
...Vote,like dan komentar ya...
...🍃...
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...🍃...
Ada kalanya saat hati seseorang merasa bimbang,perasaan terasa seperti diremukaan entah karena apa.
Dan kini Maxim menyadari arti sebenarnya dari pelabuhan hati!.
Pria tampan itu duduk diruang kantornya.
Lantai tertinggi di gedung Houston Intertaiment .
Ada tumpukan berkas proyek baru tayangan hiburan yang harus ditinjau,sebuah serial televisi yang harus mencarikan para aktor dan aktris telah menunggu dirinya tanda tangani.
"Jihan......jihan..Jihan.....sihir apa yang sudah kamu berikan padaku? kenapa rasanya sakit sekali melihat sikap acuhmu?......apa dosaku sudah terlalu banyak hingga aku bisa melihat tatapan hina dimatamu? hehehehe..Maxim Lee Houston,lihat kemana pesona dirimu selama ini pergi? mengapa bahkan mendapat perhatian sedikit saja dari gadis itu kau tak mampu? Hahaha....para setan itu pasti akan menertawakan dirimu! menyedihkan....." Maxim terkekeh nanar,wajah acuh dan tatapan enggan gadis bernama Jihan itu sukses menghancurkan bagaimana tingginya harga dirinya selama ini.
Berdiri bangkit dan menatap pemandangan sibuknya ibu kota dari kaca gedung kantornya.
Maniknya menerawang,perasaanya bergejolak.
Ceklek...
"What's going on? kau tidak menjawab teleponku dude?" Maxim berbalik dan mendengus malas kala mendapati Raino berjalan masuk bersama Ryuga.
Ada-apa titisan iblis ini datang ke kantornya?.
"Mau apa kalian berdua? pergi sana!" Dengus max malas sekali dirinya melihat senyum licik dari kedua orang ini.
"Kau kenapa? wajahmu seperti gadis yang baru saja patah hati! hahaha..tidak cocok!! kau lupa harus menghandle kapal kargo malam ini bersama Cristian dan aku?" Raino berucap jenaka,berjalan menuju bar mini di sudut ruang CEO Houston Intertaiment itu.
Membuka sebuah kulkas mini dan meraih dua kaleng beer.
"Ryu kau mau yang mana?" Ucap Raino sembari menunjukkan dua kaleng beer berbeda merek.
"Apa saja..." Ucap Ryu sembari sibuk membalas pesan dengan Rubi,wajah tampan oriental itu terus mengulas senyum bahkan tak jarang terkekeh kala balasan terkesan malu-malu terbaca olehnya.
Maxim menatap kelakuan dua saudaranya itu dengan senyum paksa.
Apakah mereka menganggap kantornya ini rumah pribadi?!.
Raino yang menaikan kedua kakinya diatas meja tamu,Ryu yang terlihat tiduran sembari membalas pesan.
Sungguh,darahnya mendidih!.
Apakah mereka tidak tahu bagaimana suasana hatinya kini?..
Tidak lihatkah betapa buruk ekspresi wajahnya kini?!.
Maxim meradang kesal.
"Kalian..kalau mau jadi pengangguran jangan di kantorku!!!!!!!"
Raino hampir saja tersedak beer akibat teriakan jengkel Maxim,sedang Ryu sudah mengaduh kala ponsel pintar miliknya jatuh tepat menghantam hidung mancungnya.
Kedua pria itu menatap wajah memerah padam Maxim dengan senyum menyeramkan.
"Kau mau kubunuh?" Raino berucap dengan senyum menyeramkan.maxim acuh dirinya beralih meraih kunci mobil dan bersiap keluar.
Dia butuh udara segar.
Blam......
Pintu CEO itu tertutup dengan bantingan keras .
Para sekertaris di luar ruang pribadi CEO itu terpekik mengelus dada kaget luar biasa.
"Ada-apa dengan pria labil itu?" Dengus Ryu yang akhirnya bangkit berlalu keluar bersama Raino yang sibuk menyumpah serapahi kelakuan Maxim.
.......🍃........
Mobil sport berwarna putih elegant itu berhenti tepat didepan pintu masuk universitas Cambridg,deretan dosen serta para pengurus bersama rektor kampus itu telah berdiri rapi menunggu sang pemilik turun dari mobilnya .
Dan,kala pintu mobil itu terbuka.
