Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
Remember...


__ADS_3

...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya 🌹...


...🍷 Happy reading 🍷...



Anggi menatap kearah perut Acella yang nampak sedikit membuncit.


Wanita tua itu menghela nafas panjang.


Sebagai tetua keluarga,tentu saja setelah satu demi satu saudari ipar tiada.


Kini hanya tersisa Anggi,Zeline serta Yura dari pihak wanita.


Sedang dari sisi pria,tersisa Rafendra,Bimo,lingga,serta Marsel.


Waktu telah memutus usia setiap manusia dan mereka yang tersisa memiliki tanggung jawab untuk membimbing para generasi muda.


"Bagaimana kamu bisa sembunyikan masalah sebesar ini pada kami semua cella? bagaimana nenek akan memiliki wajah bertemu dengan nenekmu Zenit saat tiada nanti?!"


"Mom bicara apa?! usia mommy masih panjang jangan bicara seperti itu!" Kayra berucap dengan tanpa sadar menyentak.


Anggi tersenyum lembut,menatap wajah kayra dengan tatapan dalam.


"Kay...usia tidak ada yang tau....mommy hanya berandai...tenang hm..." Kayra menarik nafas dalam-dalam dan akhirnya mengangguk meski tak ada senyum diwajahnya.


Di ruang keluarga mansion Wiguna,kini berkumpul Anggi bersama para menantu juga cucu menantu dan para calon menantunya.


Para pria tentu tidak ikut serta.


Mereka sibuk dengan pekerjaan untuk sementara waktu sebelum upacara adat 7 bulanan Aira berlangsung.


Yah,Anggi tetap menekankan adat dirinya juga para sahabat terdahulu pada generasi muda.


Walau mereka menikah dan tinggal di Eropa,kebiasaan kampung halaman akan tetap diterapkan meski pada akhirnya mereka menikahi pria asing.


"Maaf nenek...bukan cella ingin menyembunyikan semua ini ..cella hanya takut dengan reaksi semua orang...cella takut semua akan menjadi marah dan kecewa...." Acella berucap lirih.


Anggi menghela nafas dan menatap amber.


"Mom....jika dipikir-pikir,kami tidak masalah akan reputasi! namun cella adalah seorang designer yang sudah memiliki pamor hingga ke pasar fashion Milan! masa depan putriku mungkin akan menjadi bahan cemoh dibelakang kami....kami hanya cemas apabila cucu kami nanti akan dipandang rendah saat kami tak ada...." Amber berucap dengan senyum paksa.


Yah,clan Lumiro masih berjaya.


Saat Axel dan amber masih berdiri dan sehat saat ini,tentu tak ada yang akan berani membuka mulut!.


Namun bagaimana jika di masa depan nanti mereka tiada? Alarik akan memiliki keluarga kecilnya sendiri.


Dan amber tau jelas watak Acella.


Putrinya itu tentu sungkan jika selalu meminta perlindungan pada saudaranya itu jika nanti kedua orang tuanya tiada,lalu siapa yang akan menjaga putri dan cucu mereka yang lahir tanpa ayah itu nanti?.


Gadis yang hamil diluar nikah memang sudah biasa di masyarakat,namun jarang sekali ada gadis seperti itu yang akan mendapatkan suami berhati baik dan mau menerima noda seperti itu dengan lapang dada.


Amber hanya tak ingin, Acella menderita jika dirinya dan Axel tiada nanti.


"Mama takut apa? Asline bersama dengan kami akan tetap mendukung saudari cella selama kami bernafas! Siapapun yang mencemooh calon bayi cella akan berurusan dengan kami!" Victoria berucap tegas,gadis cantik itu meraih telapak tangan amber dan cella lalu meletakkan didalam genggaman kedua tangannya.


"Benar mama Amber,Kami bukan hanya ipar...tapi kami saudari,teman bahkan sudah jadi keluarga! kita selalu saling mendukung meski apapun keadaannya!" Raels ikut bersuara.


"Mama senang mendengar itu semua...terima kasih kalian mau menjaga cela untuk mama.." Amber tersenyum lembut dengan mata memanas.


Cella mengangguk,mengigit bibir bawahnya haru.


