel...APA SALAHKU HINGGA KAU TUSUK DARI BELAKANG SEPERTI INI?!! KALIAN.....HINA!!" Rubi meraung menangis sembari meraih botol bir diatas meja dan melempar kearah Niel duduk sembari memangku wanita setengah nak*d itu.


Prankkkk....


"APA KAU GILA?!! APA KAU BEKERJA SEBAGAI PENGUNTIT SEKARANG?!! BERANINYA GADIS KUTU BUKU SEPERTI DIRIMU MENGHINA DIRIKU DAN WANITAKU?!!" Niel bangkit menarik resleting celananya dan menunjukan wajah berderai Rubi.


"Aku ini tunanganmu Niel,kurang apa aku selama ini padamu? teganya kau seperti ini demi wanita murahan itu?!" Isak Rubi emosi.


Plakkkkk.....


...♣️...

__ADS_1


...TBC...


Well... sebenarnya El mau double up, sayang gadget El erroe,satu episode hilang dan El tidak punya copi-an nya...😌😌


__ADS_2