
...Vote,like dan komentar ya ❣️...
...🔱.....🔱...
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...🔱.....🔱...
Suasana didalam sebuah mobil terasa begitu canggung,Kedua manusia berbeda gender itu nampak terdiam dengan sosok pria yang perlahan mulai menghidupkan mobilnya .
Raels terduduk kaku sembari sesekali mencuri pandang pada sosok yang kini terlihat begitu menakutkan dengan aroma darah yang keluar pekat di sekujur tubuhnya.
Raider sadar,namun pria tampan itu hanya diam mencoba tak terpengaruh oleh semerbak Jasmine manis yang kini beradu dengan aroma amis darah dari tubuhnya.
"Tu..tuan? a...anda tidak apa?" Raels akhirnya membuka mulut.
Sungguh,tidak mungkin bukan ia menjadi gadis yang tidak tau berterima kasih dengan penolongnya!.
Jadi demi kesopanan gadis itu bersuara memecah rasa canggung yang ada.
Deggggg....
Raels mematung begitu sosok raider berbalik sepenuhnya menatap dirinya.
"Ya Tuhan...baru aku melihat pria yang begitu tampan seperti ini!! astaga aku...jantungku kenapa?!!" Raels membatin linglung.
Pria itu tersenyum teduh dengan manik yang menatap lembut sosok cantik yang terlihat menatapnya linglung.
Raider ingin tertawa,namun sungguh.Ia harus membangun kesan pertama yang baik.
"Nona....."Panggil Raider perlahan demi menyadarkan sosok Raels yang masih terpaku menatapnya.
Hingga.....
DEGGGGGGGGG...
Tubuh raider mematung kala tangan halus itu menyentuh wajahnya.
Meski terhalang sebuah sapu tangan,namun kehangatan dari telapak tangan gadis itu cukup menembus hingga mengantarkan rasa panas membakar dikulit wajahnya.
Raels yang entah sadar atau tidak,gadis itu mengusap noda darah di sekitar wajah tampan raider.
Keduanya terdiam,menikmati kebersamaan dalam keheningan yang manis.
Raider menatap intens wajah cantik yang kini begitu dekat dari wajahnya.
Menyapu wajahnya dengan lembut.
Alis hitamnya yang terukir indah,bibir merahnya yang begitu penuh,hidung mancungnya yang lucu serta,kulit putihnya yang memikat.
Raider sudah panas dingin untuk pertama kalinya dalam menghadapi wanita.
Glekkkkkk....
"damn it!!" Maki Raider begitu tatapannya turun kebawah,tepat dimana tulang selangka indah gadis itu terpampang jelas akibat pakaian yang sudah koyak.
Raels yang belum sadar sepenuhnya masih fokus menghilangkan noda darah di wajah tampan pria asing yang nama saja dirinya tak tau.
"Khem....nona....." Raider memanggil kikuk.
Tangannya menyentuh tangan halus yang masih bertengger manis di wajahnya terus mengusap.
"Ehhh...a.maaf..maafkan aku tuan,a..aku hanya ingin menghil-"
"Hahaha..tidak apa,aku Raider Leander Wiguna.Panggil saja aku Raider,jangan gugup seperti ini,kau akan membawa bencana jika dilihat pria lain!" Gelak Raider memotong ucapan gugup Raels.
Demi Tuhan.....
Jangan sampai para inti lain melihat kejadian raider yang menjajakan kata-kata manis untuk gadis asing,secara gratis!.
Tanpa maksud jahat di baliknya.
Raels mengerjap menarik kembali tangannya begitu wajah tampan dihadapanya sudah terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Maksudnya apa? " Tanya Raels binggung akan maksud ucapan pria yang sudah ia tau namanya itu.
"Perkenalkan dulu namamu nona,baru kau boleh bertanya lebih lanjut" Ucap Raider dengan seringai tampan diwajahnya .
__ADS_1
Blushhhhhh...
"A..aku Raels Winata" Ucap Raels dengan wajah sukses memerah melihat tatapan jahil dimata raider.
"Hmmm..namamu cantik,secantik orangnya..." Raider terkekeh kala melihat wajah salah tingkah dari gadis manis yang sudah ia anggap hak miliknya itu,tapi bagaimana dengan raels sendiri? entah,itu urusan nanti.
