
...Vote,like dan komentar ya ❣️...
...✒️......✒️...
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...✒️......✒️...
Asline menatap jejeran pohon yang entah apa namanya,pohon dengan daun yang belum tumbuh kembali.
Mobil memasuki pekarangan sebuah rumah kayu bergaya Eropa klasik.
" Dear...tunggu,aku akan menemui penjaga gerbang dulu,jangan turun mengerti!" Rayga membuka seatbell dan turun setelah melihat anggukan patuh dari gadisnya.
Yah,masih belum tapi pasti akan terjadi.
"Anda siapa? tuan tua tidak mengatakan akan ada tamu" Penjaga gerbang melirik pria dengan aura mendominasi itu dengan perasaan cemas,takut.
Tentu saja !.
"Katakan pada tuan tua, aku tuan muda Wiguna mengantarkan nona Gradian datang" Suara berat dengan nada penuh kedinginan itu membuat kedua penjaga mengigil dan salah satunya berlari cepat memasuki pos dan menelpon rumah dalam.
Tak berapa lama...
"Anda..anda silahkan masuk"
Rayga berbalik memasuki mobil dengan acuh.
"Aura pria muda itu sangat mengerikan! aku tak kuat berlama-lama menatap matanya!" Gumam penjaga yang diangguki temanya.
Mobil melaju masuk,udara sejuk serta lingkungan yang tenang menyambut.
Seorang pria muda sekitaran 30 tahunan terlihat berdiri didepan pintu vila,wajahnya terlihat tegang.
"Tuan muda Wiguna?" Pria berpakaian butler itu menyambut begitu sosok Rayga turun,mengangguk formal.
Rayga keluar memutar ,mengeluarkan sebuah kursi roda dan terakhir membuka pintu samping kemudi.
Pria muda berpakaian butler itu melotot horor .
Apa ini?!....
"Ya Tuhan nona Asline!!" Pria itu maju cepat,mendekati namun tatapan tajam Rayganta menghentikannya.
"Maaf...saya atas perintah tuan tua menunggu untuk menyambut Anda dan nona Gradian, menghantar anda berdua menemui tuan dan nyonya tua" Pria itu menjelaskan meski tuan muda Wiguna itu terlihat tak peduli dan sibuk meletakkan tubuh Asline diatas kursi roda dengan hati-hati.
"Tuntun jalan" Ucap Rayganta dingin,mendorong kursi roda Asline dengan penuh kasih.
Asline terdiam gugup.
Terakhir kali ia datang menemui pasangan tua itu adalah saat ia berusia 10 tahun,datang bersama Jonathan dan keluarganya.
Kini ia hanya bersama pria ini...
Pria tampan dengan wajah teduh menatapnya lembut.
Tak terpengaruh apapun dan dengan wajah tanpa ekspresi terus menemani setiap perjalanan nya.
"Asline...cucu nenek!!" Lamunan Asline buyar begitu melihat siluet wanita tua dengan senyum penuh kasih menatapnya dari dalam rumah.
"Nenek Retha" Gumam Asline dengan air mata jatuh perlahan.
Wanita tua dengan sanggul rambut rapi itu berdiri tenang disamping lelaki tua yang ikut tersenyum tipis menatap dirinya.
Asline mengigit bibirnya menahan sesak.
Kasih sayang ini masih terasa sama!..
Tidak pudar tertelan waktu...
"Asline...selamat datang cucu perempuan kakek"
Tes....
__ADS_1
"Hiks...kakek Ferdinan nenek Retha..hiks...Asline datang" Gadis itu menangis pilu,wanita tua itu datang menunduk dan memeluk tubuh rapuh Asline dengan kasih sayang.
"Jangan menangis sayang...kami disini..." Retha memeluk tubuh rapuh Asline,mengusap punggung sempit itu sembari melirik wajah tampan yang lurus tanpa senyuman apapun.
"Lama kakek tidak melihatmu sayang... dulu,saat kau datang pertama kali bersama si tua Gradian itu,kau masihlah gadis malu-malu yang imut, sekarang lihat dirimu...gadis muda cantik yang begitu kuat!" Ferdinan terkekeh mengusap pucuk kepala Asline dengan sayang.
Asline tergugu,sesak hatinya hingga berbicara terasa berat.
