
...Vote,like dan coment ya 🌹...
...🍷 Happy reading🍷...
Ruangan besar dengan segala furniture yang mencerminkan kepribadian sang pemilik,kini terlihat begitu cerah saat semua gorden tersingkap.
Pria tampan dengan wajah terlihat lebih tenang itu menatap kearah satu lukisan besar yang baru saja dikirim oleh seorang pelukis terkenal yang dirinya bayar.
"Kau sudah menyiapkan segalanya?" Pria itu bertanya pada sosok pria lain yang baru saja masuk sembari membolak-balikkan sebuah map dengan beberapa lembar kertas didalamnya.
"Kau yakin mau melakukan ini setelah tau hasil penyelidikanku?" Pria dengan map ditanganya itu bertanya sangksi.
Dixon berbalik,menatap wajah tertekan Aldrick dengan acuh.
"Apa masalahnya? itu urusan masa lalu generasi terdahulu...aku tak ingin masa itu mempengaruhi keinginanku dimasa kini!" Dixon berucap dengan senyum jenaka nampak acuh tak acuh.
Aldrick meraup wajahnya gusar,duduk menghempas pada sofa.
Dixon berjalan mendekat kearah Aldrick dan meraih map yang sudah tergeletak diatas meja.
"Apa tanggapannya?" Dixon berucap tanpa menatap lawan bicaranya,terlalu fokus pada hasil laporan di beberapa lembar kertas itu.
"Dia mengunjungi sebuah klinik kecil di daerah St Petersburg,dokter wanita disana memeriksa calon bayi-mu dan itu telah memasuki usia 2,5 bulan! Gadis itu terlihat sedikit berbeda dari sikap biasanya...kurasa dia menyembunyikan hal ini dari keluarganya! Dixon,gadis itu tenang terombang-ambing dalam kekalutan fikiran! dan yah,kurasa untuk tuan dan nyonya Lumiro itu.Bukan hal yang mudah untuk tetap menjaga ketenangan dalam waktu yang lama! Ku ingatkan kau....mungkin saja hidupmu akan tamat jika kau belum bergerak saat janin itu bertambah besar!" Aldrick berucap dengan senyum pahit.
Dixon meletakkan kertas laporan medis hasil pemeriksaan kandungan ibu dari calon anaknya.
Menghela nafas panjang dan duduk bersandar sembari menatap langit-langit ruang kerjanya.
"Aku akan bertanggung jawab! aku pastikan itu,tapi sebelumnya itu ada beberapa masalah yang harus diselesaikan dengan wanita yang coba mama tunangkan untukku! Ini masalah pelik Aldrick,saat keluarga mama berhutang budi begitu besar pada keluarga wanita itu! dan aku harus selesaikan semua ini sebelum aku berani menemui keluarga Lumiro..."Dixon meletakkan map ditangan sembari menatap wajah mengerti Aldrick.
Sepertinya masih butuh melewati beberapa jalan berkelok lagi sebelum tujuan lurus dapat tercapai.
"Baiklah..semoga berhasil Dix,kau tau bagaimana paman begitu mempercayai segala keputusanmu? Paman punya konflik dengan mereka dimasa lalu..jangan menambah beban dihari tua-nya.." Aldrick melemparkan sedikit candaan sebelum bangkit dan pergi dengan wajah mengiba.
Dixon mendengus dan menghela nafas panjang sembari menarik senyum tipis kala menatap sosok yang terlukis cantik itu .
"Aku tak tau apa arti perasaan ini? tapi... satu hal yang aku tau,aku ingin ada untukmu berbagi segala rasa yang selama ini terlewati seorang diri....aku ingin tau, bagaimana rasanya dicintai?" Dixon menutup mata,bersandar pada sofa dengan senyum teduh.
.........
Acella mengernyit dalam kala rasa sakit menyerang punggung juga perutnya.
Hawa dingin seketika menyelimuti setiap jengkal kulitnya.
Putri dari Axel itu perlahan membuka mata,Dirinya terkekeh nanar saat mengingat dimana dirinya kini berbaring.
Bathup!...
