Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
Evil


__ADS_3

...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya 🌹...


...Vote,like dan coment...


...Happy reading...


...and...


...Keep health...


...♨️...



Kaki jenjang nan kokoh itu berjalan masuk dengan langkah berat,tak menunggu siapapun menyambut.


Membawa serta aura hitam yang dipenuhi kemarahan.


Ricky dan ketiga putranya akhirnya tiba di depan pintu vila.


Bergidik saat manik yang biasa terlihat acuh kecuali pada putri keluarga ini,Sera.


"Tuan...jendral muda ada apa? dimana Sera? apakah dia tidak kembali bersamamu?" Ricky berucap ditengah hawa dingin yang menusuk tubuhnya.


"Dimana perempuan sialan itu?!" Arshen berucap sembari tersenyum miring, giginya bergemeratuk keras dan Ricky tau calon menantunya itu tengah menahan murka.


Tapi kenapa?.


"Jendral... perempuan sial apa? siapa yang anda maksud?" Carol berucap sembari tersenyum mencoba menarik aman sebelum dirinya tau siapa yang sudah membuat pria berstatus tinggi ini marah.


"AUBRIE...KELUAR SENDIRI ATAU AKU AKAN MENYERETMU! "


Deg..


Carol menegang,jantungnya berdegup kencang kala suara menggelegar bak gemuruh petir itu menyambar.


"Tu..tunggu jendral apa maksud anda memanggil putri saya dengan nada seperti itu?" Carol berucap tergugu,ketakutan melanda saat dua orang dengan kaos bebas bersimbol pasukan khusus masuk menerobos hanya dengan satu telapak tangan terangkat dari jendral muda itu .


Arshen menatap Carol dengan tajam,urat lengan pria itu timbul oleh kemarahan.


Grephhhh...


Tangan kokoh itu menyambar leher Carol dan mencekiknya,tubuh itu bahkan terangkat tak menapak tanah!.


Carol tercekik,maniknya melotot dengan wajah memerah kala oksigen mulai terenggut oleh kuatnya tangan itu mencengkram lehernya.


Mencoba melepaskan telapak tangan itu dari lehernya,namun tak bergeming!.


Tangan itu bak memiliki pengait yang mengapit kuat lehernya.


"MAMA!"Pekik ketiga putra Sebasta melihat kesakitan Carol.


"CAROL!" Ricky panik.


Ada-apa sebenarnya?!.


"Putri...putri..putri...! kau terus menyebutnya sebagai putrimu! apa kau tidak tau perempuan busuk itu mencoba membunuh putri kandung kalian?! khe..khe..khe ..kau lindungi dia dan kau campak anakmu sendiri?...kalau begitu lihat bagaimana aku akan membunuhnya!"


BRAKHHH....!


Arshenio melempar tubuh Carol hingga terhempas dan menghantam daun pintu vila .


Nafas wanita paruh baya itu memburu cepat,meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


Menoleh terkejut atas ucapan dan tindakan Arshenio .


"TIDAK! LEPASKAN AKU!!"


Carol yang masih ingin menyanggah terbungkam oleh jeritan Aubrie.


Wanita baya itu menatap tak percaya bagaimana putri angkatnya diseret keluar dengan rambut yang ditarik kasar!.


Brukhhhhh...!


Aubrie menangis histeris saat tubuhnya dilempar kebawah kaki Arsenio.


Jendral muda itu menarik pistol dari saku celana belakangnya.


Krak...!


Pupil mata Aubrie bergetar.


"Tunggu jendral..apa ini sebenarnya? tidak mungkin bukan, anda akan menem-"


Dorrrr....!


Alger mematung saat bahkan ucapanya belum selesai terucap.


Dan semua sudah terlaksana!.


AKHHHHHHHH....!


Aubrie menjerit histeris kala timah panas itu bersarang di bahu kirinya.


"BIE!!! JENDRAL APA-APA ANDA?!" Carol berteriak tak percaya atas apa yang terjadi.


Berlari mendekati putri angkatnya yang sudah berguling menyentuh bahunya yang tertembak.


"Pegang dia!" Arshen memberi perintah,dan anggotanya segera menarik Carol dengan menyeret wanita itu kasar,menjauh dari Aubrie.

__ADS_1


Arshenio kembali mengisi satu lagi peluru.


Aubrie menyeret tubuhnya menjauhi pria gila dihadapannya itu.


"Hiks..tidak..tidak..apa salahku hingga kau menyiksaku seperti ini Arshen?" Aubrie menangis menyedihkan,tubuh bagian kirinya mulai basah oleh darah.


Para pria Sebasta hanya mampu berdiri mematung,anggota red Eagle menahan mereka dengan kejam.


Arshenio terkekeh rendah.


DORR....!


AKHHHHHHHH....!


Kembali,setelah bahu kiri kini kaki kanan yang pria itu tembak.


