Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
Destiny for sorrow


__ADS_3

...Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🌹...



...🥀...


...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...🥀...


..........


Suasana nampak hening,ada sinar redup dimata para pria tampan itu.


Rayga menatap saat kedua saudaranya,Diego dan Gion bekerja cepat mensterilkan segala luka ditubuh dan wajah istrinya dengan segala peralatan medis yang mereka bisa bawa sebelumnya,tidak lengkap karena memang saat ini mereka tidak berada di rumah sakit.


Raider menarik xain turun dari helikopter setelah mereka sebelumnya membantu untuk mendorong brangkar rawat untuk naik.


"Kita naik heli kedua..biarkan Rayga sendiri...kita bukan dokter jadi biarkan Diego dan Gion saja.." Raider berucap sembari menahan sakit hati melihat kondisi saudari ipar nya itu.


Xain mengangguk, tak lama helikopter mulai naik dengan terpaan angin kencang menuju pusat medis keluarga mereka.


Waktu demi waktu berlalu,Diego yang sudah berwajah pucat mulai goyah dan akhirnya tumbang, beruntung Gion bergerak cepat menahan tubuh saudaranya itu.


"Sorry brother...hanya sampai sini kami bisa merawat luka di tubuh asline dengan segala peralatan tak seberapa yang kita bawa.Tapi jangan cemas,aku sudah hubungi papi untuk membantu saat tiba di rumah sakit..kau tau kami tidak dalam kondisi prima setelah bertempur hampir seharian ini..kau lihat Diego..dia tumbang" Gion berucap penuh penyesalan.


Rayga mengangguk setelah menatap dalam keadaan fisik kedua saudaranya itu.


Meski wajahnya tampak dingin,namun maniknya terlihat diliputi kecemasan.


"Hm..pergilah istirahatkan diri kalian...aku akan disini" Rayga berucap tanpa senyuman diwajahnya,wajahnya yang selalu arogant penuh harga diri kini terlihat dipenuhi beban hanya dengan melihat sorot matanya.


Gion terdiam dengan anggukan lemah dirinya memapah diego untuk duduk disisi lain helikopter yang berukuran cukup besar itu.


Pria yang kini duduk sendirian,pria yang selalu terlihat seperti seorang dewa tanpa celah dimata orang lain.


Kini,manik yang selalu menatap dingin semua orang kini memerah dengan untaian deras liquid bening yang jatuh tiada henti bak gemuruh air terjun.


Rayga,pria itu terduduk lemas sembari menggenggam telapak tangan yang dipenuhi luka lecet akibat terlalu kuat dan keras memegang belati, bagaimana jika dirinya benar-benar terlambat dan istrinya akhirnya pergi?.


"Istriku...istriku yang cantik...tidurlah tapi ingat untuk membuka matamu lagi pada akhirnya nanti..." Dengan suara yang tidak setegas biasanya,suara yang terdengar rendah nan bergetar.Rayga mengecup kening diantara alis indah istrinya yang tetap menutup mata.


Mengecup telapak tangan yang sudah tertutup perban dan mengelus wajah yang kini tak lagi terlihat warna kulitnya,Gion menutup seluruh wajah asline dengan perban yang melingkar akibat parahnya sayatan pedang yang merusak kulit wajah wanita cantik itu.


"Amour.... bagaimanapun nanti aku akan tetap bersamamu... mendampingi dirimu sampai kau pulih kembali... istirahatlah istriku.." Rayga berbisik ditelinga asline dengan senyum lembut penuh kasih sayang.


Bahkan selama dirinya hidup 25 tahun lamanya.Melihat adik,saudara bahkan ayah dan juga anggota mereka terluka bahkan hampir tiada,Rayga tak pernah merasakan rasa keputusasaan yang begitu mencekik .


Harapan yang berada di ujung tanduk!..


Wajah dan tubuh istrinya yang penuh luka...


Dirinya sangat ingin merengkuh dan memeluk tubuh rapuh itu dan mengatakan semua akan kembali seperti semula,namun ketakutan datang saat melihat luka-luka mengerikan itu.


Bagaimana jika sedikit sentuhan saja istrinya akan kesakitan lagi?.


Tidak!...


Rayga bahkan tak akan sanggup meski mendengar ringisan kecil sekalipun lagi.


Rayga berdiri,amarahnya semakin menjadi meski musuh mereka telah habis.Menunduk dan mencium dengan ringan setiap jengkal wajah rapuh itu dengan lelehan air mata,Gion dan Diego yang melihat dari kaca kecil pembatas pintu darurat saling melirik dengan senyum nanar.


