Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
Tipuan mengelikan


__ADS_3

...Vote,like dan komentar ya 🌹...



...♣️.....♣️...


...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...♣️.....♣️...


Aura gelap begitu terasa ketika Dante, Lucinda dan putri mereka grizela memasuki kediaman tua gradian.


Gadis cantik dengan rambut bergelombang panjang itu duduk di sofa tunggal ruang keluarga,menatap tepat kearah ketiganya yang baru saja tiba.


"Apa kabar paman?" Suara jenaka gadis itu terdengar mengerikan kala senyum manis itu tak sampai kemata.


Dante mendekat,senyum palsu yang terukir di bibirnya begitu menyakitkan dimata asline.


"Asline...maaf paman baru bisa berbicara denganmu setelah semua masalah ini,asline...kemana saja kamu dua bulan ini? paman dan bibi sudah mencari mu kemana-mana!" Dante duduk di sofa panjang tersenyum begitu teduh dibawah cibiran samar asline yang begitu muak terhadap semua tipuan ini.


"Sudah cukup omong kosong ini! " Suara penuh kedinginan dan acuh dari gadis itu sukses membuat senyum manis Dante dan Lucinda luntur.


"Kalian tau....saat sebuah ombak membawa jiwa seseorang dari kematiannya yang datang berkali-kali,saat kata-kata tak lagi berarti dan suara hati itu perlahan akan mati terkubur di penuhi dendam juga amarah! Gemuruh kebencian itu akan menelan secuil rasa kemanusiaan yang tertinggal" Asline menatap wajah-wajah kaku didepanya dengan penuh arti.


"Apa yang coba kau katakan asline?! kau menghancurkan rencana pernikahan dan kini kau bermain teka-teki omong kosong?! kau gila!!" Sentak grizela emosi,masih ingat betapa hina tatapan Retha dan Ferdinan padanya dibawah senyum sinis asline atas semua rasa malu yang dirinya dapat.


Dan Grizela tak cukup baik untuk melupakan itu!.


"Omong kosong? hahaha....kau tidak tau kematian seperti apa yang selalu mengincar ku? kematian yang baru kau katakan sebagai omong kosong! " Asline menghardik hingga wajah murka grizela memucat.


Apa gadis itu tau sesuatu?.


Tidak......


Grizela yang perlahan panik segera dicubit oleh Lucinda dengan cepat.


"Asline....apa maksudmu membicarakan hal itu dengan paman? paman tidak mengerti!" Dante menarik senyum simpul berusaha mengendalikan emosi yang dipancing oleh kata-kata sarkas dan penuh arti asline.


"Mereka....mereka yang menyebut diri sebagai malaikat kematian ku.Tapi apa mereka berfikir aku akan tunduk dan mengikuti semua reaksi yang ingin mereka lihat? Aku tidak menangis paman,aku tak akan hancur meski mereka menembak dan menusuk diriku dengan pedang sekalipun.Setiap kali mereka dikirim untuk mengambil nyawaku, melukai diriku dan menahanku agar tidak kembali!" Asline berdiri berjalan kearah jendela besar yang menghadap langsung kearah taman belakang vila.



Taman yang ditumbuhi berbagai macam bunga.


Gadis itu menutup mata sejenak, tersenyum simpul dan menatap kearah taman tanpa berbalik.


"Paman......." Asline memanggil dan Dante hanya mampu diam terpaku kala melihat kilat dingin dipantullan kaca jendela,mimik wajah gadis itu.


Manik grey itu menatap dirinya dari balik pantulan kaca jendela .


"Asline....jangan berfikir jauh,paman tidak mengerti sungguh!" Dante kekeh berkelit.


Namun asline hanya tersenyum dingin.


"Aku bukan lagi gadis berusia 13 tahun yang naif dan hanya bisa menangis bergantung pada paman wilie.Aku tak akan berdiam diri,kau tak bisa membuatku diam untuk selamanya lagi!" Asline berbalik menatap tepat kearah bola mata Dante yang wajahnya mulai berubah pias.


