
...Vote,like dan komentar ya...
...✴️...
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...✴️...
Mobil Audi A3 berwarna putih tulang itu berhenti,dan sosok cantik dengan sepatu hills boots turun dengan wajah dingin.
Asline menatap kediamannya,kediaman sang kakek yang sebentar lagi tidak akan ia tempati lagi.
Mengeryit kala entah mengapa segalanya terasa hening.
Kemana Butler Hans?.
Kakek yang selalu menyambut kedatangannya!.
Asline menapaki undukan tangga,mulai memencet bel,lama menunggu akhirnya dengan sabar asline mengetuk pintu utama vila gradian itu.
"Kakek Hans?"
Tok....tok...tok..
Asline mengeryit kala tiada satupun suara yang menyahut.
Maniknya berkilat.
Ini,dirinya merasa dejavu.
Saat penyerangan di hotel dulu,suasana terasa hening yang begitu membawa rasa dingin.
Tapi tidak mungkin pria itu datang ke vila kakeknya bukan? dari mana pria iblis itu tau?.
Asline tak pernah membeberkan pada media lokasi alamat vila tua Gradian.
Bahkan Dante dan lucinda.
Mereka tak pernah membawa rekan kerja maupun teman mereka ke vila ini.
"Hei Medusa famili...jika ingin bermain denganku,jangan divila kakekku! open the door now! " Asline bukan lagi mengngetuk,kini gadis itu menggedor pintu vila dengan kasar.
Merasa sia-sia, Asline mencoba keberuntungan dengan memutar kenop pintu.
Gotcha...
Klik...
Asline tersenyum dingin begitu pintu terbuka dengan mudah.
Memasuki vila dengan langkah penuh perhitungan,maniknya berkilat awas.
Gelap....
Ini masih siang hari,tapi semua tirai gorden tertutup rapat!.
Tidak ada kakek butler-nya!...
Tidak ada sang kakak Sagara...
Dan yang paling membuat senyum dingin asline semakin dingin adalah tidak ada keluarga Dante!.
"Who are you?" Asline berucap,berdiri ditengah ruang tamu dan menatap lurus ke depan pada kegelapan.
Maniknya berkilat dingin,tidak ada ekspresi diwajah cantiknya.
Hening...
Tidak ada yang menjawab ucapannya...
Tapi instingnya merasakan dengan jelas ada sepasang mata yang menatapnya intens.
Entah dimana?.
"Jangan bermain-main denganku,aku tidak ada waktu mengurus siapapun dirimu.Seseorang yang bersembunyi dibalik kegelapan.. sampah! keluar dan enyah dari vila keluargaku...." Asline berucap begitu tenang,wajahnya terlihat bak air sungai tanpa riak.
Takut?...
Tidak,dia hanya merasa waspada!.
Hingga....
Grephh...
"I Miss you baby...you miss me to?"
Tubuh semampai itu menegang,sebuah lengan kini memeluknya dari belakang ditengah kegelapan.
Dan ia tau...
Ini bukan sosok sang Zeus..
Namun, orang asing yang tak ia kenali!...
Suara serak nan sen*ual mengalun menyapu telinganya,bergidik dan tanpa menunggu semakin menjadinya pria itu,yah.
Pria,karena suaranya yang begitu berat dan tinggi tubuh yang asline rasakan hampir setara dengan sang kekasih, Rayga.
Wushhhh..
Tapkhhh..
Asline berusaha menyikut perut pria itu,meski gagal namun pelukan itu berhasil terlepas.
Lampu segera menyala begitu asline selesai menjauhkan pria itu darinya.
Damn it....
Siapa pria ini?!.
Asline menatap tajam sosok asing yang baru pertama kali dirinya lihat.
"Siapa kau?!" Desis Asline waspada.
Pria itu terkekeh dan bertepuk tangan santai.
__ADS_1
" Hahaha..kau semakin ganas saja baby... tempramen dirimu tak juga berubah sejak terlahir kita bertemu..." Jenaka pria berwajah oriental itu dengan senyuman manis yang asline sadar,itu lebih berbahaya dari serangan langsung.
"Don't call me baby! I'm not your baby bastard...." Desis Asline semakin dingin,maniknya tak bergerak penuh siaga.
Melirik sekilas dua buah anggar yang terpajang didinding.