"Berani kau sebut namaku?! dan kau masih bertanya apa salahmu? dasar sialan!" Maki arshenio geram.


Aubrie menangis histeris,para tetangga di sekitar vila tak berani masuk saat sebuah tank berlogo pasukan Red Eagle menghalangi gerbang masuk kediaman Sebasta.


Tapi mereka mampu mendengar suara tembakan serta jeritan kesakitan putri angkat keluarga itu.


Apa yang terjadi dibalik gerbang tinggi itu?.


Hanya mampu bertanya-tanya namun tak bisa mencari jawaban!.


Aubrie menggeleng ribut,bibirnya gemetar dan apapun yang ia fikirkan rasanya tertahan didalam tenggorokan!.


Bagaimana ini?.


"BERANINYA KAU MENCELAKAI CALON ISTRIKU! "


"TIDAK!"


Dor.....


lima tembakan beruntun segera menembus tubuh Aubrie.


Tubuhnya limbung bersimbah darah,Carol menjerit dan merangkak setelah tubuhnya terlepas oleh dua ajudan Arshen.


"Katakan..siapa rekanmu?! siapa yang menjadi otak kalian dalam menargetkan para kakak ipar ku? mengaku!!" Arshenio mendekat,menendang Carol yang berusaha meraih tubuh Aubrie.


Wanita baya itu terguling bak sebuah bola.


Bukhhhh...


Ukhhh.......!


Arshenio menginjak leher Aubrie dengan sepatu booth yang ia kenakan.


Sepatu itu begitu berat untuk masyarakat biasa,dibuat khusus dengan bawah sedikit tajam.


Carol menatap kosong,Ricky dan ketiga putranya terdiam dalam sorot dingin sembari menatap Carol.


Arshen berdecak kagum,wanita ini sudah mau matipun tidak mau merendah?!.


"Katakan..siapa yang menjadi otak?! mungkin saja aku akan memberikan kematian yang cepat padamu..." Aubrie menangis dengan tawa lirih.


Lehernya mati rasa,tubuhnya sakit luar biasa dan nafanya mulai berat.


"Hehehe..kau dan keluargamu begitu hebat jendral! maka..uhuk...carilah sendiri! " Aubrie terkekeh miris.


Arshenio terbahak,dengan tawa rendah yang menyeramkan.


DORR......!


Mata kiri.....


Pecah tertembus peluru,darah tercecer dengan begitu mengerikan.


Carol menutup mulutnya,mual hingga tubuhnya gemetar hebat.


Betapa kejam!.


"Kau fikir tanpa kau bicara kami tidak akan tau? kau belum mengenal kakak sulung ku...bahkan mencari jarum didalam tumpukan jerami saja dia mampu!" Arshenio terkekeh rendah,kembali mengisi peluru disaat nafas Aubrie mulai terdengar pendek.


DORR.....!


Mata kanan..


Kedua bola mata itu telah hancur.


Arshenio menatap sebuah kandang besar yang dibawa dari dalam tank oleh para ajudannya.


"Open it!"


Kranggg...


Jika Rayga suka bermain dengan para serigala,harimau dan burung-burung predator.


Maka Arshenio berbeda.


Sebuah tangki air yang begitu besar,dengan begitu banyak ikan piranha juga lintah penghisap darah.


Carol mundur dengan histeris.


Melihat sebuah pengait mulai mengangkat tubuh Aubrie.


Yah,wanita itu masih hidup meski tengah diambang maut!.

__ADS_1


Jantungnya masih berdetak meski lemah.


Byurrrrr......


Segera...


Begitu darahnya menyebar ke seluruh tangki air, ikan-ikan ganas dan sekelompok lintah bertumbuh gemuk itu bereksi.


Tubuh Aubrie menggelepar saat sedikit demi sedikit daging tubuhnya disambar oleh gigi-gigi tajam nan runcing itu.


Air yang semula bening berubah merah!.


Ricky terjatuh dengan linglung.


Putri kandungnya hampir dibunuh dan kini pelaku tengah tercabik oleh sekumpulan ikan predator oleh kekejaman seorang pria yang akan menjadi menantunya?.


Apa seseorang tengah mempermainkan akal sehatnya?!.


Aubrie tewas tak lama tanpa tubuh yang utuh!.


Para ikan predator kelaparan itu memakan habis dagingnya dan para lintah itu menghisap habis darahnya!.


Yah,katakan Rafendra dan Arkansas sukses mendidik para iblis keturunan mereka.


..........


Ringisan terdengar didalam sebuah ruangan,dan tak lama suara muntahan seseorang terdengar samar dari balik pintu kamar mandi yang berada di ruangan itu.


Layar besar itu benar-benar menampilkan film paling brutal dan mengerikan sepanjang sejarah seorang jendral.


"Huekkk...aku tidak tahan lagi!" Maxim berucap setelah tak kuasa akhirnya keluar dari kamar mandi setelah berhasil mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Para inti menatap pria itu jijik.


