Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
Ding dong


__ADS_3

...Jangan lupa vote,like dan coment ya 🌹...


...🍷 Happy reading 🍷...



Wanita cantik dengan sweeter merah maron yang dihiasi darah itu duduk dengan bosan di sebuah ruang interogasi kantor polisi.


"Ck..ck...ck....siapa yang tau begitu aku menembak dan polisi akan datang? merepotkan sekali...." Asline,dengan wajah bosan duduk sembari mulai menguap suntuk.


Tak jauh diposisinya duduk terlihat Sagara tengah berdebat dengan seorang petugas yang tengah sibuk mencatat pernyataan .


"SAGARA! IBU JUGA ADIK PEREMPUAN MU TENGAH SEKARAT DIRUMAH SAKIT DAN KAU MASIH MEMBELA PEMBUAT ONAR ITU?! DIMANA OTAKMU?!!!!"


Dante yang bahkan belum sempat mencuci darah dari grizela yang mengenai pakaianya saat mengangkat tubuh putrinya itu kerumah sakit meraung.


Menunjuk wajah dingin Sagara dengan emosi berapi-api.


"Siapa yang memulai? harusnya anda tau bahwa semua ini terjadi atas provokasi siapa? tuan dante...sebagai kepala keluarga anda harusnya bisa mengajari istri juga putrimu itu agar tidak bertindak berlebih agar tidak menjadi bumerang mereka sendiri! dan kini jikapun mereka mati siapa yang kau salahkan? kau sendiri tidak becus!" balas Sagara tenang namun tajam menusuk.


Dante meremat dadanya, terengah menunjuk Sagara dengan mata melotot geram.


"KAU!! KAU PUTRAKU, BAGAIMANA KAU BISA BEGITU JAHAT PADA AYAH JUGA IBUMU?! DURHAKA.... PETUGAS LIHATLAH KEDUA ANAK INI?! MEREKA INGIN MEMBUNUH KELUARGA MEREKA SENDIRI....OH TUHAN DOSA APA AKU INI?!!" Dante menangis meraung-raung.


Para petugas saling melirik dengan frustasi.


Asline menguap malas dan mulai menutup mata.


"Kau...nona sebagai generasi muda tidakkah kau punya sedikit penyesalan?!kau tau hukuman apa yang bisa kau dapatkan akibat kasus penyerangan dan penembakan?!" Opsir yang bertugas menyentak geram,keduanya kakak dan adik perempuan yang begitu tega!.


Bagaimana mereka bisa dibiarkan?!.


"Opsir... sebaiknya kau jangan membuang waktu..." Sagara berucap sembari tersenyum formal.


"Petugas...seret wanita ini kepenjara sampai seseorang dengan benar memberi keterangan! kasus ini bukan kasus ringan!"


Dante menyerigai penuh kemenangan saat dua orang petugas polisi datang meraih kedua lengan asline dan bersiap membawanya menuju sel sementara sampai semua bukti cukup membuatnya menjadi tersangka!.


Begitu asline resmi menyandang gelar narapidana,maka Gradian universe akan kembali menjadi miliknya.Dan gelar menantu Wiguna itu segera akan berakhir!.


Dante berteriak girang didalam hatinya.


Sayangnya...


"Siapa yang berani menyeret istriku?"


Deggg..


Seluruh ruangan jatuh dalam keheningan.


Dante mematung dengan keringat dingin mulai membasahi keningnya.


Asline,wanita itu menyentak kedua lengannya yang ditahan oleh dua orang petugas dan tersenyum lebar kala melihat siapa yang datang.


"HUBBY....." Wanita cantik itu dengan senyum centil berlari kearah pria tampan yang datang dengan beberapa pengawal juga empat orang pria elit berjas hitam.


Senyum tipis itu terbit kala tangannya terlentang menghadapi sosok cantik yang sudah berlari kearahnya.


Grephhh...


"Nakal hm?! bukankah sudah kukatakan jangan terluka? jangan membuat dirimu susah? mengapa tidak dengar?..." Rayga menghela nafas sembari menyentil kening cantik itu gemas.


Asline dengan ujung lidah terulur manja menatap balik dengan senyum malu-malu.


"Aku tidak nakal! dan aku tidak terluka,ini luka dua plankton itu....jangan menyalahkanku!" Balas asline sembari mengubur diri didalam pelukan hangat sang taipan.


Para polisi wanita menunduk dengan wajah memerah.


Wajah pria ini begitu rupawan!.


