
...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya 🌹...
...Vote,like dan coment ya...
...🍷 Just Happy reading 🍷...
Asline meremat telapak tangan Acella yang terasa dingin,menatap cella yang terlelap asline beranjak pergi.
Setelah Gion turun memberi obat penenang dalam dosis tepat bagi ibu hamil,dan Diego yang merawat luka-luka lebam pada Axel,alarik,raino,Maxim juga Dixon dan Aldrick .
Kini para pria itu didampingi para istri mereka duduk diruang tamu beralas karpet bulu .
Tentu saja tak ada sofa saat acara bahkan belum selesai digelar.
Semua perabotan vila Lumiro belum kembali di benahi
Dixon duduk dihadapan seluruh keluarga besar Wiguna,bahkan Brixton yang terlambat datang saat kejadian menyadari krisis itu .
Beban Dixon lebih berat darinya! sepertinya?.
"Apa yang membuatmu berani datang kemari tuan muda Dixon Hyuga? apa kau cari mati?" Amber berucap dengan wajah tanpa ekspresi,namun maniknya terlihat begitu merah dan gelap.
Dixon menunduk,menghela nafas panjang sembari mulai mengatur perasaan sebelum menjawab.
"Kau tau clan kami sangat sulit memiliki keturunan perempuan? meskipun ada mungkin hanya satu dari salah satu keluarga di setiap generasi! kau harus tau anak muda...anak perempuan bagi kami ibarat sebuah berlian! Sekali berlian itu hancur maka meski kami membuang seluruh kekayaan kami,apa berlian itu bisa utuh kembali? tidak bukan?! jadi bagaimana menurutmu?" Arkansas ikut bersuara,menatap wajah Dixon dengan wajah yang begitu dingin tanpa ekspresi.
Dixon mengangguk sambil tersenyum samar .
Ayahnya benar,clan Wiguna adalah clan yang menjunjung tinggi kebahagiaan keluarga mereka,anak perempuan adalah perwujudan simbol kasih sayang mereka ditengah hidup mengarungi dunia bawah.
"Benar...saya mengakui saya telah berbuat kesalahan besar! dan saya memohon dengan taruhan hidup saya...saya sangat menyesali semuanya,namun satu hal....saya tak menyesali siapa gadis yang sudah saya nodai,karena saya mencintainya!"
Hening......
Amber terbelalak dengan mulut terbuka lebar,Axel terdiam dengan wajah linglung.
"WOAHHHH...DIA GILA!" Raino menyeru horor menyadarkan keheningan seluruh keluarganya.
"Pria ini sakit jiwa!" Max ikut berujar horor.
"Kau...kau...kau bukan pasien rumah sakit jiwa yang kabur kan? atau telingaku yang sedang bermasalah?! pi..katakan pada mami! dia bergurau atau sedang mempermainkan kita?!" amber berucap sembari menatap axel suaminya yang nampak seperti raga tak bernyawa.
"Saya sudah menyelesaikan semua hutang budi mendiang ibu saya....kini saya datang meski terlambat ingin meminta putri anda tuan Axel,saya ingin cella menjadi istri saya agar bayi saya didalam rahimnya bisa tumbuh dengann keluarga yang lengkap! Saya memohon...meski mungkin kalian semua berfikir saya sudah terlambat..namun,lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali...." Dixon berucap teguh,menatap pasangan Lumiro itu dengan gugup.
"Kau FIKIR adikku mainanmu? bosan dengan yang sana kau,lalu datang kemari? cinta?! omong kosong!" Alarik meraung sembari melempar gelas air kewajah Dixon.
Dixon menghela nafas sebelum mengelak hantaman gelas yang datang padanya.
"Maaf semuanya.....boleh line bicara?" Asline menatap seluruh keluarganya dengan senyum samar.
"Ada-apa dear...?" Rayga menarik telapak tangan istrinya dan merematnya lembut.
Menatap wanita cantik itu dengan heran.
Axel mengangguk samar,memberi izin pada salah satu menantunya itu.
"Menurut line itikad baik tuan muda Dixon sudah benar, kesampingkan dulu ego diri sendiri...dan lihat masa depan! Boleh kita menolak Dixon! bahkan kita bisa mengusirnya sekarang juga,tapi bagaimana jika suatu hari nanti bayi cella dewasa dan bertanya dimana ayahnya? fikirkanlah....orang dewasa boleh bertindak,namun bagaimana anak-anak nanti menanggungnya di masa depan? biarkan Dixon bicara dengan cella dulu,apapun keputusannya biarkan mereka jalani pilihan mereka pada akhirnya,bukan kita tak mampu mendukung cella.Namun di masa depan dia tetap butuh sosok laki-laki yang bisa menemani,menopang dan mendukungnya setiap waktu! jika sudah datang...cobalah terima dan biarkan waktu membuat kita melihat bukti nyata dari penyesalan tuan Dixon!" Asline berucap sembari tersenyum menatap wajah termenung seluruh keluarga besarnya.
