Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
Drama


__ADS_3

...Vote,like dan komentar ya 🌹...



...♣️.....♣️...


...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...♣️.....♣️...


Daerah konflik,Perbatasan Siberia.


Manik tajam itu menyorot dingin,wajah mudanya tak menampilkan ekspresi apapun.


Wakil kapten juga beberapa prajurit elit berdiri mematung ,berkeringat dingin kala aura kematian bagai menyapa dengan senyum jenaka.


Tapi tidak!...


Berdiri dengan bibir terkatup rapat,dihadapan sang Jendral muda.


Kapten Tim Alfa elit pasukan PBB.


Ada puluhan mayat yang bergelimpangan dengan bekas peluru yang bertebaran dimana-mana.


Tanpa belas kasihan.


Seorang pria muda,usianya bahkan belum mencapai 18 tahun.


Sang Jendral.


"ARKHHHH..hah...hah....bajing*n kepa*at! beraninya uhuk...beraninya kau menyerang tempatku!!" Seorang pria dengan tubuh penuh luka tembak berucap,meraung dengan nafas terengah-engah.


Menatap kearah kaki tangannya yang kini diangkat oleh sang jendral.


Leher pria yang telah sekarat itu dicekik hingga kakinya tak menapak tanah.


"Itulah akibat jika kalian sampai membuat turun diriku!" Suara berat penuh kedinginan itu begitu mengerikan.


"Rish...."


"Ah..ya..ya Jendral!" Pria tampan dengan rambut pirang secerah mentari menjawab kelagapan.


Rish Ander Simson.


Pria itu berjalan cepat menghampiri sang jendral muda.


"Konfirmasi tugas telah berakhir,kirim pada markas besar" Sang jendral berucap tanpa perubahan apapun .


"Jendral...ada lebih dari satu kartel yang masuk dalam list di kota ini,dan yang sudah kita basmi ini adalah kartel narkoba Wonwish,mereka satu dari 3 kartel yang pemimpin ingin kita binasakan!" Rish menjelaskan dengan wajah pucat.


Bukan takut pada musuh,namun takut pada ekspresi tenang kapten mereka.


Sang jendral.


Woshwish...


Kartel pengedar narkoba yang begitu besar berkembang di daerah-daerah konflik.


Memanfaatkan situasi negara yang kacau, menyelundupkan narkoba dengan berbagai cara terselubung hingga mampu lolos berkali-kali dari para petugas.


Dan bukan hanya itu, kartel berisi para penjahat itu juga melakukan berbagai kejahatan dengan menculik dan memperdagangkan para gadis dan anak-anak.


Kesulitan ini membuat tim keamanan PBB menurunkan sebuah tim prajurit paling elit yang dibangun tanpa kenal ampun.


Misinya hanya satu.


Menyelesaikan tugas tidak perduli Bagaimanapun caranya,termasuk dengan penghancuran total.


Namun sayangnya...


Para kartel yang terdiri dari berbagai kumpulan gangster dan buronan paling berbahaya sekalipun,mereka semua kini hancur layaknya sebuah debu.


Dibawah agresi militer seorang pria remaja,yah.


Remaja 18 tahun yang bahkan belum memasuki usia dewasa.


BRAKHHH....


Manik para prajurit elit itu bergetar horor.


Pemimpin mereka sangat brutal!....


Tubuh pria yang telah mati terhampas dengan kejam menghantam sebuah pohon.


Krakh....


Krakh....


Tap...tap...tap...


Menggerakkan lehernya dengan santai hingga bunyi tulang terdengar.


Sepatu boot militernya bergerak menimbulkan suara bak melodi malaikat maut.


Berjalan perlahan,pemimpin kartel yang tersisa mengigil hebat,menyeret tubuhnya yang telah bersimbah darah menjauh.


"Pergi..pergi..jangan...jangan bunuh aku! per- ARKHHHH....." Berteriak saat tubuh diangkat dengan cekikan kejam.


Sang jendral mendongak,menatap wajah pria yang wajahnya kita mulai memerah.


Mencekik dengan kejam.


"Hah....to..tolong uhuk...le..lepaskan kau..kau iblis!!!" Nafas pria itu tersengal,oksigen perlahan meninggalkan tubuhnya.


Sang jendral menyerigai bengis.


Cengkraman dileher itu semakin kuat.

