
Hai all....
..........
Wiguna Great Mansion.....
Para penjaga gerbang tersentak panik begitu melihat dari kejauhan sebuah mobil Alphard dengan diikuti beberapa mobil sport lainya mendekat dengan kecepatan tinggi.
Dan didepan mereka terlihat sosok Morio yang memimpin dengan motor sport yang melaju cepat.
Seketika para penjaga gerbang awal bergidik.
Majikan iblis mereka datang!...
Begitu kendaraan-kendaraan berkecepatan tinggi itu melewati gerbang awal dan menuju gerbang masuk mansion utama,anggin kencang menerpa.
"Perang dunia pasti!..."
"Berdoa saja yang mulia raja juga tuan muda Arkansas tidak merobohkan tempat ini!"
"Dan membunuh keluarga kerajaan!"
"Bulu kudukku berdiri!"
"Kasihan sekali putra mahkota pasti nanti dia akan diamuk para tuan dan tuan besar! beruntung para tuan muda tidak ada!"
" Siapkan saja mental kalian..tidak lihat wajah pias Morio?!"
"Diam cepat tutup gerbangnya!"
Sungguh,para penjaga muda itu hanya mampu berbisik satu sama lain.
Sementara itu...
"Ibunda sudah siapkan beberapa kotak hadiah ini..semoga para tuan Wiguna itu senang dan tidak mempersulitmu Rixton...sungguh,ibunda gemetar!" Katherina meratap,mengingat saja bagaimana wajah bengis para pria tiran itu jika menyangkut putri keluarga ini.Sesungguhnya bukan hanya dirinya,Bryan dan Briana disisi lain sofa tak kalah mengigil.
Brizian maupun mantan raja tua Brinlaid terkekeh, sepertinya akan menyenangkan!.
Disisi sofa tunggal,Brixton duduk dengan tenang menyembunyikan debaran sengit jantungnya.
Sial,dirinya gugup untuk bertemu calon mertua! benar kan?!.
"An...kaki kakak gemetar...cepat bujuk ayah kita pulang saja..." Bisik Bryan pada adik perempuannya,Briana mengangguk namun apa daya?.
"Pulang? kakak tidak lihat mata iblis kakak sulung?! dia akan membunuh kita jika kita berani meninggalkan tempat ini begitu saja!" Briana menyahut gusar.
Sungguh,diantara semua keluarga bangsawan maupun pengusaha London.Hanya clan ini yang paling sulit dihadapi!.
Mereka terlalu kejam,tidak berperasaan dan tak kenal mengalah!.
"A.. ayah..kakek..apa..apa tidak bisa kami kembali duluan? sungguh.. sepertinya saya tidak enak badan.." Rengek Bryan meratapi nasibnya.
"Tutup mulutmu! tubuh saja yang berotot tapi nyalimu sebesar biji jagung! diam..." Desis Brixton akan ratapan sang adik.
Bryan meluruh frustasi.
Mengapa dia harus terseret diantara pertarungan para Titan yang akan segera terjadi ini?! mengapa?!.
Hingga...
"BRIZIAN....BERANINYA KAU DAN PUTRAMU ITU!!!!!" Raungan bak sambaran petir terdengar disertai hempasan daun pintu yang hampir roboh!.
Arkansas bahkan tak perduli telah merusak pintu aula tamu Mansion nya.
Dyazel maupun Imanuel mengusap keringat dingin dikening mereka.
Tuan mereka,Arkansas terlihat sangat marah!.
Lihat saja bagaimana seorang raja kerajaan Inggris itu tak ada harga dirinya sama sekali olehnya!.
Brizian menarik sudut bibirnya yang berkedut geli,tak ada rasa takut.
Namun raja Inggris itu terlihat senang.
Oh...
Rival lamanya yang setenang air mulai berombak!.
Brinlaid menghela nafas panjang,melihat para pria generasi putranya Brizian berdiri dengan kilatan petir dimata mereka.
Arkansas.....
Arion.....
Axelio....
James.....
Beruntung hanya para pria ini saja yang dirinya lihat, bagaimana jika para generasi muda 2 Arkansas berkumpul semua? sudah pasti raga tuanya tak akan sanggup,Brinlaid terkekeh miris.
Hingga mata tuanya menatap sosok Rafendra yang masuk terakhir keruangan itu.
Sudahlah!...
