
Hai semua jumpa lagi...🌹
...E...
...J...
...O...
...E...
...Y...
..........
TAKH...
Suara ketukan sepatu yang berjalan teratur terdengar,lorong sunyi dengan pencahayaan sempurna itu menampilkan bayangan tiga sosok yang berjalan dengan senyum culas diwajah mereka.
"Dengar papa! ingatlah untuk menjaga etika mu.Dan kau Lucinda,cobalah untuk membuat nyonya besar tua itu senang atas kehadiran kalian berdua sepasang ibu dan anak!" Pria paruh baya dengan kemeja dan jas putih formal berucap tajam, pria itu.
Dante!.
Bersama Lucinda dan grizela ,putri mereka.
"Papa tenang saja... aku sudah mengawasi cukup lama dan aku tau kini diruangan itu hanya ada nyonya tua dan menantunya saja! tidak ada anggota keluarga laki-laki!" Grizela yang menggunakan gaun selutut putih polos berucap culas.
Dante mengangguk girang, pertama-tama mari lakukan pendekatan dengan nyonya tua clan besar itu.
"Atur ekspresi kalian...kita hampir sampai!" Dante berbisik setelah lift yang membawa mereka naik akhirnya tiba di lantai gedung Healthy hospital tertinggi,diujung lorong dengan pintu kamar-kamar rawat yang bak hotel bintang lima.
Disana ada sebuah pintu bercat putih gading yang dijaga oleh sekitar 10 orang penjaga dengan wajah tanpa ekspresi.
Dante bergidik.
"Khem.. permisi..." Dante membuka suara,seorang penjaga dengan earpeace ditelinga menghadang dengan lirikan dingin penjaga lainya.
"Anda tak tau lantai ini adalah area privasi? silahkan pergi dari sini..." Desis penjaga itu tajam.
"Maaf tuan..kami..kami adalah keluarga dari nyonya muda kalian,istri dari tuan muda sulung .Kami kemari hanya ingin menjenguk nona muda Wiguna yang dikabarkan masuk rumah sakit...." Lucinda dengan wajah lemah lembut berujar akan niat mereka.
Mata penjaga itu memicing.
"Benar tuan...saya sepupu asline,dan ini ibu dan ayah saya...kami kemari hanya i-"
Penjaga itu mengangkat telapak tangannya dengan dingin,dan Grizela terdiam kaku.
"Hanya keluarga inti yang tau akan keadaan nona muda kami...ba-"
"Hahaha..tuan penjaga...saya,begini..saya punya seorang teman yang dirawat dilantai 2 kebetulan saat itu saat saya berkunjung saya melihat nona archana dibawa masuk dengan panik,hari ini saya dan keluarga kecil saya hanya ingin datang menjenguk sebagai keluarga..jadi tolong mintalah izin pada majikan kalian atas kedatangan kami" Dante memotong cepat ucapan penjaga,pria itu tak boleh buang waktu sebelum para pria keluarga itu kembali.
Bukankah usaha mereka akan sia-sia?!.
"Kau..cepat lapor pada nyonya besar" Penjaga itu menunjuk rekannya yang berdiri disisi kiri pintu.
"Ingat..jika nyonya memberi izin kalian masuk,jangan buat keributan!" Peringatan tajam terdengar,dante beserta Lucinda dan grizela mengangguk patuh.
"Tunggu saja asline...aku akan merusak citramu didepan para nyonya itu!' Batin Grizela sembari mengikuti langkah kedua orang tuanya masuk setelah mendapat izin.
...........
...........
Angin semilir mendera masuk melalui celah-celah gorden,aroma laut tercium samar dengan kicauan burung camar yang samar terdengar.
Manik dengan bulu mata lentik itu perlahan bergerak,dan dengan lambat manik indah itu akhirnya terbuka.
"Ray......rayga..." Wanita cantik dengan wajah lemah itu berguman samar,maniknya bergetar melihat sebuah nasal canula yang bertengger dihidungnya.Asline, dengan bibir bergetar dan perasaan sakit yang tak terlukiskan mencoba bangkit.
Ctazzz...
Nasal canula itu ditariknya hingga lepas,tangan lemahnya bergerak mencabut jarum infus yang menancap dan melempar benda itu jatuh.