Anggi menghela nafas panjang,menatap sosok Dixon dengan tenang.
__ADS_1
"Jika kamu memang benar-benar tulus...dan teguh atas semua ucapanmu,maka asline benar! silahkan berjuang dan tebus semua dosamu anak muda...." Anggi menatap wajah tampan Dixon teguh,dan pria muda itu tak kuasa menahan senyumnya.
"Terima kasih nyonya besar Wiguna....tuan dan nyonya Lumiro,saya berjanji akan membuktikan kata-kata saya!" Dixon berucap tegas.
Axel mendengus sarkas.
"Buktikan saja atau revolver milikku akan melubangi kepalamu!" Ucap pria paruh baya itu sengit.
Namun,siapa yang tau.
Jauh di lubuk hati pemimpin clan Lumiro itu terulas senyum puas.
"Aihh...tidak seru tidak ada adegan baku hantam lagi!"
"Kau benar max! padahal aku masih ingin menjajal kemampuan Dixon itu!"
"Ck..ck..ck..bukan hanya Archana yang telah dicuri! bahkan Acella sekarang sudah hampir hilang dari kita!" Gion berucap dengan dramatis.
"Sudahlah jangan drama kalian..sadarlah umur kalian itu .." Arshen menatap jijik ketiga saudaranya.
"Diamlah kau! pergi saja berperang jangan kembali biar Sera tidak sial menjadi kekasih pria bermuka dua seperti dirimu..." Raino membalas sinis.
Arshen mendengus jengkel,mengelus dada sabar .
Mulut raino yang panasnya mengalahkan lahar belum ada tandingannya!.
Bahkan dengan dirinya,arshen merasa setiap kali beradu debat dengan kakak ketiganya itu,sudah pasti dirinya akan berakhir lelah hati dan fisik!.
"Baiklah Dixon...kini kuizinkan kamu melihat cella...dia ada di kamarnya lantai dua! dan ingat satu hal,jangan berbuat macam-macam pada putriku!" Amber berucap sembari menatap wajah tampan itu mengancam.
Dixon mengangguk dan bangkit melangkah pergi.
Kriettt...
Pintu perlahan terbuka,Dixon menatap satu sosok yang tertutupi selimut sebatas perut.
Wanita dengan wajah sembab dan perut yang terlihat lumayan bulat.
Disana ada calon anaknya!.
Dixon masuk,menelisik kamar dengan nuansa matahari terbit itu.
Hangat, sehangat pemiliknya.
Berdiri disisi ranjang,Dixon meraih kursi meja rias dan duduk dalam diam.
Mencoba meraih telapak tangan lembut yang tersembunyi dibalik selimut.
Lembut......
"Cella...aku tau kita belum mengenal begitu dekat....mungkin hanya sebatas lewat...tapi siapa yang menyangka,pandangan pertama aku sudah tertarik padamu? Cella maaf telah membuatmu berada dalam kesulitan! aku tau kata maaf tidaklah cukup,tapi aku butuh waktu menyelesaikan semua urusan keluargaku.Aku sadar mungkin ini terdengar seperti aku mencari alasan.Tapi aku hanya ingin membersihkan jalan sebelum mengambilmu untuk menjadi tanggung jawabku! cella...mungkin kamu tak akan percaya..." Dixon mengelus telapak tangan halus itu dan membawanya kearah bibirnya.
Mengecup setiap jemari lentik itu dengan senyum teduh.
"Aku sudah jatuh cinta padamu sejak itu....mungkin terdengar seperti lelucon! cinta pada pandangan pertama di masa seperti ini? tapi inilah yang aku pahami setelah lama merenung.Kufikir hanya rasa penasaran atas dirimu seorang gadis mandiri dari clan Lumiro...salah satu dari clan yang dulu menjadi musuh ayahku! Tapi yah...itu masalah generasi terdahulu,aku tak ingin mengubur rasaku karena itu.Cella....tolong maafkan aku dan biarkan aku menebus hari-hari berat itu...." Dixon tersenyum lembut,mendekatkan wajahnya dan mengecup kening cella dengan senyum bahagia.