Raels menunduk mengigit bibir bawahnya menahan senyumnya atas ucapan manis pria itu.
Sialan..
Mengapa dia bisa jadi gadis lemah begini? diberi pujian sedikit sudah luluh!.
Raels mengumpat kesal sendiri.
"Jadi maksud ucapan kamu tadi apa? " Tanya Raels lagi masih penasaran.
Raider terkekeh,mengusak rambut panjang gadis itu dan mulai melajukan kembali mobilnya perlahan.
" Baik akan kuberitahu,Wajah binggung mu itu sangat manis! kau bisa membuat para pria hilang fokus nanti..Hahaha..yah,kau seperti bunga mawar yang mekar menarik hati namun bisa membahayakan dengan duri" Ucap Raider lembut.
Deggggg...
Raels terpaku, jantungnya berdegup kencang begitu perasaan hangat memeluk hatinya.
Sudah sering dirinya mendengar kata-kata manis seperti yang diucapkan oleh raider.
Dirinya manis jika tersenyum...
Dirinya cantik saat menatap binggung sesuatu..
Dan dirinya adalah gadis cantik yang sering di cap sebagai penggoda,dulu saat ia masih berkuliah.
Penggoda...
Hanya karena ia adalah gadis yatim piatu,dan para anak laki-laki sering mengejarnya maka anak-anak perempuan akan menyerangnya dengan fitnah-fitnah jahat mereka hingga menyerang mental.
Raels menjadi gadis bar-bar yang akhirnya membuat para anak laki-laki itu perlahan menjauh.
Raider mengeryit binggung kala mengapa Raels melamun setelan ia bicara selembut ini?.
Raider menghentikan mobil dibawah lampu jalan .
"Raels......apa aku salah bicara?" Raider menepuk pipi putih gadis itu perlahan.
Raels tersentak dan menatap wajah tampan yang terlihat cemas itu dengan perasaan campur aduk.
"Tidak apa...bisakah kamu antar aku pulang? apartemen avenus nomor tiga terimakasih" Lirih Raels yang kemudian menarik wajahnya menatap sisi jalan sepi dari kaca sisi jendelanya.
"Raels....hidup memang tidak mudah...tapi terkadang kita butuh orang lain sebagai pendengar untuk setidaknya mengurangi sedikit beban kita.Jangan anggap aku orang asing,aku temanmu sekarang...jadi diam dan menutup diri itu juga bukanlah solusi yang bijak ,beauty.can you believe me? to be your.....friend maybe?" Raider menarik tubuh indah Raels menghadapnya,memaksa gadis itu menatap matanya dan mengusap pipi yang entah sejak kapan telah basah oleh air mata.
" Kita hanya orang asing tuan Raider....kita tidak sedekat itu untuk hal-hal manis seperti ini,tolong jangan masuk terlalu jauh, ini aku dan hidupku!" Raels melirih,membuka pintu mobil kala ia merasa jarak apartemen sudah cukup dekat dari jarak mobil itu terparkir.
Raider mengusak rambutnya putus asa.
"Tunggu Raels..." Raider berjalan cepat membuka mantelnya dan menyelimuti tubuh gadis itu yang hampir terekspos oleh pakaian koyaknya.
Raels diam mematung,dari jarak jauh terlihat seakan raider tengah memeluk dirinya mesra .
"Lain kali jangan minum dan jangan keluar malam! aku pergi....." Raider tersenyum teduh dan berbalik setelah mengusap lagi air mata yang kembali jatuh dari manik indah gadis cantik itu.
Bremmmmmm
"Raider...hiks.....kenapa kamu begitu baik padaku? kita hanya orang asing!!" Lirih Raels memeluk mantel yang menutupi tubuhnya kini,mobil telah jauh pergi dan tinggallah Raels dalam kesepiannya.
"Aku akan terus baik padamu Raels...kau adalah cinta pertamaku... selamanya" Ucap Raider lembut kala telinganya mendengar gumaman Raels melalui earphone yang kini terpasang ditelinganya.
Benar,disisi tersembunyi mantel telah raider jepitankan sebuah alat penyadap.
Ia akan terus memantau gadis itu hingga sampai dengan selamat tanpa gangguan lagi.
Mobil itu berhenti disisi jalan sepi hampir memasuki ibu kota.
Hufttt....
