Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
Aku,Archara


__ADS_3

...Vote,like dan komentar ya ❣️...



...🍹...


...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...🍹...


ARKHHHHHHH..........


Sebelum bahkan tawa itu selesai,Sebuah pot bunga yang terbuat dari tanah liat terlempar dan menghantam kepala salah satu dari tiga remaja nakal itu.


Archana,tidak! sisi lain dari putri Arkansas itu,Archara telah melemparkan sebuah pot bunga yang berada disisi pintu toilet tepat mengantam kepala remaja pria yang tertawa paling keras.


"Jal*ng,apa kau gila?!! beraninya kau melemparkan pot itu pada kawan kami!!"


Anak laki-laki yang menggunakan jaket denim meraung kala salah satu temannya membantu kawan mereka yang menjadi korban Archara.


Taph....taph...taph....


Archara tak bergeming,gadis cantik bermanik coklat gelap itu melangkah mendekat.


BUGHHHHH....


ARKHHHHHHH....


Teriakan keras terdengar hingga lorong area toilet itu mulai ramai didatangi pengunjung pusat perbelanjaan yang terkejut mendengar suara teriakan keras dari sana.


Archara,gadis kepribadian ketiga dari Archana itu menendang sosok yang berteriak kepadanya dengan brutal.


Satu yang tersisa mengigil mundur ketakutan.


Mendekat,Archara menginjak dada remaja pria yang memaki-nya paling keras sejak awal.


Remaja itu terbatuk,menyeka darah yang mengalir dari keningnya menahan pening dan buram tak mampu melihat dengan jelas lagi,remaja itu tersiksa.


Wajahnya berlumur darah.


Bughhhh...


Tanpa kata,Archara dengan kejam menginjak wajah remaja itu hingga jatuh tak sadarkan diri.


Menoleh dan menyerigai bengis melihat dua yang tersisa.


"PERGI...MENJAUH KAU DASAR GADIS GILA!!" Remaja yang terlihat lebih baik dari dua kawannya itu menjerit ketakutan saat sosok Archara kembali menatap mereka dengan sebuah seringai dingin tercetak di bibirnya.


Sementara itu,sosok remaja dengan kaca mata patah di pojok lorong mengigil.


Ini tak seperti kelihatanya,gadis mungil yang tampak lemah dan rapuh itu ternyata.


Psikopat!.


Archara terkekeh seram dengan pecahan pot yang ia hantaman bertubi-tubi pada telapak tangan remaja yang dari kepalanya terus mengeluarkan darah.


Dengan air mata?.


Ditengah kesadaran dua kepribadian,gadis manis itu menangis.


"Chara sudah,hiks...jangan pukul lagi Archa takut! Chara tidur,tolong kembali!!"


"Tidak! hahaha...Chara belum puas Archa,kamu tidur saja seperti Archi!"


Archara menekan kepalanya dengan keras menggunakan kedua tangan yang sudah penuh darah.


Suara tangisan Archana dan Archi saling bersahutan dalam fikirannya.


Menutup mata,gadis itu meraih tas selempang di pojok pintu masuk toilet.


Mata kedua remaja pria yang tengah meringkuk itu membola.


Sebuah tongkat besi yang awalnya pendek tiba-tiba memanjang setelah sebuah tombol ditekan.


"Kalian tau? ini adalah tongkat besi canggih yang diberikan kakak kembarku saat dia akan meninggalkanku untuk masuk asrama,jika aku tekan tombol merah ini maka tongkat ini akan memanjang seperti ini..." Archara mendemonstrasikan dengan wajah jenaka.


Mengigil....


Para penonton mundur dengan wajah ngeri.


"Lalu....saat kutekan tombol hitam ini......" Archara berucap main-main sembari tertawa dengan melodi yang begitu merdu.


Menunjuk kearah sebuah tombol hitam dengan tulisan.


Dangerous....


Trackkkkk....


Mata semua orang membola horor.


Paku-paku tajam keluar dari badan tongkat dengan ketebalan luar biasa.


"Mari bermain!!"


"Tidak...kami mohon lepaskan kami!! biarkan kami pergi nona!" Remaja berjaket denim memohon dengan sangat,penuh keputusasaan.


Para pengunjung menutup mulut mereka dengan wajah ketakutan,adegan ini terlalu mengerikan.


