
...Vote,like dan komentar ya ❣️...
...🍹...
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...🍹...
Kakak?
Manik semua orang membola horor.
Gadis manis yang tak disangka baru saja menumbangkan banyak pria dewasa itu kini justru menangis,mengadu seakan dirinya adalah korban teraniaya disini?.
Dan fakta baru apa yang mereka dengar ini?.
Rayganta Alzeus,pria itu terkekeh dingin kala manik tajamnya menatap lurus kearah seorang pria paruh baya yang ia tau jelas siapa itu.
"Bukankah ini tuan Murfei? dan...para dewan partai yang terhormat?" Pria tampan dengan aura mengintimidasi itu terkekeh sembari memeluk tubuh sang adik yang mulai tenang.
"Kakak,apa kakak mengenal para orang jahat ini? orang jahat yang memukul Archa? hemphhh...pukul mereka kakak!! buat wajah sombong mereka seperti adonan tepung!!" Rengekan Archana terdengar manis ditelinga sang kakak,Rayga tersenyum dan mengecup kening mulus Archana sayang.
Keringat dingin mulai memenuhi seluruh tubuh para politikus itu.
"Archa kenapa bicara seperti itu? anak perempuan harus bersikap anggun dan lembut,siapa yang mengajari untuk memukul orang?" Rayga memicing geli melihat ekspresi terkejut nan manis sang adik.
Ayolah,apa pasangan adik kakak ini tidak sadar beberapa orang yang menatap mereka layaknya menunggu eksekusi mati?.
"Itu...kakak,Archara berbisik suruh pukul dikepala Archa.Archa pusing dengar suara Chara!!" Bisik Archana sembari berjinjit agar sampai ke telinga Rayga.
Pria itu terkekeh,adiknya ini sangat kecil!.
185 dengan 165,coba katakan seberapa jauh jarak tinggi badan keduanya!.
"Ihhh..kakak menunduk sedikit!! tingginya seperti tiang listrik!!" Dumel gadis itu kesal sendiri.
"Tu...tuan muda Rayga, anda dan gadis itu?" Murfei memanggil gugup berusaha mengintrupsi adegan manis adik kakak itu.
DEGGGGGGGGG...
Tubuh Murfei menegang hanya dengan pandangan mata pria muda itu.
Tajam,menindas dan tergambar jelas kekejaman disana.
"Apakah anda dan rekan-rekan anda sudah bosan hidup? hahaha..beraninya kalian pada adik kecilku,putri satu-satunya clan Wiguna!"
BRUKHHHHHH......
Satu penjelasan dengan nada dingin dan penuh amarah terdengar.
Tubuh Murfei dan para orang tua remaja berandal itu jatuh bersimpuh dengan wajah pias,pucat pasi.
Rayganta melirik Alarik yang juga telah selesai berurusan dengan kepala kepolisian.
Wajah dewa IT itu gelap menatap balik wajah dingin sang bos.
"Archa sayang...mari pulang,kamu mau kakak antar kemana sembari menunggu Daddy kembali?" Rayga bertanya kala melihat sang adik mulai menguap.
"Hmmm...mami Freya saja kak,Archa mau tidur di rumah papi James" Gadis mungil itu menguap dengan mata mulai berkaca-kaca.
Dia mengantuk setelah semua kejadian ini!.
Rayganta tersenyum tipis,menggendong sang adik ala koala dimana gadis mungil itu memeluk leher sang kakak dan bersandar nyaman di dada hangat sang kakak sulung.
"Kakak...Archa mau tidur...." Merengek dengan wajah manis yang sang menggemaskan.
Rayganta terkekeh,melirik para calon korbannya penuh arti.
Disudut pintu masuk telah berdiri Cristian serta Maxim yang sudah menunggu dengan beberapa anggota BE yang datang dengan rompi hitam mereka.
Kepala polisi meneguk salivanya ngeri,lebih baik menutup mata dan telinga akan apa yang akan terjadi nanti.
"Tuan Murfei....mari selesaikan bisnis ini" Suara penuh arti serta seringai dingin dari sang Zeus tirani itu sungguh membuat seluruh sendi di tubuh ketiga pasangan paruh baya itu melemah.
Andai mereka tau siapa kedua gadis itu?.
Kemalangan!.
