Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
Diego family


__ADS_3

...Vote,like dan komentar ya 🌹...



...♠️.....♠️...


...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...♠️.....♠️...


Sementara itu....


Disisi lain,Diego meringis ngeri melihat air mata ibunya.


Disisi lembut dan rapuh sang ibu,sang ayah.


Dexter nampak mengerikan dengan wajah tanpa ekspresi juga seringai dingin yang terulas disana.


Diego menggaruk tengkuknya kala aura dingin menusuk tiba-tiba menguar.


Namun....


Bukan dari sosok ayah bak iblis itu,namun ...


"ANAK BEDEBAH INI!! MASIH INGAT PUNYA IBU TIDAK?!! DUA MINGGU MENGHILANG TANPA KABAR DAN KEMBALI MEMBAWA SEORANG GADIS? KAU APAKAN ANAK ORANG DIEGO?!! MAU BUNDA CORET DARI KARTU KELUARGA HAH?!! DASAR ANAK NAKAL!!!!"Nafas Arabela memburu,wanita paruh baya cantik itu berdiri dari dekapan sang suami dan menunjuk wajah melotot horor putranya dengan geram.


Hilang sudah image lemah lembut nan penyabar putri Rafendra itu,kini hanya ada sosok ibu yang tengah memarahi anaknya dengan tegas.


Para putra be menutup mata meringis kala telinga mereka berdengung akibat amukan ibu penyayang yang kini merubah mode sengol bacok!.


"Bunda..bunda Diego yang cantik dan baik hati...tenang Bun...jangan marah dulu ya....ini Diego datang bawa manantu Bun-"


"APA?!! BICARA APA KAMU?!!" Diego menatap wajah murka sang ibu dengan mulut terkatup rapat.


Bagaimana ini?....


"Menantu? apa maksudmu Diego? " Rafendra menatap wajah dingin Dexter,nampak ayah dari Diego itu begitu menahan amarah.


Sedang Ara,terdiam.


Wajahnya yang awal begitu kesal dan marah kini kosong,duduk lemas disamping suaminya yang mengelus pundak wanita itu.


Diego menghela nafas berat,melirik sosok cantik Deli yang berdiri menunduk menggenggam telapak tangannya erat.


Dengan perlahan Anggi berdiri ditengah suasana berat ruang keluarganya.


Menarik perlahan tangan gadis disisi Diego dengan lembut dan membawa gadis muda itu duduk di sofa untuk dua orang.


Diego dan Deliana duduk berdampingan dengan wajah pucat Deli.


Kelima putra be.


Raider,Ryu, Maxim,Gion juga Alarik duduk menyilang kan kaki disetiap kursi sofa mewah yang terdapat disana.


Menunggu penjelasan!.


Deliana mengangkat wajah,menatap sosok wanita tua yang tersenyum simpul padanya.


Balas tersenyum karena entah bagaimana,sosok ini membawa rasa damai dibawah senyum simpul itu.


"Diego...ayah menunggu!" Dexter duduk menatap kejam nan penuh intimidasi pada sosok Deigo yang duduk menatap matanya dengan mantap tanpa keraguan.


"Aku tidak tau apa yang telah kau lakukan putraku..tapi ayah harap...kau bertanggung jawab atas apapun keputusan hidupmu,itulah putra dari seorang Dexter Wishutama!" Dexter membatin dengan sorot mata penuh arti.


"Dexter.... tenang" Rafendra berucap penuh wibawa.


Mengangguk samar dan Dexter mulai mengendurkan otot-otot tegang yang terasa ditubuhnya.


"Benar apa yang mungkin kalian semua fikirkan,aku...dan Deli...kami,sudah menikah di desa White Mountain beberapa hari yang lalu,ayah...ibu"


Deigo dengan memantapkan hati, menjelaskan tanpa keraguan.


Degggg....


Ara menggeleng lemah,tubuh menyandar lemas di sandaran sofa.


Dexter memijit pelipisnya tidak habis fikir akan kelakuan putranya itu.


Rafendra terkekeh samar,meneguk cangkir kopinya lagi dengan tatapan mata penuh arti.


Anggi menghela nafas panjang dengan manik membulat horor kelima saudara Diego.


Ryu saling melirik raider yang nampak kesal.


Sial...