Menghela nafas dan menatap waktu di jam tangannya.
Ini sudah pukul 3 pagi.
Dan ia sudah seharian tidak mendatangi markas.
Dan semoga mulut lahar Raino tidak menambah beban fikirannya!.
.........🔱..........
Asline nampak begitu fokus berpacu dengan laptopnya,jemarinya terus bergerak cepat menembus deretan kode rumit yang kini coba ia tembus hingga.
Brakhhhhh.....
Gadis itu tersentak dan mendengus dingin begitu tau siapa yang mendobrak pintu kamarnya dengan kurang ajar.
Menutup laptopnya cepat dan segera menyimpan perangkat itu dilaci samping ranjangnya.
"Apa yang kau katakan pada CEO grup Wiguna Coorporation?!! mengapa seluruh aliran dana para dewan yang bersuara untukku tersendat?!!" Dante masuk dan meraung keras menunjuk wajah santai tanpa emosi keponakannya itu.
"Memangnya apa salahku?! sudah masuk sembarangan dan kau menuduhku seenaknya saja paman! hah....tidak disangka,kau sudah tua ternyata tidak tau etika" Asline bersidekap dada bersandar di kepala ranjang menatap lurus wajah murka Dante.
"Kau...kau gadis celaka!! terakhir kali kau bertemu dengan tuan muda Alzeus itu!! apa yang kau katakan padanya?!! ucapan buruk apa yang kau katakan tentangku hingga membuat dia menyapu hampir seluruh jalur uangku?!!!" Dante meraung dengan nafas memburu penuh amarah.
Menunjuk Asline yang sudah bangkit menuju sofa santai dikamar gadis itu.
"Memangnya apa yang bisa kukatakan pada pria dewa-nya para pengusaha itu?!! kau terus saja bicara melantur? pergi dan urus saja bisnismu sana" Sarkas Asline jengah.
PRANKKKK.....
__ADS_1
Habis kesabaran Dante,pria itu membanting guci antik yang berdiri di pojok pintu dengan kasar.
Asline menutup mata dan menarik nafas dalam-dalam.
Orang tua kolot ini!....
"KAU GADIS PENGGODA!! KAU PASTI SUDAH MENGGODA TUAN MUDA ALZEUS DAN MEMBUAT DIA TIDAK MELEPASKAN SELURUH KONEKSIKU!! KAU JAL*NG KECIL TIDAK TAU DIRI!!!"amuk Dante berapi-api,Lucinda dan Grizela yang menguping dibalik pintu menyerigai senang.
Biarkan gadis itu mati ditangan Dante.
"Hahaha..apa kau tengah membicarakan putri harammu itu? ayolah....jangan menghadapiku dengan omong kosongmu itu,sekarang pergi dari sini dan jangan berani menyentuh barang-barang ku!!"Asline menatap tajam wajah murka Dante,gadis itu berdiri dengan tegak tak terpengaruh akan murka Dante.
" PERGI!!!" Raung Asline dengan tegas.
"Tunggu kau gadis celaka!!"
BRAKHHHHH.....
Dante pergi membanting pintu dan berlalu meninggalkan kamar pribadi Asline.
Nafas gadis itu perlahan tenang,menatap guci yang ia beli bersama Rubi saat lelang beberapa hari yang lalu.
"Bedebah!!" Umpat Asline jengkel.
Dante berjalan memasuki kamarnya,mengunci pintu dan menarik sebuah pegas di antara jejeran buku di rak bacanya.
Dante berjalan menuju satu-satunya meja dengan sebuah kursi disana,membuka laci dan meraih sebuah ponsel tua disana.
Tutttt....
"Hello Mr Alfarezho...sudah lama tidak mendengar suaramu,ada bisnis?" Suara berat dengan nada jahat terdengar begitu sambungan tersambung.
"Ya...aku ada pekerjaan untukmu,ini pekerjaan berat yang tidak bisa dilakukan para anak buahku,bahkan para pembunuh yang ku sewa.Jika ini tidak sulit,aku tidak akan menelepon dirimu" Ucap Dante dengan senyum jahat diwajahnya.
"Hahahaha...kau selalu begitu...baiklah kali ini berapa harga nyawanya? " Balas suara disebrang sana dengan jenaka.
"Bagaimana dengan 500 juta dollar?" Dante memberi harga.
