Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
New feeling


__ADS_3

...Vote,like dan komentar ya 🌹...


Nama,tempat hanya pinjaman....


Tidak berkaitan dengan sistem negara manapun.



...🍃...


...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...🍃...



Prince monarki palace...


Pria berwajah tampan dengan surai pirang yang bersinar terkena terpaan sinar hangat sang mentari,terlihat tengah berjalan dengan begitu tenang menatap hamparan padang bunga yang ditanam oleh para pekerja taman.


Tatapan mata yang begitu dalam nan menghanyutkan.


Tak jarang bahkan para dayang akan berhenti dan memandangi diam-diam wajah yang begitu rupawan layaknya lukisan agung yang dilukis dengan penuh kehati-hatian.


Brixton,sang putra mahkota.


Dengan kemeja putih juga celana panjang hitam Armani yang membalut kakinya yang panjang,wajahnya terlihat teduh namun sorotnya begitu tegas.


"Huft....." Helaan nafas kembali terdengar dari mulutnya yang senantiasa terkatup rapat .


Sedang tak jauh dari sosok tampan sang putra mahkota,berdiri sang asistenya Jacob.


Memandangi sang tuan dengan frustasi .


"Your higness kita sudah terlambat menghadiri rapat dewan...tolonglah pangeran apa yang sebenarnya menganggu anda? " Jacob berseru frustasi.


Sudah satu jam lamanya dan junjungannya itu hanya berjalan tak tentu arah memutari taman istana pribadinya itu.


Brixton melirik acuh dan kembali melangkah dengan beban fikiranya sendiri.


Entah apa?..


Tapi rasanya ada sesuatu yang hilang!...


"Your higness! yang mulia raja akan marah jika anda terus membuang waktu! setelah rapat dewan Mentri kita masih harus mengunjungi beberapa departemen negara!" Jacob sudah frustasi tingkat tinggi,rasanya ia ingin sekali menangis jika saja ia adalah perempuan.


Brixton menghela nafas jengkel,pria muda sekaligus Milioner muda itu akhirnya mengalah,berjalan dan meraih jas hitam yang diberikan oleh seorang dayang dengan cepat .


"Kenapa kau ini sangat ribut? biarkan saja mereka menunggu! ini bahkan belum 24 jam dan kau sudah seperti kereta api tak mau berhenti!! " Kesal Brixton menatap asisten sekaligus sahabat karibnya itu dengan jengah.


Jacob mendengus kesal,berjalan cepat tanpa mengindahkan gelengan miris Brixton.


"Apa jadwalku?" tanya Brixton begitu ia memasuki mobil dengan Jacob sebagai navigator dan seorang bodyguard sebagai supir.


Mengapa tak ada iringan pengawal?.


Karena sesungguhnya, Brixton tidak suka dijaga layaknya anak remaja labil yang baru beranjak dewasa.


Jacob dan seorang master bela diri sudah cukup selain kekuatan tempurnya sendiri sudah lebih dari mampu menjaga diri sendiri.


"Hari ini agenda anda adalah rapat dewan bersama para menteri di istana besar...lalu pergi mengunjungi beberapa pusat layanan negara..dan terakhir meninjau perusahaan" Jelas Jacob membaca teliti data pada tab miliknya.


Brixton menghela nafas,tubuhnya duduk dengan satu tangan menopang dengan kepala dimiringkan kearah kaca mobilnya.


Menutup mata kala bayangan indah senyum seorang gadis menari-nari di benaknya.


Manik bulatnya yang bersinar cemerlang...


Alisnya yang terukir indah bak deretan semut hitam yang berbaris rapi...


Hidungnya yang mungil nan mancung begitu manis....


Bibirnya yang merah alami,merekah bak kelopak bunga.....


Kulitnya yang putih lembut dan tubuhnya yang indah,wangi hingga manisnya aroma itu mampu menerobos masuk ke dalam hatinya yang terdalam.


Brixton membuka mata dengan ekspresi linglung...


Yah...


Rasa yang beberapa hari ini mengganggu dirinya adalah rindu!...


Dirinya merindukan gadis manis nan menggemaskan itu!...


Menutup kedua matanya dengan satu tangan,terkekeh geli dan bersandar dengan tubuh terasa panas dingin.


Jacob dan seorang master bela diri yang bertugas ganda menjadi supir didepan seketika merinding horor.


"Pangeran..kau tidak gila bukan? tertawa sendiri...." Jacob berucap ngeri.