"Papi Gabriel sudah menyiapkan ruang operasi,begitu lukanya pulih operasi bisa dilakukan untuk mengganti kulit yang telah hancur dengan kulit baru...wanita yang menjadi lawan asline pasti adalah iblis! asline sudah terluka sejak awal dan suatu keajaiban dia bisa bertahan!" Diego berucap rendah,Gion mengangguk tanpa menatap.


"Hm..semoga papi siap begitu kita tiba!"


Gion menatap kedalam ruang darurat itu dengan manik bergetar,kedua tangannya gemetar hebat dibalik jas steril medisnya.


"Tapi Diego...saat aku memeriksa nadi asline tadi...aku merasakan sesuatu,tapi hal itu perlahan lenyap.Apa kau juga merasakan apa yang aku rasakan?" Gion berbalik menatap Diego yang bersandar didinding helikopter sembari duduk dan mengganti perban di bagian pinggangnya seorang diri.


"Entahlah..kau tau aku tidak dalam kondisi prima saat tindakan darurat tadi..tapi,ada apa?" Diego mengangkat wajahnya menatap wajah Gion yang terlihat dipenuhi ekspresi yang terlihat,tertekan?.


Gion menghela nafas,dia adalah dokter medis yang sedari muda sudah dijuluki dokter jenius berbakat,hanya dengan merasakan ritme nadi seseorang dia dapat mengidentifikasi apa penyakit orang tersebut,dan kini dia mengutuk bakat itu.


Dia ingin bicara tapi rasa takut seakan tangan kasat mata mencekik lehernya.


Tangan gemetar,treamor hebat hingga darah yang menetes akibat kepalan tangan terlalu kuat tak ia rasakan.


"Tuhan kuharap apa yang kurasakan samar tadi tidak benar... bagaimana Rayga dan seluruh keluarga kami akan menerima ini jika benar? terkutuklah!!" Gion menengadah dan mengigit bibirnya gelisah.


"Oh ya... bagaimana dengan pria bernama Flair itu?" Diego yang tak menyadari kegelisahan Gion bertanya sembari membereskan kotak medisnya.


"Dia tak terluka..hanya perlu serum penawar racun dan sekarang dia di heli kedua setelah Xain kuminta menyuntikkan obat padanya" Jawab Gion dengan suara yang terdengar bergetar.

__ADS_1


Diego berbalik,mengeryit dalam.


"Gion... what's going on?" Berdiri dan berjalan menuju Gion duduk dengan tatapan dalam.


Gion,tangannya semakin gemetar bahkan kini tubuh tegap pria itu terlihat mulai menggigil.


Maniknya bergetar dan dengan satu kalimat lirih,Diego terguncang.


"Keguguran...."


Degggg......


.........🥀.........


Tim medis berdiri dengan seorang dokter paruh baya yang terlihat siap dengan jas operasi.


Para tenaga medis tak bisa berkata-kata,hanya menunggu di rooftop bagian helipad gedung rumah sakit.


Hingga sebuah helikopter cukup besar turun dilandasan diikuti dua lagi di halaman bawah rumah sakit.


Gabriel bergerak cepat memerintahkan para tenaga medis mendorong brangkar yang lebih baik, menggantikan brangkar yang digunakan Gion membaringkan tubuh asline.


"Langsung menuju emergency room...!" Gabriel segera bergerak cepat,Rayga bergerak bersama Diego yang sebelumnya melempar tatapan mata rumit pada Gion.


Gion menarik tangan ayahnya.


"Ada apa boy?! ayolah kita diburu waktu! kau se-"


"Papi dengar! untuk sementara apapun yang papi dapat di ruang operasi nanti,jangan langsung beri tahu saudara Rayga! dia sudah hancur papi.....ingatlah itu..." Gabriel menatap mata putranya yang dipenuhi rasa sakit.


"Kita tunggu kakek dan dad Arkansas tiba..kita harus bicarakan ini sebelum mengambil tindakan!' Gion melangkah setelah melihat ayahnya tanpa banyak bicara mengangguk,rasa iba menghantam hati pria paruh baya itu.


Mengapa masalah para generasi anak mereka begitu rumit? ada begitu banyak rasa sakit yang harus putra sulung mereka tanggung.


Gabriel berjalan cepat bukan waktunya merenung!.


...........



Ruang rawat itu kini diisi oleh suara nafas tertekan para dokter dan perawat yang berada disamping.


"Jahit bagian ini,jangan sampai kerusakan selaput kulit semakin besar!" Gabriel memberi aba-aba.