Remaja berkaca mata itu sudah jatuh memuntahkan semua isi perutnya kala melihat tangan hancur orang yang tadi memaki dan menghina dirinya.

__ADS_1


"Tidak ada ampun!! mati kalian semua!!"


"TIDAK!!!!!"


Terlalu kejam,terlalu mengerikan.


Gadis cantik dengan sweeter lembut layaknya peri cantik dunia fana ini benar-benar kejam.


Tongkat itu terayun menghantam remaja laki-laki berjaket itu dengan brutal.


Puas, Archana kembali menyimpan tongkat besi itu didalam tas.


Gadis cantik itu berdiri menutup wajahnya dengan Isak tangis.


Namun hal itu justru ditangkap aneh dimata semua orang.


Mengapa gadis kejam itu menangis? bukankah dia yang tengah memukul orang lain?.


Hingga....


"ASTAGA....ARCHAAAAAA....."


Acella yang baru saja keluar dari toilet membola horor menyaksikan pemandangan berdarah didepannya.


Grephhhh.....


Acella memeluk Archa dengan gemetar.


Maniknya menatap ketiga pria remaja dengan pakaian berantakan itu dengan tajam.


"Ada-apa dek? katakan siapa yang menganggumu?! bedebah mana yang berani menyakiti adikku sampai menangis seperti ini?!! maju sekarang!!" Jerit Acella dengan murka.


Apa gadis ini gila? siapa yang menyakiti siapa?.


Kepala para penonton yang melihat kelakuan Acella menggeleng miris.


Acella mengusap pipi basah Archana dengan hati sakit.


Siapa yang membuat menangis adik kecilnya?.


Hingga...


"APA KAMU BUTA NONA?!! KAU TIDAK LIHAT SIAPA YANG JADI KORBAN DISINI?!!" Kesadaran remaja itu pulih.


Ia melihat nanar kedua temannya yang sudah jatuh tak sadarkan diri.


Acella mendengus malas,tidak kenal!.


Gadis cantik dengan gaya sedikit tomboy itu memegang kedua lengan Archana agar menatap matanya.


"Adikku adalah seorang peri kecil! kalian pasti hanya mencari alasan memeras kami bukan?! heh..trik sampah!" Acella mencela dengan wajah datar.


Rahang semua orang jatuh.


Apa gadis ini gila? bukti sudah jelas dan dia masih berkelit!.


Archana terisak memeluk tubuh kakak perempuannya dengan lemah.


"Archa..katakan pada kakak,mengapa kamu bisa terlibat dengan para bedebah kecil itu?!!" Acella bertanya dengan senyum manis,mengelus rambut panjang adiknya yang sudah terlihat kusut.


Archara menyerigai,menutup mata sejenak sebelum manik coklat madu indah itu kembali.Archana kembali setelah Archara tenang,gadis remaja manis itu dengan lugu menunjuk ketiga remaja nakal yang dua diantaranya sudah tumbang.


Mengadu dengan polos.


"Sial!! kalian keterlaluan,beraninya kalian membuat adikku terluka!!" Acella menjerit kala amarah dihatinya langsung tersulut begitu menyadari memang ada luka di sudut bibir mungil adik kecilnya.


Rahang remaja itu jatuh.


Bukankah disini mereka yang dirugikan? lalu mengapa jadi mereka hanya salah?.


Wanita muda ini terlalu kejam!.


"DASAR KALIAN SEPASANG SAUDARI JAL*NG! KALIAN TIDAK TAU SIAPA KAMI?! KALIAN TIDAK AKAN LOLOS!!


Anak laki-laki berjaket denim itu sadar dengan linglung,meraung dengan keras dan memaki Archana dengan kejam kala melihat tangan kanannya hancur terkena hantaman tongkat besi berpaku gadis itu.Menahan kesakitan dan remaja itu memaki.


"Akan kami pastikan kalian masuk penjara!! kalian telah menganiaya kami!!" Remaja dengan kaos hitam menyetujui, meraih ponselnya dan menghubungi polisi.


Archara meringkuk memeluk pinggang acella ketakutan.


Polisi? apa ayah-nya akan datang?.


Bukan ,lalu bagaimana jika bukan ayahnya yang datang tapi para kakak-nya?.