Tak pernah ia bayangkan,betapa Tuhan sangat baik dengan memberi pasangan-pasangan yang begitu baik dan tulus tanpa noda meski tangan dan jiwa saudara-saudaranya penuh dengan darah dan noda hitamnya dunia.


Apakah ini berkah?.


"Apapun yang terjadi...asline berjanji pada para ibu...nenek juga kamu cella.Asline akan selalu menjaga keharmonisan clan kita, membantu dan saling bahu membahu tanpa berbalik pada siapapun dari anggota keluarga yang mendapat masalah dimasa depan nanti! sebagai menantu sulung,asline akan membantu mami kayra menjaga masa depan keluarga besar Wiguna!" Anggi mengangguk puas.


Asline berucap tanpa keraguan,para ibu saling melirik dan tersenyum penuh syukur .


Masyarakat luar memberi cap sebagai iblis tirani pada para putra clan Wiguna dan seluruh clan yang mengikutinya.


Namun, Tuhan maha adil.


Putra mereka bertindak kejam jika seseorang melanggar batas.


Dan kini, Tuhan memberi para pria yang dikatakan kejam itu para pendamping hidup yang berhati mulia,tidak ada topeng munafik dan haus kekuasaan.


Para wanita ini dipilih oleh para putra mereka dengan mata dan hati.


Maka inilah hasilnya.


Keluarga yang harmonis hingga clan ini semakin bertumbuh besar dan jaya seiring waktu,generasi ke generasi.


"Terima kasih saudari semua.....aku tak merasa sendiri lagi...selama ini para saudaraku semua adalah pria,selain Archana yang tentu saja begitu polos hingga aku merasa tak mungkin membagi semua ini dengannya.Namun kini....kalian ada, terimakasih..." Acella berucap dengan air mata haru berderai.


Rubi dan Aira segera meraih tubuh cella dan memeluknya dengan senyum tulus .


"Jihan.... Archana ini pembelajaran untuk kalian karena kalian yang termuda disini! dunia diluar sana penuh muslihat,sekuat apapun seorang gadis ada saatnya mereka lengah! cella tidak salah,dia hanya jatuh kedalam sebuah permainan seseorang untuk seorang pria asing...dan sayangnya Acella ikut menanggung beban! nenek harap jagalah diri kalian, kehormatan seorang gadis akan menentukan bagaimana seorang pria akan menghormati mereka! Jadikan masalah saudari kalian sebagai pengingat dimasa depan!" Anggi menatap dua gadis termuda disana.


Archana dan Jihan saling melirik dan mengangguk sembari menatap wajah tersenyum lembut Acella.


"Kak cella tidak apakan? berarti Shura akan punya dua dek bayi?! woahhh.....!!!" Para wanita itu segera menepuk kening saat sebuah kepala dengan rambut ikal menyembul dari balik sofa yang diduduki kayra.


"Anak kecil tau apa?! hus..hus...pergi sana...." dengan gaya seolah mengusir ayam, Raels mengusir shura dengan wajah tanpa dosa.

__ADS_1


Mulut pria kecil itu mengangga dengan lebarnya.


Hingga..


"Ehh? apa ini?!! kak Vi lepaskan pangeran ini!!" Shura meraung dengan ekspresi wajah tertekan saat tubuhnya diangkat dengan dua telapak tangan bercat hitam itu mengangkat dengan mengapit ketiaknya.


Malu..!


Menatap asline dengan manik berkedip melas.


"Kakak cantik...tolonglah pangeran ini dari monster rubah ini....hiks..." Sudut bibir kayra berkedut akan tangis drama tanpa air mata putra Tristan itu.


"Vi sudah lepaskan shura...kasihan menangis anaknya itu .." Asline terkekeh geli,senyum congkak shura terbit atas pembelaan asline padanya.


Bukankah kakak cantiknya itu sangat baik? pengertian lagi!.


"Wahai monster galak! dengar tidak kata calon permaisuri pangeran ini?!" Shura berucap lantang.


Manik Victoria memicing.


Monster? dia yang cantik ini?!


"Aaaakhhhh..monster jahat!!jangan lukai wajah tampan pangeran ini!" Shura memekik saat kedua pipinya dicubit ganas oleh jemari lentik itu.