"Apa-apaan ini?! beraninya kau bermimpi melamar putriku? kau masih ingin bertarung denganku Brizian?!" Dengus Arkansas yang masuk dan berdiri dengan tangan bersidekap angkuh.
"Come on your hegness! jangan coba melirik putri polos kami untuk masuk ke lingkungan istana penuh intrik!" Rion menghardik jengkel.
__ADS_1
"I'm the king...dan aku bisa menikahkan putraku dengan gadis manapun yang dirinya suka.." Brizian menyahut kalem.
Rion melotot bengis.
"Your hegness...kekuasaanmu tidak berarti bagi clan kami....jangan coba-coba melirik putri kecil keluarga ini..." Kali ini suara jengkel Axel menimpali.
Brizian terkekeh.
"Tanpa izin diplomasi kerajaan, perusahaan kalian kehilangan keistimewaan tanpa batas ! ingat..istana yang memberi izin besar perusahaan beroperasi " Brizian berucap kalem.
"Orang yang sungguh tak tau malu....!" Desis James menatap wajah kalem tanpa dosa sang raja.
Brizian terkekeh menatap kursi sofa dihadapannya dengan senyum manis.
" Kenapa kalian semua berdiri saja? lihatlah tuan besar Rafendra bahkan sudah duduk dengan tenang,tunggu apa lagi? silahkan duduk!" Ucap Brizian dengan tidak tau dirinya .
Rion mendelik,tuan rumah siapa yang berbicara siapa?!.
Orang tidak waras ini sungguh membuatnya jengkel!.
" Tamu tidak tau diri..." Desis Arkansas penuh peringatan.
Brizian mengangkat bahu acuh dan melirik seluruh pria clan Wiguna itu heran.
"Dimana para pihak wanita? putri manismu itu?" Brizian menatap wajah dengan ekspresi tak terbaca dari Arkansas,pria itu terlihat tak seperti biasanya.
Mereka memang sering beradu baik fisik maupun mental dengan kata-kata luar biasa,namun Brizian yakin kali ini ada yang aneh.
Dyazel yang melihat situasi suram mengerikan dengan senyum paksa memerintah para maid menghidangkan makanan ringan dan minuman dingin.
Dan setelah meja dihiasi berbagai desert,Katherina yang merasakan hawa-hawa iblis yang semakin tajam meraih sapu tangan dan mengusap keningnya gugup.
Sungguh, gelar ratu-nya seakan tak ada gunanya dihadapan para Titan ini!.
"Brinlaid tua...ada apa kau bawa putra dan cucu-cucu mu ke kediamanku? kurasa istana kalian tidak terkena bencana hingga kalian sekeluarga harus mengungsi kemari?" Suara rendah bernada penuh hinaan terdengar, Rafendra sungguh jengkel dengan raja tua yang tak tau diri ini, berpura-pura tak tau maksud kedatangan mereka dan menunggu apa yang akan tamu tak diundang itu katakan.
Brinlaid terkekeh geli.
"Tua? come on dude....usiamu bahkan setahun lebih tua dariku! tua jangan menyebut orang lain tua..." Balas Brinlaid jenaka.
Katherina mengigil,kenapa suami juga ayah mertuanya justru membuat marah tuan besar Rafendra dan tuan Arkansas itu?!.
Apa mereka lupa tujuan datang ?!.
"Khem...begini maaf menyela..tuan besar dan tuan Arkansas..kami datang kemari membawa lamaran putri bungsu anda untuk putra sulung kami....tolong an-"
"Kalian datang kesini mau melamar? Tidak ada lamaran dan keluar dari sini!" Titah Arkansas mutlak,pria paruh baya tampan yang diliputi kekesalan itu berucap langsung tanpa basa-basi.
Brizian berdecak malas dengan helaan nafas panjang Brinlaid.
Cucunya yang malang dengan calon mertua keras kepala!.
"Mengapa tidak? saya ingin melamar karena saya ingin memberi kehidupan pernikahan pada putri anda....saya mencintai gadis manis itu dan saya ingin bertanggung jawab atas rasa ini....saya tidak main-main oleh karena itu saya membawa seluruh keluarga saya kemari.Apa alasan anda berkata tidak?!" Brixton berucap dengan senyum miring.
Aula tamu benar-benar jatuh dengan hawa dingin yang berputar horor.
Ingin setiap penjaga maupun maid yang bertugas melarikan diri dari aula,namun apa daya bergerak saja maka mata salah satu iblis itu akan menatap mereka tajam!.