"Sangat se*si,bahkan saat kau marah...siapa aku? calon suamimu...." Penekan dengan suara berat penuh ancaman mengalun.
Asline terkekeh jijik.
"Kau bermimpi? Aku tau pasti nama dan wajah tampan calon suamiku,dan itu bukan kau!" Asline tersenyum mengejek,dan dapat asline lihat sorot jenaka itu hilang berganti tajam.
"Siapa calon suamimu?!" Desis pria asing itu mulai emosi.
Asline tersenyum manis.
"Tentu saja tuan muda sulung Wiguna.Rayganta Alzeus Theodore Wiguna...dan yang pasti itu bukan kau!!" Asline tersenyum remeh.
"ASLINE....."
Asline segera melompat dan meraih pedang anggar milik mendiang ibunya.
Benar,ibunya dulu adalah seorang atlit anggar profesional.
Srashhh..
Langkah pria itu terhenti dan tawanya meledak,yah.Tawa penuh kemarahan.
Ujung runcing pedang tajam nan ramping itu tepat didepan matanya.
Asline semakin waspada kala ekspresi pria itu semakin berbahaya.
"Back off....jangan bermimpi dengan segala omong kosongmu! aku akan menikahi seorang pria terhormat...dan bukanya pria tidak tau malu yang menyelinap ke rumah orang lain dan membuat semua penghuni nya entah kemana! siapa kau?!!" Tekan Asline dengan ujung anggar yang maju menusuk leher pria itu,pria yang masih diam menatap tajam penuh aura hitam akan ucapan asline padanya.
Kejujuran yang memuat kemarahannya semakin terbakar.
"Rayga? no...me.....akulah yang akan menjadi suamimu kelak! suka tidak suka...." Kecam pria itu tegas.
Bergerak cepat tanpa disadari asline...
"Gerakan ini...gerakan yang sama!" Batin asline kala pria itu kini berdiri dibelakang dengan belati di leher jenjangnya.
"Kau milikku! bukan miliknya! " Bengis pria itu menghirup aroma lavender dari ceruk leher jenjang asline dengan rakusnya.
"BAJINGAN!!" Raung asline tak kala bengis.
Ujung anggar berbelok,bersiap menusuk kebelakang tubuhnya.
Srashhh..
Zrakhhhh..
Asline menutup lehernya yang tersayat belati cukup panjang dan pria itu menutup perutnya yang tersabet ujung anggar asline.
Dirinya sebenarnya bisa menghindar, tapi dia ingin asline merasakan seperti apa sakitnya tergores!.
Sama seperti dirinya!.
"Menikah denganku atau mati?!!" Bahkan tak ada raut kesakitan meski luka serangan asline terlihat cukup dalam.
"Hahaha...Mati saja kau!" Sentak asline tanpa rasa takut.
"ASLINE....AKAN KUBUAT KAU MERAUNG DIRANJANG MILIKKU!!" Pria itu bergerak cepat membawa belati dikedua tangannya.
Tranggggg....
Asline menahan serangan itu dengan pedang anggar nya.
Keduanya beradu dengan wajah sama-sama menahan amarah.
Pria itu semakin menekan kedua belatinya,asline menahan sekuat tenaga dengan anggarnya.
Bughhh...
Brakhhh....
Tubuh Asline terhempas oleh pukulan lutur pria itu pada perutnya.
Jatuh dan menghantam dinding dibelakangnya dengan keras.
Uhuk...
"Bajingan!!" Asline terbatuk merasakan rasanya seluruh organ dalam diarea perutnya terasa seperti diremukaan akibat kerasnya pukulan pria itu.
"Menikah denganku maka tidak ada kekerasan padamu!" Tekan pria itu menatap asline remeh.
"Cih...tidak sudi!" Asline meludah,berdiri bertumpu pada dinding .
Rahang pria itu mengeras.
Wushhhh..
Trankkk...
Degggg..
Manik Asline bergetar kala sebuah belati terlempar dan tertancap di dinding tepat disamping wajahnya,sedikit saja maka daun telinganya sudah pasti akan terpotong!.
Sialan.....
Pria ini adalah mosnter!...
Dia memintanya menikah,namun dia tak segan membunuhnya!.
Asline menggeleng ngeri.
Hingga...
Gerakkan pria asing itu yang hendak melempar belati kembali terhenti saat sebuah anggar lain menekan lehernya dari belakang.