Bak mandi yang berwarna putih gading tanpa air didalamnya,Acella tertidur disamping benda itu.Semalam,Acella terus merasa mual yang tak ada habisnya.Hingga akhirnya,lelah menyerang dan tanpa sadar dirinya menghabiskan sepanjang malam tidur didalam kamar mandi!.
Acella menarik kedua kakinya,meringkuk dengan wajah terbenam diantara kedua lututnya.
Mengapa sangat menyiksa?!.
"Mengapa kalian menyiksaku? apa salahku?" Acella menangis terisak sembari meremat perutnya yang perlahan mulai terlihat membulat.
Selama sebulan terakhir,Acella selalu menggunakan pakaian longgar yang diluar dari kebiasaannya.
Semua itu demi menutupi bentuk tubuhnya yang perlahan berubah.Takut,Acella belum dan tak akan berani membayangkan jika sampai seluruh keluarga besarnya tau,terlebih dirinya sendiri tak mengetahui.
Siapa yang telah membuat janin ini hadir didalam perutnya?!
Tok...tok..tok..
"Nona cella....apa nona didalam? maaf mengganggu,tapi nyonya meminta nona turun untuk sarapan" Acella mengangkat wajahnya menatap pintu kamar mandi.
Suara kepala pelayan kediaman Lumiro terdengar jelas dari balik daun pintu itu .
Acella menghela nafas dan dengan cepat menuju wastafel untuk membasuh wajahnya dan merapikan sedikit rambutnya.
"Paman Win ya..nanti saya turun beri tahu saja pada mami saya akan menyusul..." Acella berucap dari balik pintu,berusaha menjaga nada suaranya agar tidak terdengar bergetar.
Hingga...
"Cella...buka pintunya!"
Deggggg...
Acella berdiri dengan wajah pias.
__ADS_1
Itu suara alarik!.
Mengigit kuku jari telunjuknya dengan panik,Acella akhirnya menghela nafas dan mengatur kembali ekspresi wajahnya.
Klik...
Pintu perlahan terbuka,dan dapat wanita cantik itu lihat kini,Alarik duduk dipinggir ranjangnya menatapnya intens.
Acella menatap wajah tampan nan dingin alarik dengan manik bergetar cemas.
Dirinya lupa siapa saudara kembar itu! Dan kini dia menyesali akan kebodohannya.
"Jangan sampai aku mencari tau sendiri apa yang terjadi pada dirimu cella?! Aku bahkan bisa membongkar rahasia besar seorang raja dalam beberapa jam! Kita ini saudara kembar meski tak identik cela...jangan membuatku kecewa!" Alarik berucap dengan intonasi yang paling membuat siapapun takut!.
Bahkan Acella tak terkecuali!.
"Kau tidak keluar kamar sejak kemarin..tidak ikut makan siang,tidak ikut makan malam bahkan sarapan pagi tadi! Kau ingin membuat mami cemas? papi gelisah? cella...meski aku sudah menikah,kau tetap menjadi prioritasku sebagai kakakmu meski kita hanya berbeda 5 menit! kau adik perempuanku selain Archana,cella.Jangan membuatku merasa gagal sebagai saudaramu!" Alarik mengusap wajahnya lelah dan putus asa.
Dengan bibir bergetar dan mata memanas,Acella meluruh di atas dinginnya lantai kamarnya.
Alarik menatap tangis pilu tanpa suara itu dengan getir.
Mereka terhubung kuat secara batin,meski tak bicara dan nampak baik-baik saja.
Alarik tau Acella tengah menghadapi badai didalam dirinya!.
"Hiks......" Tangis itu terdengar menyakitkan,alarik bangkit dan meraih tubuh saudaranya itu.
Memeluk dan mengusap air matanya dengan senyum teduh.
"Tidak apa-apa kalau kamu takut memberi tahu papi dan mami..tapi jangan simpan apapun sendiri..kamu masih punya aku dan juga Aira.Cella kami semua menyayangi dirimu,apapun yang terjadi kamu tetap putri keluarga ini" Alarik berucap sabar,membawa tubuh Acella duduk disisi ranjang dan menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
"Aku takut....aku tidak siap untuk ini,Alarik...beri aku waktu...aku tau semua orang menyayangiku"
" Dan aku takut rasa sayang itu berubah menjadi kemarahan juga kekecewaan!" lanjut Acella membatin dalam hatinya.