Brixton menghela nafas, menormalkan ekspresi wajahnya dan menatap malas wajah ngeri kedua sahabatnya.


Benar,kedua orang didepan kursi kemudi memang adakah sahabat ya.


"Percepat!" Titah Brixton tersenyum penuh arti.


"Pangeran...setelah rapat anda ingin kemana dulu? dinas kesehatan kota....dinas sosial masyarakat? ada panti asuhan..panti jompo juga beberapa dinas rehabilitasi! dan terakhir.Anda harus mengunjungi beberapa departemen pendidikan!" Jelas Jacob setelah melihat sang junjungannya telah kembali ke mode biasanya.

__ADS_1


Tegas...


Dingin....


Serius....


"Pendidikan?" Brixton tanpa siapapun sadari menyerigai dalam.


"Benar..ada beberapa yayasan senior high school juga dua pusat universitas berbeda yang termasuk dalam naungan istana utama!" Jelas Jacob .


Brixton terdiam, dalam hati pria itu bersorak gembira meski wajahnya tanpa ekspresi berarti.


"Jacob...minta...pangeran kedua mengurus dinas sosial dan putri ketiga menuju pusat rehabilitasi aku akan mengunjungi universitas hari ini,katakan pada Dekan...aku akan datang!" Titah Brixton tersenyum samar yang tak disadari Jacob.


"Tapi pangeran,apa tidak masalah menyuruh putri ketiga ke pusat rehabilitasi? bukankah lebih baik laki-laki yang harus kesana?" Pria yang menghandle setir kemudi bertanya heran.


Plak...


"Bedebah..kenapa kau menampar lenganku?!!" Raung pria itu pada jacob yang menatapnya malas.


"Ck..ck..ck...Dengar aku Simon! kau lupa tuan putri itu adalah seorang praktisi bela diri? dia bahkan adalah rivalmu dulu saat kalian di akademi...kau lupa?" ucap Jacob dengan senyum mengejek.


Simon Cowell.


Yah,kepala kemanan putra mahkota itu meringis ngilu.


Dia sejenak lupa putri tomboy itu!.


"Yah..kau benar juga!" Simon berucap tanpa daya.


"Sudah..sampai pangeran..." Jacob keluar membuka pintu dan Brixton keluar menatap bangunan arsitektural Inggris didepannya dengan malas.


Kembali agenda yang sama harus ia lakukan,rapat dewan!.


"Yah..aku harus sedikit bersabar demi waktuku bisa menemuinya..." Brixton berucap samar,berjajar dibawah tatapan lapar para wanita yang berada disana.


........🍃.........


Suara derap langkah terdengar cepat menuruni tangga.


"ARCHA JANGAN LARI DEK!!!"


"Archa kenapa tidak menggunakan lift sayang?"


"Huft..... mami ada lihat sepatu archa tidak? " Archana bertanya begitu sampai di kursi ruang keluarga.


Yah,hari ini hanya ada kakak kembar serta ibunya kayra dimansion mereka.


Rayga ada pekerjaan hingga harus tinggal lama di perusahaan sehingga pria itu dengan paksa membawa ikut sang istri untuk menemani dirinya.


Raider juga Raino ada urusan di pabrik senjata,sedang Rion tengah pergi bersama Rafendra dan Anggi mengurus sedikit masalah hotel.


Victoria?..


Gadis itu pergi bersama raels membantu dyazel pergi ke distributor pasokan dapur mansion Wiguna.


Takh..


"KAKAK!! sakit tau.....kenapa kening archa di sentil?!!" Seruan ganas putri dari Arkansas itu terdengar begitu Arshen dengan gemas menyentil keningnya.


"Siapa suruh lari turun tangga? kalau jatuh bagaimana?! bukankah ada lift?" Arshenio menantap adiknya itu dengan dingin.


Sungguh....


Raut wajah marah kakak kembarnya sama saja menakutkan dengan senyum jenaka sang kakak sulung nya!.


"Ma..maaf kak arshen...archa tidak ulangi lagi,janji...." Cicit gadis itu pelan.


Kayra menggeleng dan tersenyum lembut.Istri dari Rion itu mengelus pucuk rambut archana sayang dan bertanya.


"Sepatu yang mana? sepatu kamu itu banyak sayang..." Gemas kayra sembari menarik hidung mungil putrinya itu dengan tawa renyahnya.