"Kyaaaaa...itu prince Brixton!!!"
"Putra mahkota lihat kemari!!!"
" Dia sangat tampan!! bahkan kudengar dia setara dengan CEO Wiguna industries!!"
" Berharap dia melirik meski hanya sekali!!"
__ADS_1
"Pangeran aku sangat mencintaimu!!!"
Brixton tersenyum kaku mendengar jeritan para mahasiswa perempuan itu,Jacob dan Simon yang berdiri di kedua sisi sang putra mahkota bahkan mulai takut segera akan menjadi tuli mendengar teriakan histeris itu.
"Selamat siang pangeran Brixton...senang anda datang langsung meninjau kemari..." Rektor universitas itu maju dengan ramah menyapa diikuti tundukan kepala para pengurus dan dosen kampus yang tidak mendapat jam.
"Yah..senang bisa melihat anda dan para tenaga pengajar disini semua sehat dan terlihat baik" Ucap Brixton basa-basi.
Sungguh,dirinya adalah seseorang yang begitu irit bicara.
Namun statusnya memaksanya harus terus melempar senyum basa-basi demi mengahadapi masyarakat umum sebagai putra mahkota Britania.
"Mari masuk pangeran..saya akan menemani anda langsung dalam tur pengawasan ini!" Rektor tersenyum begitu lebar,ini adalah pria muda paling diincar setelah tuan muda Wiguna yang telah melepas status lajang tentunya.
Manik Brixton terlihat dingin meski bibirnya mengulas senyum formal,tentunya.
Sampai....
Manik pria yang semula dingin penuh keacuhan itu bergetar dan melembut dengan gelombang yang datang tiba-tiba.
Disana...
Disalah satu lorong di satu dari gedung fakultas.
Berjalan seorang gadis cantik dengan diapit tiga orang gadis lainya.
Gadis itu tertawa dengan begitu bahagia,suara tawanya terdengar samar.Namun tak mambuat alunan merdu itu lepas dari telinganya yang tajam.
Brixton terdiam kaku,hingga pergerakan para pengurus universitas dibelakang pria itu juga terhenti.
Jacob dan Simon saling melirik, lalu keduanya mengikuti kemana arah pandang sang junjungan.
"Aku tau gadis itu memang sangat cantik dan manis! namun jika mengingat betapa banyak pawang gadis itu...aku akan menyerah sebelum mati !" Jacob berucap samar ditelinga Simon.
"Hm..pangeran sangat malang karena jatuh cinta pada putri clan Wiguna itu..dia harus berjuang keras!" Simon membalas iba.
Kedua pria berwajah tampan berdarah Eropa itu melirik iba pada sahabat sekaligus tuan mereka .
Akhirnya,setelah melihat siluet cantik itu menghilang dari pandangan, Brixton melanjutkan langkah dengan helaan nafas penuh kerinduan.
Dia sangat merindukan gadis manis itu!...
Dia sangat ingin mendengar suara dan ekspresi lugu dari gadis remaja kesayangan clan Wiguna itu!..
.........🍃...........
Archana keluar dari ruang kelasnya, bibir gadis mungil itu terus bergerak terlihat betapa kesalnya gadis itu.
"Sudahkah Cha...kamu marah-marah terus juga tidak akan ada pengaruhnya! kertas ujiannya sudah di bawa Mr Kenedy! " Ucap Erika dengan wajah penuh beban.
Bahu gadis bersurai panjang itu terkulai.
Yah,Erika dan archana mengambil jurusan yang sama sedang Jihan dan Naomi sendiri mengambil jurusan berbeda.
"Kenapa coba Mr Kenedy tiba-tiba mengadakan ujian? padahal baru pagi tadi Mrs Miranda memberi kita kuis yang begitu mengerikan! archa itu rasanya mau mengadu pada Daddy!! archa kan tidak belajar semalam.. bagaimana jika nilai archa jatuh?!! huaaaaa....pasti mereka akan mengejek archa!!" Archana memekik kesal.
"Mana ada yang berani mengejekmu cha-cha!! yang ada Daddy kamu akan berubah jadi tornado setelah itu! ya sudahlah kita pulang saja sekarang, lagipula Jihan dan Naomi sudah balik duluan ke apartemen mereka,mereka hanya ada satu kelas hari ini!" Ucap Erika sembari menarik tangan archana agar menuju gerbang keluar kampus,langit mulai berubah warna,semburat jingga perlahan terlihat menghiasi.Kala matahari yang perlahan meninggalkan kursi tahtanya.