"Kau ingin melihatku gemetar dalam ketakutan?aku tak akan bergeming meski kau terus mencoba melenyapkan diriku,aku tak akan tinggal diam layaknya gadis kecil naif yang menunggu seseorang datang untuk membunuhku! aku akan tetap bernafas meski kau mengirim seseorang melempar gas beracun padaku! seseorang yang datang dan mencekik leherku dalam tidur malamku.Jangan pernah menganggap remeh gadis kecil itu lagi!"

__ADS_1


Dante menegang hebat, pupil matanya bergetar dengan keringat dingin yang membasahi telapak tangannya.


Lucinda gemetar dengan wajah pucat.


Apa ini?!


Asline berjalan berdiri didepan pasangan itu terduduk dalam linglung.


"Takdir sudah tertulis sejak awal kematian yang kau kirim untukku, keponakanmu sendiri.Bertahun-tahun lamanya bahkan berkat lindungan Tuhan tidak meninggalkan aku.Paman.......bibi....tetaplah ditempatmu,jangan melampaui apa yang menjadi hakmu,tapi keserakahanmu.Membuat semua kisah bahagia keluarga ini berakhir! Karena kau tak bisa menghancurkan kehidupanku,merenggut nafasku.Jadi kukatakan padamu!"


" Datang dan cobalah,cobalah melukai dan menghalangi setiap langkahku lagi.Kau tak bisa membuatku menangis seperti apa yang kau harapkan,kau tau? semua pembunuh ini tak cukup untuk membuat diriku gemetar ketakutan! ,cobalah.......dan aku akan berbalik membalas!"


"ASLINE...AP-"


"Walau kau mengirim badai sekalipun...kau fikir itu cukup membuat mental ku hancur? keberanianku sirna? tidak! aku tak akan hidup dalam ketakutan dibalik semua kekejianmu!" Suara sentakan penuh amarah asline mengunci raungan murka yang akan ditumpahkan Dante.


Semua ketegangan diruangan itu semakin bertambah kala sebuah short gun mengarah tepat ke kepala Dante yang sudah berdiri dengan wajah gelap pekat.


Pria paruh baya itu tidak mampu berkata-kata.


"Kau coba mengurungku disebuah rumah yang telah penuh dengan asap beracun saat usiaku 15 tahun? kau fikir aku hanya akan berbaring dan menunggu untuk mati sia-sia?! Tidak! meski kakiku patah dan mataku buta,aku tak akan menyerah untuk hidup! dan lihatlah aku datang membakar semua impian kalian sekarang! Doa kedua orang tuaku bahkan mampu menutup sinar matahari dan membuat langit menangis! " Dengan manik memerah dan nafas menderu,asline terkekeh sumbang.


DORRRRR......


"AKHHH... PAPA...MAMA!!" grizela berteriak ngeri kala peluru di senjata yang berada di tangan asline sukses melewati kepala Dante dan melubangi dinding yang berada tak jauh dari posisi pria paruh baya itu berdiri .


Wajah Dante memucat,tubuh pria itu gemetar luar biasa.


Lucinda melotot ,wanita itu berdiri dan menunjuk wajah dingin asline dengan tubuh mengigil.


"JANGAN MENUDUH KAMI UNTUK SEBUAH KHAYALAN OMONG KOSONG MU ASLINE! KAMI,AKU DAN PAMANMU BAHKAN TIDAK TAU KAU DIMANA SAAT MENGHILANG! APA YANG KAU TUDUHKAN INI?!! DAN APA-APAAN DENGAN SENJATA YANG KAMU ARAHKAN KEPADA SUAMIKU?! KAU GADIS GILA!!" Lucinda tak tahan saat semua kata-kata dan tindakan mengerikan Asline,semua kenyataan yang dikatakan asline benar-benar ada,dan seakan menampar mereka dengan kejam.


Asline tertawa,menyugar kasar rambut panjang bergelombang indahnya kebelakang.


Menatap Lucinda dan Dante dengan acuh tak acuh,short gun Texas ranger terakhir kali yang hampir membunuhmu berputar lambat diatas jari telunjuknya.


"Dengarkan kata-kata ku ini! aku tak akan membiarkan semua keinginan kalian terjadi,cobalah menghalangi diriku seperti dulu,jangan remehkan gadis yang sudah berkali-kali lolos dari maut,karena kau tidak tahu....seberapa mengerikan hal yang bisa kulakukan!" Asline menyeringai dingin,menatap grizela yang gemetar hebat menatapnya shock.