"Jangan coba-coba melukai adikku lebih dari ini!"
Asline tersenyum merasa lega saat melihat sosok Sagara berdiri dengan satu anggar ditangan nya.
Yah,anggar itu ada sepasang.
Asline memegang satu dan satu lagi kini berada di tangan Sagara.
Pria berwajah oriental dengan tindik ditelinga kirinya itu terkekeh dingin.
Berbalik ganas dan menyerang Sagara dengan brutal.
Perkelahian terjadi,pria itu terlihat begitu apik bahkan hanya dengan sebuah belati.
Sagara mengeram menahan amarah.
Asline berlari,menerjang dari sisi belakang.
Curang?.
Gadis itu tak perduli selama bisa membuat pria tidak tau malu ini keluar dari vila keluarga nya.
"Hehehe..dua lawan satu hm? baiklah mari lihat kekuatan sepasang adik kakak ini..." Senyum remeh terlukis,asline berdecih dengan Sagara yang tak menampilkan ekspresi apapun.
Benar...
Siang tadi ia pulang hanya untuk mengambil berkas yang tanpa sadar tertinggal,namun saat memasuki vila.
Kesadarannya tiba-tiba lenyap dan ia jatuh dalam kegelapan.
__ADS_1
Hingga beberapa saat,dirinya terbangun dan entah bagaimana bisa berada di gudang penyimpanan bersama kepala butler-nya .
Bahkan para maid dan penjaga!.
Namun anehnya,tidak ada ayahnya maupun ibu tiri serta Grizela.
Perlahan berdiri dengan kepala pusing luar biasa .
Mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
Vila kakeknya tidak ada yang terasa aneh,tidak ada barang yang berpindah apalagi hilang.
Lantas mengapa sampai dirinya juga pada pekerja vila dibius?.
Perlahan membuka pintu gudang yang beruntung tidak terkunci,dan turun hingga pada akhirnya maniknya bergetar kala melihat sang adik yang tengah terdesak.
Dan disinilah sekarang dirinya,membantu asline mengusir keras pria asing itu!.
"Asline mundur..kau terluka biar kakak hadapi bajingan ini!" Sagara berucap geram,dapat ia lihat gerakan lambat sang adik disertai beberapa ringisan kala serangan mengenai perut adiknya itu.
Tranggggg.
"Tidak kak! kita usir bajingan ini sama-sama!" Asline berucap sembari menangis belati yang hampiri mengenai wajahnya.
Sagara mengangguk dan keduanya kembali menyerang dengan brutal.
Hingga..
Dorrrr...
"KAKAK!! BAJINGAN,BERANINYA KAU MENEMBAK KAKAKKU!!" Asline berlari mendekati sang kakak yang sudah terduduk dengan kaki kiri yang tertembak.
Darah mengucur deras dan mengotori celana kain Sagara.
Celana berwana abu-abu itu telah berubah gelap oleh cairan darah.
"Enough!!" Pria itu berucap kesal,permainan ini sangat memakan waktu.
Dirinya hanya butuh melukai asline hingga pernikahan calon istrinya itu gagal.
Dan setelah itu ia bisa membawa asline ke Moskow dan menikah disana!.
Rencana baiknya hancur oleh kedatangan saudara gadis itu.
Mengapa bius yang ia berikan begitu cepat berakhir,dan kini kehadiran Sagara merusak segalanya!.
"Yah..benar..cukup dan pergilah kau dari sini!!" Asline berucap emosi,menekan lengan kirinya yang mengeluarkan darah oleh perbuatan pria asing itu.
Sepasang adik kakak itu berdiri bersisian dengan pedang anggar yang saling mengacung,meski kesakitan.Sagara berusaha tetap kuat dan tenang demi ketenangan sang adik.
"Kak..kakimu terluka..." asline melirih,meski matanya menatap kedepannya waspada.
"Tidak apa Line...kakak masih mampu membantu dan melindungimu!" Sagara berucap meski rasa sakitnya begitu kuat.
Manik Asline memerah,pria asing itu berdecih dan berdiri dengan senjata api yang sudah ia simpan kembali.
"Ingat rasa sakit itu! aku akan kembali,membawamu!" Pria itu berbalik pergi dengan wajah gelap .
Setidaknya dirinya sudah memberi hadiah pada sepasang adik kakak itu.