Mengigit bibirnya dengan getir,bergerak menyamping berusaha turun dan segera pergi meski dirinya tak tau dimana sekarang dirinya berada.
Brukhhh....
"Akhhh...sialan..." Asline berucap getir kala tubuhnya jatuh keras menghantam lantai yang terbuat dari kayu itu.
Mendongak dan menahan cairan bening yang berjuang jatuh itu tak terjadi.
"Ra...rayga..aku..aku harus bagaimana? kamu selama ini sudah membuatku tergantung padamu...sekarang...sekarang akhirnya aku merasa takut....hiks....aku harus apa?" Tangis itulah akhirnya jatuh,asline menyeret tubuhnya yang lemah kepojok ruangan.
Meringkuk kala seluruh tubuhnya terasa lemas,tak ada tenaga dan ia tahu.Percuma saja berusaha melawan dan melarikan diri,entah apa yang sudah terjadi pada tubuhnya.
Lemas...
Dan tak bertenaga,ditambah perban yang membalut tubuhnya dari kedua tangan dan perut!.
Darah merembes dari perban di area perutnya,dan hawa dingin membuatnya menggigil.
Asline tak pernah merasa begitu lemah seperti ini,tapi inilah faktanya!.
Ceklek....
Prankkkk..
"ASTAGA! NONA ANDA SUDAH.....?!" seorang wanita paruh baya yang berpakaian suster dan membawa nampan berisi obat dimana benda itu sudah jatuh tergelak dilantai berseru kaget.
Asline menghapus air matanya dan wajahnya berubah dingin dan menatap wanita asing itu waspada.
__ADS_1
"Siapa kau?" Asline berucap dengan wajah dipenuhi oleh kewaspadaan.
"Sebentar saya panggil dokter dulu" Wanita itu mengindahkan ucapan asline dan keluar dengan cepat.
Dan suster itu akhirnya pergi setelah berbalik dan terburu-buru.
Asline,dengan tubuh lemah berdiri dan berjalan kearah jendela yang tertutup rangka besi.
Menyibak gorden putih dan akhirnya maniknya yang sayu menyapu hamparan laut dan pasir putih tak jauh dari tempat dirinya terkurung.
"Where i'am?" Bergumam dengan lirih, asline terpaku menatap kawanan burung camar yang terbang menyambar ikan-ikan kecil yang berenang terlalu dekat dari permukaan air.
Pemandangan yang sangat pilu kala ikan-ikan itu mengelepar berusaha terbebas dari paruh burung camar.
"Miss..mengapa anda melepas infus dan berdiri didepan jendela seperti itu? kesehatan anda sedang tahap pemulihan jadi tolong berbaring kembali!" Suara seseorang menginterupsi kegiatan asline memandang sekawanan burung dan nasib malang ikan-ikan kecil yang menjadi santapan mereka.
Suara seorang pria membuat wajah cantik itu dipenuhi aura mendung.
Berbalik dan mendapati seorang pria muda dengan sebuah kaca mata membingkai manik hangat itu.
"Tolong jangan tatap saya begitu tajam young lady...saya hanya seorang dokter disini.." Ucapan bernada gurauan itu tak membuat suasana hati asline berubah cerah.
Pria muda berwajah tampan itu terkekeh maklum.
Berjalan sembari membaca sebuah berkas medis ditanganya.
"Sungguh luar biasa nona bisa sadar dalam tenggang waktu dua hari saja! tapi saya hanya ingin mengingatkan nona...sekuat apapun imun tubuh,nona harus tetap berhati-hati.Luka fisik nona cukup parah dan sebuah keajaiban anda siuman dalam dua hari! jadi...bisakah saya kembali memeriksa kondisi nona lagi?" Dokter muda itu berucap ramah,senyum diwajahnya terlihat tulus.
Asline berbalik dan duduk kembali diatas ranjangnya tanpa suara.
"Nona cukup keras ya...bahkan ucapan saya tak ditanggapi satu katapun..." Kembali dokter itu melempar guyonan,namun wajah asline tetap dingin acuh tak acuh.
Menghela nafas dan dokter itu mulai memeriksa luka-luka yang berada ditubuh asline dengan serius.
