Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
Keinginan kerapuhan


__ADS_3

...Vote,like dan komentar ya ❣️...



...🔱.......🔱...


...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...🔱.....🔱...


Gadis cantik dengan dress maroon itu berdiri mematut diri didepan sebuah cermin full body di hadapannya.


Menghela nafas sembari menatap sisi leher jenjangnya yang tertutup foundation tebal.


Sial!


Sungguh awal pekan yang menjengkelkan.


Asline menghela nafas,awal kariernya baru akan dimulai dan ia harus berjalan dengan dagu terangkat tinggi tak menunduk atau lemah oleh apapun.


Setelah puas akan pakaian yang akan ia gunakan hari ini untuk bekerja,Asline berjalan menuju meja rias dan mulai merapikan sedikit rambut panjang indahnya,memoles sedikit lipblam dan meringis kala melihat bibirnya yang entah bagaimana terlihat sedikit membengkak!.


"Sialan!! setelah leherku sekarang bibirku?!! masa ia ada hantu mesum dikamar ku ini?!! astaga takhayul tinggal lama di Indonesia kebawa sampai London! kau gila Asline!!" Asline meringis ngeri sendiri atas pemikiran ya.


Benar,dari pada takut oleh pembunuh.Asline,gadis ini lebih takut hantu!.


Entahlah,membayangkan satu sosok tak berwujud yang bisa melayang atau menembus dinding dengan wajah mengerikan sungguh membuat bulu kuduk berdiri!.


Yah,Asline pernah memiliki seorang teman indigo dulu saat tinggal dalam pelarian bersama Willie sang paman.


Hingga suatu hari,karena kejahilan teman indigonya itu,yang tanpa ia minta justru membuka mata batin seorang Asline.


Hingga gadis itu tanpa sadar bisa melihat makhluk halus itu tanpa disadari.


Meski sudah ditutup kembali,sampai saat ini Asline masih trauma.Yah,gadis itu takut setelah makhluk halus pertama yang ia lihat adalah korban dari kecelakaan bus dan sebuah trak.


Asline mengigil menjelajah seluruh sudut kamarnya dengan pupil bergetar,sial setan mana yang berbuat mesum padanya semalam?!.


"Sepertinya kamar ini harus di ruqyah!! benar..kata orang Indonesia harus dibacakan doa,tapi disini mana ada!! paling hanya pengusir hantu.Ed dan Lauren benar tidak ya bisa mengusir hantu dengan bantuan katedral?! astaga...itu hanya film Asline!! mana ada Conjuring disini, ah...masa bodoh lama-lama aku terlambat!!" Asline menyambar tas serta kunci mobilnya berjalan cepat keluar kamar.


Sedang sisi lain...


Hatchim......


Seorang pria dengan wajah jengkel sibuk menggosok hidungnya yang terlihat memerah.


Wajah tampan yang biasanya dingin tanpa emosi itu terlihat terditorsi akibat sejak beberapa jam yang lalu terus bersin dengan hebat.


"Kau kenapa bos?"


Pria tampan itu menoleh menatap seorang pria berwajah kalem yang masuk keruanganya sembari membawa sebuah laptop.


"Tidak!" Jawab pria itu acuh dan kembali sibuk dengan tumpukan kertas bernilai milyaran dollar.


"Ada apa dengan cuaca hari ini? mengapa aku terus bersin sejak tadi?! merepotkan saja!!" Batinya kesal.


"Cih...dasar kutub!!"


Dan disisi Gradian....


Sepatu hill boots hitam Asline bergema disepanjang lorong menuju tangga .


Gadis itu berjalan dengan anggun dan tenang,wajah cantiknya terlihat datar tanpa emosi.


Kriettt...


Menarik kursi tepat disamping Sagara duduk.


"Wah...lihat perempuan tidak tau diri ini? sudah membuat semua orang susah dan dia masih berani duduk untuk sarapan?!" Sarkas Lucinda dengan tajam,senyum manis diwajahnya benar-benar tak sesuai dengan ucapan sinisnya.


Asline merotasi bola matanya jengah,meraih selembar roti dan mengoles selai coklat diatasya dengan gerakan lambat dan tenang.


"Mama...sudahlah jangan marah lagi pada sister Asline,kita ini hanya menumpang di rumah warisan kakek dan kita harus menghormati pewaris kakek...jangan buat sister Asline marah atau kita harus pergi dari rumah ini pada akhirnya hanya" Grizela melirih sendu,hinaan tajam dari balik kata-kata lembutnya membaut bulu kuduk Asline berdiri.