Bahkan para maid di vila sudah menghilang entah bersembunyi dimana kala gadis itu,Asline datang dengan sebuah short gun di tangannya.


Datang setelah menghilang selama dua bulan tanpa kabar.


Menaiki tangga menuju kamarnya,hingga.


"Nona asline...ada seseorang datang mencari anda" Gadis cantik itu berhenti,berbalik menatap Hans tua yang tersenyum teduh menatap dirinya.


Asline mengangguk meski tak tau siapa yang datang mencari dirinya.


Namun,ada sesuatu yang menyuruh kakinya bergegas .


Seorang pria muda dengan mantel abu-abu panjang dan topi berdiri didepan pintu menatap dirinya saat pintu terbuka.


"NONA!! ASTAGA DEMI TUHAN AKHIRNYA AKU MELIHATMU!!" Pria itu meraih kedua telapak tangan halus asline dan menggenggamnya erat dengan manik berbinar.


"Imanuel? kau datang kemari.... dengan siapa?!" Hati asline bergemuruh hebat,wajah cantiknya terlihat lebih bersemangat.


Namun nihil,tak ada siapapun dibalik pria itu.


"Nona aku datang sendiri,meski para tuan mudaku melarang keras.Ini sangat mendesak,bisakah kita bicara sembari menuju manor?" Imanuel berucap dengan wajah tegang.


Asline yang melihat itu seketika ikut tegang, ada-apa? tidak biasanya butler muda yang tenang ini begitu panik!.


"Baiklah Imanuel,aku akan masuk dan mengambil tas d-"


"Tidak perlu membawa apapun nona! kita tengah diburu waktu!" Imanuel memotong ucapan asline dengan gusar.



Pria itu menarik tangan asline memasuki sebuah mobil Lexus putih yang terparkir tepat di depan pintu masuk vila.


"Seberapa kaya sebenarnya tuan arogan itu? bahkan mobil kepala pelayan saja mewah begitu?!" Asline menggeleng miris.


...........♣️...........


Waktu telah menunjukkan pukul 6 sore begitu mobil Imanuel telah tiba di gerbang awal manor.


Setelah melakukan pemindaian retina juga sidik jari,gerbang terbuka dan Imanuel kembali menjalankan mobilnya masuk.


"Butler... ada-apa sebenarnya?!" Asline yang sudah tak tahan akan kediaman Imanuel akhirnya bertanya.

__ADS_1


Pria yang berkata akan bicara selama perjalanan justru terdiam dan asline kesal atas tingkah gugup kepala pelayan muda itu.


Mobil berhenti dan Imanuel menatap wajah cantik gadis disampingnya dengan banyak pertimbangan.


"Nona.... sebenarnya saya tak berani katakan ini,bahkan saya membawa anda kemari ,saya sudah pasti akan mati jika tuan muda Rayga tau....tapi dengan semua keberanian saya,akan tanggung jika saya membawa anda kembali.Saya sengaja mengatakan keluar untuk membeli kebutuhan para maid......" Imanuel menghela nafas berat.


"Asline....semenjak makan malam terakhir yang akhirnya berakhir bencana akibat ulah para tuan muda Wiguna lainya,tuan muda Rayga semenjak itu tidak pernah makan lagi di manor! bahkan jadwal makannya berantakan.Lakukanlah sesuatu nona,jika tuan muda sampai sakit akibat kekacauan jadwal makan,maka saya akan digantung oleh tuan besar juga ayah saya sendiri...butler Dyaze!" Imanuel berucap penuh rasa tertekan.


Asline tersentak,maniknya bergetar tak percaya.


Itu sudah dua hari yang lalu!.


"Tuan muda adalah pria dengan jadwal hidup yang teratur.Makan,bekerja bahkan waktu olahraga pun tertata dengan aturan para ahli gizi! nona,tuan muda bahkan hari ini tidak ke perusahaan dan hanya diam di dalam kamar entah melakukan apa? nona...tolonglah kami para bawahan ini....tuan muda pasti sakit sekarang!' Imanuel menuduk,menghela nafas dengan seringai samar yang tak dilihat oleh asline yang sibuk dengan rasa bersalahnya.


