
...Vote,like dan komentar ya 🌹...
...♣️.....♣️...
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...♣️.....♣️...
Raels berdiri canggung,gadis cantik itu menatap wajah tampan seorang pria yang kini berdiri bersandar di body motor sportnya dengan begitu memukau.
Mata para staf wanita yang baru saja datang akan masuk bekerja begitu berbinar ,berkumpul didepan pintu masuk menatap sosok itu bahkan dari balik kaca pintu hotel.
Sedang Raels,gadis itu berdiri mematung tepat didepan pintu keluar hotel.
Deeegggg
Begitu kaca mata berlensa biru samar itu terbuka,manik keduanya bertemu dengan intens.
Jantung raels seakan bergemuruh,begitupun kaki jenjangnya yang seakan berubah menjadi jelly.
Lemas...
Hanya dengan tatapan dalam pria itu,Raider .
Tak ada senyum lembut pada bibir raider,pria itu berdiri dengan wajah dingin bibirnya membentuk satu garis lurus.
Raels berbalik,ingin berlari namun.
Grephhh.....
"Kyaaaa.....manis sekali!!"
"Nona raels beruntung sekali !!"
" Foto aku akan sebar lewat akun hotel!"
"Kira-kira ada hubungan apa ya wakil presiden WJC dengan Miss raels?"
"Tidak tau.. tapi ini berita yang sangat hebat!"
Menutup mata,raels merasakan tubuhnya terbakar oleh pelukan dari raider.
Pria itu memeluk tubuhnya dari belakang, dagunya ia sandarkan di bahu sempit raels.
"Kenapa kamu seperti ini padaku?"
Degggg..
Suara serak nan berat penuh keputusasaan terdengar menyakiti hati gadis itu.Raels menggigit bibir bawahnya menahan perasaan sakit yang menyerang.
"Apa kesalahan aku padamu hingga kamu hindari aku seperti ini, Raels? aku cinta padamu..tidak bisakah melihat ini saja? apa perlu kuberikan hatiku padamu? raels..apa kau takut padaku?"
Raider berucap membalik tubuh raels agar menatap dirinya.
Pria berwajah tampan dengan pembawaan tenang itu menatap wajah sendu gadisnya.
Yah,gadisnya.
Calon istrinya!.
Raels menunduk,tak berani menatap mata lembut dari pria yang kini menatap dirinya dalam.
"Ki..kita tidak cocok...duniamu..dan duniaku terlalu..terlalu berbeda,aku...-"
"Stttt...i don't hear that!" Raider meletakkan jarinya di bibir ranum Raels,membungkam gadis itu.
Kata-kata yang membuat hatinya mencelos sakit.
Dunia berbeda?.
Apa yang berbeda saat cinta telah datang dan mengetuk hati?.
Raider tau,apapun alasannya.
Dirinya tak akan mundur atau melepas gadis itu,meski cara kasar harus ia lakukan jika pendekatan halus tidak berguna!.
Raider menarik lembut tangan raels begitu menyadari ada begitu banyak orang yang menatap mereka.
"Ini,pakai helmnya" Raider memberi sebuah helm berwarna putih untuk raels,gadis itu diam menatap apa yang diberikan raider dengan perasaan campur aduk.
"Ishh..kenapa tidak bisa dikaitkan?!" Raels bercicit menggerutu kesal.
__ADS_1
Raider menggeleng geli,meraih tangan raels dengan lembut.
"Sini aku saja" Raider meraih pengait helm raels,menundukkan wajahnya hingga raels dapat merasakan hembusan wangi lemon dari tubuh atletis raider.
Raider tersenyum simpul,ia tau raels tengah mengamati wajahnya.
Klikkk..
Terlalu lama waktu seakan melambat,namun pada akhirnya raider sendiri yang memasangkan helm gadis itu.
Senyum samarnya terbit melihat kepala kecil gadisnya yang tenggelam oleh helm besar miliknya.
HAHAHAH...
Blushhhh...
"Jangan tertawa!" Sentak raels kesal melihat raider yang tertawa renyah melihat wajahnya.Kini wajahnya terasa panas,sudah dipastikan bahwa pipinya pasti memerah!.
"Kamu lucu,aku suka" Jawab raider santai,melepas jaket kulitnya dan memakainya di tubuh indah raels.
Raider mengeleng geli, penampilan raels saat ini benar-benar lucu dengan jaket dan helm kebesaran.
Raider membuka kaca helm raels, menuduk hingga wajah keduanya sejajar .
1 detik....
5 detik....
Waktu berlalu.
Cuppp..
