
...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya 🌹...
...Vote,like dan coment...
...🍁...
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...🍁...
Siang itu,kota London nampak terselimuti salju putih nan tebal.
Sebuah mobil berhenti tepat disebuah rumah sakit swasta yang cukup ramai.
Pintu mobil perlahan terbuka otomatis.
"Terimakasih ya morio...kamu kembali saja dulu nanti kalau sudah selesai saya akan hubungi.." Asline melepas seatbelt dan morio yang bertugas sebagai driver pribadi sang nyonya muda mengangguk paham.
Disisi samping asline,Aira tengah sibuk dengan perut buncitnya.
"Aduh Line...mana ya buku cek kandungan aku? perasaan sudah aku masukan kedalam tas tadi!" Aira terlihat jengkel,ibu hamil itu terlihat lucu dimata asline dengan perut bulatnya.
"Makanya tadi aku katakan kita ke Healty hospital saja! Gion disana punya catatan cadangan rekam medis mu jadi kamu tak perlu bawa buku itu kemana-mana! Ini malah kekeh mau periksa kerumah sakit lain...Aira kamu ini memang senang cari susah!" Asline mengomel dan menarik tas milik Aira dan mulai mencari.
Morio didepan kursi kemudi hanya bisa menghela nafas panjang.
Wanita memang makhluk yang paling merepotkan!.
"Nah ini apa?! keselip ai!" Asline berdecak kesal,Aira terkekeh kikuk sembari memeluk tubuh asline centil.
"Terima kasih bestie....namanya juga bawaan baby...sayang lihat masa mommy line marahin mama? " Aira mengelus perutnya sembari mengadu,asline terkekeh mengalah lalu mengelus perut buncit Aira sabar.
"Baby kalau sudah lahir jangan seperti mama kamu ya sayang ..pikun!" Canda asline sembari membuka pintu mobil dan keluar diikuti aira yang nampak merenggut.
"Mana ada ya aku pikun! kalau Rubi mungkin iya..." Gelak Aira menyebut nama Rubi dengan senyum jenaka.
"Didengar Ryu habis kamu!" Gelak asline menggeleng geli.
"Biar saja..aku kan punya papa Alarik,pasti suamiku yang menang kalau battle..." balas Aira sengit sembari mengikuti langkah asline memasuki rumah sakit.
"Terserah kamulah bicara sama ibu hamil tidak ada menangnya..." Hela Asline frustasi.
Aira tersenyum puas dan berlalu sembari mengibas rambutnya.
Kedua istri clan Wiguna famili itu berjalan masuk menuju lantai bagian pemeriksaan kandungan.
"Line kamu tunggu sebentar disini...jaga nomorku aku mau ketoilet dulu..." Asline frustasi menatap Aira yang sudah berjalan tergesa-gesa,sungguh wanita ini tidak ada takut-takutnya tentang perutnya!.
Asline duduk sembari memainkan ponselnya.
Hingga...
Deggg...
__ADS_1
"Cella....!" Asline berdiri saat melihat sosok Acella yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan kandungan.
Wajah cantik itu berubah pias.
..........
Asline menatap wajah kacau yang tersimpan apik dibalik riasan tipis saudari kembar alarik itu.
Keduanya kini duduk dikursi cafetaria taman belakang rumah sakit sembari menunggu segala tes kesehatan yang dilakukan Aira.
"Cella..aku tau ini bukan kapasitasku untuk bertanya prihal hidupmu.Namun kini kita adalah keluarga...aku tak perlu bertanya apa yang kamu lakukan di ruang dokter itu...cella..sudah berapa bulan?" Asline bertanya dengan senyum tanpa cemoh,hanya kelembutan.
"Bulan ini sudah tiga bulan..." Cella berucap lirih,asline mengelus perut yang memang sedikit membuncit itu.
"Papa Axel dan mama amber sudah tau?" Asline bertanya dengan perlahan.
Cella menunduk dan menggeleng lemah.
Hellaan panjang terdengar setelahnya,asline menatap langit yang terhias butiran salju tipis yang turun dengan sedikit hembusan angin.
Cuaca luar sangat dingin, asline yang memang tak kuat akan dingin duduk sembari menggenggam mug berisi coklat hangat miliknya dan bersandar pada dinding kaca.
"Tidak ada yang tau?" Asline bertanya lagi dengan wajah dipenuhi keseriusan.