"Hahaha...itu harga yang menarik, baiklah....apakah ada permintaan khusus?" Suara berat diseberang sana menimpali.
"Tidak..lakukan sesukamu,buat dia lenyap dari dunia ini...kali ini jangan gagal,buat gadis itu tewas seperti Santanu dan istrinya" Ucap Dante dengan intonasi rendah.
"Gadis? apakah dia putri dari pasangan yang kuhabisi 7 tahun lalu? ah...ternyata masih hidup rupanya! mengapa tak kau suruh orangmu habisi dia?!" Tanya pria itu santai.
"Mereka yang kukirim mati dan sebagian hilang tanpa jejak,aku takut...ada seseorang yang kuat dibelakang gadis itu.Habisi dia sebelum pesta pernikahan putriku" Titah Dante menekan dengan wajah gelap.
Suara tawa rendah terdengar dari sana,pria itu menutup telponnya dan Dante tertawa bengis menanti kabar kematian gadis itu,Asline.
"Tunggu saja asline...Santanu...Santanu... sebentar lagi kau akan berkumpul lagi dengan putri pembangkang kalian itu!" Dante tertawa dengan senyum penuh ancaman.
..........🔱...........
Rayganta menyerigai dingin,menatap wajah pria paruh baya yang baru saja keluar dari kamar gadisnya.
"Dante Alfarezho Gradian...anak pungut keluarga Gradian,anak pungut yang tidak tau tempatnya dengan menyingkirkan putra sah yang sebenarnya.....sangat bagus!" Rayganta bertopang dagu malas,ketukan jarinya semakin cepat pada sandaran kursi.
Benar,ada satu hal yang selama ini publik tidak tau,bahkan Willie putra bungsu Gradian sendiripun tidak ketahui.
Posisi sebenarnya Dante dalam silsilah Gradian hingga tuan besar Gradian sendiri tak pernah menganggap segala usaha Dante dimatanya.
Anak laki-laki lusuh yang dibawa oleh nyonya tua Gradian kala wanita itu masih muda dulu.
Ada sederet rahasia di keluarga besar Gradian yang tidak diketahui publik,dan rahasia itu ada disebuah file yang kini berada diatas meja sang putra mahkota Wiguna.
Rayganta,pria berwajah bak pahatan dewa itu bangkit.Menekan sebuah tombol dibawah meja kerjanya.
Dan dinding dibalik kursi kebesarannya terbelah menjadi dua.
Sebuah ruang interior minimalis terlihat dengan delapan foto sosok cantik Asline yang tergantung indah diseluruh dinding.
Duduk disebuah kursi sofa tunggal,menuangkan sebotol white wine disebuah gelas kaca dan duduk tenang menikmati setiap ekspresi yang berhasil ia bingkai didalam sebuah foto yang tergantung cantik.
"Apapun yang kamu tidak sukai,akan ku hancurkan satu demi satu,perlahan namun pasti.Nikmati setiap hiburan yang kusediakan untukmu ratuku....dan...akan ku jaga dirimu dimanapun kamu berada,suka tidak suka"
Rayganta tersenyum lembut memejamkan mata mengirup aroma setiap bunga lavender segar yang ia letakkan sendiri disetiap sudut ruang pribadinya ini.
"Mr Alzeus....bahaya terdeteksi........"
Manik tajam itu kembali terbuka,berdiri dengan wajah gelap dan melangkah menuju sebuah lemari besar tak jauh dari tempatnya duduk.
"Kurasa saatnya predator memburu!!" Rayganta menyerigai bengis meraih sepasang short gun Texas ranger 1911 dan berlalu keluar dengan wajah penuh kegelapan.
Sementara itu terjadi keributan diseluruh lobby gedung megah WJC Coorporation, para karyawan bergidik melihat sang pemimpin keluar dengan satu tangannya memegang senjata api dengan aura membunuh yang begitu besar.
"Astaga.....apa lagi ini?!!" Alarik yang melihat sosok Rayganta berlalu memasuki mobil Lamborghini urus hitam metalik itu bergidik.
Adakah mayat lagi kali ini?.
Alarik segera menghidupkan tablet canggih miliknya,mendial tim delta.
Tugas clean area akan segera dimulai.
.......🔱........
...TBC...
__ADS_1