Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
It's not over


__ADS_3

...Vote,like dan komentar ya...


...Maaf ya all..El lama tidak up,El banyak kerjaan ditambah urus rumah yang terus kebanjiran.Jadi maaf ya dan jangan bosan-bosan menunggu cerita amatir ini🌹...



...πŸƒ...


...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...πŸƒ...


Keluarga Alinston terlihat mulai duduk dengan tenang penuh wibawa, Patricia.


Istri dari Peter sekaligus ibu angkat dari Victoria terlihat duduk dengan anggun,menatap kearah dinding bercat putih gradasi golden itu dengan senyum penuh makna.


Disana,potret bahagia sebuah keluarga besar tergambar.


Itu sebuah lukisan cat minyak,potret yang dilukis begitu indah nan apik.


Terlihat bagai sebuah tangan dewa yang bekerja untuk mengabadikan momen keluarga besar itu.


"Apakah gadis itu akan memasuki keluarga itu? " Peter dan Devano menatap kearah wanita yang duduk anggun seorang diri itu.


Peter menatap sang istri dengan senyum intens,mengikuti kemana arah pandangan mata wanita itu terarah.


"Gadis itu tidak layak sayang....hanya kita,kita yang sudah begitu baik hati membuka tangan untuk menerima dia ditengah keluarga kita...dan keluarga itu,clan ini...kurasa gadis itu terlalu tinggi bermimpi.Right, Devano?" Peter tersenyum jenaka,pria paruh baya itu menatap wajah arogan putra sulungnya itu penuh makna.


Klik...


Segera atensi keluarga kecil itu teralih,disana.


Dyazel masuk bersama seorang maid yang mendorong sebuah meja kecil troli.


"Sebentar lagi tuan kami akan datang..nikmati waktu anda sekeluarga" Dyazel berucap tanpa ekspresi,Butler paruh baya itu benar-benar malas hanya untuk sekedar memberi muka pada keluarga Alinston itu .


Katakan mereka juga merupakan satu dari keluarga taipan di Eropa ini,yah meski tidak berkecimpung dalam dunia bisnis,namun nama keluarga Alinston sudah sangat besar dalam dunia politik pemerintah.


Tapi..


Apa Dyazel perduli? tentu saja tidak!.


Selama majikan mereka berdiri kokoh maka bahkan angin badai sekalipun tak mampu membuat dirinya,juga para bawahan sepertinya harus merasa takut!.


Devano mengeram emosi,wajah putih pria itu memerah gelap.


"Betapa kurang ajar sekali anda yang hanya seorang pelayan melayani tamu seperti ini?!! " Devano berucap sarkas,pria itu duduk bersilang angkuh dengan tatapan penuh kerendahan.


Dyazel tersenyum dingin.


"Saya bersikap sesuai dengan apa yang dititahkan tuan saya,jika anda keberatan.Itu bukan urusan saya" Kepala Butler itu berucap remeh,menatap kearah para maid yang juga berdiri menunggu perintah darinya diluar pintu.


"Dev..sudah!" Peter menatap putranya dengan senyum peringatan.




Set meja berisi teh,kopi serta aneka kue terhidang dengan gerakan cepat nan terampil para maid.


"Permisi.. silahkan menunggu dan jika tidak sabar..pintu keluar selalu terbuka..." Jenaka Dyazel dengan senyum provokatif.


"Kau......" Devano telah berdiri bersiap memberi pelajaran atas kelakuan Dyazel,namun Peter menarik tangan putranya itu dengan manik tajam.


"Terima kasih Butler..kami akan keluar jika urusan kami telah selesai.." Patricia berucap anggun.


Dyazel menarik senyum sinis,berbalik lalu pergi tanpa kata.


"Pelayan kurang ajar itu!!! akan kubunuh dia suatu hari nanti,disini..di mansion ini bahkan seorang pelayan begitu berani pada keluarga kita! diluar sana orang menunduk saat melihat kita..tapi disini..?!!!" Devano benar-benar merasa seluruh darah ditubuhnya mendidih.


Sementara itu...


Rafendra dengan kedua putranya berdiri tak jauh dari pintu ruang tunggu,melihat kepala Butler mereka telah keluar dengan wajah menahan tawa.


Rion menggeleng geli.


Pasti kepala Butler mereka kembali membuat darah tinggi tamu mereka,tamu tak diundang tentunya.


"Butler..." Rafendra memanggil samar.