Manik raels membulat horor kala benda hangat nan basah itu menyentuh bibirnya dengan kecupan lembut.
Tukhhh.
"AKHHH.. SAKIT TAU!" Raels memekik.
jentikan jari raider pada keningnya benar-benar tidak manusiawi!.
Cupppp..
Sekali lagi manik raels membulat lebih horor.
"Masih sakit?" Senyum jahil dibibir pria itu terbit main-main.
Blushhhh...
Raels kehilangan kata-kata,gadis itu hanya bisa terdiam menatap wajah tampan raider dengan wajah memerah hingga ke leher jenjangnya.
"Calon istriku...lihatnya jangan seperti itu...kalau kamu jatuh cinta bagaimana? aku tidak mau tanggung jawab jika kamu terbayang wajahku terus sampai terbawa mimpi!" Goda raider dengan senyum jenaka.
"Katanya mau pergi?! kalau tidak aku mau pulang!" Raels menyentak kesal,dia malu! mau ditaruh dimana wajahnya?.
Raider akhirnya menggeleng lucu,menaiki motornya dan mulai memasang helmnya sendiri.
"Dasar gila!" Umpat raels yang mulai menaiki motor sport raider dengan memegang bahu pria itu sebagai bantuan.
"Yah..aku gila karena mencintaimu..." ucap raider semakin menjadi-jadi.
"RAIDER......!!" pekik raels kesal,dia malu! jantungnya sudah berlari meratton ditambah wajahnya semakin terasa panas.
" Ya sayang...." Jawab raider santai.
Wajah raels sudah tak terungkapkan lagi, bagaimana malunya gadis itu dan bagaimana raider terus mampu menjungkirbalikkan hatinya.
Para penonton hanya mampu mengigit bibir menahan iri, benar-benar pasangan yang manis!.
"Siap?" Raider bertanya setelah melihat raels telah duduk dengan nyaman.
"Sudah... sebenarnya kamu bawa aku kemana?" Raels bertanya setelah merasa duduknya sudah nyaman.
"Ke altar pernikahan" Jawab Raider santai menarik kedua tangan raels memeluk erat perutnya.
PLAKKKK..
"Aduh...sayang..kamu sukanya kekerasan dalam rumah tangga tenyata! belum sah saja kamu sudah main tangan padaku, bagaimana kalau kita sudah malam pertama..." Raider menolehkan wajahnya dramtis.
Raels melotot horor.
"Dasar sinting...mesum...monyet jantan.....-"
"Sayang...suami sendiri jangan dinistakan!" Raider semakin menjadi-jadi,menggoda gadisnya begitu menyenangkan!.
"RAIDER.....STOP TALK TO ME!!" Pekik raels kesal,menutupi wajahnya dengan kaca helm dan mencubit pinggang kokoh raider dengan jengkelnya.
"I CAN'T!!" Balas raider sembari menahan rasa menggelitik akibat jari lentik gadisnya menyentuh tepat perut sixpacknya..
Sabar...sabar....
Masih belum sah!...
.......🍁.......
Kamar bernuansa coklat krem lembut itu begitu hening dengan seorang pria yang duduk di sofa tunggal menghadap ranjang menatap sosok gadis yang duduk terisak membalut selimut menutupi seluruh tubuhnya yang polos.
"Apa sebegitunya kamu tidak menerimaku hingga pergi ke club seorang diri? Rubi....bagaimana jika aku tidak ada disana dan melihat dirimu malam itu? " Dingin.
Suara pria yang duduk disana terasa begitu jauh.
Dekat, namun rasanya begitu jauh kini.
Rubi terisak,mengingat semuanya.
Benar,antidot yang diberikan Gion bukan hanya menjaga kesadaran yang memakai dari dampak afrodisiak,namun membuat seseorang akan tetap mengingat apapun yang telah mereka lakukan setelah efek afrodisiak habis.
__ADS_1
Meski tubuh mereka terbakar sekalipun,otak mereka akan tetap terjaga.
"Apakah semua ini adalah pembuktian untuk kata penolakan dan perpisahan yang kamu inginkan aku lakukan Rubi? biarkan aku melihatmu pergi tanpa usaha lagi? perbuatanmu ini...apakah ini penolakan dan perpisahan secara halus?" Ryu bertanya dengan senyum kecut.
Rubi terisak tak mampu lagi berkata-kata kala bibirnya terasa kelu untuk berucap.
"Aku bersumpah Rubi...jika seperti ini aku akan mundur dengan rela,aku tak ingin melihatmu menangis atau menyakiti dirimu sendiri karena aku,meskipun aku rasanya ingin menangis dengan air mata darah! aku bersumpah aku akan melepaskan dirimu jika hatimu memang tidak inginkan aku" Ryu menatap jari manis Rubi, cincinnya telah hilang disana.