"Sudah..sudah...mari masuk,pasti kalian lelah menempuh perjalan jauh" Retha menengahi,Rayga mengangguk sopan pada pasangan tua yang menatapnya intens.
"Anda....?" Sembari berjalan,Ferdinan menatap wajah tampan yang terasa cukup asing dimatanya,yah.Meski aura kuat nan murni pria ini cukup membuatnya paham akan kedudukan pria muda itu.
Kini mereka duduk di sofa ruang tamu,pelayan masuk menyuguhi teh hangat dan beberapa piring makanan ringan.
Rayga menatap seluruh makanan manis itu dengan bergidik,menghela nafas dan menatap wajah tua itu dengan sopan.
"Saya Rayganta Alzeus Theodore Wiguna,saya cucu dari Tuan besar Rafendra Wiguna dan putra dari Arkansas Wiguna" Ucap Rayganta dingin.
Kedua pasangan tua itu tercengang.
Wiguna?...
Siapa yang tak kenal keluarga besar clan Wiguna itu?.
Meski bukanlah garis keturunan royal family,namun kekayaan dari clan ini setara dengan keluarga kerajaan Inggris!.
Hahaha..
Ferdinan tertawa renyah,meraih cangkir tehnya dengan puas.
"Oh astaga...aku tidak menyangka kita akan kedatangan putra mahkota Wiguna di gubuk tua ini" Retha berkelakar,wanita tua itu menatap pria muda didepanya itu dengan binar bahagia.
Ferdinan merotasi bola matanya jengah akan tingkah sang istri.
"Kau tau tuan muda? hahaha.
astaga! seluruh keluargamu itu adalah monster gila,terutama para lelaki di clan itu..saya ingat kakekmu,dia dulu saat muda....dia bahkan berani mengakuisisi sebuah perusahaan yang dilirik oleh pangeran,oh astaga...aku ingat kegemparan saat tiran tua itu menikah dulu!" Ferdinan tertawa lepas,menatap wajah dingin pria muda itu dengan perasaan campur aduk.
Rayga melirik pasangan tua itu dan gadisnya yang terlihat kembali tertawa lagi,sudut bibirnya tertarik tipis dan perasaan lega terasa kala ternyata tuan tua dan istrinya itu adalah orang kaya yang ramah.
Asline pantas dikelilingi orang-orang yang baik.
......✒️......
Disebuah club......
Paradise Night....
Seorang pria muda dengan kemeja putih nampak duduk dimana depannya dua orang pria lainya duduk setengah mabuk dengan dua orang wanita berpakaian seksi menemani.
"Niel...kau yakin untuk menjalani hubungan dengan model itu? kau tidak lupakan dengan....." Pria itu meletakkan ponselnya dan menatap wajah pria yang tengah meneguk minumannya dengan wajah mulai memerah,menghela nafas dan melanjutkan.
"Rubi?" Pria dengan kemeja hitam itu kembali bertanya.
Pria berkemeja putih yang dipanggil Niel itu terkekeh kecil menatap wajah salah satu sahabatnya itu dengan acuh.
"Maksudmu Rubi Sanders? putri tuan sanders pengusaha yang sudah tak sekaya dulu itu?" Niel mencibir,meneguk kembali sampanye di tangannya.
"Oh..ya benar..kau sudah lama tidak menghubungi gadis manis itu Niel..kau jangan jahat begini Niel" Pria dengan tindik di telinga kirinya itu berceletuk ditengah kesadarannya.
Niel,pria berkemeja putih itu melirik sahabatnya.
Bairon.
Model pria dengan tindik telinga.
Cullen.
Kepala redaksi sebuah stasiun televisi cukup besar di London.
Dan satu lagi,pria dengan rambut merah bata
Rizi fotografer model sebuah perusahaan fashion besar.
Keemoat pria dewasa itu tengah menghabiskan malam disebuah club ternama di pusat kota, Paradise Night.
"Kau jangan keterlaluan Niel,karena Rubi kau bisa jadi seorang dokter seperti sekarang,kau dan dia sudah bertunangan,kalau kau lupa.Dan ingat Niel,distribusi keluarga Rubi terlalu besar untuk kau lupakan begitu saja" Culen berucap dengan wajah datar penuh ketegasan.