Mereka yang tertua setelah Rayga juga xain,meski berbeda bulan saja belum mengikat janji,sedangkan ini?!.


Namun...


Apa ini?!


Mereka di langkahi oleh Diego,adik mereka!.


Maxim menutup mulutnya menahan tawa,dirinya yang menebar benih dimana-mana sampai kini saja belum menikah, benar-benar spechless akan kelakuan Diego.


Alarik terdiam menatap begitu dalam wajah Deliana,sesaat bayangan gadis penumpang gelap manis itu melesat dibenaknya.


Aira....


Yah,dia akan segera menyusul sebentar lagi.


Alarik janji itu pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Hingga.....


"HIKS....DADDY KAK DIEGO MENIKAH TIDAK MENGUNDANG ARCHA!! ARCHA MAU JADI BRIDESMAIDS KAKAK-KAKAK DAN KINI KAK DIEGO MENIKAH TIDAK BILANG-BILANG!!"


Semua mata menatap kearah sepasang ayah dan anak perempuan manis yang baru saja memasuki mansion dengan wajah dingin sang pria dan wajah berkaca-kaca sang putri.


Archana menangis berdiri mematung didepan pintu masuk ruang keluarga setelah mendengar kata-kata sang kakak.


Deigo mematung,sial.....


Kini dia harus menghadapi dua malaikat berhati selembut kapas...


Ibunya...


Dan....


Adik perempuannya.....


"Archa..dengarkan kakak dulu,waktu itu kakak dalam keadaan darurat,ka-"


"KAU MENGHAMILI GADIS ITU DULU DIEGO?! WOAH...TIDAK KUSANGKA TENYATA KAU LEBIH BERACUN DARI AKU!!" Diego mengeram kesal mendengar suara bak sambaran petir Maxim.


Sialan saudaranya itu!...


Tidak bisakah jangan menumpahkan bensin ditengah kobaran api?!.


Diego menatap sengit wajah menahan tawa serta tatapan penuh ejekan dari Maxim juga Gion yang duduk bersama itu.


Laknat!....


"Diego,selesaikan masalahmu dengan kedua orang tuamu.Archa dengan Daddy!" Arkansas berucap penuh ancaman menatap dingin wajah putus asa Diego.


Pria muda itu mengangguk kaku,sial.


Aura Arkansas yang tenang lebih mengerikan daripada wajah murka ayahnya sendiri.


Arkansas membawa Archa dengan gendongan ala koala begitu putri manisnya itu nampak memberontak kesal dan ingin berlari memukul sang kakak.


"KAK DIEGO JAHAT!! TIDAK PUNYA HATI HUUU..ARCHA TIDAK SUKA KAKAK LAGI,ARCHA TIDAK BISA PAKAI GAUN BRIDESMAIDS YANG CANTIK!! SEMUA KARENA KAKAK TIDAK BILANG MAU MENIKAH!! ARCHA MARAH DENGAN KAK DIEGO...JANGAN BICARA PADA ARCHA LAGI!!!" Archana meraung menangis keras di gendongan koala sang ayah yang menutup mata menahan dengungan oleh suara merdu putrinya.


Diego pasrah...


Arkansas telah menghilang bersama tangisan kesal Archana.


Anggi menghela nafas panjang,bersandar lemas di bahu Rafendra yang mengelus punggung istrinya geli.


"Diego,mulailah memberi penjelasan" Dexter berucap dengan sisa kesabaran,percuma dirinya marah semua telah terjadi.


Deliana menatap wajah cantik ibu mertuanya dengan manik memerah penuh penyesalan.


"Sebenarnya...."


........Back........


Disebuah kamar rawat inap,Diego duduk berdampingan dengan Deliana yang nampak menangis terisak.


Pria paruh baya dengan selang tertancap menghiasi tubuhnya itu menatap sayu keduanya.


"Tuan Fort...Deliana menghubungi saya dan mengatakan anda ingin bicara sesuatu? saya disini tuan Fort..saya akan mendengarkan apapun yang ingin anda sampaikan" Diego berucap ramah,kesabaran yang tidak pernah ia berikan selain pada keluarganya kini ia tunjukan pada sosok pria paruh baya yang kini terbaring lemah dengan begitu banyak alat penunjang hidup.


"Ayah....Deli mohon..Deli tidak apa ayah,kami..."


