
...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya 🌹...
...Vote,like dan coment ya...
...🍹 Happy reading 🍹...
Sore itu,angin berhembus dingin.
Daun maple terakhir telah jatuh saat salju tebal telah menutupi seluruh permukaan tanah.
"Sera kau akan pulang dengan siapa? mengapa begitu terburu-buru?" Langit bertanya saat melihat Sera mengepak tas sekolahnya dengan cepat.
Sera adalah remaja yang begitu berprestasi,oleh karena itu tak heran mengapa ia bisa satu kelas dengan langit dan teman-teman Alfalous nya.
Gadis itu mengikuti akselerasi demi bisa lulus lebih cepat.
Salahkan saja arshenio, yang selalu datang setiap malam.Bukan untuk mengajaknya berkencan,namun untuk memberinya les private dengan sistem kebut materi!..
Beruntung otak Sera mampu hingga gadis itu bisa mengimbangi laju otak seorang Arshenio.
Tiger disisi bangku yang lain menatap ke dua sahabatnya itu.
"Tapi diluar saljunya mulai tebal Sera...yakin tak mau ikut kami saja kalau tak ada yang jemput" remaja itu berucap cemas.
Ketiga remaja itu berjalan keluar dari Parker high school.
Terlihat ada banyak mobil yang terparkir di sekitaran gerbang sekolah, mobil-mobil itu adalah milik para orang tua yang akan menjemput anaknya di hari terakhir sekolah sebelum Natal.
"Sayang...cuaca begitu dingin mengapa tidak pakai syal-mu?"
"Warnanya terlalu mencolok mama...aku tidak suka!"
"Mama datang menjemput cepat masuk malam nanti diperkirakan akan ada badai salju! cepat nak!"
"Tunggu mama ini lagi benarkan tali sepatu dulu!"
"Mama malam ini masak kalkun...kamu pasti suka ayah dan para saudara ayahmu datang kita akan kumpul keluarga malam ini!"
"Benarkah?! wah asik!!"
Satu demi satu,percakapan manis para orang tua dengan anak-anak mereka melewati telinga Sera.
Angin berlapis kabur salju menyamarkan senyum nanar gadis itu,Sera menatap pada ibu yang menjemput anak-anak mereka itu dengan telapak tangan gemetar.
Rasa sesak menghantam dadanya,rasanya sangat sulit menarik nafas saat hati terasa sakit berdenyut nyeri.
Mengapa ibunya tak bisa seperti para ibu yang lain?.
Langit dan Tiger menatap punggung adik angkat mereka itu dengan senyum nanar.
"Sera pulang sama aku mau? mama dirumah masak bebek packing kesukaan kamu tau..." Langit berucap berusaha mengalihkan kesedihan Sera yang terus menatap para ibu dengan anak-anak mereka itu.
"Kalau tidak..kerumah aku saja bagaimana? papa dan mama hari ini baru kembali dari Jepang mana tau mereka bawa kado buat kamu!" Tiger ikut berujar meski tau mungkin bujukan mereka tak ada artinya.
Sera menarik nafas, tersenyum lebar seakan tak ada masalah.
"Tidak kak langit..kak tiger,hari ini aku mau pergi ke toko bakery paman Rowen dulu mau ambil kue titipan kak Ares! tidak apa aku sudah pesan taksi tadi kalian pulang saja duluan sampai jumpa di musim semi mendatang!" Sera berlalu,menolak halus dan pergi dengan cepat tanpa mendengar balasan kedua pria remaja itu.
Langit dan Tiger saling melirik dan menghela nafas berat.
Sera sampai disebuah jalan,didepan sebuah toko yang sudah tutup .
Menatap langit dengan wajah kosong.
Hingga ..
"Calon adik ipar, Sera!!!" Sera terbelalak melihat dua orang pria yang datang sembari melempar senyum konyol, belum lagi panggilan penuh semangat itu.
Yah,meski pria satunya lagi hanya mengangguk samar.