"Alarik sudah curiga..namun aku belum siap bicara...aku takut line...aku bahkan...hiks...bahkan tidak tau siapa ayah bayi ini?! aku ingin menggugurkannya,namun aku tak sanggup begitu melihat bayangan mereka saat pemeriksaan! aku harus apa?" Acella menangis terisak,asline meraih tubuh rapuh itu dan memeluknya dengan getir.
"Jadi benar semua kecurigaan ku? Cella..."
Deggggg...
Baik asline maupun Acella menegang,keduanya melepas pelukan mereka dan menatap kearah sisi dimana suara itu datang.
"Al....." cicit Acella bangkit dan berjalan dengan ragu, wajahnya sembab dan begitu tertekan.
"Maaf...maaf..hiks..aku..."
Alarik tak bersuara,pria itu hanya bisa meraih tubuh saudarinya dan memeluk adik kembarnya itu dengan senyum getir.
"Kita harus beritahu papa dan mama cela..jangan takut aku bersamamu...cella...biar bagaimanapun bayimu adalah darah dan daging clan Lumiro...dia bahkan akan menjadi adik bayiku dan Aira... jangan menangis! tidak ada yang perlu disesali...semua sudah terjadi kita hanya bisa berusaha dan berdoa agar kandunganmu baik-baik saja..hal lain itu urusan nanti!" Alarik berucap dengan senyum penuh kasih sayang.
"Jadi? sudah punya cukup keberanian?" Asline bangkit dan menepuk punggung Acella dengan senyum menenangkan.
Acella menatap ketiga orang yang memberi tanggapan tak dirinya duga itu .
Mengangguk meski sedikit ragu.
"Berharap saja semoga mama tidak mengangkat kembali senjatanya! papa masih bisa dibujuk...mama? aku berdoa bagi siapapun pria bedebah itu setidaknya jangan mati dan membuat adikku menjadi janda!"
Alarik membatin ngeri.
Sungguh,siapa yang tidak mengenal tempramen nyonya Lumiro? Amber mantan sniper saat wanita itu muda dulu!.
Wanita yang bahkan tak sungkan menargetkan suami dan putranya sendiri apabila suasana hatinya tidak baik.
Dan yah,beruntung mental Axel kuat.
.........
Vila Lumiro..
Ketukan nyaring dari sandaran kursi terdengar membawa kesan horor!.
"Putriku hamil,Axel? hahaha..apa yang alarik katakan barusan tadi? Cella hamil?! hamil?! itukah penyebab perubahan sikap putri kita ini?! hahahaha.."
Aira merapat ngeri kala melihat dan mendengar suara rendah bak kekehan horor itu.
Amber tertawa,namun maniknya memerah dengan rahang yang mengeras.
Axel terlihat lebih tenang,namun urat-urat biru tercetak disepanjang lengan dengan jemari yang terkepal erat itu.
"HAHAHAHA....BRENGSEK! MANUSIA MANA YANG SUDAH MENODAI ANAKKU?!! SEPERTINYA BLOODY MARRY SUDAH LAMA TIDAK MEMINTA TUMBAL!" Alarik menutup mata sembari menenangkan istrinya yang sudah gemetar.
Acella duduk menunduk didalam pelukan asline.
__ADS_1
"Mama tenang dulu! itu bisa papa cari tau nanti,sekarang katakan pada papa cella! Sudah berapa bulan bayimu?" Axel berucap sembari tersenyum samar.
Acella sedikit merasa lebih baik saat melihat wajah ayahnya itu.
Axel memang memiliki sedikit kesabaran dibanding ibunya,hanya saja ketika pria itu sudah sangat marah.Maka butuh sedikit darah dari istri maupun anak-anaknya demi membuatnya tenang.
Dan Axel sadar,kamarahanya harus terkontrol agar tidak menyakiti keluarganya.
Acella menatap wajah memerah ibunya dan senyum tenang ayahnya.
"3 papa....maafkan kesalahan cella papa..mama..hiks..cella minta maaf!" Acella menangis sembari bersimpuh dikaki ayahnya.
Axel menengadah,matanya terasa panas melihat putrinya yang memiliki kebanggan dan harga diri sejati clan lumiro kini berlutut untuk sebuah kesalah bersama seorang pria yang entah siapa?!.