"Deli...ayah tidak akan hidup..lebih..lebih lama lagi,ayah..tidak bisa meninggalkan, meninggalkan kamu sendirian,percaya ayah nak..." Tuan Fort berucap lirih,nafasnya terengah-engah dengan wajah pucat pasi memandang sendu wajah putrinya.


"Dokter Diego...."Fort memanggil lirih,Diego menatap wajah kesakitan itu dengan jantung berdebar, perasaan kacau balau menghinggapi hatinya.


Senang? .


Sedih?.


"Tolong...nikahi putriku,aku..aku hanya berharap padamu.Matamu...aku bisa melihat kasih sayang untuk Deli disana...hah...hah..sebelum aku tiada,ikrarkan janji kalian disini maka aku bisa pergi dengan tenang hah.....Deli...ayah sudah tidak kuat lagi nak...jantung ayah sakit...sakit sekali.." Fort berucap lirih,air matanya berderai menatap wajah sembab putrinya yang menangis dalam kebisuan.


Diego meraih telapak tangan tua itu,maniknya begitu kuat memancarkan keteguhan dan penerimaan.


"Saya berjanji...saya juga sangat mencintai Deli,saya tau kami baru bertemu.Namun,saya pastikan tidak ada main-main dalam kehidupan saya,pasangan hidup saya.Akan saya ikat dalam janji seumur hidup pada Tuhan!" Diego berucap dengan penuh tekad.


Deliana menatap wajah tampan itu dengan manik bergetar haru.


Dan sore itu,dengan brangkar rumah sakit yang dibawa oleh ambulans menuju sebuah katedral.


Suara musik mengalun lembut,gereja katedral kecil yang berada di batas desa White Mountain kini terlihat begitu ramai oleh para warga desa yang datang untuk memenuhi undangan dari kepala desa mereka.


Undangan pernikahan sang bunga desa White Mountain.


Deliana Fort.


Gadis cantik itu dengan gaun pernikahan putih sederhana,melangkah masuk kedalam gereja dengan didampingi oleh seorang tetua desa pihak dari mendiang ibunya.


Manik indahnya berkaca-kaca begitu pintu gereja dibuka.


Harmoni lagu pengiring langkahnya mengalun membawa tangis haru biru,meski sang ayah tengah berbaring disisi sang pendeta dengan seluruh alat penunjang hidup nya.


...Heart beat fast...


...Colours and promises...


...How to be brave?...


...How dan i love when Iam afraid to fall?...


...But watching you stand alone...


...All of my doubt suddenly goes away somehow...


...One step closer...


Taburan bunga mawar berjatuhan dari langit-langit gereja,Deliana memegang erat buket bunga pernikahan ditangannya dengan air mata mengalir deras.


...I have died everyday waiting for you...


...Darling don't be afraid...


...I have love you for a thousand yeard...


...I'll love you for a thousand more...


Diego menatap calon istrinya yang kini berjalan masuk dengan senyum teduh,maniknya memerah dan tak pernah ia bayangkan.


Dirinya akan menikahi seorang gadis tanpa satupun anggota keluarganya yang datang.


Ini semua begitu darurat.


Tuan Fort masih bernafas sampai kini hanya untuk melihat pernikahan putrinya,dan Diego.


Meski merasa begitu sakit karena tak sempat memberi kabar pada keluarganya,namun semua sepadan saat dirinya bisa menjaga Deliana disisinya.

__ADS_1


Gaun putih sederhana itu,menyapu jutaan kelopak mawar yang berserakan menghiasi jalan menuju seseorang dimana hidup baru mereka akan dimulai.


Semua pemuda desa menatap kagum akan wajah cantik gadis itu,dan para gadis memekik iri akan wajah tampan calon dari putri kepala desa mereka.


...Times stand still...


...Beauty in all she is...


...I will be brave...


...I Will not let anything take away...


...What standing in front of me...


...Every breath...


...Every hour has come to this....


...One step closer...


Diego mengulurkan tangan,Deliana menyambut uluran itu dengan wajah penuh harapan.


Keduanya menghadap sang pendeta yang telah memegang Alkitab.


" Diego Wishutama Wiguna...apakah kamu akan menerima Deliana Fort sebagai istrimu? bersamanya dalam susah dan senang,sehat dan sakit hingga maut memisahkan kalian?" Sang pendeta bertanya menatap wajah tampan putra Dexter itu dengan penuh kasih.