"Kak Raino? Kak Xain?" Sera menyebut nama kedua pria tampan dengan sifat berbeda itu dengan wajah kaget.
Raino tersenyum lebar dengan xain yang hanya diam mengangguk.
Pria ini cukup pendiam dan kalem.
"Arshen,setan licik itu sedang mengurus sesuatu di barak militer! kami datang untuk menjemputmu karena tau ketiga kakakmu dan ayahmu sedang mengejar pekerjaan sebelum masa cuti panjang!" Raino berucap ramah,pria penuh senyum itu menyodorkan sebuah paper bag berwarna biru.
"Apa ini kak?" Sera bertanya binggung.
Tangannya meraih tas itu dengan senyum ramah.
"Entah? arshen yang suruh kasih itu buat kamu! ya sudah cepat masuk mobil.." Sera mengangguk dan tersenyum melihat sebuah sweeter berwarna merah jambu dengan rajutan pola kelinci di tengah-tengah.
Pria ini...!
__ADS_1
Sera tersenyum mengingat julukan yang arshen berikan padanya.
Puas setelah memakai langsung sweeter berwarna merah jambu itu,Sera menatap sosok xain yang hanya duduk diam mengemudi .
Sosok xain terlalu jarang berbicara,auranya berbeda dari sosok Arsenio.
Entah mengapa, xain seolah-olah pria yang tubuhnya terdiri dari kabut es,orang lain akan terlalu canggung hanya untuk sekedar menyapa.
Bahkan Sera ingat,saat saudara arshen yang lain bertemu dengannya untuk pertama kali.
Mereka berbicara memperkenalkan diri dengan senyum ramah meski tipis .
Yah,hanya dua orang yang Sera merasa takut bahkan untuk menatap.
Rayganta dan Xain.
Mereka terlalu dingin dan acuh pada sekitar .
"Maaf sudah membuat kak raino dan kak xain repot!" Sera berucap tak enak setelah mobil memasuki kawasan Vila,beberapa blok lagi maka mereka akan tiba di vila Sebasta.
Xain melirik Sera dari kaca spion dalam.
Pria tampan itu menghela nafas samar.
"Tidak repot.Kamu akan jadi keluarga kami,hanya menghindari masalah!" Sera berkedip takjub .
Xain,pria ini mau menyahuti ucapanya?!.
Luar biasa !.
Pria pewaris Luksius itu sangat kalem,lugas dan tidak suka berbicara berbelit.
Raino disisi samping kemudi mendengus.
"Hoi Xain,dia itu seorang gadis ! bisakah kamu jangan pasang wajah bak dunia berhutang seratus juta dolar padamu? kalau kau tak mengubah ekspresi flat diwajahmu itu,para gadis akan lari dan kau akan jadi bujangan tua!" Raino menghina dengan senyum iba.
Xain melirik,berdecak malas dan kembali menatap lurus.
Wajahnya memang sudah seperti ini sejak lahir! jadi dimana salahnya?.
Xain mencibir, selama ini belum pernah ada satu perempuan dimanapun dia berada mampu berpaling,mereka bahkan seperti kehilangan akal saat melihat dirinya.
Tatapan para perempuan itu seakan melihat santapan lezat!.
Jadi? bagaimana bisa Raino menyebut para gadis akan lari saat melihat wajahnya? kenyataan berbanding fakta itu sedikit ekstrim bukan?.
Arshenio itu pelit!
Mau jungkir balik sekalipun meminta barang miliknya,xain 100 persen yakin selain saudara mereka Rayga juga Archana.
Pria itu tak akan sudi memberi barang koleksinya suka rela!.
Senyum tragis muncul saat melihat wajah riang Raino.
Raino menatap senyum xain sinis.
"Dan tolong jangan melihat aku dengan senyum anehmu itu! kau bahkan lebih menakutkan dari Valak!" Raino mengatai dengan wajah merenggut ngeri .
Wajah xain semakin terpasang ekspresi datar.
Mobil berhenti,dibawah tatapan geli Sera .
Xain menatap wajah raino dengan senyum miris,mengiba.