Acella melirik iba wajah pias adik manisnya.


"Heh....kau fikir aku takut? hubungi siapapun kau yang akan tau akibatnya nanti!!" Acella meraih ponselnya juga.


Archana melotot ngeri begitu nama Zeus terpanggil.


"Kakak jangan!! " Archara memeluk tangan acella dengan wajah horor.


"Archa...biarkan kakak panggil kak Rayga! Daddy Arkansas sedang menuju Denmark mengurus proyek besar dan kini kak Ray sudah kembali,jadi biarkan kak Ray yang urus masalah ini! "Acella menjelaskan dengan sabar.


Ada-apa dengan wajah takut adiknya itu?.


Archana menatap wajah cantik acella dengan gugup,melirik ketiga remaja itu sekilas lalu mendesah panjang.


"Kak....kalau kakak beri tahu kak Rayga, Archa takut mereka.....kakak akan membunuh mereka semua!" Archana dengan lirih berucap.


Benar!.


Dirinya tau betapa kejam sang kakak meski pria itu tak pernah menunjukkan didepan umum.


Acella mematung,benar juga! mengapa ia sampai tak terfikir hal itu?.


Hahahaha....


"Kalian berdua banyak bicara! kalian pasti takut bukan hingga mencari alasan seperti ini,orang tua kami adalah anggota parlemen,begitu orang tua kami berbicara maka kalian berdua akan habis bersama keluarga kalian!!" Remaja dengan jaket denim itu menyerigai,puas setelah menerima respon dari orang tua mereka yang bergegas akan datang membawa polisi.


Acella mendengus,melotot dengan emosi menatap wajah kedua remaja itu.


"Diam bedebah! kalian terus mengoceh,kusarankan kalian meminta maaf atau bahkan nanti para dewa sekalipun tak akan mampu menyelamatkan kalian!!"


Acella menarik nafas kala begitu banyak mata yang kini mengawasi mereka.


Acella sang stylish dan perancang busana yang baru saja menjajaki cakarnya di dunia.


"Benar anak muda...lebih baik bawa dulu teman kalian ini ke rumah sakit! "


Salah seorang pengunjung,pria tua dengan bijak memberi saran kala melihat sosok yang tergeletak dilantai penuh darah dengan miris.

__ADS_1


.........🍷..........


" Dasar gadis hina!! masih kecil sudah memukul orang hingga koma,besar mau jadi apa kau hah?!! mau jadi wanita ja*lang?!!" Seorang wanita paruh baya dengan make up tebal serta pakaian mewah mencolok menunjuk wajah sembab Archana yang menunduk dengan acella yang setia merangkul pundak adiknya menenangkan.


Para polisi yang menatap sosok gadis remaja mungil itu menghela nafas berat.


Bagaimana mungkin gadis manis yang terlihat rapuh dan polos ini begitu brutal memukul seorang anak laki-laki yang bahkan lebih besar darinya?.


Para polisi itu menggeleng miris.


"Tenanglah nyonya Murfei,bicara baik-baik mereka masih anak muda yang baru saja beranjak dewasa" Seorang polisi muda sekitar 27 tahun, yang diatas mejanya bertulis jabatannya menyela frustasi.


Sungguh para polisi ini benar-benar tidak tega jika bertindak terlalu keras pada sosok remaja manis yang terlihat jelas terisak dibangkunya memeluk kakak perempuannya.


Wanita paruh baya itu mendengus,duduk dengan gusar ditemani dua orang wanita paruh baya lain yang merupakan ibu dari ketiga remaja nakal itu,para suami mereka terlalu sibuk untuk datang.


"Baiklah bisa kita mulai ?" Kepala polisi itu berucap mencoba seramah mungkin ,sungguh ia tak tega kala melihat wajah lugu gadis remaja itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada awalnya?" Kepala polisi bertanya dengan profesional.


"Mereka menindas pemuda itu! lalu pemuda itu jatuh menyeret Archa hingga jatuh" Archana berkedip polos mengusap sisa air matanya yang menyebabkan pipi gadis itu semakin memerah.


Kepala polisi itu mengigit pipi dalamnya menahan gemas.


"Putri siapakah gadis manis ini? astaga jadi ingin cepat punya anak perempuan!!" Batin kepala polisi itu gemas.