Alarik menyerigai,vidio yang berhasil ia retas dari cctv ruang interogasi telah ia sebarkan di dunia maya.
__ADS_1
Akan dirinya pastikan siapapun yang menyakiti kedua adik perempuan para iblis BE itu akan binasa!.
Semua orang yang melihat sosok agung sang Zeus keluar dari ruang interogasi mengigil.
Para petugas menyingkir tak memiliki cukup kuasa ataupun kemampuan untuk menghalangi jalan sang Zeus.
Mereka takut,terlebih untuk Murfei dan kedua rekannya.
Pria muda ini.......
Dia,dia adalah tuan muda pertama dari clan Wiguna generasi ketiga setelah tuan muda Arkansas dan Arion.
Pria muda ini,sang Zeus.Pria misterius yang bahkan tak pernah terlihat di depan umum bahkan majalah bisnis yang ingin mewawancarai pria itu saja harus berjuang esktra bahkan hanya untuk bisa menemui pria pujaan nasional seluruh gadis dan wanita di Eropa itu.
Alarik menerima tubuh Archana yang sudah terlelap, Rayganta berbalik menatap wajah pasangan politikus itu yang kini menatapnya penuh penyesalan.
Pria itu terkekeh,kedua tangannya tersembunyi didalam saku jasnya.
"Tuan Murfei.....berapa harga nyawa para putra sampah kalian? dan... bagaimana dengan hidup kalian sendiri? haruskan aku memastikan apakah sebelum matahari hari ini terbenam akan harga dari setiap nyawa kalian? coba kuhitung...satu helai rambut adikku yang hilang...." Rayganta berucap dengan jenaka,nada main-main yang terdengar jelas bak lonceng kematian.
"Tuan..tuan muda Wiguna,ku..kumohon tolong dengarkan kam-"
"Satu helai yang hilang maka satu tangan akan terpisah! lalu bagaimana dengan semua luka kedua adikku?" Rayganta membungkam mulut Murfei bahkan sebelum pria itu selesai membela diri.
Lobi kantor polisi kini dipenuhi kesan horor dan mencekam.
Para anggota mafia terkejam diseluruh Eropa itu kini memenuhi seluruh area parkir kepolisian.
Bak lautan kegelapan!.
ARKHHHH..........
Mata semua orang membola horor,salah satu pasangan politikus itu terjatuh bersimpuh kala melihat sebuah layar besar di area parkir dimana sosok yang mereka kenal tengah berteriak kesakitan dengan sangat menyedihkan.
"Bagaimana rasanya?" Rayganta duduk dengan angkuh setelah Maxim memberikan sebuah kursi untuk ia duduk.
Pria muda tampan itu meraih sebuah rokok dan menyalakannya.
Menghembuskan asap rokok itu dengan malas.
"TIDAK...HIKS...HIKS...TOLONG AMPUNI NYAWA PUTRAKU TUAN MUDA WIGUNA!! TOLONG... TOLONG BERHENTILAH!!" Wanita bergaun ungu mencolok itu bersimbah bersujud dengan tangisan putus asa kala melihat pemandangan mengerikan didepanya itu.
ARKHHHHHHH...........
Jeritan kembali terdengar,para polisi itu membatu tak percaya.
Disana,didepan layar proyektor besar yang tengah menyala.
Disebuah ruangan dengan pencahayaan sangat jelas,terlihat seorang pemuda yang nampak menjerit kala sebuah gergaji mesin memotong tangannya dengan sadis.
Hoekkkkk...
Darah,daging dan serpihan tulang berceceran.
Rayganta melirik acuh,menghisap rokoknya dengan santai menatap aksi wakilnya dan para anggotanya dengan puas.
Benar!.
Disana Raider dan Xain dengan jelas memotong masing-masing tangan kiri dan kanan putra dari rekan Murfei itu dengan sadis.
Api kemarahan dalam diri Murfei terbakar.
Harga dirinya begitu terinjak oleh kesombongan CEO muda WJC itu.
Bahkan para polisi terlihat menutup mata mundur dengan permohonan maaf besar.
Clan Wiguna ini adalah penyokong besar sumber perekonomian negara dan seluruh kota London Inggris.
