
...Vote,like dan komentar ya ❣️...
...✒️.........✒️...
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...✒️......✒️...
Hening....
satu kata yang tergambar dari suasana sebuah kamar rawat inap di pusat kesehatan Wiguna family.
Sudah seminggu lebih gadis cantik itu terbaring memasuki masa pemulihan.
Beruntung serum yang diteliti Diego bekerja meski terlambat,dan akhirnya Asline.Gadis itu bisa kembali ke kondisi stabil.
"Bos...sebaiknya kau pulanglah ke manor dulu,atau setidaknya lihatlah Raider yang sudah bekerja bagai kuda seorang diri di perusahaan! ini sudah seminggu dan kau tak ubahnya layaknya seorang hantu penjaga!! pulanglah bos...lagipula nona Asline juga tidak akan sadar hingga besok pagi" Gion mendesah jengkel,sungguh bahkan para perawat tidak ada yang berani datang untuk mengecek.
Hingga,dengan terpaksa Gion dan Diego lah yang bergantian mengecek keadaan pasien spesial mereka itu.
Para inti terpaksa bekerja dimarkas mandiri, akibat big bos mereka sendiri selama satu minggu ini bak hilang ditelan bumi,pria itu hanya tinggal di rumah sakit dan tak pergi kemanapun.
Rayga acuh,menatap sosok rapuh ratunya yang setia terpejam.Wajah datarnya terlihat jauh lebih dingin tanpa emosi,tanpa gairah dan tanpa setitik pun aura kehidupan disana.
Yah,Rayga hanya akan duduk diam memandangi sosok cantik Asline tanpa perduli sekitar.
Itu semua berlangsung seminggu lamanya.
"Apa ada kabar dari spy?" Rayga bertanya dingin,tanpa menatap wajah frustasi Gion sama sekali.
"Alarik dan Raino sudah menurunkan spy elit di tim Beta....em.....Zergan.....kau serius ingin berurusan dengan kartel Hall itu? bukan.. apa-apa hanya saja kita tak punya koneksi besar di Moskow...itu wilayah underground Amerika...kau tau...mereka terlalu picik!" Gion berucap dengan mimik wajah menerawang.
Rayga berbalik,menatap tajam wajah Gion yang sudah pias ditatap dingin olehnya.
"Kenapa? apa kau takut atau kau tidak percaya seberapa besar klan kita bisa membumi hanguskan siapa saja yang mengusik?! kau ingin lihat para ayah itu mengejek generasi kita?! dengar Gion....clan kita punya ahli senjata...ahli biokimia...ahli racun...ahli strategi...pengintai...perakit....apa yang tidak bisa kita tembus?! dengar...jika kudengar keraguan lagi,maka kau akan kulempar keluar dari organisasi !!" Raygan menyorot dengan kejam,dingin dan penuh aura membunuh.
Gion mendesah lelah, sudahlah biarkan saja!.
Dokter muda itu berbalik dan pergi meninggalkan Raygan dengan wajah datar tanpa emosi lagi.
Bangkit dan pria itu berjalan,mengelus wajah cantik dengan lebam yang nampak memudar.
Hanya menunggu hingga kulit lembut nan indah itu kembali pulih seperti semula.
Cupppp.....
Menunduk dan mengecup perlahan kening Asline,berdiri tegak kembali sembari mengelus rambut panjang nan halus gadisnya.
"Aku sudah terlalu lama disini dear...dan kamu sudah terlalu lama tidur...aku akan pergi sebentar dan aku janji akan segera kembali.Aku harap setelah aku kembali kamu sudah terbangun dari tidur panjang ini dear...dan aku janji,apapun keinginanmu setelah ini pasti akan aku penuhi,bahkan meski kau memintaku untuk pergi....aku akan pergi meski hati ini tak mau" Rayga tersenyum lembut,membelai pipi lembut dengan lebam samar disana.
Tangannya terkepal kuat,dan maniknya berkilat kejam.
"Tapi sebelum itu....izinkan nanti aku bertanya,kamu ingin semua ini berjalan dengan caramu,atau...dengan caraku? dear....kau akan lihat seberapa kejam jika aku sampai membenci sesuatu" Rayganta berbisik ditelinga Asline,mengecup daun telinga berwarna kelopak bunga sakura itu lembut.