"Andai saja aku menyisihkan bagian Rayga saat para pria kelaparan itu datang! maafkan aku Rayga....kau pasti tersinggung dan menganggap aku tidak tulus menyiapkan makan malam untukmu!" Asline menuduk dengan manik bergetar penuh sesal.


"Hais....Tuan muda kau sungguh kejam pada hati lembut gadis manis ini! tipuanmu sungguh mengerikan!" Imanuel menatap sesal wajah sedih asline dengan batin yang terus merutuk akal bulus tuan mudanya itu.


Pintu manor terbuka kala para pelayan menuduk menyambut kepala butler itu.


"Bibi Lusi...apa makanan tuan muda habis?" Imanuel bertanya pada seorang wanita paruh baya yang terlihat menggeleng sendu.


"Tidak butler..makan pagi tidak tersentuh,makan siang pun sama hanya air saja yang tuan muda sentuh.Bahkan makan malam yang kami hidangkan disuruh bawa kembali! rupanya hari ini tuan muda tak berselera,semua bertambah parah sejak kemarin!!" Lusi menatap wajah cantik asline dengan sendu.


"Butler...apakah aku bisa melihat tuan muda Rayga?" Asline berucap dengan tegas.


Imanuel mengangguk cepat dan membiarkan gadis itu berlalu menuju lantai empat,tempat dimana seluruh bagiannya adakah wilayah pribadi tuan muda mereka.


Setelah melihat sosok asline hilang dibalik pintu lift,wajah sesal Imanuel berubah menjadi decakan jengkel.


Para maid terkekeh geli.


"Kurasa tuan muda sudah menjadi gila! berantakan apa?! dia makan bahkan sangat teratur dan jadwalnya tetap berjalan tanpa perubahan! sakit apa?! kurasa si tiran itu kini lebih cocok kusebut si licik!" Imanuel berseru jengah.


Lusi tertawa renyah,dan menepuk pundak pria muda itu dengan wajah geli.


"Namanya juga sedang jatuh cinta....cari perhatian tidak masalah bukan?! dalam cinta semua akan terlihat masuk akal!" Luci tertawa meninggalkan Imanuel yang terus mencibir sarkas akan ulah majikan mereka itu.


"Cinta.........Si Tiran pembunuh menjadi si budak cinta tak tertolong!" Dumel Imanuel mencibir.


Sementara itu.....


Tingg....


Pintu lift terbuka,gadis cantik dengan sweeter rajut putih itu berjalan disebuah lorong panjang lantai empat.


Hingga dirinya tiba di sebuah kamar dengan pintu besar bercat hitam berukir lambang elang.


Ia tau kamar itu kedap suara,dan hal percuma jika harus mengetuk pintu.


Namun senyum lembut gadis itu terbit kala ingatan manis ucapan Rayga terngiang ditelinganya.


"Semua maid tidak bisa masuk sembarang kelantai ini selain Imanuel dan bibi Lusi,mereka bahkan butuh izinku sebelum memasuki kamar pribadiku,tapi kamu berbeda asline!"


"Berbeda? kenapa berbeda?"


"Kamu bisa masuk kapanpun,cukup dengan suaramu dan pintu kamarku pasti akan terbuka.Katakan saja i"m yours!"


"IHHH..kenapa harus i'm yours?! kamu jangan aneh-aneh!!"


Dengan wajah memerah aslien mengingat balasan protes yang ia layangkan pada pria tampan itu.


"Tentu saja...kau milikku dan aku milikmu,semua properti atas namaku akan menjadi milikmu! jangankan memasuki kamarku,kau bahkan sudah memasuki hatiku..."


Asline terkekeh mengingat percakapan akward nan manis mereka bulan awal asline tinggal di manor besar itu.


Ketulusan,betapa terbukanya sikap hangat Rayga padanya.


Asline menghela nafas,menengadah kala matanya terasa panas.


"I'm yours" Ucap Asline pada alat interkom di samping pintu besar itu.


"Welcome Queen...please come in..."


Asline tersenyum simpul mendengar balasan alat pemindai dan pintu pun terbuka.


...♣️...


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2