"Tidak ada apapun tuan besar..semua aman!" Lapor Dyazel yakin.


Rafendra mengangguk,menatap kearah cucu laki-lakinya yang berdiri tak jauh.


"Raino..kembalilah" Arkansas berucap tanpa menatap wajah salah satu putranya itu,putra saudara kembarnya tentu saja.


"Tidak dad! aku harus melihat keluarga angkat Victoria secara langsung!" Ucap Raino tegas.

__ADS_1


Bagaimana mereka tahu bahwa tamu yang datang adalah keluarga angkat Victoria? tidak ada apapun yang tidak bisa diketahui oleh clan Wiguna saat mereka ingin.


Tentu saja....


Rion menepuk bahu tegap putra keduanya itu dengan senyum bangga.


"Ingat..tenang!" Rafendra berucap tegas.


Raider melirik raino dengan wajah penuh arti, sementara itu Rayga juga Arshenio terlihat tenang acuh tak acuh.


Dan para pria Wiguna berbeda generasi itu segera melangkah.


Kriettttt.....


Pintu ruang tunggu itu terbuka perlahan dengan dua orang penjaga yang mendorong kedua sisi pintu.


Peter, Patricia juga Devano segera mengalihkan pandangan kearah pintu.


Segera, Rafendra berjalan masuk diikuti kedua putra juga keempat cucu laki-lakinya.


Dan manik tajam Raino segera bersitatap panas dengan tatapan tajam Devano.


"Akan kubunuh kau agar Victoria tau..tidak ada satu laki-lakipun yang bisa bersamanya selain aku!" Devano tersenyum provokatif.


"Akan ku kirim kau menuju raja neraka!" Batin Raino membalas senyuman Devano dengan seringai iblisnya.


Rion menatap Raino dengan intens, tersenyum penuh arti dengan gelengan geli.


"Jadi?"


Rafendra bertanya tak minat,pria tua itu duduk dibantu oleh kedua putranya.Yah,meski bantuan itu tak diperlukan sama sekali.


Ingin dirinya memaki kedua putra kembarnya itu dengan geram,namun apalah daya jika situasi tidak memungkinkan.


Rion terkekeh geli dengan wajah datar Arkansas sebagai jawaban kemarahannya.


Sabar...


Ingat umur...


Rafendra mendengus kesal.


Setelah tuan besar Wiguna itu duduk,kini Arkansas segera duduk disofa single tak jauh dari posisi Rayga juga Arshenio duduk.


Sementara Rion diapit kedua putranya sekaligus.


"Wah..saya tak menyangka akan bertemu dengan jendral muda batalion Red Eagle disini..anda ternyata sedang bebas tugas ya jendral..." Suara sapaan ramah tamah Peter terdengar memecah kecanggungan.


"Mau dia bebas tugas atau tidak..memangnya apa urusanmu?"


Hening....


Seketika mata semua orang langsung tertuju kearah Raino yang baru saja berucap begitu sarkas.


Duduk dengan tubuh bersender malas disofa dan kedua tangan bersidekap.


Benar-benar tuan rumah yang tak memberi muka pada tamu!...


Sungguh kurang ajar yang tidak kenal situasi!...


Benar bukan?...


Rayga menyeringai puas,sementara Rafendra hanya mampu berdehem menahan tawa.


Peter terkekeh kikuk,pria paruh baya itu benar-benar tak mampu berkata-kata.


"Sungguh kurang ajar!" Sarkas Devano menatap jijik kearah Raino yang mulai terlihat sibuk mengambil dan mengunyah anggur yang tersedia diatas meja.


"Siapa peduli? lagipula tidak ada dari keluarga kami yang menyuruh anda datang,tidak suka? ya sudah pergi sana..." Ucap Raino dengan wajah tanpa beban.


Tentu saja tanpa beban,jelas saja keluarganya tak ada satupun yang marah atas sikapnya.


Kakek,dan kedua ayahnya.


"Maaf tuan muda ketiga...Kami kemari memiliki tujuan..bisakah anda sedikit memberi kami wajah?" Patricia berucap lembut nan anggun.


Benar,gambaran wanita sosialita beretika tinggi.


Tenang dan terarah.


"To the points! we don't have so much times!" Arkansas berucap tak sabar.


Patricia tersentak,wajahnya memerah kala mendapati tatapan panas nan menenggelamkan itu.


Degggg..


Wanita paruh baya itu terdiam, jantungnya berdegup kencang dan sungguh.