Angin sore berhembus membawa hawa dingin,Erika menuju mobil Audi milikinya.
"Cha,mau aku antar pulang tidak? kampus sudah mulai sepi" Erika berucap kala melihat archana berdiri menyisiri seluruh area parkiran dengan manik cerahnya.
Yah,Erika memang biasa mengantar archana jika para kakak maupun ayah gadis itu terlambat menjemputnya.
Namun bukan ke Mansion utama tentunya,tapi kesalahan satu rumah mewah milik ayah archana yang lain.
Seperti rumah James,Gabriel atau Tristan tentunya.
Selain dari ketiga rumah itu,para sahabat archana tidak tau.
"Tidak perlu kak Erika... Archa sudah hubungi Daddy tadi..katanya kak Rayga dan kakak ipar asline yang akan jemput sekalian pulang kantor" Jelas archana menolak halus.
Erika menatap wajah manis archana dengan mimik berat.
Kecemasan ia rasakan kala melihat area kampus ini mulai sepi .
"Tapi Cha.. bagaimana kalau kakakmu itu telat jemput? kampus sudah sepi Cha..aku takut kamu sendiri dan ada orang jahat nanti!" Erika berucap penuh pertimbangan,takut ia meninggalkan gadis manis itu seorang diri.
Archana menggeleng ribut.
Takut apa? meski dirinya tak bisa beladiri,namun sosok Chara akan bangkit sendiri jika merasakan ada bahaya yang bisa mengancam keselamatan ya.
Archana sadar itu,jadi dia tak pernah takut pada kejahatan apapun kala bahkan kepribadian lain dari dirinya punya kemampuan sendiri untuk melindungi.
Erika menghela nafas pasrah ,masuk ke mobil dan membuka kaca mobil itu sembari menatap sekali lagi wajah sahabat kecilnya .
"Yakin tidak mau ikut? " Tanya Erika sekali lagi,archana menggeleng dan tersenyum manis melambai kala akhirnya mobil Audi erika perlahan bergerak pergi.
Sendiri...
Archana akhirnya berjalan menuju gerbang,ponsel ditanganya berdering.
Z brother calling.....
Archana tersenyum lebar mengetahui sang kakak menelpon.
"Hallo..kakak masih lama ? kampus archa sudah sepi kakak..." Archana merengek begitu ponsel tersambung.
"Maaf sayang...disini sedikit macet karena jam pulang kantor...dan kakak iparmu tiba-tiba keram perut...kakak masih diklinik sekarang,tidak jauh dari kampus kamu tempatnya...jadi tunggu sebentar ya dek..kalau lama kamu masuk saja lagi ada ruang khusus istirahat yang keluarga kita bangun di dekat ruang perpustakaan! tunggu ya dek...." Suara Rayga terdengar lembut penuh kasih,tidak seperti image diluar sana yang mengatakan dirinya adalah pria Tiran tidak punya hati .
Archana membulat mendengar penjelasan sang kakak.
"Tapi kak asline tidak apa bukan kak? kalau kak asline sakit kakak tidak perlu jemput archa langsung pulang saja,archa tidak apa naik taksi" Archana sungguh cemas mendengar keadaan asline,dirinya tau kakak iparnya itu tengah datang bulan.
"Tidak sayang... bagaimana mungkin kamu naik taksi! tunggu sebentar saja kakak akan datang begitu istri kakak menerima obatnya!" Rayga jelas menolak ucapakan sang adik.
"Tapi ka-"
Tuttt..
__ADS_1
Archa mendelik kala sambungan terputus sepihak.
Kakaknya ini memang arogan sekali!...
Archana menghembuskan nafas panjang,melirik sekitaran kampus yang mulai sepi kala langit perlahan menghitam.
"Didepan ada cafe..apa lebih baik archa tunggu saja kakak disana ya? lagipula kalau lama-lama disini menakutkan sekali....." gadis itu bergumam sendiri,mulai berjalan dengan tangan sibuk menulis pesan pada ponselnya,memberi sang kakak tempat dimana dia akan menunggu.