"Dokter ada pendarahan hebat pada luk-"


Dokter muda itu bungkam begitu melihat tatapan tajam Gabriel.


"Tulang rusuk patah! tendon ligamen rusak....tulang belakang retak akibat benturan! lampu LED pasang dengan posisi sejajar !" Gabriel memberi instruksi,melirik kaca pembatas ruangan.


Rayga menunggu disana bersama putranya yang lain.


Sementara itu....


"Rayganta!" Anggi mendekat cepat,memeluk tubuh cucu sulungnya dengan mata memerah .


"Semua baik-baik saja nak....nenek yakin istrimu kuat!" Anggi memeluk tubuh tegap yang terlihat rapuh itu dengan air mata menderai.


Bip...


Pintu ruang operasi terbuka dengan Gion yang keluar dari dalam.


"Kami kekurangan darah! empat kantung..." Gion berucap dengan wajah tertekan.


Andai darah asline bukan tipe langka,mereka tim medis tak akan kesulitan.


"Dokter Gion...ambil saja darah saya" Seorang pria yang duduk diatas kursi roda mendekat dengan seorang pria yang mendorong dari belakang.


"Paman Willie Alfarezhi! " Gion mengangguk syukur.


Gara mendorong kursi roda paman ketiganya menuju ruang operasi.


"Dokter Alfarezhi,kau adalah dokter juga.Kau tau kondisi tubuhmu bukan? jadi beberapa cek cepat dan kita bisa langsung mengambil darah paman!" Gion bergerak diikuti Sagara yang men dorong Alfarezhi.


Setelah kepergian ketiganya,lorong kembali hening.


"Bagaimana dengan pria itu?" Arkansas mendekat dan berdiri menepuk bahu putranya yang terlihat samar bergetar.


"Dia akan mati dan pasti mati dad! " Suara yang dipenuhi amarah datang menggema bak bisikan setan.


"Kami sudah membawa pria itu ke markas eksekusi dad! rayga tak ingin siapapun dari kami menyentuhnya...jadi..." xain berucap rendah.


"Kenapa tidak kalian bunuh langsung?!" Rion meraung menatap putra-putranya tak habis fikir .


"Membunuhnya langsung terlalu baik untuknya papi! ada banyak mode untuk mencabut nyawanya!" Raider menyanggah sang ayah dengan senyum dingin .


"Sabarlah nak...setidaknya dibawah penanganan papi kalian juga Gion semua akan baik-baik saja,percaya sama kata-kata mami!" Kayra menepuk punggung lebar Rayga sembari memeluk iba sosok yang terlihat dipenuhi kesepian .


Dibalik semua itu....


Rafendra menatap sosok Diego yang terlihat duduk menunduk tanpa kata.


Rafendra tau bahwa kondisi Diego saat itu tak mungkin untuk ikut dalam operasi.


"Seorang wanita yang membuat asline menjadi seperti ini dad...acella melihat sendiri bagaimana kondisi mereka...mereka bertarung bak diarena gladiator !" Acella berucap horor.


Tukhhh..


"Akhh...mami kenapa kau memukulku?!" Acella melotot sengit pada amber yang tiba-tiba tidak ada angin tak ada hujan mengetuk ubun-ubunnya dengan keras.


"Perhatikan ucapanmu!" Amber memelototi anak gadisnya itu dengan jengkel.


"Mami...kalau tidak percaya tanya saja pada Alarik! acella bicara kenyataan dan satu lagi,mami jangan pakai kekerasan yang biasa mami pakai untuk mendisiplinkan papi padaku! pukulan mami itu tenaga badak!" Acella bicara dengan menatap sinis wajah dengan tatapan tajam ibunya itu.


"Anak ini!!!" Amber mendesis dengan tepukan sabar Daisy yang frustasi melihat pasangan ibu dan anak itu.

__ADS_1


"Wanita itu?" Kayra bertanya sembari menatap kedua anak kembar Axel itu.


"Aku dan Tigress serta empat serigala penerus membunuhnya tentu saja...." acella menjawab pertanyaan kayra dengan wajah dingin.


Mengingat wanita itu sungguh kebencian acella pada zergan bertumbuh.


"Diego ada-apa nak?" Rafendra untuk pertama kali berkata lembut untuk cucu laki-lakinya.


Semua pasang mata langsung terarah pada sosok yang duduk mengasingkan diri diujung terjauh pintu operasi.