"Hehehe..itu sepatu yang kak asline belikan waktu archa,shura dan kak asline jajan-jalan di alun kota.sepatu boots berwarna putih!" Jelas archana melupakan kekesalan sang kakak dihadapannya.


Arsenio menghela nafas,sudahlah.


"Itukan hilss dek! mau kemana pakai sepatu itu?" Arshenio bertanya sabar.


Archana menoleh,duduk di sofa samping sang kakak dengan segelas susu coklat yang kayra berikan untuknya .


"Archa mau kuliah kakak...hari ini ada kuis! mau pakai sepatu itu" Jelas archana riang.


"Pakai flat shoes saja! " Ucap Arshenio menolak.


Archana meneguk gelas susu coklatnya hingga tandas,kayra mengusap rambut putrinya sebelum berlalu menuju dapur bersiap bereksperimen lagi demi sebuah kue!.


Yah,kayra entah bagaimana berambisi menjadi seorang pembuat desert yang handal baru-baru ini.


Hanya iseng tentu saja mengisi waktu luangnya.


"Tidak kakak...kata teman-teman archa,archa itu pendek, kalau pakai flat shoes lagi nanti semakin terlihat pendek! archa mau pakai boots hills pemberian kak asline!" Archana membalas keras kepala.


Arshen meraup wajahnya gusar.


"Dek...kamu itu tidak pendek! hanya mungil saja...gadis bertubuh mungil itu manis tau? mereka bilang archa pendek itu karena mereka iri! jangan dengar mereka okey?" Bujuk Arshen sabar.


Archana menggeleng.


"Tidak mau! archana mau pakai boots hills! lagipula hak sepatu itu tidak terlalu tinggi kakak...hanya 3 centi!" Rengek archana kesal atas kelakuan sang kakak yang tidak mengizinkan dirinya memakai sepatu dari kakak iparnya itu.


"Sudah biarkan saja adikmu pakai sepatu yang dia mau Arshen! " si kembar A menoleh kearah pintu masuk ruang keluarga,disana masuk Maxim dengan senyum menjengkelkan miliknya.


Arshenio mencibir dan menarik wajahnya malas menatap kakak laki-lakinya itu.


"Yeiii....sayang kakak Maxim banyak-banyak!!" Pekik archana heboh..


Maxim terkekeh dan duduk mengusak rambut panjang adik perempuannya itu dengan gemas .


"Kau mau apa kemari? pengangguran!!" Dengus Arshenio sinis.


Maxim menaikan sebelas alisnya mengejek


"Apa lagi? tentu saja mau pergi mengantar adikku kuliah,kau fikir aku kemari mau melihat wajah tembok milikmu? ck..ck..ck... mimpi saja!" Balas Maxim jenaka.


Arshenio memicing tajam,Maxim membuang wajah dengan ekspresi jenaka.


Sebenarnya dia punya niat terselubung!...


Dan itu butuh bantuan adik manisnya!...

__ADS_1


"Sejak kapan kau mau mengantar archa kuliah suka rela? kau menyembunyikan udang dibalik batu?!" Skak mat.


Maxim terbatuk canggung,CEO Houston Intertaiment itu bangkit cepat dan menarik tangan archana sebelum niatnya terbongkar.


Mau dibawa kemana nanti wajah tampan miliknya?!.


"Archa let's go kamu hampir terlambat!" Maxim bergerak cepat tanpa mengindahkan tatapan tajam Arshenio.


"Bye kak arshen......" Archana meski tak mengerti apa pun yang dibicarakan kedua kakaknya,namun ia tak perduli juga.


"MAMI...MAXIM MENGANTAR ARCHA DULU!!!"


"IYA.. HATI-HATI!!"


Arshen mengelus dada sabar mendengus pekikan suara sang ibu juga kakak laki-laki mereka.


"Sungguh tidak tau malu! mansion ini bersama mereka lama-lama berubah layaknya hutan!" Arshen mendengus kesal, sementara Archana hanya mampu menutup kedua telinganya .



Begitu tiba di pelataran mansion,sebuah mobil Toyota berwarna putih terparkir rapi.Mobil yang menggambarkan sang pemilik itu sendiri.


"Dek ayo cepat kakak akan mengantarmu!" Ucap maxim menarik tangan sang adik lembut.


Archana mengangguk dan tersenyum kala sang kakak membuka pintu mobil untuknya .


Hingga...


"Archa tunggu!" Arshen keluar dengan sebuah paper bag.