"Putri kami sedang sakit...tidak ada lamaran bahkan jika keluarga kalian sendiri yang meminta! pergi jangan menambah beban kami..." James berucap sembari melirik perubahan ekspresi wajah Brixton yang berubah.
Wajah dingin nan sombong itu pecah kala maniknya bergetar hebat.
Sakit?...
Gadisnya sakit dan dirinya tak tau?!.
Brixton menatap kedua tangannya yang gemetar entah mengapa!.
"Hapus niatmu...aku tidak berniat membuat putriku menikah dengan cepat!' Arkansas berdiri,sudah cukup basa-basi.
"Tidak...saya harus tau... archa?" Brixton bangkit dan menghalangi langkah Arkansas yang menatapnya tajam.
Brrrrrr.....
Para maid bahkan Dyazel dan Imanuel mundur dengan ekspresi ngeri,mengapa seakan ruangan ini menjadi sedingin kutub?!.
Bryan dan Briana saling memeluk menatap kakak sulung mereka prihatin sekaligus ngeri.
"Kau mau mati....?"
Begitu suara suram bernada berbahaya itu jatuh,para pria Kingsley hanya bisa mendengus jengkel sedang para pria clan Wiguna melempar senyum remeh.
Katherina menggeleng lemah,mengapa sulit sekali?!.
Brixton melirik dingin,membalas tatapan sengit calon ayah mertuanya itu dengan senyum miring.
"Pa..paman besar Arkansas...to..tolonglah maafkan saja keinginan kakak sulung ka-"
" Ck...anak muda apa kau mau mati juga? diam dasar penganggu!"
Bryan seketika terbungkam oleh sarkasme dari sosok Arion yang duduk menatapnya tajam dari seberang sofa.
Kenapa jadi dirinya juga kena imbas?! sabar...
Bryan merinding mundur teratur.
"Kukatakan...bawa seluruh keluargamu kembali Brinlaid! aku tak tanggung jawab jika kepala cucu sulungmu tertembak disini.." Rafendra berucap sembari memutar cangkir teh nya tak minat.
"Kukatakan sekali lagi... aku ingin menikahi archana!" Tegas Brixton penuh tekad.
"Bedebah ini!!!!!" Arkansas mengeluarkan revolver dari balik rompi miliknya dan menodongkan tepat dikening Brixton yang berdiri tenang.
__ADS_1
"BRIXTON!!" Katherina meraung ngeri.
Sungguh senjata itu kini tepat di kening anak kesayangan! Katherina meratap nanar sembari menarik kerah pakaian Brizian agar segera bertindak.
"Enyah!" Tekan Arkansas dengan wajah memerah tiada kesabaran.
"Mengapa kau begitu tak ingin aku melamar putrimu sekarang? apa..sakit apa hingga aku tak kalian izinkan melihatnya!" Desis Brixton tersulut.
"Archana diserang oleh musuh rayga dan asline dibawa pergi! sudah cukup musuh putra sulung kami,kami tidak ingin menambah daftar bahaya dengan mengizinkan cucuku masuk kedalam istana..." Rafendra berucap sembari melirik wajah Brixton yang terditorsi badai.
"Penyerangan.....?" Brixton bergumam rendah,Katherina terbelalak dengan Briana menggeleng horor.
Brizian menatap sosok Arkansas dengan tatapan yang sulit dipahami sedang Brinlaid menghela nafasnya, akhirnya situasi ini tercerahkan.
Brixton menurunkan tangan yang memegang senjata itu dari keningnya.
Arkansas tak berkata-kata.
Brixton berbalik menatap setumpuk mahar yang keluarganya bawa.
Meraih mantelnya dibawah tatapan iba kedua orangtuanya.
"Gadisku terluka dan aku tidak tau? hahahaha..beraninya dia.... baiklah,rupanya aku harus bergabung dengan calon kakak iparku untuk berpesta,bukankah begitu tuan besar Rafendra?" Bryan bergidik melihat perubahan wajah sang kakak.
Sang putra mahkota menatap wajah tuan besar Wiguna dengan senyum manis membalut kesedihan.
Rafendra menatap Arkansas yang berada dibelakang Brixton,pria itu tersenyum samar.
"Bergabunglah....." Rafendra berucap rendah.
Brixton menekan earpeace ditelinga,maniknya berkilat.