"Hei Shura! berani sekali kau bilang asline sebagai permaisurimu?! Rayga dengar dijadikan dendeng buat Demon kamu! lagipula kamu itu masih kecil..ke kamar mandi malam saja masih minta diantar..berlagak lagi!" Raels berucap dengan senyum mengejek.


"Biar saja! Kalau iblis Zeus itu marah shura tinggal sembunyi saja dikamar nenek! kalau dia berani masuk shura lari saja kekamar kak line..." Shura menjawab dengan pongkah.


Hingga....


"Oh..kamu setan kecil berani mau merebut istriku? bosan hidup?"


Deggg...


Dengan gerakan patah-patah,Shura berbalik dan seketika itulah matanya membulat horor.


Disana berdiri para saudara laki-laki nya dengan formasi lengkap.


"Mati aku!!!"


Shura segera berbalik bersiap lari menuju sang nenek.


Grephhhh..


"AAAAAAA...... SIAPAPUN TOLONG!!!NENEK....KAKAK CANTIK.... TOLONG!!" Shura berteriak horor saat kerah belakangnya ditarik.


Dirinya tercekik asal mereka tau!.


Keringat dingin mulai timbul di kening lalu turun segaris wajah saat Zeus kejam itu membalik tubuhnya,mata tajam itu menatap mata yang sudah diserang ketakutan itu.


"Hehehe...shura...em...itu..itu... bercanda...ia..ia...bercanda! jangan hukum shura kak Rayga....kakak kan pria yang baik hati...tidak sombong..rajin menabung dan baik hati...lepaskan shura ya kak....mati ini lama-lama..." Shura merengek,memelas dengan air mata drama mengalir.


Shura melirik dengan ganas.


Sial mulut lemas ini..!


"Pebinor? apa itu?" Victoria bertanya dengan wajah dipenuhi tanda tanya,bahasa apa itu?.


Raino terkekeh sembari duduk disisi calon istrinya itu,menarik pipi gadisnya dengan senyum jahil.


"Itu istilah orang Indonesia Honey....artinya perebut bini orang... bini artinya istri! semacam itulah..." Jelas raino sembari melirik shura yang sudah menangis benar ketakutan.


Double kill ..!


Dan yah,shura berakhir dengan sedikit hukuman dermawan Rayga.


Disaksikan para kakak iparnya terutama kakak cantiknya,asline.


Shura menanggung malu.


"Apa yang kamu lihat bocah?! berdiri dengan benar!"


Raino yang dengan senang hati menjadi pengawas shura bersorak kegirangan.


"HUAAAAA.... jauh-jauh hus..hus....HUAAAAA...jauhkan para ular ini....nenek!!!" Shura menjerit didalam sebuah tabung kaca yang didalamnya terisi hutan buatan dimana ular Sanca peliharaan Rayga saat remaja dulu dipelihara.


Dan yah,shura yang ketar-ketir menjerit dibawah tawa puas raino atas penderitaan adik bungsu laki-lakinya itu.


Sementara yang menjadi penyebab hukuman sedang sibuk bermanja ria sembari menerima suapan buah dari istri cantiknya yang hanya bisa menggelengkan kepalanya miris.


Antara kasihan melihat shura dan tertekan atas tingkah cemburuan suaminya!.


Anak yang malang....


.........


...Saat melihat kebenaran terasa menyakitkan...


...Air mata adalah obatnya...


...Kita tak membuat salah apapun...


...Hanya takdir yang sedang bermain-main...


...Pada siapa harus berkata maaf?...


...Untuk siapa menangis?...

__ADS_1


...Tidak apa-apa coba mengerti segalanya...


...Seperti anak kecil,menangis dan tertawa...


...Hatiku sangat dingin...


...Semua ikut membeku...


Acella meremat kepalanya yang terasa berdenyut,maniknya tak lepas dari layar televisi.


CEO Dixon dikabarkan akan segera melangsungkan pernikahan dengan seorang model cantik asal Amerika, pernikahan mereka akan memperkuat jalinan kuat kerja sama Hyuga Corp bersama Tander inc.


"Yah...aku..aku.. ingat sekarang! dia..dia pria itu!" Acella terduduk meringkuk diatas ranjangnya,menatap televisi besar yang tengah menyala di kamarnya dengan nanar.