Astaga....


Asline rasanya ingin memberi sepasang ibu dan anak ini medali Oscar!.


Melirik sederetan pelayan baru yang menatap Grizela dan Lucinda iba.


Asline terkekeh dingin.


Ingin menggiring opini buruk untuk dirinya?


Ingin membuat hancur image dirinya didepan semua orang?


Asline benar-benar muak! tidak bisakah dirinya santai di pagi hari saja?.


"Kasihan nona Grizela..."


"ia aku dengar pernikahan tuan Dante dulu tidak direstui karena latar belakang!'


" Benar..meski pewaris,apakah nona Asline begitu kasar pada bibi juga sepupunya sendiri?"

__ADS_1


" sayang sekali kecantikan nona Asline tidak sejalan dengan kekejamannya dalam memperlakukan keluarga tuan Dante!"


"Benar.. terakhir kali bahkan nona Grizela masuk rumah sakit dan harus dioperasi*!"


Grizela menyerigai kala melihat reaksi dari para pelayan baru.


"Sister Asline...hari ini adalah hari kamu benar-benar mengepalai seluruh hotel,kuharap ayahku bisa mengurangi beban kerjamu,ayahku adalah pekerja yang handal!" Ucap Grizela semakin mendorong mood Asline jatuh lebih buruk.


"Grizela sayang...papamu kini hanya seorang wakil direktur humas,Asline punya keputusan mutlak tak perlu bertanya pada papa untuk mengambil keputusan,lagipula Asline tidak pernah mendengar nasihat para tetua!" Dante menyerigai dingin.


"Sayang sekali kakak ipar santa-"


Prankkkkkk


Gelas berisi susu hangat itu hancur begitu saja.


Bukan,bukan Asline yang melakukannya.


Sagara!.


Pria itu melempar gelas susu itu kearah mangkuk berisi sereal rendah lemak Grizela.


Mata semua orang melotot ngeri.


Ini pertama kalinya seorang Sagara kehilangan kontrol diri.


"DIAM!! DAN TUTUP MULUT KALIAN YANG BERBAU SAMPAH ITU?!!"amuk Sagara emosi.


Asline mendesah lelah,memeluk lengan sang kakak tenang.


"Kak....calm down" Ucap Asline yang melihat kulit putih sagara memerah.


Wajah tampan pria itu terlihat gelap.


"Jika tak ingin KUROBEK mulut kalian,diam dan jangan bicara omong kosong tentang adik perempuan ku!!' Tekan Sagara dengan tajam.


"GARA!!APA KAU MEMAKI AYAHMU,IBUMU BAHKAN ADIKMU?!! KAMI INI KELUARGAMU,APA SALAHNYA MEMBERI SEDIKIT NASIHAT PADA ASLINE?!! INGAT GRIZELA ITU ADIKMU!!" Dante membentak dengan kilat kebencian pada sikap putra sulungnya itu.


Kedua pria beda usia itu menatap sengit satu sama lain,nafas Dante memburu dengan sorot mata dingin Lucinda.


Grizela meringkuk saat secuil pecahan gelas itu rupanya menancap pada kulit lengannya.


"Bedebah!!" Sagara bangkit dan menarik tangan Asline berdiri.


"Asline,ikut kakak.Kita bisa cari makan diluar,disini penuh racun!!" Desis Sagara sarkas.


Asline menatap wajah marah Dante dan sengit Lucinda ,menyerigai dingin dan berbalik menatap sorot kebencian dari Grizela yang sibuk mengeluarkan serpihan gelas dari kulit lengannya.


Sagara berlalu namun Asline masih berdiri bersidekap dada sembari menatap tenang wajah ketiga orang dimeja makan.


"Terimakasih atas sarapan nikmat ini paman,bahkan putramu sendiri tau...mana iblis polos berwajah malaikat dan mana malaikat sebenarnya meski terlihat seperti iblis,well.....terkadang meski mata orang lain buta untuk melihat kebenaran....." Asline menatap wajah para pelayan baru di kediamannya dengan dingin sebelum melanjutkan apa yang ia ingin katakan.


"Tetapi......tidak semua orang akan menjadi buta dan tuli!! jangan melewati batas mu,atau aku maupun putramu sendiri akan menyeret dirimu ke jurang saat kau sadar tidak ada yang benar-benar bisa kau miliki" Asline meneguk susu coklat digelasnya,berlalu pergi setelah menyambar dua buah sandwich.


