
...Vote,like dan komentar ya 🍁...
For information:
Akan ada beberapa cast yang El ganti nanti.
...♣️.....♣️...
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...♣️.....♣️...
Diego,pewaris tunggal Wishutama itu kini berdiri menatap sebuah rumah berlantai dua.
Satu-satunya rumah yang bisa terbilang cukup mewah diantara rumah-rumah sederhana para penduduk desa White Mountain.
"Gadis itu adalah putri kepala desa,dia adalah nona Deliana Fort .Putri dari kepala desa Fortman"
Diego menyerigai licik,ternyata Tuhan memberikannya jalan untuk bisa lebih tau tentang gadis yang menarik hatinya,dengan cara yang begitu manis.
Dan saat mata liciknya menatap kearah lantai dua.
Damn it!!....
Pupil matanya bergetar, seringainya tertarik lebar.
Sementara itu...
Manik indah seorang gadis membola,begitu dirinya tanpa sengaja menunduk saat membuka kaca balkon kamarnya.
" SIALAN!! KAU PENGUNTIT...MESUM KURANG AJAR!! KEMANA MATAMU?!!" gadis dengan tubuh terbalut handuk itu memekik geram,menarik tirai balkon dan segera berbalik masuk setelah berteriak memaki sosok Diego yang masih santai berdiri dengan seringainya.
Benar,Deliana.
Gadis yang memiliki kebiasaan pagi memetik bunga di sekitar desa.Ia akan meracik bunga-bunga itu menjadi sabun mandi pribadinya.
Setelah lelah mencari bunga ia akan pulang dan langsung mandi.
Deliana yang pagi tadi lupa membuka tirai balkon, akhirnya meski masih berbalut handuk gadis itu berjalan membuka penutup balkon agar sinar mentari bisa memasuki setiap sudut kamarnya.
Ini sudah jadi kebiasaan,membuka balkonya dipagi hari.
Dan siapa yang menyangka akan ada seorang pria kota yang menatap dirinya dalam keadaan berbalut handuk!.
Deliana menjerit kesal dari dalam kamarnya sendiri.
Diego menatap kearah kamar Deliana dengan senyum simpul,mendengar beberapa langkah kaki yang mendekati kamar calon targetnya.
"Well...lupakan daun ekor cobra,aku akan suruh anggota be saja yang mengambilnya nanti.Kurasa perjalanan ini lebih dari kata luar biasa! hm....aku akan kembali nanti, bersenang-senanglah girl.Sebelum aku datang dan merebut kebebasanmu,menghukum bibir nakalmu yang sejak awal terus memaki diriku" Diego berbalik menaiki kembali motornya dengan senyum penuh arti.
Meninggalkan putri kepala desa yang terus menggerutu kesal sendiri.
.......♣️.......
Kamar berdominasi putih susu itu terasa begitu suram.
Tidak biasanya.
Rubi,gadis itu terdiam dengan manik memerah setelah mendengar penjelasan ayahnya.
"Apa yang ayah katakan? mengapa ayah menyembunyikan masalah sebesar ini? apa kini ayah akan menjual ku setelah semua jalan tertutup? hiks...aku tidak mau menikah ayah...setelah perbuatan jahat keluarga Niel dan Niel padaku! aku tidak bisa percaya lagi pada laki-laki ayah....." Akhirnya air mata itu jatuh,wajahnya tertunduk dengan isakan lirih.
Sanders menghela nafas memeluk tubuh putri semata wayangnya.
"Rubi...ayah tau ini berat, tapi ayah bisa apa? Ryuga..dia pria muda yang baik sayang....Ayah tidak pernah mendengar berita buruk tentang dirinya,setidaknya selama ini belum ada kabar yang mengatakan hal-hal yang bersangkutan dengan perempuan! hidup kamu akan terjamin bersamanya,ayah tidak semampu saat muda dulu nak.Kamu sudah tau berapa besar hutang ayah,bahkan jaminan rumah dan toko saja tidak cukup menutupi semua bunga yang membengkak! maaf Rubi..maafkan ayah,setidaknya ayah yakin..keluarga Stevano Hara tidak akan menyakiti dirimu seperti keluarga Niel,maafkan ayah yang sudah memberimu banyak masalah Rubi,jika kamu tidak mau tidak apa,ayah akan mencari cara untuk menolak lamaran tuan Ryuiji " Sanders bangkit dengan wajah dipenuhi senyum keteduhan,tidak ada raut kecewa akan apapun nanti yang akan putrinya putusan.