Deggggg...
Manik keduanya akhirnya bertubrukan saat cella membuka mata.
Manik itu bergetar dengan warna merah yang dalam.
__ADS_1
"Kamu fikir aku mainanmu ak-"
"Sttt...yah,aku tau aku salah cella... maaf...sungguh aku meminta maaf.Bahkan jika kamu meminta diriku bersujud dan memberikan jantungku,aku akan lakukan! tapi tolong....jangan biarkan bayi kita menjadi korban dengan orang tua yang tidak lengkap! Cella.... tolong beri aku kesempatan memberimu bukti!" Dixon menutup bibir cella dengan jari telunjuknya,menatap mata indah itu dengan sabar.
Cella mencari jejak kebohongan dimata itu,nihil hanya sebuah kejujuran.
"Tapi bagaimana dengan Sisilia? kalian bahkan sudah dikabarkan akan menikah! bagaimana kamu jelaskan itu?" Cella berusaha duduk,dan Dixon membantu wanita itu bersandar pada kepala ranjang.
"Sisilia adakah cinta yang dipaksakan ,cella! dia menggunakan kejadian saat ayahnya dulu membantu keluarga ibuku yang berada di ujung tanduk demi mengikat aku bersamanya! Saat ibuku masih ada,aku diam saja menerima semua karena saat itu aku belum bertemu denganmu!" Dixon mengelus perut buncit itu sembari tanpa sungkan menyingkap piyama bagian perut Acella,wanita cantik itu tersentak sebelum sebuah elusan lembut diberikan Dixon saat sebuah pergerakan kecil terasa disana.
Bayinya bergerak?!
Keduanya melempar senyum,Acella tidak lagi menolak sentuhan Dixon pada perutnya.
Sepertinya calon bayi mereka senang saat tau kedatangan ayahnya?!.
"Saat ibu menikahi ayah Hyuga dulu....ayahku akhirnya membantu jalur ekonomi keluarga ibuku! Saat mengetahui masalah keluarga ini,ayah berusaha membantu tapi keluarga tander sangat licik! mereka hanya ingin ikatan melalui pernikahan sebagai balasan atas bantuan mereka dulu! aku membatalkan semuanya saat perusahaan keluarga kakekku stabil dan itu saat aku tau kamu hamil buah perbuatan tak sengaja kita malam itu! ibuku tiada tak lama setelah pembatalan pernikahan ku dengan sesilia! Ayahku koma maka dari itu butuh waktu lama untuk aku bisa menemuimu cella,aku harus membersihkan keluarga tander!" Dixon berucap,ada kegetiran di dalam suaranya.
Cella termenung,tubuhnya tanpa sadar mendekat dan memeluk tubuh tegak pria itu .
Dixon mematung.
Tubuhnya sekaku batang kayu!.
"Kamu hebat...kami..bangga padamu.....aku dan bayi kita..." Cella berucap lirih,memeluk tubuh Dixon haru.
Ternyata ada proses yang begitu panjang dan menyakitkan yang harus dilalui Dixon sebelum bertemu dengan dirinya,tapi bahkan bukan senyum ramah.
Ayah dan para saudaranya bahkan memukul pria malang ini?.
Cella menangis terisak dibalik dada Dixon yang tersenyum lega
"Kami?" Dixon berucap jahil.
Seperti sebuah pelangi terang menerangi harinya setelah badai!.
"Hm...aku..dan baby..." Cicit Acella malu.
Dixon semakin memeluk erat tubuh wanita itu .
Bahagia,saat bahagia seakan seluruh dunia ikut bersorak ria untuknya.
"Lusa kita menikah ya...kamu mau kan ikut denganku ke Amerika? ayahku masih koma dan dia hanya punya aku sebagai keluarganya,setelah dia sadar dan pulih aku janji kita akan menetap di manapun kamu mau!" Cella termenung,mengangkat wajahnya menatap wajah tampan Dixon yang mengelus pipinya lembut.
"Boleh aku tanyakan papi dan mami dulu?" Cella berucap lirih,ini terlalu mendadak!.
Tapi menatap wajah lelah yang penuh lebam itu membuat hatinya menjadi remuk.
Dixon mengangguk penuh kasih .
"Terima kasih sayang...."
Blushh...
Acella memerah saat ucapan lembut serta kecupan ringan mendarat di keningnya,lagi.
.... TBC....
Baca novel El tidak bayar loh...cuman beri vote,like dan komen yang panjang hehehe...😘
__ADS_1