Sosok Arkansas sang taipan,raja dan segala raja dimasa mudanya dulu.


Pria ini sukses membuat tubuh Patricia panas dingin.


"Patricia...." Patricia tersentak,kembali pada kewarasannya kala suara tajam Peter memasuki pendengaran nya.


"Begini tuan besar Wiguna...."


..........πŸƒ............


Disisi salah satu taman di belakang mansion.


Victoria berjalan dengan fikirkan berkelana ,kaki jenjang polos tanpa alasnya terus bergerak hingga dirinya tiba disebuah jembatan kayu yang menuju kearah sebuah danau buatan .


Victoria tersenyum diatas semua ketakutannya.


Grephh.


Gadis itu berbalik cepat kala sebuah tangan halus menyentuh pundaknya dengan lembut.


Victoria berbalik dan mendapati asline berdiri tersenyum lembut padanya.

__ADS_1



"Jangan hanya melihat papan kayu jembatan ini..ikutlah denganku,akan kubawa kamu ketempat dimana kamu bisa memperoleh arti dari sebuah ketenangan hati!" Asline berucap penuh kelembutan,asline meski tak tau apa masalah yang kini menerpa calon saudara iparnya itu.Namun satu yang pasti.


Hati mereka telah terikat,ikatan layaknya saudari meski tak lahir dari rahim dan darah yang sama.


Dan dirinya tak bisa diam saja kala salah satu dari mereka mendapat masalah.


Asline percaya, hubungan keluarga bisa dibangun sedini mungkin dengan pengertian dan empati.


Victoria tersenyum samar,melangkah mengikuti kemana asline membawanya.


"I..ini?!" Dan tak lama, Victoria tercengang dengan apa yang ia lihat.



Ditengah danau yang begitu tenang dikelilingi pohon-pohon yang rindang dan hutan buatan yang begitu asri.


"Disini biasanya seluruh keluarga suamiku,rayganta.Mereka berkumpul menghabiskan waktu senggang.Berbicara dan bergurau bersama menghabiskan waktu bertukar pikiran,membagi beban mereka dan mencari solusi bersama.Victoria...kami keluargamu sekarang,jujurlah dengan semua bebanmu maka percayalah keluarga ini akan menyelesaikan semua untukmu..sama seperti bagaimana masalahku perlahan sirna.." Asline tersenyum teduh,menatap lurus ke depan.


Dimana hutan buatan clan Wiguna itu dibuat.


Hutan dimana Rayga pernah membawanya dulu.


Victoria terdiam,bayangan betapa baiknya keluarga ini.


Meski mereka adalah salah satu dari deretan 5 keluarga penopang perekonomian negara,namun tak ada kesombongan kala memang telah mengenal dekat.


Tak ada jarak,tak ada status selama mereka menyukai seseorang.Maka hanya ada kebaikan yang orang itu dapatkan.


"Kamu benar Line..aku hanya butuh sedikit waktu menyesuaikan diri.Aku...." Victoria terdiam mencoba menyusun kata yang tepat,sungguh hatinya begitu gelisah.


"Ria?" Asline menyadarkan keterdiaman Victoria,gadis itu tersentak dan mencoba tersenyum baik-baik saja.


"Aku hanya takut line.. mereka, orang-orang dimasa laluku begitu berbahaya line..mereka memiliki berlapis-lapis topeng dalam menyembunyikan sisi iblis mereka,mereka lebih jahat dari iblis yang sebenarnya,mungkin! " Victoria menatap kedalam bola mata grey lembut nan anggun asline,mencari perubahan yang terjadi setelah ia bicara.Namun nihil,asline tetap tenang.


Asline tersenyum dan meraih telapak tangan Victoria dengan manik penuh keyakinan.


"Jangan pernah takut pada apapun yang berasal dari manusia, Victoria! yakinlah..Tuhan sudah menentukan siapa yang dimasa depan nanti akan menjadi guardian Angel untukmu! yakin bahwa dia pasti bisa melindungi dirimu,mereka mampu ria.Lebih dari mampu! Lihat Rayga...dia tak banyak kata, namun lihat kini....Gradian World kembali ketanganku tanpa aku harus turun melawan ular-ular busuk dan jahat itu.Ria...para putra Wiguna tidak akan pernah mau kalah, mengalah apalagi diam saat sudah menyatakan kepemilikan mereka pada seorang gadis! raino bisa ria...kamu hanya perlu percaya!" Ucap asline panjang lebar dengan sabar.