Namun...
Inilah masalah yang Rubi hindari.
Wajah malaikat sang ayah.
Pria yang telah menemani dirinya sedari kecil.
Pahlawannya,panutannya juga cinta pertama anak perempuannya.
Rubi tidak bisa membuat beban dihati ayahnya menjadi-jadi.
Pria itu sudah terlalu tua untuk menanggung beban yang begitu berat.
Semenjak ibunya tiada,hanya ayahnya yang selalu ada.Baik susah maupun senang.
Ayahnya bahkan tak menikah lagi dulu,pria itu lebih memilih memberi semua kasih sayang,cinta dan perhatiannya untuk putrinya,Rubi.
Gadis itu bangkit,berjalan menuju kamar mandi.
Rubi ingin rehat sejenak,mencari ketenangan dan melupakan segalanya .
Sebentar....
Hanya sebentar....
.........♣️.........
Paradise,Night Club...
Suara hingar bingar memekak telinga.
Disudut club,meja dengan sofa hitam khusus.
Enam orang pria berwajah tampan dengan aura tak tersentuh duduk,meneguk cocktail juga tequila.
__ADS_1
"Gila itu Diego....sejak kembalinya dari berburu,dia menjadi aneh!" Maxim,yah.
Salah satu dari enam pria tampan itu yang membuka suara awal adalah Maxim.
Dan mereka yang duduk berkumpul melepas lelah adalah para tuan muda kaya,inti Blood Eagle.
Raider,Maxim, Alarik,Gion, Ryu dan Raino.
Duduk menggeleng miris,Maxim memutar gelas cocktail ditangannya dengan wajah tertekan dramatis.
"Ck..apanya yang aneh?dia itu memang sudah aneh dari lahir! kau ingat saja julukannya,Ilmuwan gila!" Gion menimpali,pria itu menghisap rokoknya dengan perlahan.
"Bisa tidak kau jangan merokok didekatku? kau itu dokter..tapi menjaga kesehatan tidak becus! menulari orang lain dengan asap rokokmu itu" Alarik mendelik sinis,Gion mencibir acuh.
"Nye..Nye..kau ini sibuk sekali..dokter juga manusia,aku mau merokok yang bukan salahku,kau saja yang lemah!" Balas Gion mengejek.
Raider menghela nafas berat,tidak ada satupun dari saudaranya ini yang waras!.
"Tapi..apa yang aneh tentang Diego?" Raino ikut memicing penuh keingintahuan, bertanya pada Maxim yang kembali ke mode penyebar gosip.
Benar-benar speechless Alarik melihat kelakuan Maxim.
"Dia suka tersenyum,melamun,berbicara bahkan tertawa sendiri! dia selalu bilang...mawar beracun..mawar beracun ku yang se*si! sungguh terkadang setiap kali aku melihatnya, bulu kudukku akan berdiri!" Maxim berucap dengan wajah horor,bergidik kala merasa bulu kuduknya berdiri setiap melihat senyum bak manusia bodoh Diego.
Tawa mereka pecah,menarik keterpesonaan para wanita disekitar mereka.
Hingga...
"Astaga..hei Ryu...bukankah itu Rubi...gadis yang menolak dirimu!!" Pekikan tak berdosa Maxim terdengar,entah pria itu sadar atau tidak akan nada ejek dari ucapanya sendiri.
Ryu mencibir dingin.
Rubi,gadis cantik itu.Mengapa ada disini?.
Manik tajam ryuga segera menghunus kearah dimana gadis itu kini berjalan mulai memasuki area lobby club.
Gaun informal putih yang cukup terbuka,bahu indah dengan kulit putih serta belahan da*a yang terlihat mengintip.
Manik pria berwajah oriental itu menggelap penuh kemarahan.
Prankkkk...
"ASTAGA NAGA!!"latah Maxim dengan tangan mengelus dada kaget.
"KENAPA?!"Pekik Gion tanpa sadar berteriak linglung.
"KAU GILA?!" Amuk Raider jengkel.
"SABAR..SABAR...BANG*AT MEMANG KAU RYU!" Raino mengumpat,cocktail miliknya tumpah mengotori kemeja putih yang ia pakai.
Alarik terkekeh kecil,pasti akan ada tontonan luar biasa nanti.
Gelas Tequila ditangan Ryu pecah oleh genggamannya.