Berdiri tegak dan berjalan keluar dengan langkah penuh kegelapan.
Tes...........
Setelah keheningan yang terdengar kala tapak kaki sang Zeus telah pergi.
Manik indah itu terbuka dengan tetes air mata yang jatuh.
Kedua tangannya terkepal erat,menatap langit-langit kamar rawatnya dengan tajam.
"Dante....Lucinda....Grizela...dan....kau Jonathan,apa kau benar-benar akan diam jika aku mati?! atau justru kau akan berbalik menyerang jika aku melukai calon istrimu?! baik...mari kita lihat,aku sudah cukup bersabar!" Asline bermonolog dengan senyum seringai dingin.
Melepas masker oksigenya dengan wajah datar.
"Ishhh..." Mendesis tertahan.
Asline belum menyadari kondisinya,hanya rasa sakit yang meremukkan seluruh tubuhnya.
Haus...
Rasanya tenggorokannya begitu kering dan sakit.
Asline menoleh dan mendapati sebuah teko berisi teh didalamnya.
"Teh? siapa yang duduk dan menjagaku disini? apakah pria itu...tapi...ah sudahlah!!" Asline mencoba bangkit sedikit meraih cangkir yang terletak disamping teko.
"Kenapa aku sial sekali?! jauh...cangkirnya cukup jauh...Asline...kamu kuat!!" Gadis itu menjulurkan tangannya dengan tubuh yang semakin dekat pada tepi ranjang.
Hingga....
Brakhhhh..
"ARKHHHH..." Asline meraung kala terjatuh dari ranjang.
__ADS_1
Menatap nanar pada jarum infus yang terlepas hingga darahnya bercecer lagi,tapi bukan itu masalahnya dari rasa sakit menyiksa yang begitu kuat ini!.
ia menatap kakinya,menaikan celana pasien yang ia kenakan.
Nampaklah paha kirinya yang terbalut perban tebal.
"Hahaha...bagus... sangat bagus, cendramata yang sangat bagus tuan Alfarezho!!" Asline terkekeh dingin.
Manik indahnya memerah.
Ceklek.......
Asline menatap kearah pintu yang terdengar dibuka dari luar.
Deg......
Manik gadis itu bergetar,manik keduanya bersitatap dalam diam.
Rayganta!...
Pria itu berjalan masuk tanpa kata,bibirnya terbentuk satu garis lurus tipis.
Maniknya menggelap dan langkahnya terdengar berat,jantung Asline bertalu ketakutan.
Rayga berjongkok,meraih tubuh Asline dalam diam.
Tindakannya begitu lembut,penuh kehati-hatian.
Asline merasakan pria itu begitu lembut,mengangkat tubuhnya bak memperlakukan sebuah berlian rapuh yang mudah hancur.
Darah dari jarum infus yang tercabut,gadis itu terlihat sangat menyedihkan.
Rayganta menatap dalam diam,namun Asline dapat mendengar suara jantung bergemuruh hebat dari pria itu,bukan hanya itu.Asline semakin meringkuk kala mendengar suara gemeratuk gigi,rahang pria itu mengeras!.
Rayganta menunduk menatap darah dari lengan Asline, celana gadis itu telah tersibak hingga menampakkan perban dipaha gadis itu yang mulai ternoda lagi oleh darah.
Membaringkan kembali tubuh Asline diatas brangkar,atau sebut saja queen size yang ditempatkan Rayga untuk kenyamanan pemulihan gadisnya.
Asline mematung,dapat ia rasakan kedua tangah pria itu gemetar saat menyentuh lengannya yang berdarah.
Berbalik membuka laci dan meraih kotak p3k.
Semua dilakukan dalam diam,pupil mata pria itu memerah gelap.
Perlahan asline mengigit bibir bawahnya kala jarum infus itu dipasangkan kembali.
"Maaf...maafkan aku karena gagal menjagamu..kau boleh membenciku...kau boleh memukulku,kau bisa menyuruhku pergi...yah...aku akan pergi... tapi..."Rayganta berucap lirih.
"Jangan terluka lagi" Lirih Rayga sembari menghapus air mata yang tanpa sadar jatuh dipipi gadis itu.
Asline menangis dalam diam.
Pria itu menghela nafas menggunting perlahan perban dipaha Asline,gadis itu diam tak bersuara.