Ada banyak wajah-wajah pria tampan diluar sana,namun garis wajah seperti ini membuatmu seakan melihat hasil terbaik dari sebuah karya seni!.


"Jika tak ada Sagara siapa yang pada akhirnya akan terluka nanti? masih membantah?...." Rayga menarik hidung mancung istrinya dengan senyum pasrah.


"Itu..itukan bukan salahku! jangan salahkan aku! Hubby..tanganku sakit....lihat ini merah bukan? aku menggenggam stik golf itu sangat kencang.. tiup.." Asline dengan manja dan cerdik mengalihkan topik,menunjukan telapak tangannya yang memerah dan lecet dihadapkan suaminya dan mulai berkedip seakan gadis polos yang tak tau kekerasan dunia.


Para polisi bahkan Dante hampir saja menjatuhkan rahang mereka horor.


Kemana perginya rubah betina yang memukuli orang dengan bringas dan kejam itu?! Dari mana datangnya wajah polos nan lugu ini?!.


Sagara tertawa melihat kelakuan adik perempuannya itu.


Inilah yang dinamakan iblis cantik yang berbahaya!.


Rayga meraih telapak tangan halus yang kini terlihat beberapa lecet juga noda darah.


Alisnya menyatu seketika dengan manik berkilat dingin.


"Apa yang kalian tunggu?! bereskan itu!" Rayga melirik tim lawyer yang dirinya bawa,dan mulai meraih tubuh istrinya dan menggendongnya pergi.


Namun....


"Tunggu tuan muda Wiguna! kau tidak bisa membawa tersangka itu pergi,dia telah melakukan penyerangan fatal pada istri juga putriku!" Dante dengan segala keberanian menyeru lantang.


Dan opsir yang bertugas atas kasus ini segera beranjak dan menghalangi jalan sang Zeus.


"Benar tuan muda Wiguna,kasus ini bukan kasus ringan saat istri anda bahkan menggunakan senjata api pada warga sipil! mohon kerjasama..." dengan senyum sopan petugas polisi dengan cemas mencoba berunding.


Rayga terkekeh dengan asline yang semakin menyamankan posisi tidurnya didalam pelukan sang suami tanpa lagi perduli keadaan.


"Apa kau menemukan bukti senjata? apa kau sudah mengintrospeksi para saksi mata? jangan mengajariku bagaimana prosedur hukum tentang pelaku dan korban! enyah..."


Deggg...


Polisi paruh baya itu mematung dengan tubuh mengigil.


Benar...


Pernyataan Dante tertulis istrinya dipukul dengan stik golf oleh asline,dan putrinya ditembak dua kali oleh asline.

__ADS_1


Namun...


Memang benar prosedur pengumpulan sanksi belum dilakukan dan mereka hanya mengandalkan kesaksian Dante juga bukti fisik keberadaan Lucinda juga grizela.


"Tuan kepala polisi..jangan menganggu tuan dan nyonya kami...kami datang kemari akan membantu proses anda demi menemukan pelaku!" Seorang pria yang ikut dengan Rayga maju dengan senyum jenaka.


Pria itu menggunakan kaca mata dengan setelan jas hitam formal juga aura yang penuh perhitungan.


Dante mengigil saat sosok Zeus itu meliriknya dengan senyum rendah yang samar.


"Kita pulang..." Rayga beranjak bersama Sagara yang mengikuti cepat dari belakang, sementara sekelompok lawyer terbaik milik Wiguna coorporation tinggal dan mengurus semua.


Rayga menundukkan wajah melihat sosok cantik pembuat masalah yang kini sudah tidur pulas dalam pelukannya.


Senyumnya terlihat tulus.


"Bagaimana kau akan mengurus ini? ada lebih dari selusin saksi mata dan tentu saja kamera pengawas vila.." Sagara berucap begitu mereka memasuki basemen parkir.


Melirik kearah sosok adiknya yang tertidur tanpa beban.


Senyum pasrah Sagara tak kuasa terbit.


Untung saja adiknya menikahi sosok Rayga! tidak dapat ia bayangkan dengan kepribadian lugas dan ganas dari adiknya apabila wanita cantik itu menikahi pria lain? mungkinkah kesabaran juga toleransinya akan sama?.


"Kau lupa siapa aku? mereka bahkan belum mati...bahkan jika asline membuat nyawa mereka lepas sekalipun itu bukan hal sulit! ada lebih dari ratusan nyawa yang hilang dibawah kakiku dan sampai sekarang apa publik atau polisi tau? Gara....terkadang otak orang-orang seperti diriku tidak perlu kau fahami....ingat saja aku akan merawat adikmu dengan jejak hidup yang akan tetap bersih!"