"Butler Hans...Asline pergi dulu,selamat pagi" Asline tersenyum menyapa dan menatap butler tua yang menatap dirinya sendu.


"Selamat pagi juga nona kesayangan kakek,dan selamat bekerja" Balas Hans dengan senyum teduh saat punggung kecil Asline perlahan menghilang dari balik lorong .


Hans menatap Dante serta istri dan juga putri pria itu dalam sorot mata dingin,hanya karena mendiang tuan besar Gradian juga tuan muda Santanu,serta kasih sayangnya kepada sosok Asline.Hans sudah lama akan pensiun,namun jika ia pergi maka siapa yang mana melindungi nona-nya dikediaman ini?.


...🔱...


"Selamat pagi semua" Sapaan hangat dari sosok cantik itu disambut semangat .


"SELAMAT PAGI MISS GRADIAN!!" Asline tersenyum tipis,semangatnya kembali cerah.


Jaiden, Aldo serta Raels dan beberapa kepala bagian hotel telah duduk bersiap rapat penting kala sosok Asline telah masuk dengan Aira sebagai asistennya.


"Baiklah....untuk persiapan pembangunan resort hotel dengan WJC bisa kita mulai, namun...." Asline melirik sebuah kursi kosong disebrang dirinya duduk.


Melirik Jaiden wakil departemen perencanaan.


"Wakil WJC belum tiba Miss Gradian, sepertinya macet karena salju mulai mencair dibeberapa titik jalan kota" Ucap Jaiden formal.


Benar,meski mereka bersahabat.Namun saat bekerja semua harus bersikap profesional.


Asline mendesah panjang.


"Semoga bukan iblis tiran mesum itu yang datang!! eh...apa yang sudah kufikirkan ini?!! mesum? astaga....stop thinking about the bastard!!" Asline membatin gelisah.


Yah, selama ini memang Asline merasa lega karena bukan sang CEO WJC sendiri yang datang membahas proyek dengan pihaknya.


Namun,entah mengapa hari ini hatinya berdebar kencang.Takut? entah.


"Maaf saya terlambat"


Deggggg.........


Asline menyentuh dadanya yang berdebar kencang saat menoleh kebelakang,helaan nafas lega terdengar dari bibir ranum gadis itu.


"Selamat datang Mr Raider....tidak masalah kami juga baru saja memulai" Aldo berdiri cepat dan mempersilakan orang kedua terpenting di WJC itu untuk duduk.


Asline mengeryit.


Mengapa wajah pria ini nampak familiar?


Astaga.....


"Raino...ini si gila Raino?!!" batin Asline horor.


Meneliti lebih detail.


Memang tidak benar-benar serupa,namun sekilas saja orang akan berfikir pria ini adalah Raino.


"Mr Raino?" Asline memanggil hati-hati.


Raider menoleh dan tersenyum tipis,menggeleng geli melihat wajah horor gadis yang duduk dikursi kepala rapat.


Aira mencubit pinggang Asline horor.


Mengapa temannya mendadak bodoh begini?.


Aira panik melihat pelototan Aldo agar dirinya segera mengingatkan Asline sebelum wakil WJC itu tersinggung.


"Maaf Mr Raider...dia adalah direktur kami yang baru saja menjabat,mohon maklum jika nona Asline belum mengetahui anda" Jaiden maju dengan cepat.

__ADS_1


"Raider? bukan Raino?" Asline masih menatap pria itu intens.


"Haha..benar nona...saya raider wakil presiden direktur WJC,dan Raino....dia kembaran tak identik saya" kekehan renyah terdengar dari pria tampan berusaha 25 tahun itu.


Blushhhhhh.....


Wajah para wanita didalam ruangan itu sukses memerah,namun ada satu yang menatap wajah tampan raider dengan sorot mata dalam.


Gadis itu menunduk dan kembali duduk tak perduli akan keributan rekan wanita lainya.


Asline terkekeh canggung.


sial dia salah mengenali orang!.


Akhirnya rapat dimulai setelah kedua pemimpin rapat berkenalan formal.


Semua berjalan dengan baik,namun tak ada satupun yang tau bahwa meski telinga tajam raider mendengar diskusi dari Asline ,namun matanya terus memandang sosok cantik yang terus menunduk terlihat sibuk merangkum hasil rapat.


Hingga pandangan kedua manusia berbeda gender itu bertubrukan.