Maniknya tak pernah lepas dari sosok cantik yang sudah merusak ketenangannya itu,gadis cantik pemilik hatinya.
Tak perduli akan darah yang menetes dari telapak tangannya.
"Kurasa dia juga tertular gila dari Diego" Bisik Gion pada Raino yang keduanya menatap miris wajah murka ryuga.
Sementara itu...
Perlahan dengan wajah lelah mulai memasuki tempat yang begitu dirinya hindari sejak insiden Niel,namun kini entah mengapa kakinya membawanya kemari.
Duduk didepan meja bartender,mengindahkan para pria yang sibuk bersiul nakal maupun melemparkan tatapan bak predator kearahnya.
Dia ingin minum,minum seperti teman-temannya yang mencari pelarian dari masalah meski sejenak saja.
"Miss..drink? Tequila,wine, sampange, cocktails,Summer hot alcohol or white beer?" Seorang bartender pria muda bertanya dengan ramah.
Melihat gadis asing yang belum pernah ia lihat memasuki Club ini,sang bartender menyapa ramah.
Club ini milik para pewaris clan Wiguna,jadi harus menjaga image didepan pelanggan baru.
Bibir manisnya tersenyum simpul.
"Berikan saja sesuatu,minuman yang rendah alkohol" Rubi berucap dengan senyum simpul.
Tanpa sadar,serang pria paruh baya dengan kaca mata tebal menatapnya rakus.
Pria itu duduk disamping Rubi tanpa gerakan apapun.
Rubi yang tenggelam dalam lamunan bahkan tak sadar akan apa yang kini dilakukan pria asing itu.
Setelah bartender menyuguhkan minumannya,pria itu yang melihat situasi cukup aman memasukkan suatu bubuk yang terbungkus plastik kecil di gelas Rubi.
Rubi tak sadar karena ia tengah sibuk menatap kearah lantai dansa.
"Nona..minunanmu sudah siap sejak tadi,apa kau tidak mau meminumnya?" Pria itu berucap dengan ramah,tidak sabar!.
Rubi tersentak.
Menatap pria seusia ayahnya itu dengan wajah terkejut.
"Ah..ia" Balas Rubi seadanya.
Meraih gelar berisi cairan berwarna gradasi ungu lembut itu dengan keryintan dalam.
Minuman apa ini?.
"Itu sejenis cocktail racikan rendah alcohol Miss" Pria itu terus berbicara tanpa ditanya.
Rubi sedikit risih,namun ia hanya bisa mengangguk samar.
Bukan hak dirinya melarang orang lain bicara.
Satu teguk...
Pria itu menyerigai dalam.
Dua teguk....
Rubi meletakkan gelasnya,mengapa telinganya seakan berdengung?.
Menutup mata sejenak.
"AKHHH..mengapa..mengapa kepalaku berdenyut! sakit sekali.. tubuhku...kenapa panas begini?!' Rubi membatin panik.
Rasa sakit menghantam kepalanya, jantungnya bergemuruh dan panas menjalar mulai dari tubuh bagian bawah!.
Sementara itu dimeja santai vip khusus...
Para pria tampan itu menatap ngeri wajah murka yang tersembunyi dalam ketenangan itu.
__ADS_1
Hingga...
Prankkkk....
"YA TUHAN..." pekik Alarik akhirnya bersuara.
Terkejut luar biasa saat botol wine diatas meja hancur dibanting begitu saja.
Ryuga bangkit,maniknya berkilat kala melihat tubuh Rubi diseret keluar dari Club oleh pria paruh baya yang sedari awal sudah memicu amarahnya.
Maxim dan Gion saling melirik jenaka, Raider menyilang kedua kakinya santai.Dan Raino mulai menyesap kembali minumannya menatap jenaka sosok calon mangsa dari sang dewa Yama.
Namun...
Wajah murka itu kembali tenang,Ryu berdiri dengan wajah tenang menyimpan kedua tangannya didalam saku.
Berjalan pergi....
Kelima saudaranya yang melihat dengan santai.
"Well..malam ini mungkin delta akan punya tugas clean area" Ucap Gion jenaka.
" Hm..akan repot jika tubuh itu terpotong-potong kecil!" Maxim menggeleng acuh.
"Sebaiknya dia tidak menggunakan racun jika berniat memberi santapan para wolf! atau Diego akan mengoceh nanti!" Alarik bangkit,sebaiknya ia pulang karena sepertinya tidak ada lagi yang bisa ditonton.