"Tunangan? hahaha..jangan bercanda denganku Cullen! kau tau sendiri...gadis itulah yang selalu melekat padaku seperti lintah! aku tidak mencintai Rubi.Aku hanya memanfaatkan masa jaya keluarganya dulu,dan yah...aku hanya mencintai Gladis" Jawab Niel dengan senyum tanpa dosa.
Brakhhhh..
Mata ketiga pria itu menatap pada sosok yang berdiri menggeprak meja hingga minuman-minuman yang ada diatasnya tumpah seketika.
"Rubi itu tunanganmu,dia sudah membantumu banyak dari kau kuliah hingga berhasil seperti sekarang,jangan jadi pria brengs*k Niel.Gladis hanya datang saat kau berhasil,tapi yang menemani semua usahamu itu adalah Rubi.Kau tinggalkan dia hanya karena keluarganya sudah jatuh?! aku sudah muak dengan teman sepertimu!" Pria dengan kaca mata bening itu berdiri,mendorong wanita yang sudah mabuk disamping dirinya.
"Jangan melawak kau!! kau bahkan lebih breng*ek dariku,jangan sok suci!! setiap malam kau ons dengan wanita berbeda,dan kini kau menceramahi ku?!! damn you Rizi!!" Niel memaki emosi,Rizi.Pria itu berbalik tertawa sumbang dan menatap wajah Niel dingin.
"Aku ons,karena aku tidak memiliki hati seseorang yang harus aku jaga! aku bermain wanita ,karena aku tau aku tidak terikat oleh wanita manapun,tapi kau......sadarlah bedebah!" Rizi menunjuk tepat didada Niel,mencibir dan menatap kearah sosok wanita yang baru saja masuk dan menatap kearah mereka dengan bingung.
"Bedebah dan wanita murahan!!" Rizi berbalik pergi diikuti oleh bairon yang menggeleng lucu menatap wajah emosi Niel.
"Cullen, ada-apa dengan bairon dan rizi?" Wanita bergaun mini hitam itu bertanya binggung,ia menarik perlahan tubuh penuh emosi Niel dan mengelus dada pria itu menenangkan.
Cullen terkekeh,pria itu menghembuskan asap rokoknya dengan tatapan sarkas kearah Niel dan jijik kearah wanita itu,dan wanita itu sadar dengan jelas apa yang baru saja terjadi.
"Kau tau dia adalah pria yang sudah bertunangan bukan? kau dulu menolaknya saat dia masih berstatus mahasiswa,namun melihat dia telah sukses berkarir sebagai dokter,kau datang menjilat...kau tau apa yang aku bicarakan" Cullen mematikan bara rokonya,berdiri dengan tenang.
"Niel...seburuk apapun dunia malam kita sebagai laki-laki penikmat dunia,tapi... laki-laki hebat tak akan meninggalkan perempuan yang meniti susah sejak awal dirinya melangkah demi kenikmatan sesaat.Jangan sakiti gadis polos itu Niel..hartanya sudah banyak habis demi pendidikanmu,Jangan menjadi sampah yang tak tau diri" Cullen berbalik dan melangkah meninggalkan club dengan helaan nafas panjang.
__ADS_1
Niel terdiam dengan manik berkilat,wanita disampingnya mulai gelisah.
"Niel...maafkan aku....Aku memang mencintaimu dan karena itu aku melakukan apapun demi membuatmu bisa lolos di St Thomas hospital,Niel...aku model yang melakukan apapun demi kariermu,aku tau gadis itu telah banyak membantumu,tapi dia tak bisa berada disisimu,dia tidak satu pemikiran denganmu,gaya hidupnya tak sesuai dengan pergaulan kita" Wanita itu meraih wajah Niel,mengigit bibir bawahnya sen*ual dan Niel mengeram.
Benar....
Gadis polos itu tak cocok dengan pria seperti dirinya.
"Gladis kau benar....aku tidak suka dengan gadis seperti lintah itu,aku suka wanita panas seperti dirimu,wanita yang mampu menyeimbangkan diriku" Niel mengangkat wanita bernama Gladis itu diatas pangkuannya dan dengan panas mulai memangut bibir merah itu,malam panas berakhir di sebuah hotel.
Tanpa tau,disana.
Seorang gadis menunggu kabar dari pria yang ia cintai.
.........✒️.........
Helan nafas berat terdengar dari sosok yang duduk di kubikel bagian HRD.