__ADS_1


"Kau membuat waktuku terbuang percuma! serangga seperti kalian berani membuatku turun tangan?! beraninya!"


Satu hempasan keji.


Wushhhh...


Brukhhhh


Tubuh pria itu jatuh menghantam kerasnya tanah gersang.


Krakh...


Para prajurit meneguk salivanya ngeri.


Sang jendral mematahkan tulang leher pemimpin kartel dengan injakan kuat tak kenal ampun.


"Seranga ini membuat sepatuku kotor,bukankah sepatu ini harus diganti wakil kapten rish?" Suara suram bernada jenaka itu benar-benar mengerikan.


"Lain kali.....pastikan tugas ini berbobot sebelum kau menandatangi serah terima tugas!" Sang jendral berbisik tajam,Rish mengigil dengan anggukan kaku.


Sang jendral menyerigai dalam.


Menepuk pundak wakilnya itu.


Menatap kearah langit,kala hujan mengguyur membawa aroma darah menyapu kesegala penjuru.


Tubuh tegap berbalut seragam militer itu basah.


"Sudah berapa lama sejak aku meninggalkan rumah.. meninggalkan kakak,ayah serta adikku? mom......I Miss you"


Satu tetes air mata jatuh,jatuh tersamar air hujan yang mengguyur seluruh tanah bumi yang tandus.


Sudah lebih dari 5 tahun sejak ia meninggalkan mansion dan melakukan pelatihan hingga semua kerja keras itu membawanya berhasil mencapai posisi tinggi ini,tanpa bantuan nama keluarga bahkan kekayaannya.


Rish dan tim Alfa menunduk sendu,mereka menunduk seakan mulut mereka terkunci rapat tak tau harus berkata apa.


Sang jendral tersenyum lirih,mengusap noda darah di wajah tampannya yang terguyur hujan.


"Kembali ke markas pusat,siapkan helikopter mission completed!" Titah sang jendral,para prajurit yang terluka dipapah kembali dan yang baik-baik saja segera mengumpulkan mayat para penjahat dan membuang mereka dalam satu lubang galian tanah dan membakarnya.


"Archa...kakak akan kembali sebentar lagi,tolong jangan membenci kakak.Kakak harap semua saudara kita mampu menjagamu,dan dad.I hope you always be strong"


........♣️........


London.....central city.


Brukhhh.....


"Hiks...maafkan aku nona muda Wiguna! harusnya aku lebih berhati-hati agar tidak menabrakmu hiks...maaf..maafkan aku..jangan menghukum aku"


Seketika keramaian di central city perlahan senyap.


Keramaian menatap seorang gadis Asia yang jatuh bersimpuh dengan air mata deras dan tangisan pilu.


"Kau dengar katanya dia nona muda Wiguna?!"


" Mengapa dia begitu picik?"


"Ya..padahal wajahnya begitu polos!"


"Ternyata memang benar..gadis kaya hanya suka memandang rendah orang lain!"


Cemohan samar terus terdengar.


Archana...


Gadis cantik yang baru saja menghabiskan hari cerahnya bersama asline juga Shura nampak berdiri dengan mata berkedip polos.


Sedang gadis dengan dress putih selutut itu menyerigai dengan wajah yang tertunduk,menangis semakin pilu layaknya begitu tersiksa dan ketakutan.


"Kak..kak salsa Kenapa menangis begitu? Archana memang berbuat salah apa papa kakak?"Archana bertanya tak mengerti.


Lagipula mengapa salsa ini menangis begitu keras saat dialah yang menabrak orang lain?.


Archana menggeleng tak paham.


"Heh nenek sihir! kenapa kamu menangis?! kau yang menabrak kakakku dan kau juga yang menangis! apa kamu gila?!" Shura menyembur jengkel.


Lihat,bahkan es krim ditangan mulai mencair akibat tidak bisa menerobos kerumunan dan pergi untuk menikmati es krim mereka dibawah pohon taman kota!.


Tubuh salsa menegang.


Yah,dia salsa.


"Wah..lihat anak kecil ini! teman kami ditabrak oleh kakakmu itu! harusnya kalian meminta maaf! bukanya tidak sopan berteriak menyebut orang lain gila!" Teman salsa,gadis berambut blonde dengan pakaian ketat mendorong keras tubuh kecil Shura.


Hap......


Shura yang terhuyung dan beruntung asline berdiri di belakang anak laki-laki itu,tubuh kecil itu di tangkap tepat oleh asline.