Tersenyum nanar.....
"Banyak gadis yang berusaha memasuki hidupku,tapi aku mengusir mereka pergi..menjauh dariku yang hanya melihat kamu disini...dan disini..." Ryu menunjuk dada serta matanya.
Kekecewaan pria itu tergambar jelas dimata Rubi,menangis dan menutup mata oleh penyesalan.
Mengapa ia harus pergi ke club?!.
"Menjauh...aku menjaga hatiku tidak akan mencari lagi setelah bertemu dengan dirimu.Aku fikir dengan usaha dan ketulusanku,aku akan baik-baik saja.Tapi aku ternyata tidak baik Rubi...kau menyakiti dirimu,tapi akulah yang merasakan dampak paling besar dari ini! " Ryu bangkit berjalan menuju kaca jendela besar di kamar tamu Vila Gabriel itu.
Menatap pantulan sosok Rubi dari balik kaca.
"Katakan oadaku Rubi....apa yang membuat seorang pria,mau memberikan seorang gadis seluruh hatinya? tersenyum saat melihat gadis itu bahagia,menangis lebih pilu saat gadis itu terluka? jika kamu tau apa yang membuat seorang pria mau memberimu cinta dengan cara seperti apa yang aku lakukan,biarkan aku tau,maka aku akan melepaskan dirimu bersamanya" Ucap Ryu dengan senyum pahitnya.
"Hiks..maaf...maafkan aku...aku..aku...aku salah..jangan..jangan katakan apapun,aku merasa sakit!" Rubi menangis dan menatap pedih wajah tampan dengan gurat kepahitan itu.
"Apa yang membuatku merasa cintaku ini sudah benar?melihat senyumanmu...melihat binar matamu..kapan aku memutuskan bahwa perasaan ini adalah cinta,aku tidak tau! saat aku merasakan kau adalah mimpi dimusim semi untukku,ketika kau meminta maaf untuk ini......ketika aku merasa usahaku sia-sia selama ini! aku hanya ingin kamu memberi semua rasa lelah mu padaku,aku hanya ingin membawa dirimu ke artian rumah cinta yang sesungguhnya,apa ini terlalu sulit?" Ryu mendekat, naik keatas ranjang dan bersimpuh dengan kedua lututnya meraih wajah Rubi dengan kedua tangannya .
Menangkup wajah sembab itu dengan hati berdenyut sakit.
"Tidak bisakah aku berada disisimu? tersenyum saat berada di dekatmu,menangis saat kau terluka? tidak bisakah izinkan aku mencintaimu dengan caraku? tolong biarkan aku tau,aku bisa memilikimu disisiku,selama sisa hidupku" Ryu menyatukan keningnya dan Rubi yang terisak pilu,mengusap kedua pipi gadis itu dengan penuh kasih.
"Katakan Rubi..kamu mau aku bagaimana?" Lirih Ryu yang mulai meraih tubuh bergetar Rubi dan memeluknya erat.
"Sebuah hati yang rapuh telah hancur sebelumnya,kurasa aku hanya tak sanggup terluka lagi! tapi...hiks..tapi kini,ada sesuatu dalam dirimu.Memanggilku,menyentuhku..bisakah aku percaya lagi...? padamu?" Lirih Rubi mendongakan wajahnya yang sembab menatap mata sendu Ryu.
"Percayalah..ikatan baru ini akan memberimu kehidupan yang baru,aku tidak merasakan perasaan ini pada perempuan manapun.Jadi..bagaimana mungkin aku bisa menyakitimu seperti mereka? Aku akan membantu hatimu tumbuh lagi dalam kesakitan ini...maka.. lupakanlah masa lalumu,mari merajut masa depan denganku.Biarkan aku menyelamatkan hatimu dan hatiku,biarkan aku perduli dan mencintai" Ryu mengelus punggung sempit Rubi,mengecup pucuk kepala gadisnya.
"Sulit rasanya.. aku tau,tapi satu hal yang pasti.Aku tidak akan berubah,dan aku akan menyembuhkan hatimu yang rapuh ini" Ryu tersenyum,kala rubi menatap matanya tanpa menghindar lagi.
"Hati dan pikiranmu yang terluka butuh tempat kembali..aku tau hati ini tak akan sanggup untuk luka baru lagi, tapi baby....." Rubi mematung kala Ryu menunjuk tempat dimana hatinya berada.