Para penghuni club yang mendengar percakapan mereka hanya bisa bergidik.
Para malaikat tampan berhati iblis ini sangat kejam!.
........♣️.........
Tangis gadis itu pecah ditengah kepanikan menahan rasa panas menyiksa sekaligus.
"TIDAK...JA.. JANGAN..MENJAUH DARIKU HIKS..LE..LEPASKAN AKU!!" Rubi menangis histeris.
Panas....
Tubuhnya seakan terbakar.
Ia menjerit..
Namun tubuhnya seakan tak mampu menolak sentuhan dari tangan kotor pria paruh baya itu.
Jijik.
Rubi menangis pilu.
Dirinya hanya berharap,ada seseorang yang akan datang menolong dirinya.
"Hehehe..untuk apa kau jual mahal?! aku akan bayar tubuhmu setelah aku puas! jadi untuk apa menangis?! lihat kulit putih lembut mu itu..akan sayang jika tidak ada jejak dariku disana!" Pria dengan wajah bersinar dengan manik berkabut gair*h itu mendorong Rubi jatuh diatas kasur kamar sebuah motel kecil di pinggir kota.
"Tidak.. hiks...bajin*an!! lepaskan aku!" Rubi menangis menolak dengan keras meski panas seakan membakar jantungnya.
"Hahaha..kita lihat..mulutmu menolak ku, lalu bagaimana dengan tubuhmu?!" Pria itu tertawa remeh,membuka gesper ikat pinggangnya dengan perlahan main-main.
Grephhh
"Tidak!! AKHHH.....Mpphhh.." Rahang Rubi dicengkeram kuat,memberontak seakan percuma.
Kepala gadis itu menggeleng keras,namun pria itu tak perduli.
Sebuah pil terarah memasuki mulutmu,sebuah handycame mengarah tepat kearah dirinya.
Srazhhhh...
AKHHH...
"Hiks... jangan!!" Rubi tertunduk, pil itu telah tertelan dengan mudah saat tubuhnya telah benar-benar kehilangan tenaga.
"Hahah..Jal*ng mari menunggu,menunggu saat kau sendiri yang melempar tubuhmu padaku!" Pria itu tertawa,dress Rubi telah terungkap bagian atasnya yang kini hanya menyisakan bra tanpa tali.
"Hahah.. meliuk sayang...sudah tidak tertahankan hm?"
Tertawa,namun siapa yang menyangka.
Prankkkk...
Rubi memukul kepala pria itu dengan lampu tidur!.
Dengan selimut melilit tubuhnya yang melemah.
Rubi berlari menuju pintu dengan tubuh bergetar.
"KALIAN..PENJAGA...TANGKAP JAL*NG ITU DAN SERET DIA KEMBALI! AKAN KUPATAHKAN KEDUA KAKI DAN TANGANNYA!! BERANINYA DIA MEMUKUL KEPALAKU!!"
Rubi berlari melewati pintu dengan cepat, orang-orang pria itu tidak ada!.
Kesempatan...
Abai akan teriakan amarah dari pria bej*d itu,Rubi berjuang demi masa depan terakhirnya.
"Tuhan kumohon..jangan biarkan aku tertangkap olehnya!"
Batin Rubi menangis memohon dengan panik.
Hingga...
Brukhhhh....
Tubuhnya oleng,namun sebuah lengan kekar melingkari pinggangnya dengan wajah tampan itu yang berkilat dingin.
"Tolong..tolong aku! hah...ah..hah...tolong" Rubi berucap ditengah rasa sakit yang menyerang intinya.
Nafasnya memburu,maniknya berkabut.
Grephhh.....
Pria itu menarik Rubi masuk kedalam pelukannya,melingkupi seluruh tubuh mengigil itu dengan kehangatan juga rasa aman.
"You will be safe my gumiho...i will protect you,close your eyes" Bisikan lembut terdengar.
Aroma hangat hutan bambu yang menguar,membuatnya perlahan tenang.
Meski rasa sakit semakin membakar,namun Rubi tidak merasakan ketakutan lagi.
Degggg....
"Damn it!" Makian terdengar,manik pria berwajah tampan itu tak sengaja turun dan menatap buah da*a Rubi yang terlihat jelas kala selimut yang menutupi tubuhnya merosot turun .
"DIA DISANA... TANGKAP GADIS ITU!!"
...🍁...
...TBC...
__ADS_1
Yang mau 21+ vote komen sepanjang masa 😌