Salsa masih menangis terisak,memijit pergelangan kakinya dengan kepala menunduk ketakutan.


"Heh..mau main drama di hadapanku?! " Asline membatin dingin.Menatap kearah gadis yang kini terduduk lemah dihadapan Archana.


Asline menarik tangan Archana yang nampak tidak mengerti apapun.


Yah,bersyukur karena gadis manis itu begitu polos hingga tak akan terjerat ulah drama murahan seperti itu.


"Archa...kamu kenal dengan dia?" Asline bertanya lembut,membawa wajah adik dari Rayga itu menatap dirinya.


"Kenal...dia tamu bunda Freya, seseorang yang tinggal di rumah papa James.Tapi sekarang tidak lagi karena kata mami kayra,salsa sudah diberikan rumah oleh papa James hingga dia tidak lagi tinggal bersama keluarga papa" Archana menjawab dengan polos.


Salsa mengepalkan kedua tangannya geram.


Benar,jika bukan karena Archana.Dia masih akan merasakan hidup dirumah mewah dengan segala fasilitas lengkap.


Dan bukanya hidup di sebuah rumah kecil dengan segalanya terbatasi!.


"Maafkan saja dia nona..mengapa nona begitu mempersulit gadis lain?"


"Ia..jadilah besar hati,jangan memperumit hal sepele!"


Archana menuduk entah mengapa ia merasa orang-orang ini memarahi dirinya.


"Apa kalian Tuhan?"


Hening....


"Apa kalian seorang hakim?"


Kerumunan menatap wajah seorang gadis muda yang berucap begitu tenang.


" Apa maksudmu nona?! kami hanya berpendapat! apa hubungannya hingga kau menyebut Tuhan?! jangan karena kalian orang kaya maka kalian bisa begitu rendah memandang orang!"


"Benar...gadis itu hanya tak sengaja menabrak tuan putri yang dikatakan adalah nona muda Wiguna itu! lantas apakah itu memberinya hak merendahkan orang lain?"


" Jangan terlalu sombong!"


Asline terkekeh remeh, orang-orang ini sungguh berfikiran sempit!.

__ADS_1


"Maafkan aku nona Wiguna...hiks...aku tidak menyadari keberadaan nona hingga tanpa sengaja menabrak nona" Salsa menangis,membuat segala asumsi semakin buruk.


Ditambah dengan membawa-bawa nama keluarga besar Wiguna.


Pandangan semua orang semakin jelek pada Archana.


"DIAM KAMU NENEK SIHIR!! KAU MEMBUAT KAKAKKU DIMARAHI OLEH ORANG-ORANG INI!! KENAPA KAU MENAGIS DAN MENANGIS TERUS?! APA MATAMU ITU KERAN BOCOR?!" Shura berteriak emosi.


Dirinya cukup peka melihat ekspresi wajah semua orang ini.


Mereka memarahi kakaknya!.


Asline menepuk pucuk kepala Shura yang tertutup topi.


Gadis cantik itu menggeleng,ini bukan urusan anak-anak.


"Kau.Bangun!" Asline berucap dingin,membawa Archana dan Shura dibelakang tubuhnya.


Bersidekap dada dan mendengus kala salsa menggeleng lemah.


"Hiks...Ampuni aku nona Wiguna...jangan biarkan keluargamu menghukumku!!" Asline tertawa renyah begitu mendengar jeritan putus asa salsa.


Apakah gadis ini tidak memiliki rasa malu?.


Jika benar papa dan bunda Archana sudah menolong dan memberikannya rumah,apakah pantas dia berprilaku seperti ini? perilaku yang dapat merusak reputasi polos putri dari keluarga yang menolongnya?.


Inilah yang membuat orang akan berat dalam menolong orang lain,karena terkadang seseorang yang mereka tolong akan menusuk mereka dari belakang,dan bukannya berterima kasih,namun air tuba yang akan para penolong dapatkan!.


Semua menatap Asline dengan tatapan tak percaya, apa yang gadis cantik itu tertawaan?.


Kini tawa itu terhenti,wajahnya tanpa ekspresi juga empati.


"Kau tuli? aku katakan, BANGUN!!"


Salsa tersentak dan tanpa sadar berdiri begitu bentakan keras dengan aura gelap menghampiri dirinya.