Menatap wajah lelah pria itu,pria yang bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengan ya.
Yah,meski ia beberapa waktu lalu terus masuk dan mengacaukan hatinya.
Asline menatap Rayga dengan senyum nanar.
Rayganta diam,membereskan peralatan setelah mengganti perban di paha Aslien yang lukanya masih basah.
Berdiri menatap wajah sendu Aslien,gadis itu terlalu banyak menyimpan luka.
Grephhhh...
"Lepaskan semua...biar aku saja...biarkan aku yang menanggung semua beban mu..jangan sakit...jangan terluka lagi" Rayganta memeluk tubuh bergetar nan rapuh itu,Asline yang menyedihkan ,Asline yang rapuh.
Hati Rayganta tercabik,keadaan menyedihkan gadis itu menembus hati gelapnya yang terdalam.
Semua luka,tangis dengan air mata penuh kesakitan itu...
Semua bak racun yang menggerogoti hatinya sedikit demi sedikit.
Rayganta tak pernah kehilangan kendali atas dirinya.
Tak pernah merasakan perasaan begitu marah,kecewa dan putus asa.
Dia....
Rayganta untuk pertama kalinya,begitu benci pada dirinya sendiri!.
"Aku...aku tak berguna bukan...?Asline...aku...pantas saja kau tak melihat diriku dimatamu...pantas kau pantas menolakku..."
Deggggg...
Asline tergugu,air matanya semakin deras.
Rayganta memeluk erat tubuh rapuh Asline,tubuh kokohnya bergetar samar.
Asline mengigit bibir bawahnya semakin kuat,cairan hangat jatuh di pipinya saat Asline mendongak dan melihat manik yang biasanya tajam penuh intimidasi itu memerah dengan air mata yang menggenang di pelupuk.
"Ray... Rayga....." Asline memanggil lirih,gadis itu seakan mendapat kejutan besar yang menghantam hatinya.
Pria tiran itu menangis?
Menangis untuknya?
Dia,pria itu adalah tuan muda paling dihormati sekaligus ditakuti diseluruh kalangan di tanah Eropa ini.
Pria muda yang mengendalikan hampir semua sektor perekonomian di London,pengusaha paling ditakuti di dunia bisnis.
Putra mahkotanya clan Wiguna.
Pria yang terkenal arogant,tirani,bengis dan tanpa ampun itu meneteskan air mata? untuk dirinya?.
Asline membeku,hatinya menghangat dengan senyum tipis yang perlahan mekar.
"Hai tuan muda Wiguna....aku masih hidup,aku belum mati hingga pria pemaksa seperti dirimu harus menangis,dan yah.... terimakasih karena telah menolongku,lagi" Rayganta menuduk, tenggelam dalam manik grey indah yang kini terlihat jauh lebih hidup.
Suara lembut bak alunan harpa ditengah-tengah rasa sepi dan gelapnya.
Asline menutup mata kala tangan besar itu mengelus pipinya,mengusap air matanya .
Dirinya tau,tau bahwa perhatian pria paling diagungkan di London ini tidak dangkal.
__ADS_1
apakah ini cinta? cinta atau obsesi?.
Apakah ucapan dan tindakan manis serta perlindungan pria itu nyata? bukan ilusi yang suatu saat akan pergi.
Asline mencoba berdamai.
Membiarkan pria itu masuk mengisi rasa sakit nya,biarlah waktu yang menjawab semua.
Apakah dia harus tinggal atau menyerah.
Keraguan ini,walau masih ada.
Asline akan membiarkan pria itu membuktikan,meski tetap semua akan dilakukan dengan caranya.
Rasa sakit di sekujur tubuhnya,namun air mata diwajah tampan itu menghapus semua dan hanya meninggalkan rasa hangat dan bahagia dihatinya.
"Asline......aku bersumpah demi nama ibuku....aku.... Rayganta Alzeus Theodore Wiguna,aku akan membuat Zergan,Dante dan mereka semua yang terlibat membayar mahal!! semua...tanpa ampun dan tanpa bekas!!"
Deggggg...
Hati Asline terguncang.
"Zergan....siapa....siapa dia?" Asline bertanya ragu-ragu,melihat wajah tampan yang dipenuhi kegelapan itu saja sudah membuat seluruh tubuhnya bergetar.