Ingatan kejadian itu perlahan pulih.


Saat pesta pernikahan Ryuga dan Rubi,terlalu mabuk hingga seseorang mendorongnya kedalam kamar yang salah!.


"Hahaha....hiks.....dia...hiks...hahaha...itu dia! " Cella menangis dengan pilu,pukulan telak menghantam hatinya yang sebelumnya perlahan pulih,kini kembali terluka!.


Wajah tampan percampuran gen Amerika dan Jepang.


Dixon Hyuga Thompson!.


Cella menangis,menangisi takdirnya .


Semua gemilang yang telah ia raih sejak remaja hingga dewasa kini hilang bak tersapu ombak!.


Mengapa...mengapa dirinya begitu ceroboh?!.


Bangkit dan berjalan kearah televisi yang masih menyala,menayangkan sosok pria yang tengah digandeng oleh seorang wanita dengan tubuh tinggi dan rambut coklat panjang .


Sisilia Tander!..


Wanita ini bahkan pernah menjadi model busana miliknya saat grand Paris fashion week!.


Pria itu berjalan dengan wajah tanpa ekspresi,bibirnya lurus tak beriak serta tatapan acuh kedepan.


"Kau.....kenapa kau lakukan itu padaku? apa kesalahanku padamu? aku MENANGGUNG semuanya..." Tekan cella pada satu kata,air matanya luruh dengan jeri telunjuk teracung pada sosok Dixon.


Nyutttt...


Cella meringis,perutnya serasa diremas dengan kuat.


Sakit....!.


Terduduk sembari terbaring dengan kedua tangan meremat perutnya.


Air matanya luruh putus asa.


"Kau bahkan menyiksaku? kau sama saja dengan pria itu...apa kalian ingin aku mati?!" Cella berucap getir.


Hingga..


"ASTAGA CELLA....! MAMI..PAPI...AL!!! TOLONG CELLA!!" Aira berteriak panik dengan nampan berisi segelas susu terjatuh.


Beruntung reflek Aira cukup bagus hingga pecahan kaca gelas tak melukai kakinya.


Segera alarik dan kedua orangtuanya datang,dengan wajah panik axel membawa tubuh putrinya berbaring diatas ranjang kembali.


"Rik cepat hubungi Gion! suruh dia datang!" Amber berucap sembari mengusap telapak tangan dingin Acella sisi kiri dan Aira sisi kanan.


Alarik tanpa menjawab segera mendial nomor Gion.


"Kenapa Rik?"


"Segera ke vila...Cella tak sadarkan diri!" Alarik menyeru panik.


Segera sambungan terputus dan tak butuh waktu lama,Gion tiba dengan wajah dipenuhi keseriusan dan nafas memburu.


"Biar Gion periksa dulu papi!" Axel mengangguk dan amber serta Aira segera menyingkir.


"Bagaimana Gion?" Axel bertanya setelah Gion selesai memeriksa.


"Cella sepertinya memiliki banyak beban fikirkan,kecemasan yang berdampak pada naik turunnya emosi prikologi! dia sedang hamil dan semua emosi berlebih ini menyebabkan cella drop!" jelas Gion sembari menatap wajah pasangan Lumiro itu frustasi.


"Sebenarnya ada-apa ini papi? mami? Kemarin semua sudah baik-baik saja dan tiba-tiba cella jatuh?! masalah apa sebenarnya?!" Tekan Gion berucap geram.


"Kami juga ti-"


Menurut informasi dari pihak Tander..jika tidak ada masalah hubungan ini akan diikat sementara melalui pesta pertunangan hingga jika tak ada masalah maka pernikahan akan dilaksanakan menjelang musim semi nanti,sekian laporan dari D'magazine.


Axel dan amber saling melirik.


Aira dan alarik mengangguk samar.


Berita ini...


Apakah berkaitan?!


"Tidak ada jalan keluar! cella harus bicara tanpa menyembunyikan apapun lagi!" Axel berujar geram,sebagai seorang ayah.


Axel merasa semua toleransinya perlahan hangus terbakar kala melihat kondisi putri kesayangannya.


Dan siapa penyebab hal ini harus menanggung konsekuensinya!.


__ADS_1


.....TBC.....


__ADS_2