Berdehem singkat dan kembali mengangguk setelah menulis laporan.


"Siapa yang memukul terlebih dahulu?" Polisi muda itu kembali bertanya.


"I...itu Archa" cicit gadis manis putri dari Arkansas itu malu-malu.


Para polisi itu membutuhkan banyak kewarasan dalam menerima kebenaran itu.


Peri kecil manis ini cukup kejam!.


"Lalu benda apa yang kamu pakai memukul nona?" Polisi itu kembali bertanya.


Archana menunduk malu,meraih tas selempangnya dan mengeluarkan sebuah tongkat besi tak lebih dari sebesar telapak tangan.


Apa,benda kecil ini yang menyebabkan penderitaan berdarah kedua pemuda itu? sungguh tak bisa dipercaya!.


"Bagaimana bisa? Nona muda kamu jangan bercanda!" Polisi muda itu mengepalkan tangan didepan mulut menahan tawa.


Acella menunduk,bahunya bergetar menahan tawa kala melihat wajah-wajah terkejut dan tak percaya para polisi muda itu .


"Kepala polisi!! kami tidak mau tau, gadis-gadis jahat ini harus dihukum! panggil wali mereka,mereka harus membayar mahal biaya untuk operasi wajah putraku!" Wanita paruh baya dengan Dress ungu terang itu mendelik tajam menatap kearah Archana.


Gadis cantik ini terlalu berlebihan jika hanya dengan wajah cantiknya para polisi ini mendadak luluh dengan iba,ini tidak bisa dibiarkan!.


Archana mencengkram ujung sweeternya.


"Mommy...hiks... Archana takut dengan bibi badut itu!! hiks...semoga para kakak sibuk dan biarkan papa,papi atau ayah saja yang datang" Archana membatin gelisah.


Ia takut akan kemarahan para kakak laki-laki nya.


Acella melihat jelas ketakutan sang adik.


Dirinya juga tak bisa menghubungi para ayah,karena mereka juga memiliki kesibukan dan ada juga yang bahkan sudah tinggal jauh dari ibu kota.


Opsi terbaik hanyalah sosok kakak sulung Archana sendiri.


Melirik para wanita paruh baya yang sibuk berdebat dengan kepala polisi tampan yang terlihat memijit keningnya pusing.


Dalam diam meraih ponselnya dan mulai memanggil.


Raino tengah berada di Milan bersama Gion.


Raider sedang sibuk bersama Xain mengurus masalah pengiriman.


Diego dan Ryuga tengah berlibur ke Jepang.


Maxim? pria itu terlalu tidak bisa diandalkan.


..........🍷..........


Alarik menatap dengan serius sebuah nama yang tidak biasanya menelpon.


"Kak...kau bisa membantuku dan Archana? kami berada di rumah sakit!!"


Deg....


Alarik berdiri tiba-tiba dari kursi kepala IT di Devisi khusus perusahaan.


"Kenapa cel?! kenapa bisa sampai berurusan dengan polisi ?!" Alarik bangkit gusar,ia berlari keluar dari ruang kantornya dan menuju gedung lantai 50,gedung khsus CEO.


"Sudah cepat kak,jangan banyak tanya! Archa sudah menangis dan aku tutup!!"


Bipppppp


" Cella...cella...sial gadis ini!!" Alarik memaki.


Diruang konferensi,rapat tengah berlangsung.


Brakhhhh.......


Nafas Alarik memburu,manik pria muda tampan yang duduk di kursi pemimpin itu menajam.


"Kau sudah bosan hidup Rik?" Rayganta berucap dingin dengan sorot mata tajam.


Para eksekutif yang duduk rapat menatap sosok kelapa IT Devisi teknologi WJC itu binggung.


Ada angin apa hingga Alarik seberani itu menerobos rapat penting ini?.


Alarik berbisik dengan wajah panik.


KRAKKHHHH.....


Mata para eksekutif itu membola horor kala melihat pena ditangan sang CEO patah menjadi dua.


Kursi kuasa itu tergeser,pria berkuasa itu berdiri dengan wajah dipenuhi kegelapan.


Keluar dari ruang rapat tanpa kata.


Tapi siapa yang mengenalinya dengan jeli akan tau dengan pasti.


Pria ini tengah diliputi kemarahan!.


..........🍷..........


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2