Bahkan jika mereka membunuh sepuluh orang anak pejabat sekalipun,para aparatur negara itu akan lebih memilih tutup mata daripada menerima konsekuensi yang lebih kejam.
"Tuan muda Wiguna! apa maksud dari perbuatan anda ini? bahkan jika anda begitu menyayangi adik perempuan anda,apakah harus anda memperlakukan korban sesungguhnya dengan tidak manusiawi?!! kami tahu betapa besar kekuasaan anda! tapi...tapi putra kami disini adalah korban dari adik perempuan anda,mereka terbaring di rumah sakit dan anda menyiksa mereka?! keterlaluan!!" Murfei mencecar dengan raungan kemarahan.
Bisakah tuan muda Wiguna itu sedikit lebih manusiawi?.
Rayganta mengangguk acuh,menginjak rokok khusus buatan Jerman itu dengan ujung sepatunya.
"Kau tidak terima?" Tanya Rayganta dengan ekspresi wajah gelapnya.
Deggggg......
Murfei menegang mundur kala suara yang ia kenali mulai terdengar.
"Ayahhhhh....... ARKHHHHHHH..........."
Maniknya membola horor,putranya yang baru saja dirawat dengan seluruh kemampuan para dokter meraung dengan tubuh terbalik tersalip dengan paku-paku yang menancap di kedua telapak tangan dan pahanya.
Mengerikan!.
Istri Murfei telah jatuh tak sadarkan diri dipaha salah satu wanita paruh baya rekannya.
"Adikku salah? lalu kenapa? jika memang adikku yang memulai,itu bukan berarti aku.Kakaknya bahkan keluargaku akan membiarkan orang lain dengan berani melukai dan menghakimi gadis kecil kami!" Raygan menekan dengan tegas kata-katanya,pria muda itu bangkit dan menatap sosok istri dari Murfei dan wanita yang tengah bersujud di dekatnya itu dengan dingin.
"Untuk apa menangis? saat tak lama lagi mungkin kalian bisa bersama lagi" Maxim mencibir sinis menatap jijik wanita paruh baya mencolok yang kini terlihat seperti gembel dibawah kaki bosnya itu.
"Tuan muda Wiguna dan anda tuan muda Houston!! jangan keterlaluan!! " Ketiga pria paruh baya itu meraung emosi.
"Kau mau mati dengan cepat rupanya?!" Maxim yang selalunya berwajah jenaka dan jahil,sekalinya murka akan terlihat begitu menakutkan!.
" Kembali" Rayganta berbalik keluar dari kantor polisi,melirik wajah menyerigai Maxim sebelum memasuki mobil Rolls-Royce phantom perusahaan yang sudah menunggu dirinya kembali dengan Cristian yang sudah duduk di kursi kemudi.
__ADS_1
" Selamat menikmati nafas terakhir kalian hahaha" Tawa jenaka Maxim terdengar sebelum pria muda itu memasuki mobil Ferarri miliknya.
"Pa...apa..apa...kita akan selamat?" Wanita berdress ungu itu menoleh kepada suaminya yang berdiri mematung.
Lutut semua orang melemas begitu mobil-mobil para anggota mafia itu beranjak pergi mengikuti sang pemimpi meninggalkan kantor polisi.
Para polisi yang tak tau apa yang baru saja terjadi didalam ruangan tertutup itu bergegas melihat kedalam dengan penuh keingintahuan.
Dan yah,mereka hanya mampu melihat selusin pengawal berjatuhan terserak diatas lantai dengan tubuh penuh luka dan darah yang berceceran.
Melihat keluarga politikus itu dengan manik iba,akhirnya kesombongan mereka akan runtuh dengan seseorang yang lebih besar kuasanya.
Diatas langit masih ada langit!.
Karena,hari ini.
Tiga keluarga itu telah menyinggung clan Wiguna beserta seluruh pengikutnya tanpa sadar!.
Apakah masih ada matahari esok?.
........🍷........
Mobil Alphard yang disetir oleh Alarik telah tiba disebuah rumah mewah berlantai dua.
Rumah dengan desain klasik modern yang terlihat asri dengan pohon-pohon cemara yang menghiasi setiap sudut pekarangan.
Tin......tin......
Suara klakson terdengar mengintrupsi dua orang penjaga yang tengah bermain catur di pos jaga.