Setelah pria itu pergi,asline membuang pedang anggarnya dan memeluk tubuh Sagara dengan sakit hati.
"Kak..ki..kita kerumah sakit!" Asline bergetar menahan tangis dan amarah.
"Tidak..jangan Line..bawa saja kakak ke kamar kakak bisa mengeluarkan peluru ini sendiri! kamu mau tau? kaka pernah menjadi relawan medis saat remaja dulu!" Sagara berucap melucu meski itu sama sekali tak berhasil membuar air mata asline berhenti.
"Kakak..ba.. bagimana kakak bisa bercanda seperti ini! ak-"
"Tidak Line..kakak tidak bercanda! bawa kakak ke kamar kakak dulu!" Sagara berucap tegas meski terlihat wajahnya begitu menahan sakit.
Asline mengangguk pasrah,dengan tangan bergetar memapah Sagara menaiki tangga kelantai dua.
"Bertahan kak..asline takut...." Lirik gadis itu mencoba kuat demi sang kakak.
Akhirnya sampai ke kamar Sagara.
Kamar bernuansa tenang dengan cat berwarna coklat kayu.
"A..asline,ambil kotak p3k darurat dilaci dekat pintu kamar mandi!" Sagara berucap dengan ringisan tertahan.
Asline mengangguk cepat,meraih kotak itu dan membawa pada Sagara.
Sagara membuka kotak itu dengan tangan gemetar.
Degggg..
Asline berdiri menegang.
Segala macam pisau bedah dengan berbagai ukuran terlihat disana.
"Kak..kau?" Asline bahkan tak mampu berkata-kata.
Sagara merobek celana kerjanya hingga batas paha .
"Line..ambilkan dasi kakak,ambil dua dan satukan!" Titah Sagara dan asline mengangguk meski tak paham untuk apa.
Setelah dasi diikat dan disatukan,gadis itu memberikan pada Sagara.
Sagara mengikat kuat paha kirinya,mengambil pisau bedah dan menatap asline teduh.
"Dek.. kalau kamu tidak sanggup,jangan lihat!" Sagara berucap dan asline segera paham.
Srethhh..
Sagara mengigit bibir bawahnya,tanpa anestesi ia menyayat panjang bagian yang tertembak,darah semakin mengucur deras dari kulit dan daging yang terbuka..
"Ka..kak...." asline bahkan merasakan tubuhnya bergetar melihat sang kakak,lalu bagaimana dengan kakaknya sendiri?.
Pasti sangat sakit!...
Sagara dengan keringat dingin menarik peluru di pergelangan kakinya dengan sebuah pinset.
Asline dengan tangan gemetar mengusap wajah sang kakak.
"Line..jangan beritahu Rayga akan penyerangan ini! kalian sebentar lagi menikah...biarkan dia tenang dulu,setelah semua selesai baru beritahu dia..jangan membuatnya cemas!" Sagara berucap bijak,tangaya meraih kapas dan cairan antiseptik.
Mengusap sekitar luka dan membersihkannya dengan lihai.
Jangan remehkan dia yang merupakan anggota dari persatuan sukarelawan medis saat jaman kuliah dulu.
Asline mengangguk paham.
Membantu sang kakak membereskan peralatan darurat itu,membuang kapas dan sisa kain kasa yang dipakai membalut luka .
Sagara menghela nafas,meraih sebuah botol dan satu set jarum suntik.
"Line..kakak akan tidur...entah mungkin beberapa jam lagi para pelayan akan sadar..mereka di gudang! Line...kunci semua pintu dan jendela dengan security sistem yang Rayga berikan padamu kemarin! vila ini tak lagi aman dengan kunci biasa! setelah terpasang,pergilah ke kamarmu dan tidur..Lusa adalah pernikahanmu,jangan sampai sakit!" Sagara tersenyum melihat anggukan sang adik.
" Jangan lupa obati lukamu,dan tutupi dengan pakaian yang tertutup! Line..kakak....lelah"
Asline menghela nafas.Leher bagian belakang juga lengannya terluka!.
Sial sekali!.
Sagara berbaring dibantu asline yang mulai mengatur suhu AC.
Sagara menyuntik dirinya dengan bius dosis tinggi,ia ingin rasa sakit ini sedikit saja berkurang.
Entah mereka tak akan tau,mungkin saja kini berita ini telah sampai.
__ADS_1
...TBC...