Sagara terdiam dalam keheningan, Rayga menatapnya dari balik pantulan kaca mobilnya.


Yah, keduanya kini tengah berdiri di samping mobil Rayga yang terparkir.


Seorang pria muda keluar dan mulai membukakan pintu.


"Silahkan Mr Alzeus..." Pria dengan wajah tampan tanpa ekspresi itu membuka pintu belakang.


Rayga memasukan tubuh asline dengan hati-hati.


"Sagara....pria itu.....cepat atau lambat akan berakhir ditanganku! dan saat itu tiba..." Rayga berdiri tegak dan berbalik menatap wajah Sagara dengan wajah tanpa emosi.


"Kau mungkin tak akan bisa melihat lagi jasadnya!" Menepuk bahu dan Rayga beranjak memasuki mobil.


Sagara terdiam dalam sorot mata sendu.


Pria itu? dia tau siapa yang Rayga maksud.


"Selain darah yang sama....apa lagi dari kami yang masih sama? aku bahkan malu mengahadapi takdir bahwa dia masihlah ayah kandungku..." Sagara menengadah keatas mencibir dalam kesakitan.


.........


Dengan senyum paling tulus yang pernah ia tunjukkan,pria dengan pakaian hitam itu menatap salah satu pintu dari sebuah apartemen yang berada di kawasan kumuh di pinggiran kota London.


Dengan sembuh alat yang biasa dirinya kunakan bersama teman-temannya membobol pintu,pria itu akhirnya membuka kunci yang mengganjal pintu.


Senyumnya terlihat lebih bahagia.


Perlahan kakinya melangkah masuk,tatapannya nanar menatap kondisi apartemen yang berada dibawah garis ekonomi penduduk kota London itu.


Hanya sebuah ruangan dengan satu kamar mandi,dan begitu seseorang masuk kedalamnya makan akan langsung terlihat tempat tidur dan dapur yang menyatu dengan sebuah sekat kecil sebagai pemisah.


Rasa sakit tergambar jelas kala melihat kondisi gadis yang dirinya inginkan setengah mati!.


Luruh dengan lutut yang menopang tubuh,Maxim.


Pria itu bertumpu di sisi ranjang dimana sosok cantik itu terlihat menyedihkan dengan air mata yang masih tercetak jelas di pipi pucatnya.


"Jihan...apapun yang terjadi hatiku hanya memiliki kamu! malam ini aku datang untuk memberi tahumu...aku akan membalas mereka.." Max mengelus pipi sembab Jihan dengan jemarinya.


Rasanya begitu lembut sampai dirinya tak kuasa untuk mengecup nya,sedikit saja.


"Katakan Jihan... bagaimana aku membuatmu menyukaiku juga?"


Maxim berdiri dengan senyum dipenuhi kasih sayang.


"Apa jika aku meminta kau membunuh orang-orang jahat itu kau akan lakukan itu? masihkah kau memberi cinta saat noda darah memenuhi tanganmu karena ku?"


Deggg..


Manik hitam itu bergetar saat suara lembut dan sayu itu jatuh.


Maxim duduk dengan cepat dibawah ranjang,meraih telapak tangan dingin itu lagi dan mengelus pipi sepucat kelopak bunga itu dengan anggukan kepala cepat.


"Maka itu....buat mereka membayar karma maka aku bersedia menerima dirimu.." Bibir tipis itu berucap lirih,disela isakan lirih yang terdengar dipenuhi keputusasaan.


Max terdiam,tidak tau bagaimana menerima kabar baik ini.


Dengan perlahan dan hati-hati,wajahnya menunduk mendekat dan mulai membiarkan bibirnya bertemu dengan kening putih yang terasa hangat itu.


Nafas hangat itu menyentuh wajahnya,Maxim terdiam meresapi dan dengan lembut mengecup manik sembab itu merasakan air mata itu menjadi obat dahaganya.


"Kau akan lihat Jihan...aku akan menjadi karma bagi siapapun yang menyakitimu! tunjuk saja maka aku tak masalah menjadi senjata untukmu!" Maxim berdiri dengan senyum cerah.


"Dapatkan mereka...."


Jihan kembali menutup mata dan max dengan seringai mengerikan berbalik dengan sebuah senapan Laras panjang tergantung di sisi tubuhnya.


"Raino..aku mendapatkanya...aku butuh tim pembunuh dari organisasi...malam ini aku harus merepotkan kalian lagi..."