Takut....
Jiwa dan raganya belum siap untuk ini!.
Alarik mengangguk sembari tersenyum mengerti.
"Terimakasih kakak..." Lirih Acella setelah pintu kamarnya tertutup rapat.
Namun....
Tanpa Acella sadari.
Wajah lembut alarik segera berubah menghitam.
Rahang pria tampan dengan kaca mata membingkai manik nya yang selalu menatap jenaka penuh tipu muslihat itu kini berganti bak gemuruh badai.
"Tenanglah..." Aira meriah telapak tangan besar itu dan mengelusnya sabar.
"Kamu benar Honey...dan aku tau setelah melihat kondisi cela,semua dugaanmu pasti adalah kebenaran!" Alarik berucap dengan geraman penuh amarah.
Aira melirik seluruh koridor lantai dua vila Lumiro.
"Kita hanya akan tau jika kita mencari tau! Tapi sebelum itu akan benar jika kamu tidak membiarkan papi dan mami tau! kita harus menjaga ketenangan dulu!" Aira berucap penuh peringatan,alarik menatap istrinya itu dengan senyum jenaka.
"Ketenangan? Ai...kamu fikir siapa kedua orang tuaku? papi dan mami ku? kamu fikir sampai kapan mereka bisa tenang seperti ini? ai..papi bahankan sebelum aku,papi adalah pria dengan julukan mata tuhan! Dia melihat apapun yang ingin dia lihat,mendengar apapun yang ingin dia dengar dan tau segala informasi yang ada di seluruh dunia bahkan sebelum orang lain tau! Aira..jika bukan aku,papi yang akan bergerak sendiri dan saat itu terjadi semua pasti terlambat!" alarik berucap dengan senyum palsu.
"Alarik...jangan macam-macam!" Aira menyentak saat tak jelas jenis senyuman apa yang kini ditampilkan dewa IT itu.
"Jika kutau siapapun BEDEBAH itu,dan jika kutahu sampai dia berani lepas tanggung jawab! Go to the hell..." Aira mengangguk ngeri saat alarik membuat gerakan memotong leher dengan jarinya.
Alarik melangkah pergi setelah mengecup kening istrinya.
Aira menatap punggung suaminya itu dengan gelengan kepala miris.
"Kuharap pria itu sebaik dirimu suamiku..aku wanita yang beruntung karena hamil anakmu...kuharap Acella bisa lebih bahagia dan aku akan senang untuk itu!" Aira bergumam rendah dan berbalik menuju dapur ,haus sekali rasanya setelah semua masalah ini.
..........
Wiguna Mansion..
Raino terlihat menarik kerah belakang pakaian putra semata wayang pasangan Tristan dan sakura itu dengan manik melotot jengkel.
"Lepaskan aku! dasar kau monster dari gunung hantu!" shura berucap dengan intonasi penuh dramanya.
__ADS_1
Raino hanya melirik anak nakal itu tanpa ekspresi,wajah pria tampan itu penuh dengan tepung belum lagi rasa malu akibat menjadi bahan tertawaan seluruh penghuni mansion.
"WAHAI MONSTER! AKU PANGERAN SHURA ALFARIAN,ANAK KESAYANGANNYA PAPA TRISTAN DAN MAMA SAKURA MENYURUHMU MELEPASKAN KU! APA KAU TULI?" shura menjerit mulai kesal,lehernya sakit dan rasanya ingin muntah saat kerah itu seakan mencekiknya, bagaimana dirinya bisa diseret masuk dari halaman depan mansion oleh kakak laknatnya ini?!.
"DIAM BOCAH!" Balas raino jengkel.
"Apa salah pangeran ini wahai budak?! lepaskan dan akan kuampini nyawamu!" Shura masih kekeh dengan dramanya.
Raino tertawa keras begitu jengkel nya laki-laki itu akibat kenakalan adiknya itu.
"Raino...ini kenapa shura kamu gantung macam jemuran gantung begitu?! lepas astaga no!!" Kayra memekik horor saat melihat tubuh shura yang diikatkan terbalik dengan tali yang diikat dari pilar tangga lantai dua hingga lantai satu!.