Sudut mata Raimi berkedut jengkel .
Apa-apaan tatapan itu?!.
"Hoi! aku ingat aku belum pernah memukulmu! ekspresi wajahmu sangat menyakiti mata! sebaiknya jika bisa gunakan aplikasi Photoshop senyummu seperti Joker!"
Raino memaki sengit.
Sera menatap si pemarah dan si kalem itu dengan wajah memerah menahan tawa.
Para saudara arshen sangat akward!.
.........
Dibawah lampu terang ruang rawat healthy hospital.
Jessy menatap sosok Maxim putranya yang terlihat menyedihkan terus mengecup kening berbalut perban Jihan, sebelum akhirnya ikut tertidur disisi gadis itu.
Jessy berbalik,tak jadi masuk ke dalam ruang inap dan menatap sosok Archana dan Naomi yang terlihat duduk di kursi sofa sembari tertidur saling menyangga.
Senyum wanita paruh baya itu terbit.
"Gion,mama berterima kasih karena kamu mau datang di tengah kesibukan kamu di rumah sakit! sekarang kamu bawa Archa dan kekasihmu pulang dulu,mama ada sedikit urusan sampai Maxim bangun nanti !" Jessy berucap dengan senyum dingin diwajahnya.
__ADS_1
Gion mengangguk dan pamit setelah mengecup pipi salah satu ibunya itu.
"Gion akan pulang ma,kalau ada apa-apa telpon saja!" Gion berucap sebelum berjalan menuju sang adik dan calon istrinya.
setelah membangunkan kedua gadis itu,Gion menuntun mereka keluar dan akhirnya pulang karena hari mulai malam.
Jessy berbalik pergi menuju suatu tempat.
...........
Kediaman Patinson..
Dibawah bayangan rembulan dan dinginnya kepingan es yang jatuh .
Seorang gadis turun melalui tangga dalam balutan piyama yang terbuat dari sutra.
Erika berdiri di belakang satu sosok yang begitu anggun,juga bermartabat.
Sosok itu duduk disebuah sofa membelakanginya.
"Saya mendengar dari putri bungsu saya....kamu gadis yang cukup baik,meski orang tuamu cukup berada tapi kamu mau berteman dengan mahasiswi beasiswa! tapi...." Jessy berbalik,Erika tercengang begitupun kedua orang tuanya yang tak tau apapun.
Alasan dibalik kedatangan nyonya Houston itu!.
Erika berjalan dengan cepat,air matanya menetes deras .
Dibawah tatapan dingin sang nyonya besar Houston,dirinya tak boleh membuat ibu dari pria yang ia kagumi memandang rendah dirinya!.
Ibu Erika berdiri dan melangkah mendekati putrinya.
"Ada apa ini sayang? " Erika menggeleng pada ibunya.
Mendekati jessy dan gadis itu bersimpuh dengan kedua lutut menghantam lantai dengan cukup keras.
"Saya tau nyonya besar Houston...saya tidak cukup baik untuk putra anda! tapi saya sangat mencintai tuan muda Maxim! dibanding saya...apakah Jihan itu pantas?" Erika menangis terisak,menunduk penuh kebencian.
Jessy diam,menatap lurus pada sosok gadis muda itu.
"Apa hebatnya Jihan itu? saya mengenal tuan Maxim lebih dulu...tapi mengapa dia yang mendapat cinta darinya?! dia hanya gadis penjilat! mengapa harus saya yang ditolak,dipandang rendah dan dibuang?! Jihan bahkan tak sebanding dengan karakter nona besar seperti saya!" Erika berbicara dengan putus asa,Jessy mengangguk samar.
Nyonya besar Houston itu berdiri dari duduknya ,menatap pasangan Patinson itu dengan senyum tak sampai kemata.