Sungguh archana terlalu malas untuk masuk kembali ke dalam kampus menuju ruang santai vip para donatur.
Tersenyum kala sang kakak membalas dengan cepat dan mengizinkan menunggu di cafe,setelah membaca dengan jelas.
Archana bersiap memasukkan kembali ponselnya kedalam tas.
Hingga..
Srakssss.....
Tubuh mungilnya berputar tak terduga
Manik bulatnya bertambah bulat kala tas miliknya dirampas oleh dua orang yang menaiki motor dengan helm hitam.
Brukhh..
Terjatuh dengan shock.
"Thief....."Bergumam linglung.
"THIEFFFF.......HEI GET BACK MY BAG!!!" Archana berteriak dan bangkit cepat berlari.
Para mahasiswa yang tersisa menoleh,bergerak cepat menuju gerbang keluar kampus.
Sayang,pencuri itu telah kabur membawa tas berisi buku juga ponsel dan laptopnya.
Dan...
Ckittt...
"Masuk ....."
Semua mata berkedip cepat kala sebuah mobil sport berwarna putih berhenti tepat disamping dimana archana berdiri dengan nafas terengah-engah akibat mengejar motor sang pencuri.
Tiga orang pria tampan duduk dengan santai didalam sana,dua dikursi depan dan satu yang paling tampan duduk malas dibelakang.
"Kakak Brixton!!!" Seru archana dengan manik membulat semangat.
"Hei..tukar tempat tidak Simon?! yang harusnya mengemudi itu kau! mengapa jadi aku yang menyetir?!!" Jacob menggerutu dibalik kursi kemudi,Simon sibuk tersenyum lebar sembari bermain dengan ponselnya entah apa.
Klik...
"Kakak cepat kejar pencuri itu!! dia membawa tas archa....." Brixton tersenyum mengusak rambut gadis manis itu namun begitu maniknya menatap ke depan,tatapan tajam penuh intimidasi menguar.
Jacob meneguk salivanya ngeri.
Brmmmmmm...
Tanpa kata pria tampan itu menginjak gas dan melaju kencang.
"Matilah kau pencuri malang.." Batin Jacob melirik lewat kaca spion sosok putra mahkota itu .
.......🍃.......
Seorang gadis dengan penampilan yang begitu fashionable turun dari tangga pesawat.
"Cel..cepat sayang bunda sudah ditunggu client di butik!!" Seru seorang wanita paruh baya yang turun terlebih dahulu.
Gadis itu berdecak kesal,baru saja ia mau menghayati aroma jejak tanah,sungguh sebenarnya ia sangat fobia naik pesawat,hanya saja event ini sungguh mengharuskan dirinya menaiki benda paling ditakutinya itu.
"Sabar bunda Samantha! cella belum menarik nafas ini..buat apa buru-buru!" Yah,gadis itu adalah acella saudari kembar alarik.
Dirinya dan Samantha baru tiba setelah seminggu lebih berada di Paris untuk event fashion week.
Memasuki bandara,sepasang ibu dan anak berbeda darah itu berjalan dengan anggun.
"Cel..tunggu,bunda mau ke toilet dulu!!" Seru Samantha yang langsung memberikan koper mikinya pada sang asisten.
Acella menghela nafas panjang,akhirnya gadis itu memberi instruksi untuk kedua asisten mereka kembali dulu.
Berbalik...
Namun...
Brukhh
Tubuh semampainya bertubrukan cukup keras dengan sosok tegap berwajah tampan tanpa ekspresi .
Bersiap merasakan sakit.
Degggg..
Manik keduanya bersitatap kala acella membuka mata.
Pria itu berdiri dengan tangan melingkar pada pinggang rampingnya,memeluk tubuhnya saat keduanya jatuh bersama.
Telapak tangan besar itu menjaga kepalanya agar tidak terantuk lantai bandara.
Pria itu terdiam,tertegun kala surai lembut dengan wangi bunga Jasmine itu menguar memasuki indra penciuman nya.
Waktu seakan berhenti,para pengunjung bandara bahkan menahan nafas untuk posisi ambigu itu.
Tubuh acella yang berada dibawah dan pria bertubuh tegap itu diatasnya.
"Ba..bangun!!!" Akhirnya kesadaran datang,acella merasa seluruh tubuhnya mati lemas.
...🍃...
...TBC...
__ADS_1