Victoria tertegun.


Yah,selama ini hanya satu yang ia merasa tidak lengkap.


Kepercayaan....


Keyakinan......


Tersenyum,kini gadis cantik berdarah Spanyol itu menatap ke depan dengan manik memerah.Beban dihatinya sirna,terangkat dengan keajaiban luar biasa.


"Terima kasih line..terima kasih Wiguna family....." Lirih Victoria dengan perasaan campur aduk,bahagia.


Asline mendengar dengan jelas,istri dari Rayga itu tersenyum penuh syukur.


Yah,mereka akan jadi satu keluarga dimasa depan.Jadi masalah haruslah ditanggung dan dicari jalan keluarnya bersama.


........πŸƒ........


"Kau mau mati disini?!!"


Ruangan tamu itu jatuh kedalam keadaan yang begitu suram,tekanan udara semakin terasa dingin menusuk kulit kala ucapan Raino sukses membuat urat-urat Devano menegang penuh amarah.


Raino telah berdiri,hilang sudah sikap santainya.


Rayga menyerigai dalam,dengan Arsenio yang sudah memutar sebuah belati ditangan kirinya.


"Tenang tuan muda! kami kemari hanya ingin menjemput putri kami, Victoria....kami begitu terpukul saat berita kematiannya sampai..namun ternyata dia masih hidup,kami begitu bahagia hingga langsung datang ke mansion Wiguna ini.Tolonglah mengerti kegelisahan kami sebagai orang tua,tuan muda!" Peter berucap dengan senyum kesedihan,wajah yang menampilkan kasih sayang seorang ayah pada putrinya.


Rider mendengus,pria tampan itu menarik tangan Raino agar kembali duduk dengan tenang.


Ingat,disini masih ada kedua ayah mereka serta sang kakek.


"Orang tua? cih....siapa yang ingin kau tipu?! Gadis itu menderita bersama kalian!" Rion menyerigai sinis,ayah dari kembar R itu mulai mual melihat wajah penuh drama pasangan suami istri itu.


"Hiks..tuan muda Arion...Jangan pernah berkata seperti itu! kami begitu menyayangi Victoria..kami beri dia pendidikan terbaik serta semua kebutuhannya kami penuhi sejak kami mengadopsi dia dari panti asuhan! bagaimana anda bisa mengatakan dia menderita bersama kami?!" Patricia menangis tersedu-sedu,wanita paruh baya itu menatap wajah tampan Rion dengan ekspresi tersiksanya.


"Enough! Jika memang begitu....mengapa Victoria tidak pulang sendiri menemui kalian?" Ujar Rafendra jengah.


"Itu...gadis itu hanya gadis muda yang masih labil ka-"


" Gadis muda yang masih labil? She is 22! don't be kidding me?" Sentak Raino sarkas.


"Baiklah.. pembicaraan kolot ini harus dihentikan! bagaimana jika anda tuan besar rafendra bersedia memanggil Victoria kemari? biarkan dia putuskan pergi atau tinggal! " Devano berucap menahan emosi.


"Baiklah!" Putus Rafendra santai.


"Kakek!! apa yang kakek katakan?!! aku tak akan biarkan ria bertemu mereka lagi! gadisku harus menjauh dari orang-orang penuh drama ini!" Raung Raino kesal akan keputusan sang kakek.


Rion menggeleng lelah.


"Sudah Raino! biarkan Victoria mengambil bagian disini! kakek benar,jika gadismu ingin tinggal dia bebas dan jika tidak,semua terserah dirinya!" Rayga berucap tajam,Raino mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.


Duduk dengan tatapan tajam atas senyum provokasi Devano.


Ting....


Rafendra menekan tombol dibawah meja tamu.


Dyazel tiba dengan cepat.


"Panggil Victoria kemari.." Ucap Rafendra dan Dyazel mengangguk berlalu pergi.


Suasana kembali hening.


"Bahkan jika gadis tidak tau diri itu memutuskan tinggal...aku tidak sungkan memotong kedua kakinya atas pemberontakan itu!"


Pria itu menyeringai jahat,memutar cincin ditanganya dengan perlahan dan semua tindakan itu tak lepas dari sepasang mata tajam yang sedari awal sudah setenang air yang mengalir.


"Kau salah mengusik keluarga kami!"

__ADS_1


......TBC......



__ADS_2