"Rubi kau dipanggil pak Jaiden" Rubi mengangkat wajahnya dan mengangguk lemah.
Bangkit dan berjalan ke lantai 10,tempat para petinggi hotel bekerja.
Tok...tok...tok...
Mengetuk pintu dan masuk begitu balasan diterima.
"Rubi...kau ini bagaimana menyeleksi staf baru hotel? Jangan karena Asline tengah cuti kau bisa ceroboh begini?!! Cepat revisi ulang daftar staf dan lihat yang tidak kompeten pecat saja!! kau ini bikin sakit kepala......" Rubi menutup mata meringis ngilu,baru masuk sudah kena sembur oleh lahar panas seorang Jaiden.
"TUNGGU APALAGI?!! PERGI SANA!!" Sembur Jaiden jengkel.
Rubi melongo dan berlari cepat keluar ruangan Jaiden dengan bibir mendumel kesal.
"Dasar monyet cerewet...kera jelek.... gorila busuk...bangsa simpanse!!" Dumel Rubi jengkel atas Omelan atasan serta sahabatnya itu.
"RUBI...AKU MENDENGARMU!!"
"ia...ia astaga telinga alien!" Rubi tersentak dan berlari cepat sembari mengelus dada akan mulut lahar Jaiden.
Grephhh...
AAAAAAA....
BRAKHHH....
Rubi berteriak kala tanganya ditarik kearah toilet pria dan membawa tubuhnya kesalah satu bilik lalu kini , keduanya terkunci.
"Ka..kamu psikopat itu!!" Rubi menatap pria itu dengan tubuh mengigil.
Emosinya karena Jaiden sesaat lalu lenyap terganti rasa takut melihat sosok yang kini mengunci tubuhnya diantara pintu bilik dan tubuh besar pria asing itu .
Pria itu terdiam,mengelus pipi halus Rubi dengan lembut,sorot matanya tajam menenggelamkan dan senyum diwajahnya yang tampak membuat Rubi mematung .
"Ryuga...aku Ryuga... cantik....kamu adalah milikku!" Pria itu berucap tegas dan mengusap bibir cerri Rubi dengan intens.
"Bibir ini...celotehanmu,kamu manis dan aku.....mau ini!!"
Cupppp....
Satu ciuman lembut mendarat di bibir pink Rubi,Ryuga melepas cekalan tangannya dan berlalu pergi dengan senyum penuh arti.
"A...apa itu? " Rubi mematung,menyentuh bibirnya yang beberapa saat yang lalu telah dilumat oleh pria asing yang memperkenalkan nama sebagai Ryuga.
"AAAAAAA....DASAR GILA... SINTING.....BAJ*NGAN MESUM!!!!" Rubi berteriak kesal, menghentak kedua kakinya emosi.
Sementara itu diluar toilet,Ryuga terkekeh dan mengusap lembut bibirnya kala rasa manis dengan aroma buah masih tertinggal disana.
Lipstik merah muda beraroma stroberi itu,sangat manis!.
Pria muda tampan itu,Ryuga.
Berjalan mengabaikan tatapan mata kagum dari para wanita sepanjang perjalanan keluar dari hotel.
"Hah...Gumiho kecil yang manis... aku tak sabar ingin memakan bibir manismu lagi! hahahaha...aku sudah gila!!" Ryu menggeleng geli,meraih jaket motornya dan memakainya kembali.
Menatap kedalam hotel sekali lagi,Rubi disana.Menatap dirinya dengan mata melotot geram.
Ryuga terkekeh geli,membuka kaca helm full face dan mengerling jahil sebelum menaiki kembali motornya dan berlalu dengan kedipan nakal yang disambut wajah memerah Rubi.
"DASAR PRIA GILA!!!" Rubi berteriak tak sadar situasi hingga.
Plak...
"Awwww.... Raels!!!" Gadis itu tersentak kala pukulan pedas mendarat di bahunya.
Raels melotot dan menarik Rubi menjauh dari lobby.
Malu...
"Kau ini! sadar ini hotel bukan hutan Rubi!!" Geram Raels akan sikap Rubi.
Rubi melotot dan melirik malu pada para tamu disepanjang lobby.
"Sialan kau pria gila...Ryuga mesum!!" umpat Rubi kala mengingat nama pria itu.
........🔱........
...TBC...
Hope you like🌹
__ADS_1