Kini penampilan shura begitu mengenaskan dengan tubuh diikat tebalik layaknya kalelawar!.
Dan yang membuat kayra hampir meledakkan tawanya adalah penampilan putranya yang seperti gembel!.
Wajah, pakaian bahkan rambut yang dipenuhi tepung ! .
Kayra menatap beberapa penjaga yang terlihat berpatroli.
"Kalian..turunkan shura dulu" Titah kayra akhirnya membuat senyum sombong shura terbit,raino mencibir sinis dan menatap wajah ibunya dengan wajah dingin.
"Shura..katakan pada mami?! inikah yang kamu lakukan setelah mencuri satu kilo lebih terigu di dapur?!" Kayra menatap tajam wajah putra sakura itu,shura meringis malu dan segera menggeleng cepat.
"Mami....ini itu bukan salah Shura! ini salah kak raino... lagipula siapa suruh dia tiba-tiba masuk ke mansion saat shura tenang main lempar tepung bersama para kakak penjaga?" Para penjaga yang berdiri tak jauh meringis.
Yah,mereka beruntung dapat menghindar dari kenakalan tuan muda kecil mereka itu,dan sayangnya nasib malang itu berakhir mengenai tuan muda ketiga! Raino.
"Sudah salah banyak drama lagi kamu! tepung itu dibuat untuk makanan bukan untuk main-main! kamu fikir hujan tepung itu hujan salju?! dasar bocah!" Sarkas raino jengkel.
"Bagaimana semua ini terjadi?" Kayra menatap kepada butler yang terlihat tertekan.
" Begini nyonya...."
...# Back on #...
Dyazel menatap aneh sosok kecil bertudung putih yang tengah menyelinap memasuki dapur.
"Huh..karena semua orang menyembunyikan kue-kue manis itu dari pangeran ini,makan shura buat saja sendiri kuenya!" Shura memasang ekspresi waspada,melirik sekitar dapur yang nampak kosong.
Dyazel memijit pelipisnya pening,anak ini seperti monyet kecil yang selalu berbuat ulah!.
"Tuan kecil... sebaiknya anda mendengarkan nyonya! ingatlah gigi anda banyak yang berlubang karena terlalu banyak makanan manis?" Dyazel mendekat dan berujar sabar.
"Butler diam saja! sana pergi..." shura mendorong keluar pria tua itu .
"Shura? main trik lagi? masuk kamarmu dan belajar sana!" Kayra yang datang tepat waktu menyelamatkan dyazel dari dilema.
Shura meluruh dengan manik murung .
" Ibu ora seneng,wong gemblung!" Anak itu mendumel dengan wajah tertekan kayra atas bahasa aneh anak itu.
"Ini London bukan Indonesia..!" Kayra meraung frustasi.
Setelah melihat shura pergi,kayra mengangguk puas berbalik dan pergi bersama butler untuk memetik beberapa buah segar di kebun belakang.
Dan begitu keduanya pergi,anak laki-laki nakal itu menyembul keluar dari balik pilar dekat tangga.
"Muahahaha...siapa yang bisa melarang pangeran ini? mari ambil tepung dan buat hujan salju!!!"
Dan yah, berakhirlah satu kilogram tepung dibawa lari oleh shura menuju beberapa penjaga yang nampak bertugas,para pria muda itu menyingkir gesit saat sendok demi sendok tepung terlempar mengenai guci,sofa,meja,televisi dan segala furniture yang ada di ruang lantai satu.
Hingga..
Mobil Lexus Hitam yang dikendarai Raino tiba,pria malang yang tak tau apa-apa itu masuk ke Mansion dengan riang hingga sebuah mangkuk yang terbuat dari plastik terlempar kearahnya.
"SIAPA YANG MELAKUKAN INI?!!" Raung Raino saat seluruh tepung mengotori tubuhnya.
Para penjaga dengan serentak mengarahkan telunjuknya pada anak laki-laki yang sudah bersiap melarikan diri.
Raino menyerigai bengis dan berakhirlah anak itu dalam keadaan tergantung!.
...# Back off#...
...TBC...
Besok El sambung,masih nyari ide dulu..
Jangan lupa vote yang banyak
__ADS_1