"Saya juga lahir dari sepasang orang tua yang tak mampu...tapi saja berjuang agar saya mampu berdiri sendiri! sama seperti Jihan,siapa yang tak mengenal suami saya ? Tuan Marsel Lee Houston? dia bahkan lebih pemain dari Maxim putra kami! tapi mereka tau kapan waktu harus berhenti! saat mata dan hati mereka tak lagi ingin bermain-main,saat mereka tau inilah pasangan terakhir mereka! Diantara sahabat saya yang telah berhasil dalam persahabatan juga hubungan antar pria dan wanita...apakah kau fikir aku tak mampu membaca trik kecil yang kamu mainkan?"
Erika mematung.
"Kamu katakan pada putri bungsu saya bahwa kamu sudah lama mencintai putra saya? kamu menuduh Jihan merangkak naik ke ranjang maxim dan bertingkah polos? jadi bagaimana jika aku katakan akulah yang menjamin karakter sosok Jihan?! apa yang akan kau lakukan? gadis seperti dirimu lah yang menjadi nasib buruk para pria! tidak tau malu dan egois!" Jessy menunjuk Erika dengan senyum angkuh.
Wajah Erika seketika jatuh,pucat pasi.
Bahkan nyonya besar Houston sudah memihak Jihan? lalu apa gunanya semua usahanya mendekati Archana selama ini?.
Erika tidak menyangka,nyonya besar Houston yang terkenal ramah dan netral ini begitu kejam!.
Kata-kata langsung membakar seluruh kepercayaan diri Erika!.
"Jangan mencoba bertindak bak gadis muda yang naif didepan saya....cinta dan persahabatan sudah kamu hancurkan dengan segala tipuanmu.Saya tidak pernah memandang rendah status sosial orang lain , siapapun gadis bisa menjadi menantu saya.Hanya jika putra saya menyukai karakter mereka,Houston tidak butuh menantu kaya namun miskin hati dan juga terlalu sombong! Saya tidak perduli bahkan jika gadis dari putra saya adalah seorang seperti Jihan! selama karakternya lurus dan lugas,tidak sepertimu....kaya dan sombong! jika bahkan Maxim memilihmu,saya sendiri yang akan menentang gadis seperti dirimu memasuki clan Houston!jadi...berhenti bermimpi menjadi nyonya muda dan memasuki keluarga saya!" Jessy bangkit berdiri dengan sikap penuh martabat.
Mengangguk pada kedua orang tua Erika yang duduk mematung.
Erika berdiri dengan lemas,menatap punggung wanita paruh baya itu.
"Nona...baik jika punya ambisi, tetapi gadis yang punya mimpi terlalu tinggi akan berakhir tragis! saya sudah melihat cukup banyak contoh dari para wanita yang mengejar putra clan Wiguna dan seluruh putra pewaris pengikut mereka...mereka tidak hanya gagal" Jessy berjalan mendekat,berbisik penuh ancaman.
"Mati...."
Deggggg...
Erika jatuh luruh, kata itu bak tombak yang merajam jantungnya.
Erika,bukan hanya merasa terhina namun juga diancam secara terang-terangan!.
Blam...
Ruang tamu itu seketika hening, meninggalkan jejak bayangan nyonya besar Houston yang terkenal bermartabat namun berlidah tajam!.
"Erika katakan pada papa! ada-apa seb- ERIKA!!" Ayah Erika yang hendak bertanya dengan marah,seketika meraung kaget saat tubuh putrinya jatuh tak sadarkan diri.
Jessy berbalik menatap pintu rumah besar Pattinson.
"Apakah kalian berfikir clan Houston bisa dimasuki siapa saja hanya karena kalian mengatakan cinta? omong kosong! bahkan meski aku mati...aku tidak akan membiarkan gadis berhati dangkal dan egois memasuki keluargaku! " Jessy berucap sembari tersenyum dingin,memasuki mobilnya saat sang supir membuka pintu.
Mobil keluarga Houston itu pergi meninggalkan kediaman Erika yang terpukul mundur dengan sekali kunjungan tiba-tiba sang nyonya besar Houston.
Jessy menyelesaikan masalah sebelum pernikahan para putra mereka dilangsungkan nanti.
...TBC...
__ADS_1