"See? kakimu baik-baik saja,untuk apa kau menangis?" Gadis muda nan cantik dengan rambut panjang bergelombang itu menatap tegas nan tajam wajah penuh drama salsa.


Angin sore menerbangkan helaian rambut panjangnya yang tergerai indah,kulit putih bak madu murni yang begitu manis.


Bersinar diterpa hangat mentari sore.


Bibir ranum bak kelopak sakura itu menyerigai dingin.


Wajah tajam itu seketika berganti bak kedipan mata.


"Tidak apa-apa nona...maafkanlah adikku ya..lain kali berjalan dengan hati-hati,jangan menangis.Lihat....Archa bahkan tidak merasa tersinggung, nona...putri Wiguna atau siapapun,kamu hanya perlu menjelaskan dengan baik jika melakukan kesalahan,bukannya menangis atau orang lain akan membuat kesimpulan sendiri nanti.Terkadang bicara lebih berguna dari pada air mata,karena seseorang mungkin nanti akan salah paham nanti" Asline berucap lembut,mengeluarkan sebuah sapu tangan dan menyeka air mata salsa dengan senyum teduh.


Degggg...


Semua orang tertegun...


Suara yang mengalun lembut,senyuman sehangat sinar mentari dan wajah yang begitu cantik!.


"Ahhh..ia benar..harusnya gadis itu bicara dulu baik-baik bukannya malah menangis!"


"Astaga..aku menyesal mengatakan hal buruk tentang gadis itu!"


"Benar..dia katakan dia yang menabrak bukan? harusnya dia meminta maaf dan bukannya menangis seperti itu!.


" Benar..ini bukan masalah kaya dan miskin.Tapi ini masalah tentang memberi penjelasan jika berbuat salah!"


"Hah...para gadis muda harus berhati-hati"


Asline menyerigai.


Lihat...


Sekali memberi senyum dan ucapan manis.


Semua orang akan segera berubah fikirkan.


Masa hanya bisa dihadapi dengan tindakan manis dan bukanya amarah menggebu sesaat.


Syukurlah disini tidak ada seorang provokator!.


Selain musuh yang datang langsung dan bukannya musuh yang bersembunyi dalam kerumunan.


Salsa mematung...


Asline sebagai sosok yang lebih tua dari salsa dan Archa bertindak cepat.


"Salsa...bersyukur yang kau hadapi itu Archana, Bagaimana jika tuan besar Wiguna sendiri yang kini berdiri dihadapanmu? dengar...menangis tak menghasilkan apapun.Jika kau menangis dihadapi seseorang dengan kedudukan tinggi,entah apa yang akan terjadi padamu?" Asline tersenyum simpul,kerumunan mengangguk membenarkan.


Beruntung itu bukan tiran Wiguna sendiri!.


Mereka juga tanpa sadar menghela nafas.


Untuk sesaat mereka lupa kekejaman seperti apa yang bisa para Wiguna itu lakukan!.


Asline membenahi penampilan berantakan salsa.


Memaksa gadis itu berhenti menangis dengan cara halus.


Berbalik dan menarik tangan Archana yang menatap dengan senyum terimakasih.


Shura menggenggam tangan kiri asline setelah Archana memegang tangan kanan gadis itu.


Shura berbalik.


Menyerigai licik.


Mendekat...


"Kau orang tidak tau diri! bunda kami memunggut dirimu dari jalanan.Dan kau berani membuat drama murahan untuk menjatuhkan kakakku! tunggu pembalasanku dan para KAKAKKU!" Shura berucap samar,kejam.


Anak laki-laki imut itu membawa rasa dingin mencekik secara tiba-tiba.


Salsa mundur dengan manik bergetar.


"SHURA...AYO PULANG!! " Archana berteriak kala mendapati anak itu ternyata tidak mengikuti mereka dari belakang.


Seringai iblis itu menghilang dengan cepat.


Senyum polos itu kembali,Shura berbalik dan berlari kearah Archana.


Asline tengah pergi mengambil mobil yang dirinya parkiran tak jauh dari lokasi taman.


Manik Salsa mendingin.


Apa itu tadi?.


"Let's go back home!!" Shura berseru kala mobil Lexus putih telah berhenti dihadapan mereka.



Salsa menatap iri,dirinya bahkan kini kemana-mana harus menggunakan kendaraan umum,tapi mereka.....


...🎀...

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2