"Kau BEDEBAH yang beruntung! tidak masalah setidaknya kita dapat stok daging untuk para piranha kakek!"


Klik...


Sambungan earphone terputus dan Maxim pergi dengan hati riang.


..........


Dorrrr....


Suara letusan senjata api terus terdengar bersahutan.


Mobil Santana hitam itu melaju dengan batas maksimalnya berusaha meninggalkan daerah pinggiran kota menuju pusat kota.

__ADS_1


Suara burung gagak terdengar nyaring menambah ketakutan sepasang manusia yang entah kesialan dari mana harus menghadapi sekelompok pembunuh bayaran!.


Sebuah mobil range Rover putih dengan dua buah mobil Jeep hitam mengikuti cepat dari belakang.




...( Alright abaikan latar )...


Urmila dan Sakha.


Mobil yang dikendarai Sakha melaju dengan cepat berusaha lolos dari kejaran seseorang yang entah bagaimana mereka singgung!.


Tanpa menoleh kebelakang,Urmila duduk dengan gelisah.


"Cepat mas! aku tidak mau mati di negara orang! lagipula siapa mereka mengapa mereka mengejar kita?! bukankah urusan kita dengan Austin sudah beres prihal ja*ang Jihan itu? lalu siapa lagi mereka?!" Urmila dengan nafas memburu dengan Sakha yang sudah gemetar membawa mobil dalam kepanikan.


Dorrrr...


"AKHHH..MAS!!!!!" Urmila memekik saat ban mobil mereka tertembak dan suara hantaman dari belakang.


DUAKHHH...


BRAKHHH..


Mobil menghantam pohon dan terjun kebawah lereng jalan.


Urmila merasakan sakit luar biasa pada kepalanya, pusing dengan darah yang mengalir akhirnya menghantam dasboard mobil.


Matanya mulai berair kala langkah kaki perlahan mendekat.


Hutan dibawah lembah terlihat gelap,angin malam yang berhembus kencang dan aura kematian yang entah bagaimana melesat cepat.


Melirik kearah Sakha ,suaminya.


Pria itu sudah tak sadarkan diri dengan beberapa pecahan kaca yang menancap pada tubuh juga wajahnya!.


Hidup....


Bagaimana caranya agar dirinya tetap hidup dan kembali ke negara asalnya?!.


"Hiks..bangun..mas bangun!" Urmila menampar wajah Sakha dengan panik.


...Ding dong kudatang padamu bukalah pintu...


...Tak mungkin sembunyi dariku...


...Ding dong ku datang padamu bukalah pintu...


...Kau tak bisa lari dariku...


...Dari balik jendela kutatap erat wajahmu...


...Kau diam membeku kudatang mendekatimu...


...Ding dong kudatang padamu siapkah kamu...


...Lari dan sembunyi dariku...


...Ding dong menuju arahmu cepatlah lari...


...Larilah dan cepat sembunyi...


Urmila mengigil hebat,treamor.


Suara radio dari dalam mobilnya dan langkah kaki berat yang semakin jelas.


Lagu ini membawa rasa putus asa yang mencekik ketakutan yang terdalam.


Entah bagaimana lagu itu berputar sendiri dengan tiba-tiba!.


Hingga..


Tok...tok..


Deggg....


AKHHH....


Dorrrr.....


Sosok misterius itu,dengan senyum lebar menembak dari balik kaca mobil hingga menembus kepala Urmila dan rak lama jantung Sakha.


Keduanya tewas dalam permainan sang iblis Asia.


"Dia membunuh seorang diri?lalu untuk apa dia meminta second comand menurunkan kita?"


"Kita hanya dijadikan tambahan suasana horor!"


"BEDEBAH Houston itu membuang waktu!"


" Balik dan laporkan saja!"


Dua mobil Jeep yang terparkir disisi jalan akhirnya pergi dibawah tawa pecah Maxim yang telah sukses membawa teror.


Sementara itu Maxim berdiri didepan mobil yang penghuninya telah ia habisi dalam sekali teror!.


"Hm..bukankah indah mencari masalah dengan jihanku? yah...sayang sekali aku tak dalam suasana hati baik memberi kalian wujud sampai mati!"


Maxim berbalik,sebuah korek gas bermain diantara jemarinya.


Wushhhh..


Boommm!...


Begitu korek itu jatuh,api merambat dan mobil meledak seketika menyisakan cahaya merah yang melambung tinggi.


.....TBC.....

__ADS_1



__ADS_2