"Simon...block seluruh bandara,stasiun kereta,pelabuhan juga seluruh hotel maupun rumah sakit di seluruh Inggris! jangan ada satupun yang keluar dari negara ini! ini perintah absolute dari calon raja masa depan Inggris! dekret kerajaan diturunkan!"
Brizian menatap putranya yang bergerak pergi dengan senyum miring.
Begitu suara deru mesin mobil terdengar, keheningan menyapu seluruh aula.
"Begitu menantu kalian ditemukan...aku harap kalian tidak menolak lamaran kami! Tuan besar Rafendra...Arkansas aku sebagai raja negara ini menginginkan putri keluarga kalian sebagai menantuku! dan ini sudah mutlak" Brizian bangkit merapikan jas resmi kerajaan yang ia kenakan.
Terkekeh kala decakan dingin keluar dari bibir rivalnya,Arkansas.
"Dan yah....50 kotak sutra,30 kotak perhiasan,5 akte tanah,10 surat kepemilikan toko pariwisata akan kutinggalkan disini sebagai mahar awal, Rafendra...Jika kau tidak melihat putra juga cucuku,maka lihat saja aku sebagai kawan lamamu!" Brinlaid terkekeh geli melihat wajah suram Rafendra,raja tua itu tertawa senang dan berlalu pergi.
"Dad....berikan saja seluruh mahar itu pada yayasan amal clan kita! bukankah itu hadiah? terserah kita mau kita apakan bukan?" Rion berucap jengkel.
Bugh...
"Bedebah! kenapa kau memukulku Axel?!" Rion berseru kaget.
Axel menghela nafas berat.
Kenapa bodoh sekali saudaranya ini?!.
"Kau menerima lamaran mereka?" James menatap Rion tak habis fikir.
" Apa karena aku berniat mengambil semua mahar itu kalian berfikir aku begitu? oh..come on! bukannya aku menerima..tapi mahar yang begitu mahal ini sayang sekali jika dibuang begitu saja! bukankah mereka memberikan pada kita? jadi itu terserah kita mau diapakan semua ini! ayolah...itu semua bernilai ratusan juta dollar!" Seru Rion dengan senyum miring.
Sungguh,hidup bersama kayra yang begitu mencintai uang selama ini membuatkanya mengerti,mereka memang kaya.Namun apa salahnya menambah kekayaan clan mereka dari uang yang berasal dari keluarga kaya lain, apalagi ini adalah keluarga nomor satu di Inggris!.
Manik Rion berkilat licik!.
Axel saling melirik james yang terlihat begitu tertekan.
Kayra yang bermata uang telah membuat Rion tertular!.
"Hentikan itu! kembali kerumah sakit dulu" Rafendra berucap jengkel melihat kelakuan putra keduanya itu!.
Dan begitu para Titan itu pergi,para maid dan penjaga saling melirik dengan helaan nafas penuh kelegaan luar biasa.
............
Disisi lain....
Asline menatap sosok wanita yang sibuk menata makan malam untuk dirinya diatas sebuah meja kecil.
Wanita itu nampak berusia setara dengannya, senyum penuh arti asline terbit.Dirinya merasa sudah jauh lebih baik melangkah turun dari ranjang.
"ASTAGA NONA!!" Pelayan wanita itu memekik saat asline tiba-tiba entah kapan sudah berdiri dibelakangnya.
"Kau sudah bekerja keras ya....siapa namamu?" Asline berucap jenaka,meneliti penampilan cukup cantik maid wanita itu.
Maid itu terlihat seperti menghormati dirinya,namun sorot mata merendahkan dapat asline temukan dari mata wanita itu.
Pelayan yang menyukai majikan rupanya? apa dia merasa asline sebagai ancaman?.
Istri dari rayga itu tersenyum miring.
"Nona..ada 10 hidangan sehat yang tuan Calvin perintahkan koki vila ini siapkan untuk anda..makan dan tolong jangan menyusahkan tuan kami!" Pelayan itu berucap dengan senyum lembut penuh kepalsuan.abai atas pertanyaan asline sebelumnya.
Asline mencibir dingin.
Pelayan itu berbalik setelah selesai mengatur meja,namun.
Brugh....
Asline memukul tengkuk pelayan itu dengan telak,cepat dan akurat.
Wanita itu jatuh tak sadarkan diri.
"Time to calling my real husband!" Asline menyerigai,menatap bayangan ponsel dari balik saku rok pelayan itu.
__ADS_1
...TBC...