Untung saja tidak ada shura disini!.


"Gila anak Daddy Arkansas tidak ada yang waras!" Ucap Gion melirik Rayga yang duduk tenang sembari tersenyum miring atas kelakukan adiknya.


" Sisanya?" Alarik bertanya setelah Vidio singkat penuh darah itu usai.


"Otak dan pelaku bagian aslien adalah giliranku....sisanya mainan kalian.." Rayga berucap sembari memainkan lidahnya menari didalam rongga mulutnya.


"Well...aku benar-benar bergidik setiap dua putra Daddy Arkansas itu beraksi! mereka selalu main kasar dan penuh darah! apakah tidak bisa langsung tembak saja? melihat darah dan daging itu membuatku mual...." Maxim meratap.


Sungguh,dirinya memang biasa membunuh.


Namun dengan cara halus dan rapi tanpa harus mengotori mata dengan jasad korban yang berantakan!.


"Kau seperti baru saja melihat kebrutalan big bro dan arshen! jangan Lambe..." Ucap Raino sinis.


"Tapi no.. bagaimana dengan Victoria? bukankah Margaret mengincarnya?" Diego bertanya sembari menatap wajah raino yang nampak dingin.


"Victoria dan para gadis itu ditahan nenek di bungalow! tidak ada kesempatan bagi rencana licik mendekati mereka saat bahkan nenek sendiri yang menjamin keamanan..kau tau begitu nenek dan mami kayra berucap mereka akan membuat kakek bergerak! bahkan keamanan bungalow hampir sama dengan sistem keamanan gedung putih!" Jelas Raino dengan senyum seringai.


" Hm..itu bagus.. dengan begitu lebih mudah melenyapkan para manusia bodoh itu tanpa takut wanita kalian terpengaruh! Bagus sekali..ternyata nenek dan mami masih sama saat muda.. diam-diam menghanyutkan!" xain berkomentar kagum.


" Oh iya jelas...ibu suri dan para permaisuri siapa dulu?? " Gion berdecak bangga.


Yang lain menatap dokter muda itu miris,sudahlah!.


.........


Sementara itu....


"Tidak...tidak...tidak... bagaimana mungkin?! aku sendiri yang sudah mempersiapkan Aubrie dan segala persiapannya! bagaimana dia langsung ketahuan hanya dalam jarak waktu terbit bulan dan matahari?!" Patricia memekik emosi,wanita paruh baya itu menghancurkan seluruh benda di rumah persembunyian pribadinya.


Berjalan mondar-mandir,mengigit kuku ibu jarinya gelisah.


"Arkhhhh!! sialan para Wiguna itu!!!!" Patricia meraung sembari melemparkan tubuhnya pada sofa,pening dan gelisah.


BRAKHHH...


Pintu terbuka dan Margaretha masuk dengan wajah pias disusul grizela.


"Tante Patricia bagaimana ini?! Aubrie yang bahkan hanya menyenggol tubuh Sera dengan luka kecil dibunuh begitu sadis! bagaimana denganku?! aku menuruti saran mu menyerang asline dan raels! aku akan jadi yang selanjutnya! pasti aku.....harusnya aku tidak menyerang secara langsung....tuan muda Wiguna itu tidak akan melepaskanku! adiknya saja begitu sadis... bagaimana dengan kakaknya?! hiks... bagaimana ini....?" Grizela yang pada awalnya meraung kini melirih dan jatuh lemas diatas lantai dingin.


Kedua orang tuanya tengah pergi untuk urusan bisnis mencari investor demi usaha baru mereka setelah Wilie melempar mereka keluar dari Gradian hotel.


Patricia terdiam, kepalanya pusing dengan akal yang entah bagaimana menjadi kosong!.


"Meski aku memakai akun palsu saat transfer uang pada supir itu....tidak menutup kemungkinan dewa IT alarik itu tidak bisa menemukannya.....Aubrie saja ketahuan....lalu bagaimana denganku?! Kabur...yah...aku harus segala lari dari negara ini!" Grizela tertawa nanar,bangkit dibawah tatapan panik Margaret.


Enak saja mau pergi dan lepas tangan!.


Namun Grizela tidak perduli,selama dirinya belum ketahuan lebih baik segera pergi jangan lagi terlihat oleh para pewaris itu!.


" Biarkan dia pergi! Margaret....sekarang lebih baik fikirkan keselamatan dirimu sendiri!" Patricia bangkit,menaiki tangga.


Benar,setelah berfikir jernih.


Grizela benar.


Pergi sampai keadaan tenang dan dia bisa menyusun rencana kembali!.


Andai saja itu bisa,tetapi.


Mereka tak tau bahwa,sejak tetes darah Aubrie jatuh mereka telah diburu!.


__ADS_1


.....TBC.....


__ADS_2