"Jangan tanya apapun padaku kakek...tolong jangan katakan apapun..." Diego berdiri dan menatap kearah Rayga yang telah berdiri didepan ruang operasi menatap lurus kedalam tak perduli sekitar lagi.


Diego berbalik pergi,hatinya penuh perasaan rumit juga kepedihan.


Rayga kini sudah terlihat hancur ...


Lalu bagaimana jika kabar itu sampai ke telinganya lagi? pria Zeus itu akan jatuh lebih dalam!.


Dan asline?.


Satu tetes air mata keputusasaan jatuh begitu tubuh tegap dokter itu berbelok dari lorong.


"Sesuatu telah terjadi...apa yang kalian sembunyikan dari keluarga boy? Diego...Gion...." Rafendra menatap sosok Rayga dengan manik menerawang.


"Kakek akan kembali..." Dan akhirnya, rafendra beranjak pergi setelah melihat anggukan dari para putranya.


............


Angin berhembus membawa aroma bunga lavender yang tercium lembut.


Sosok bergaun putih itu membuka matanya.


Asline menatap dimana kini dirinya tengah terbaring.


Permadani indah dari rumput segar yang lembab oleh tetesan embun juga bunga-bunga lavender yang memenuhi seluruh tempat dimana mata memandang.


Hahaha....


" Kakek mahkota bunga ini sangat indah!"


" Nenek tolong kupaskan satu jeruk lagi...."


"Nenek cantik.....kepangan ini sangat indah..."


Asline berdiri,mendengar suara tawa anak perempuan yang begitu merdu bak alunan melodi yang begitu indah.


Degggg..


Langkahnya berhenti.


"Papa...mama...." Ketiga sosok dan seorang gadis kecil segera menoleh.


Degggg..


Entah bagaimana,jantung asline serasa berdenyut saat melihat rupa wajah dari gadis kecil yang berusia mungkin sekitar 1-2 tahun itu .


Dan disamping gadis kecil itu duduk ayahnya santanu dan ibunya amrita.


Ayahnya tengah membuat mahkota bunga,dan ibunya tengah mengupas sebuah jeruk yang besarnya hampir setara dengan sebuah melon.


Jeruk yang sangat besar juga berwarna oranye terang!.


Dan satu lagi wanita paruh baya yang terlihat seusia ibunya,wanita yang sangat cantik dengan senyum lembut itu sedang mengepang rambut sang gadis kecil.


"Apa..apa ini?" Asline terpaku dengan air mata mengalir tak terbendung.


Gadis kecil itu berdiri,berlari dengan kaki kecilnya mendekat.


"Hallo...." Gadis kecil yang terlihat manis dengan pipi bulat juga sebuah dimple kecil dipipi kirinya itu menyapa, dan menarik tangan asline agar ikut duduk di atas permadani dimana mereka duduk.


"Sayangnya mama!" Amrita memeluk tubuh asline dan menepuk punggung sempit itu dengan sayang.


Namun mata asline sepenuhnya terkunci pada sosok kecil yang duduk dipangkuan seorang wanita paruh baya dengan manik berwarna coklat madu itu.


Asline merasa pernah melihat wanita ini,tapi entah bagaimana dirinya lupa.


"Sayang...aku ibu mertuamu...ibu dari suamimu Rayga! "


Dan akhirnya,dengan tatapan tercengang aslein akhirnya mengingat wajah itu.


Dia...


Liora....


Liora Quennara Arkansas Wiguna!.


Istri dari sosok Arkansas yang telah tiada belasan tahun yang lalu!....


"Kakak cantik kenapa melihatku seperti itu?" Dan akhirnya sosok mungil itu bersuara setelah akhirnya Asline tenggelam dalam lamunannya sembari terus menatap wajah kecil itu.


Terasa familiar.....


*Seakan ada perasaan yang begitu dekat,perasaan ingin merengkuh dan melindungi gadis kecil manis itu dengan cinta keibuan,namun dirinya bahkan belum pernah melahirkan seorang bayi! jadi bagaimana perasaan ini ada,perasaan seakan gadis kecil itu adalah bagian dari dirinya juga suaminya?.


Asline tercengang oleh pemikiran itu*.


"Siapa namamu gadis kecil?" Asline bertanya dengan kelembutan yang tidak biasa setelah melihat Liora memberi kode gadis kecil mendekat.


Gadis kecil itu mengerjap polos,menatap Liora dengan senyum manis.


"Aku belum punya nama...kakek santanu..nenek amrita juga Granma Liora berkata aku harus bertanya siapa namaku pada kakak cantik!"


Degggg...


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2