"I do!" Balas Diego tanpa banyak berfikir.


Pertanyaan sama dilayangkan pada Deliana.


Gadis itu terdiam sesaat,menatap sang ayah yang berbaring di ranjang rumah sakit tepat disamping sang pendeta.


"Deli.aku tidak memaksa...tapi ingatlah ini semua permintaan ayahmu.Jangan kecewakan dia Deli.." Diego berbisik penuh kasih.


"I do" Balas Deliana menatap kearah pendeta kembali dengan satu keputusan mantap dihatinya.


Benar...


Ini sudah benar...


Jika ayahnya begitu yakin,maka keyakinan ayahnya adalah suatu kewajiban untuk dirinya percayai.


Deliana akan mengikuti.


Pendeta mengangguk ikut senang.


Menutup Alkitab dan mulai menatap para tamu.


"Penyatuan yang di berkati Tuhan ini...jika ada yang merasa keberatan,maka bicara sekarang atau diam untuk selamanya!" Tegas sang pendeta dengan senyum samar.


Hening...


"Tuan muda Diego, silahkan memasangkan cincin ini di jari pasangan anda" titah sang pendeta.


Pendeta menggangguk puas.


" Diego Wishutama..kau boleh mencium istrimu" Sang pendeta mundur.


Diego meraih wajah cantik Deliana dengan lembut, mengecup bibir pink itu dengan lembut .


Prok....Prok...


Riuh tepuk tangan menggema.


Wajah cantik Deliana memerah dengan senyum penuh kepuasan Diego terbit lebar.


Lagu kembali mengalun,Diego membantu sang istri berbalik menghadap tamu dan menunduk hormat sesuatu tradisi di desa White Mountain.


Berjalan menuju tempat dimana sang ayah terbaring.


"Ayah...hiks..aku..Deli sudah menikah ayah...apakah ayah senang sekarang? apa ayah sudah bisa bahagia?" Deliana menangis samar, tangisan kebahagiaan ditengah kesedihan.


Para tamu menitikan air mata kesedihan.


"Deli..Ayah..se.. senang, bahagia lah sayang...ay.........."


Hening.....


Tut......


"AYAH.......JANGAN... JANGAN TINGGALKAN DELI AYAH!!!" Tangisan Deliana pecah,detektor jantung yang dipasang oleh Diego juga tim medisnya berbunyi nyaring dengan satu garis lurus.


Para tamu menutup mulut mereka penuh kesedihan.


Sore itu,katedral yang harusnya dipenuhi kebahagiaan justru terisi oleh tangisan pilu dari semua warga desa,terlebih Deliana.


Fort berpulang,berpulang setelah puas melihat sang putri satu-satunya menikah.Menikah dengan pria yang tepat.


Diego begitu sedih,sepanjang proses pemakaman dirinya tak melepaskan pelukannya pada Delia meski sesaat.


Dua Minggu setelah pemakaman,Diego akhirnya memutuskan membawa Deliana untuk menemui keluarga besar clan Wiguna.


.......off......


Arabela menutup mulutnya dengan manik memerah penuh penyesalan.


Dexter nampak menerawang akan bayangan kehidupan keras menantunya itu.


Benar,apapun telah terjadi dan gadis itu kini menyandang marga keluarganya.


Wishutama!...


"Deliana.....itu namamu bukan?" Dexter berucap dengan anggukan kecil wanita itu.


Yah,wanita.


Karena dia bukan lagi gadis namun seorang wanita yang telah menikah.


Rafendra menunggu,Anggi menatap dalam keibaan.


"Selamat datang nak, selamat datang di keluarga kami" Dexter berucap lembut,Diego tersenyum bahagia akan respon ayahnya.


"Selamat datang di keluarga besar kami..Clan Wishutama Wiguna" Ara menambahi dengan senyum keibuan.


Deliana menutup mulutnya dengan manik bergetar hebat.


Tak ia sangka.


Keluarga kaya raya ini ternyata begitu baik!.


Dirinya kira,akan ada cemohan dan penolakan sebab latar belakangnya yang hanya seorang gadis dari desa kecil.


Ternyata....


... 🌹...

__ADS_1


.... TBC....


__ADS_2