"Didalam dirimu,kutemukan arti kasih sayang seperti kedua orang tuaku.Kasih sayang,cinta yang baru kesadari kini maknanya,maka kini jangan biarkan masa lalumu terus membayang..menghancurkan apa yang akan terjadi di masa depan, percaya padaku dan kita mulai semua dari awal,mau?" Ryu berucap penuh kasih sayang dan harapan.
"Dengan bara yang baru terbakar diantara kita,kamu mungkin banyak kehilangan dan luka.Tapi...kini ada aku,banyaknya kehilanganmu akan kugantikan dengan banyaknya kebahagiaan yang bisa aku berikan. Aku bisa pastikan, aku pastikan duniaku hanya akan berputar di sekitar dirimu" Ryu melangkah turun, berjongkok dan menarik keluar sebuket bunga mawar putih dan sebuah kotak cincin beludru.
Berdiri dengan kedua benda itu ditangan kanan kirinya.
Rubi menutup mulutnya syock.
Maniknya semakin bergetar berkaca-kaca.
Menatap kearah belakang punggung Ryu.
Disana...
Disana berdiri dua pasang suami istri asing juga ayahnya!.
Salah satu pria paruh baya pasangan itu memiliki wajah serupa dengan Ryu!.
"Maka bantulah aku,lengkapi kisah cinta ini berada disisiku dan percayakan semua dibahuku! Rubi....aku Ryuga Stevano Hara dengan ini,hari ini dan detik ini..melamarmu! menikahlah denganku dan jadikan istriku,ibu dari anak-anak kita! marry me...." Ryu kini berdiri di sisi ranjang bagian bawah,berdiri dengan wajah penuh harapan.
"Cincin itu... bagaimana?" Cicit Rubi kala melihat cincin yang berada didalam kotak beludru.
Bukankah cincin itu telah ia letakkan di laci meja kamarnya!.
Lalu mengapa bisa berada di tangan Ryu?.
"Jawablah nak...jangan biarkan pria yang tulus mencintaimu pergi! ayah tidak bisa selamanya berada disisimu,kamu butuh seorang pria dimana akan kamu habiskan sisa hidupmu bersamanya,membangun keluarga kecil hingga kalian menua bersama" Rubi menatap ayahnya yang bersuara tegas nan lembut.
"Benar Rubi..saya sebagai ibu dari Ryu sendiri yang akan menjamin tidak akan ada wanita lain yang bisa memasuki hidup kalian...cinta Ryu saya pastikan hanya untuk kamu nak,keluarga kami menjunjung tinggi kesetiaan,setia adalah harga mati untuk pria di clan kami" Rubi menoleh,menatap sosok cantik wanita paruh baya yang dirinya tau pasti siapa itu.
Angel Hara!..
Sang mantan model internasional yang telah lama fakum untuk mengabdi pada keluarganya.
Rubi menunduk malu,dirinya baru menyadari sesuatu saat seorang wanita paruh baya lain terlihat tersenyum jenaka melirik tubuhnya .
"KYAAAA...RYU........AKU..AKU SEPOLOS BAYI... MINTA MEREKA KELUAR!!" reflek Rubi menjerit,membenamkan tubuhnya pada selimut tebal.
"Katakan yes baru akan kukirim pada orang tua ini keluar..." Ucap Ryu santai menggoda.
Ryuiji mendelik menatap sinis putranya,Angel melotot garang.
Enak saja mereka dikatakan tua!.
Hanya tidak remaja lagi!.
"BAIKLAH IA..KAMU PUAS..." jerit Rubi jengkel.
Seringai kemenangan Ryu terbit,berbalik dan memerintah para orang tuanya keluar dengan angkuh.
Anak durhaka memang.
" Setelah menggunakan kehadiran para orang tua,setelah selesai kau melempar kami keluar ,memang anak durhaka kau!" Daisy menggomel jengkel,namun tak ayal Gabriel menarik kikuk istrinya itu keluar.
"Sayang..mereka sudah keluar,buka selimutmu..lagipula semua sudah kulihat semalam...malu apa?" Ryu berucap jahil,merangkak menaiki ranjang dan menarik kaki Rubi dengan kekehan iblis.
"RYUUUUUU...MATI SAJA KAU!!"
Amuk Rubi begitu tubuh polosnya terungkap dengan tubuh kekar Ryu menindihnya.
"HAHAHAH..aku lapar!!"
Dan yah,Rubi menjerit kesal kala tubuhnya kembali dipermainkan oleh kenakalan Ryu.
Yah,bagus juga iman pria itu kuat hingga goa milikinya masih aman tidak terbobol.
__ADS_1
...🌹...
...TBC...