"Suster..setelah ini ganti perban dan beri suntikan antibiotik lagi.." Titah dokter itu kepada sosok suster paruh baya yang tadi telah masuk sebelumnya.
"Siapa yang membawaku kemari?" Asline pada akhirnya membuka mulutnya dan bertanya dengan wajah tanpa ekspresi.
Dokter itu tersenyum lebar.
Akhirnya,pasien cantiknya bersuara!.
Dokter itu terdiam dengan senyum takjub,suara wanita muda didepannya ini sangat manis mendayu,meski tak ada emosi didalam alunan suara itu,tapi dirinya sudah puas.
Sudah banyak ia menemui pasien yang memiliki wajah yang cantik,namun pasien kali ini punya pesona yang begitu tajam hingga membuat pria yang membawa wanita ini rela memanggilnya langsung dari Rusia untuk menjadi dokter pribadi di pulau ini!.
Dia adalah dokter dengan julukan tangan emas di Rusia,belum ada satupun pasiennya yang tewas selama berada dalam perawatannya.
"Flair Derigos..saya dokter pribadi anda!" Dokter muda itu akhirnya memperkenalkan diri,wajahnya berbinar menatap wajah cantik yang terkesan acuh itu dengan senyum dalam.
Baru kali ini ada wanita yang tak mempan akan pesona dirinya!.
Flair merasa geli sekaligus bersemangat,pantas saja pria yang bersama wanita ini sebelumnya sangat posesif!.
"Saya tidak bertanya nama anda,dimana saya dan siapa yang membawa saya kemari! " Asline mendengus dingin,dokter ini terlalu bersemangat dan auranya sangat menyilaukan mata!.
Tidak hanya acuh dia juga sangat tidak sabar!.
"Baik..baik...pria anda yang membawa anda kemari nona...namun dia kemarin pergi melakukan suatu urusan dan kembali sore nanti,tapi no-"
"Nona..? saya adalah wanita yang sudah menikah! tolong perhatikan sebutan anda untuk saya,dan pria saya? anda tidak salah bicara bukan?" Asline berucap dingin,flair mengeryit begitu kebingungan .
Bukankah pria itu berkata ini adalah wanitanya? lalu mengapa wanita ini terlihat kebingungan?!.
Apa ini cinta sepihak hingga wanita cantik ini tidak menganggap pria itu? bukankah pria itu sangat kaya? lalu mengapa tidak ada kesan didalam mata wanita Ini?.
Aneh sekali....!.
"Pria itu...dia berkata dia adalah tunangan anda pada saya,dan dia meminta saya merawat anda hingga sembuh sehingga kalian bisa pulang ke Rusia untuk melangsungkan pernikahan b-"
"Apa katamu?! omong kosong! menikah apa?! aku sudah menikah dan suamiku bernama Rayganta Alzeus Theodore Wiguna!" Asline berucap tajam,maniknya terlihat berkilat tak terbantah.
Flair tercengang,pria muda itu menggeleng linglung.
"Tapi pria itu bukan bernama Rayganta.. dia..dia Calvin Harris!' Flair menolak ucapan asline dengan rumit.
Asline terkekeh rendah,gadis itu melihat perban yang perlahan mulai digunting untuk dilepas dari perutnya.
Flair melihat hal itu dengan ekspresi rumit.
Asline mengigit bibir bawahnya kala rasa perih menghunus tajam kala obat antiseptik diteteskan pada luka tusukan yang terlihat mengerikan dan beberapa sayatan panjang dipunggung.
Flair terdiam,menatap kulit putih nan halus yang tersembunyi dibalik luka yang cukup banyak itu.
Wanita itu tak berteriak seperti kebanyakan pasien lainya yang pernah ia rawat selama ini,tak ada air mata dan hanya terlihat ketenangan.
Ini bahkan tanpa obat bius!...
Seberapa kuat wanita ini bisa menahan rasa sakit? seperti apa hidupnya selama ini?.
Flair mengangguk samar,pantas saja pria bernama Calvin ini terlihat begitu terobsesi dilihat dari caranya memperlakukan wanita itu saat tak sadarkan diri sebelumnya.
Flair segera mendiagnosis kondisi tubuh asline begitu perban diganti,dokter muda itu terpaku sesaat.