Apa latar belakang pria bernama Zergan itu? kenapa tiran yang selalu terkenal akan ketenangan itu berubah bak badai tornado?.
Rayganta melepas pelukannya pada tubuh indah yang begitu pas dalam dekapannya,tak rela tapi harus dilakukan.
Meraih sebuah gelas berisi air putih,membawa kearah bibir pucat Asline dengan manik teduh.
"Terimakasih" Ucap Asline begitu selesai melepas dahaga.
Rayganta tersenyum,menaruh kembali gelas diatas nakas.
Membaringkan tubuh Asline kembali dan duduk disamping ranjang dengan helaan nafas jengah.
"Apa perlu menanyakan sampah itu?" tanya Rayga tak niat.
Asline tersenyum canggung,namun ia harus tau siapa musuhnya sebelum bisa bertindak.
Rayga mendesah lelah,duduk dengan kaki bersilang angkuh.
"Dia....Zergan Erdoso Simon,pewaris kartel pembunuh bayaran paling kelam di Moskow Rusia, sebaiknya jangan berurusan dengannya karena dia bukan lawanmu dear...biarkan aku membantu hm...." Rayga menatap wajah lembut asline,dimana gadis itu terdiam mematung.
Dia,pria jahat itu ternyata adalah......
Pria itu adalah seorang pewaris dari kartel pembunuh nomor satu di moskow! .
Maka tidak heran dia berani menantang seorang tuan muda clan Wiguna!.
Dia pasti gila... cukup gila berhadapan dengan monster paling di takuti di London!.
Rayganta.....
Zergan......
Dua nama yang membuat tubuh Asline tanpa sadar mengigil hebat.
Rayganta mendekat meraih telapak tangan dingin Asline.
"Tenang...jangan takut ada aku yang akan selalu menjagamu...jangan terlibat lagi dengan pria itu hm....biarkan aku yang mengambil alih!" Asline tanpa sadar mengangguk kaku.
Benar....
Monster hanya bisa dihadapi oleh monster juga!.
Asline sadar, perkelahian terakhir kalinya ia cukup beruntung karena pria bernama Zergan itu tidak mengeluarkan kemampuan sebenarnya.
Ia sadar....
Dan beruntung saat terakhir Rayganta datang, melindungi dirinya dari kekuatan sebenarnya pria itu.
Meski berakhir dengan luka tembak mengerikan dan seluruh lebam.
"Jangan berfikir jauh...aku tak akan memaksamu lagi...jalani harimu aku akan selalu berada disisimu, melindungi dirimu " Ucap Rayganta lembut,mengecup kening asline dan gadis itu diam menerima semua perlakuan lembutnya tanpa penolakan kejam lagi.
Tersenyum,meski Asline segera menjauhkan wajahnya,namun ini sudah cukup.
Rayga mengepalkan kedua tangannya erat.
Ia tahu ini bukan akhirnya,namun awal baru kala masih diingat dengan jelas sorot ketertarikan di mata Zergan melihat sosok Asline yang kala itu berada dalam pelukannya .
Pria itu telah melihat betapa dirinya sangat melindungi Asline.
Kini mungkin bukan karena Dante,namun lebih kearah Keterikatan dirinya.
Rayganta dan Asline....
Zergan menyerigai dingin terakhir kali sebelum pria itu melompati jendela.
Perlahan manik indah Asline mulai tertutup.
Rayganya meraih ponselnya.
Bip...
"Yah....tenanglah bos,sistemku tengah mengacak seluruh isi kota! bandara...stasiun...pelabuhan ...bahkan seluruh hotel dan rumah sakit yang ada dalam kendali kita...semua tengahku awasi! bisakah kau biarkan aku bekerja dengan tenang...."
Rayganta mendengar dingin suara protestan kesal Alarik.
"Dante?" ucap Rayganta tenang.
"Ohhh...tikus tua itu? tidak ada pergerakan aneh,yah....hanya trauma pasca kiriman mata yang Raino lakukan" Lapor Alarik santai.
"hm..."
Tut..........
Sambungan terputus,meski disana Alarik mungkin tengah memaki ,rayga tak perduli.
"Bermain sebelum mencabut nyawa " Batin Rayga terkekeh bengis.
...🔱...
...TBC...
__ADS_1
Jangan lupa komentarnya dan like setiap chapter 🌹