Deggggg...


Gadis itu menegang dengan manik yang seakan saling mengunci.


Raels menyentuh belakang lehernya yang terasa dingin begitu pria yang menatap dirinya itu tersenyum,begitu teduh dan.


Tampan!...


Raider menatap pakaian dengan bagian dada sedikit rendah yang Raels kenakan dengan senyum yang terukir indah,namun dimata Raels yang sudah terbiasa membaca ekspresi wajah orang lain itu justru terlihat.


Mengerikan!.


"Ada-apa dengan ekspresi wajah pria itu? marah....kenapa dia terlihat marah? dasar pria aneh!!" Maki Raels menundukkan wajahnya ngeri kala melihat terlalu lama wajah penuh kepalsuan pria tampan itu.


"Miss Gradian....."


Semua mata menoleh ditengah debat strategi pembangunan resort.


"Ada masalah tuan raider?" Asline bertanya kala melihat wajah tampan dengan senyuman manis namun aura disekitar pria itu terlalu berat.


Bahkan kepala departemen yang duduk disamping pria itu tanpa sadar menjauhkan kursi mereka sedikit perlahan dan hati-hati.


Raider menggeleng,maniknya menatap satu persatu staf wanita yang ikut dalam rapat itu dengan intens.


" Tidak ada Miss,anda bisa lanjutkan persentase ini..." Jawab Raider menatap kedua bola mata indah Raels dengan tajam.


Gadis itu menunduk dan perlahan memundurkan kursinya agar tubuh tegap Jaiden menutupi dirinya dari pandangan tajam raider.


Apa lagi kesalahannya?.


Raels mengumpat kesal sendiri.


2 jam telah berlalu....


Rapat telah usai dan semua orang keluar dengan wajah cerah saat proposal rancangan program diterima.


Raider menjabat tangan Asline dan Jaiden dengan wajah tenang.


"Terimakasih atas kepercayaan Wiguna Coorporation pada Gradian world" Asline menatap kagum sosok muda dengan pemikiran kedepan seperti Raider.


Asline sendiri binggung,Raino ternyata adalah kembaran raider,namun mengapa kepribadian mereka bertolak belakang jauh?.


Raider sosok pemikir hebat,tenang dan terkendali dalam tindakan.


Sedangkan Raino,pria itu terlalu tergesa-gesa,berantakan dan bengis!.


Sayangnya memang Asline tak mengetahui karakter sesungguhnya raider yang mungkin melebihi Raino sendiri.


Raino akan menyerang langsung,namun raider suka bermain licik.


Yah dua wajah yang hampir serupa namun sifat yang tentu berbeda.


Raider menatap kearah gadis yang terlihat diam terduduk sendiri setelah Asline berlalu bersama rekan lainya.


Tatapan mereka kembali bertemu,raider berbalik tanpa senyuman dan pergi tanpa kata.


Deggggg....


Raels tersentak, hatinya seakan di tekan dengan kuat dan entah mengapa sorot dari mata sendu pria itu benar-benar menghancurkan hatinya.


"Ada apa denganmu Raels?!! jangan lupakan siapa kamu dan siapa raider itu! dia adalah tuan muda dari grup pemegang ekonomi terbesar di London,sedangkan dirimu? jangan terlalu tidak tau malu Raels! jangan berharap apapun!!" batin Raels sendu.


Kini semua telah pergi,tersisa Raels yang menghela nafas begitu berat didalam ruang konferensi yang telah kosong.


Tes......


Tersentak kala setetes cairan bening jatuh di punggung tangannya.


"Kenapa kamu bersikap dingin? apakah ucapan manismu dimalam itu hanya bualan? setidaknya teman tidak akan bersikap dingin pada temannya! kau pembohong sama seperti lelaki lain yang hanya melihat fisik!!" gumam Raels perih.


Menghapus air matanya dan bangkit keluar dengan lunglai.


Bibirnya tersenyum,namun mata indahnya menyendu.


Grephhhh.....


Deggggg....


Satu tarikan kuat dan tubuh rapuhnya tenggelam dalam kehangatan penuh kasih.


"I'm sorry...don't crying"


DEGGGGGGGGG....


Pelukan lembut dengan sapuan hangat membelai pipinya yang basah oleh air mata.


...🔱...


...TBC...


Tolong Vote dan like setelah membaca kisah ini,jadilah pembaca yang baik dengan memberi support pada penulis.


Thanks for reading 🌹

__ADS_1


__ADS_2