"Pak Lu tolong buka gerbang!!" Suara keras Alarik menyentak tidur pulas acella.
Gadis itu menggerutu kesal,beruntung adik manis mereka masih pulas.
"Eh...Tuan muda Alarik, sebentar kami buka gerbang dulu" Pria paruh baya yang dipanggil pak Lu itu bergegas meraih kunci gerbang dan membuka gerbang dengan cepat dan mobil Alphard putih itu berjalan perlahan kembali masuk.
Mobil berhenti di depan pintu masuk rumah mewah kediaman James dan Freya.
Terlihat Acella keluar dan membunyikan bel.
"Mama Freya!! mama...mama...mama..."
Acella justru berteriak dengan irama tak tau malu,sungguh Alarik malu sendiri melihat tingkah saudara kembar tak identiknya.
"Hah....Cell....bisa kalem sedikit tidak? kau ini memalukan sekali " Frustasi Alarik kala gadis tomboy itu justru mengangkat bahu acuh.
Kembali memencet bel hingga pintu besar berwarna putih itu terbuka.
"Astaga cella!! kamu itu kalau datang bisa kalem sedikit tidak sih? heran mama,anak perempuan bar-bar sekali kamu ini!! " Kesal Freya yang baru saja membuka pintu kala para asisten rumah tangga di kediamannya tengah sibuk di dapur,benar hampir masuk waktu makan malam.
Acella terkekeh dan merangkul lengan salah satu ibunya itu dengan genit.
"Mama cantik-cantik galak!! hehehe..itu lihat kami datang mau numpang ma,lihat Archana bahkan sampai pingsan menunggu mama buka pintu!!" Acella berdrama dengan senyum jahilnya.
Deggg....
Freya berdiri mematung melihat Alarik yang menggendong sosok manis Archana ala bridal.
"Astaga!! demi neneknya tapasya,ini adik kalian kenapa?!!" Pekik Freya panik.
Acela menepuk jidatnya geli.
Ini mama mereka terlalu banyak menonton film India.
Nenek tapasya dibawa-bawa!.
Sabar...sabar....
"Ini lagi,kenapa wajah kamu lebam begini?! Acella...kamu itu anak perempuan!! pasti kamu berkelahi lagi ya?! mana adiknya dibawa segala lagi!!" Tuduh Freya menatap garang wajah tak terima acella.
Mereka berdebat sembari berjalan masuk diikuti Alarik dengan putus asa.
"Sembarangan saja mama menuduh cella!! ceritanya panjang ma, sepanjang jalan hidup mama dan papa James!! sudahlah cella mau tidur masih ngantuk,ma...kamar cella masih utuhkan dan tidak diterjang badai di lantai dua?" Gadis itu bertanya dengan jenaka.
" Mulutmu itu ya Cell...anak perempuan tidak ada manis-manisnya,heran mama sama mami kalian,bisa ya si Amber tahan mengasuh putri bar-bar sepertimu?!!" Kesal Freya akan tingkah laku putri amber itu.
"Yah mama,kalau mau manis ya madu atau gula!! ada-ada saja mama ini" Gelak Acella yang sudah melenggang pergi ke kamar pribadinya di lantai dua.
Freya menggeleng,melirik Alarik yang ikut naik.
"Alarik,kamu bawa Archa ke kamarnya ingat pintu warna pink ya" Freya menggeleng saat melihat wajah manis putri kecil Liora itu sedikit lebam.
Alarik mengangguk dan berlalu pergi menidurkan sang adik yang terlihat pulas tidur dalam kelelahan.
" Bibi Freya....."
Freya menoleh ,sosok gadis berambut sebahu seumuran Archana terlihat keluar dari kamar tamu.
" Oh...kamu sudah selesai bersihkan diri,Salsa.Maaf ya bibi tidak sempat membantu kamu,para keponakan bibi baru saja datang dan mereka tengah dilantai dua sekarang" Freya berjalan mendekati sosok gadis kurus yang berdiri menatap tangga kelantai dua dengan wajah penuh keingintahuan.
"Tidak apa bibi,bibi sudah mau menolong salsa saja sudah lebih dari cukup.Bibi,apa tidak apa salsa tinggal disini? ba-"
"Siapa kau?!"
Deg.......
..........🍷.........
...TBC...
__ADS_1