"Ini bekal dari mami..kamu jangan jajan sembarangan,jangan terlalu dekat dengan anak laki-laki juga jangan terlalu suka tersenyum pada orang asing! ingat pesan kakak!" Archana mengangguk frustasi,selalu seperti ini pesan yang ia dengar.


Dan itu semua dari semua anggota keluarganya!.


"Iya kakak...iya! sekarang archa berangkat!" Archana segera mencium pipi Arshenio dengan dibalas hal yang sama oleh sang kakak kembar.


Maxim mendengus kesal,dirinya merasa jadi obat nyamuk ditengah anak kembar ini.


"Sudah !" Maxim akhirnya memelototi Arshen dan membawa archana memasuki mobilnya segera.


Tak lama mobil Toyota berwarna putih itu segera meninggalkan halaman mansion,Arshenio menatap kendaraan itu hingga benar-benar hilang dari pandangan.


"Huft..." Menghela Nafas dan pria tampan itu berbalik masuk.


.......🍃.......


Sementara itu...


Tiga orang gadis cantik berdiri disamping gerbang masuk universitas.


Hingga..


Tin...tin...


Suara klakson mobil menghentikan perbicangan heboh ketiga gadis itu.


"Archana!! aduh lama sekali kamu ini?! untung masih ada 10 menit lagi sebelum waktu !" Seorang gadis dengan wajah asia campuran berucap kesal.


Archana,gadis yang baru keluar dari mobil itu tersenyum kikuk,menggaruk tengkuknya malu.


"Hehehe.. maaf ya kakak Naomi..ta-"


"Dek?" Ucapan archana terpotong kala suara maskulin dari pintu sebrang mobil terdengar.


" Astaga kak max! maaf archa lupa sama kakak! kak..archa masuk dulu ya kalau begitu.."Maxim mengangguk dan tersenyum lembut,namun matanya tertuju pada sosok gadis yang terlihat tenang dengan manik yang sibuk dengan ponselnya.


"Ya masuk sana kuliah yang benar jangan main-main supaya pintar.." Kekeh Maxim jahil menjawil hidung sang adik.


Archana terkekeh dan berlalu dengan Naomi dan Erika mengapitnya.


"Jihan..." Dan panggilan Maxim sukses menghentikan langkah kaki salah satu gadis yang masih sibuk dengan ponselnya.


Jihan mengangkat wajah,dan maniknya bergetar saat melihat wajah pria yang baru saja memanggil namanya.


Sementara itu..


"Kalian tau berita universitas hari ini ?! akan ada sosok tampan nan berpengaruh yang akan mengunjungi universitas ini!!" Naomi memulai kala jiwa lambe dalam dirinya berkobar.


"AAA..IA..IA..Aku tidak sabar!!"jerit Erika heboh hingga archana menutup kedua telinganya kaget.


Ketiga gadis itu tak tau kala seorang teman mereka bahkan tertinggal.


Disisi gerbang..


"Ke.. kenapa?" Jihan,gadis cantik berdarah Indonesia Korea itu bertanya gugup kala mengetahui pria tampan yang ia temui di pesta kakak archa dulu juga merupakan salah satu kakak archana lainya.


Kini ia tahu.


Awal mula mengetahui ini sangat mengejutkan kala gadis mungil yang mereka anggap layak nya adik itu ternyata memiliki banyak kakak selain kembar R.


"Apakah kamu punya waktu makan siang nanti? bisa ikut denganku?" Maxim bertanya hati-hati.


Baru kali ini dirinya merasa gugup berbicara dengan seorang gadis!.


Biasanya kaum hawa itulah yang berusaha berbicara dan mendekatinya,namun kini?.


Rasanya aneh...


Juga...


Sangat menyenangkan!..


Rasanya seperti menaiki rollercoaster,dan Maxim seorang player itu untuk pertama kalinya begitu takut dalam bertindak!.


Jihan terdiam,menatap wajah tampan bilioner yang wajahnya selalu terlihat di majalah Intertaiment maupun bisnis para taipan itu.


Pria dengan puluhan wajah wanita berbeda sebagai pasangannya.


"Maaf...saya sibuk tuan muda Houston,mungkin lain kali.." Jihan menunduk sopan,berbalik dan pergi tanpa menoleh.


Maxim terdiam,tubuhnya terpaku dan manik bergetar kosong .


"A..apa ini?" Maxim bergumam kala sesuatu seakan menusuk jantungnya!.


...🍃...


...TBC...


__ADS_1


__ADS_2