Pria paruh baya itu meremat kedua bahu putrinya,membawa Acella kedalam pelukannya.
"Maafkan papa sayang...papa tidak bisa menjagamu papa lengah dan papa begitu sakit untukmu...tolong maafkan papa ya..." Acella menatap wajah sendu Axel,pria itu sudah menitikan air mata.
Amber menangis sembari bersimpuh ikut memeluk suami juga putrinya itu.
"Maafkan mama juga cella..mama kurang memperhatikan dirimu...hiks...harusnya mama lebih peka terhadap perubahanmu dan membantu papamu menjagamu! mama yang salah sayang ....bukan papa!" Acella menggeleng keras,mengusap air mata amber dan memeluk tubuh gemetar itu dengan parau.
Alarik terdiam,wajahnya telah memerah dengan kilatan bengis dimatanya.
Tidak pernah dalam sejarah clan ini berdiri sejak kakek mereka,Alex.
Tidak pernah ada air mata kesedihan yang menghancurkan hati orang tuanya,namun kini.
Dia..
Alarik merasa gagal sebagai putra pewaris Lumiro.Gagal sebagai saudara,gagal sebagai seorang anak dan gagal sebagai penerus!.
" Rik akan cari pria itu pa!" Alarik berucap dengan senyum mengerikan hingga Aira merasa hawa dingin itu hampir menyamai aura Zeus.
"JANGAN!" Acella tanpa sadar segera menyeru panik.
Semua mata menuju padanya dengan tatapan panas.
"Bukan...bukan maksud cella menghalangi alarik untuk mencari keadilan bagi bayi ini...hanya saja..."
Acella menarik nafas dalam-dalam,mengusap sisa-sisa air matanya
"Cella takut pa..ma..selama ini cella sudah menunggu..sudah tiga bulan dan tidak ada kabar seseorang mencari tau kehamilan ini...jika pria itu memang ingin bertanggung jawab,dia pasti datang mencari...kejadian itu...cella sadar,datang bulan cela berhenti sejak kembali dari Jepang! pria itu pasti bukan orang biasa-biasa ,jika dia tidak mau..maka lebih baik dia tidak tau! cella hanya tak ingin sakit hati pada akhirnya nanti!" Menatap wajah keluarganya.
Semua menatap dirinya rumit dan tertekan.
"Tapi cella.. bagaimana bisa kamu begitu yakin bahwa pria itu tidak mau?" Asline mencoba menarik hipotesis sementara dari banyaknya fikiran yang bercabang.
"Sudah tiga bulan line...jika pria itu memang mau bertanggung jawab,harusnya dia mencari, keluarga ini bukanlah keluarga biasa, daftar tamu undangan di hotel Jepang saat itu juga pasti orang-orang berpengaruh! bukan hal sulit mencari tau jika dia memang mau!" Jelas Acella menatap wajah tertegun asline.
Alis halus nan cantik asline terjalin erat,berfikir keras.
Benar!.
"Papa...bisakah cella rawat saja bayi cella tanpa pria itu harus tau? cella bisa pindah dari Vila jika semua terasa sulit bagi semua orang...." Acella berucap sendu.
Brakkkk..
Amber memukul meja dengan keras.
"Bicara apa kamu cela?! ini tempat tinggalmu, keluargamu! badai apapun kita akan bersama disini... JANGAN DAN BERFIKIRLAH SEBELUM BICARA! MAMA TIDAK SUKA!" Amber pada akhirnya meraung,cella menunduk dalam menyesal.
"Terimakasih papa..mama...brother...saudari ipar...." Acella melirik penuh haru.
Terima kasih pada Tuhan ,dia memiliki keluarga seperti ini.
Beban yang menindih hatinya selama ini telah terangkat.Ayah yang pengertian, ibu yang pemarah namun berhati lembut,saudara yang menemaninya dalam suka duka dan ipar yang tulus.Hanya memberi jalan tanpa sikap menggurui.
"Putri papa...."Axel memeluk putrinya dengan senyum kasih.
"Yah... akhirnya mama punya dua cucu ! setidaknya mama adalah pemenang pertama dengan dua orang cucu! lihat bagaimana Daisy akan meraung iri nanti..." suasana hati gelap amber segera cerah begitu mengingat pembicaraan menantu dan cucu diantar para saudarinya.
Hah....
Betapa ada pelangi setelah badai!.
__ADS_1
.....TBC.....