Kecantikan ini sungguh mempesona dalam ketenangan yang rumit.
Setelah flair dan suster itu melangkah pergi, Asline.Wanita cantik itu berjalan mendekati jendela membuka lebar tirai dan membiarkan angin pantai menerjang masuk dengan perlahan.
Membuka laci dan menemukan sebuah pena dan sebuah kertas putih.
Tanganya gatal kala gundah menguasai hati.
Teshhh..
__ADS_1
"Rayga...kapan kamu datang?" Suara lirih terdengar menyayat dengan setetes air mata jatuh.
Duduk disebuah kursi dengan meja menghadap pantai.
Dear diary...
...Dengan perlahan siang berganti,aku hidup seperti ini.Tak bisa lakukan apapun hanya kenangan yang tertinggal....
...Jika saja aku bisa mencintai seiring waktu berlalu alangkah baiknya....
...Tangisan,kenangan ku tak bisa melupakanmu...
...Hati....
...Sehari saja,hanya sehari seandainya aku bisa melihatmu, cintaku....
...Kini aku tak bisa merubahnya...
...Hanya kenangan yang teringat...
...Andai aku bisa meraihmu seiring waktu berganti...
...Aku tau ini cinta...
...Meski hari ini terukir berderai air mata...
Asline menatap kosong laut setelah selesai menulis disehelai kertas.
Meremat lengannya yang menjadi korban keganasan pria itu,demi menjadi tameng sang adik ipar.
Menyentuh perban yang membabat perut meski punggungnya tak kalah sakit.
Manik indah itu berkilat merah.
Krangggg..
Asline meremat jeruji yang membingkai jendela dengan bibir lurus bergetar.
Jendela itu tak bisa terbuka!.
Berjalan menuju pintu.
Brakhhhh..
Asline memutar kenop,dan memukul daun pintu itu sekali dengan keras.
" Lock me? Damn it!" Maki asline getir.
Tidak ada apapun diruangan besar ini,hanya perlatan medis selama perawatan dirinya.
Sebuah tempat tidur king size,meja,sofa dan kamar mandi.
Tidak ada perabotan lainya!.
Bahkan cermin!.
"Apa mau orang ini sebenarnya?! mengapa dia mengurungku disini?!" Asline duduk gusar,memutar otaknya berfikir keras.
Ceklek....
Pintu akhirnya terbuka,tatapan seseorang itu akhirnya bertemu dengan manik memerah asline.
" Baby...."
"KAU?!! BASTARD!!'
Raung asline begitu suara rendah penuh kasih itu turun,bukan bahagia oleh nada suara lembut penuh kasih itu.
Asline meradang!.
Pria itu menyerigai puas.
..........
Dante berdiri kaku,dibawah tatapan yang begitu dalam dari nyonya besar Wiguna itu.
Entah mengapa terasa dingin.
"Selamat siang nyonya besar..saya bersama istri dan putri saya datang menjenguk...saya harap anda tidak keberatan atas kedatangan kami..." Dante akhirnya buka suara dengan senyum sanjungan.
"Sayangnya kami sangat keberatan...ayolah...siapa tiga orang ini?" Amber berucap telak tanpa filter.
Wajah Lucinda memerah malu.
"Bibi...kami adalah keluarga menantu bibi...nona asline Gradian adalah sepupu saya,anda melupakan kami? ayah saya adalah paman pertama asline dan ayahnya adalah adik ayah saya!" Grizela berucap dengan senyum paksa.
"Aku menyuruhmu buka mulut? tutup mulutmu! anak kemarin sore berani menyelaku?! berapa nyawamu?!" Amber mendengus dingin,sejak awal melihat wanita muda ini,dirinya sudah tak memiliki kesan baik.
"Maaf..maafkan putri kami nyonya Amber,dia benar-benar salah! tolong bermurah hati!" Panik Dante.
"Wow..siapa ini?'
Suara renyah seorang gadis terdengar masuk.
Lucinda berbalik dengan grizela yang terpaku tanpa bergerak.
"Well...nona artis ternyata!" Victoria terkekeh rendah,masuk bersama Raels juga Aira dengan membawa keranjang buah juga berbagai kue sehat buatan Daisy.
"Mami..kau mengundang artis ini untuk membuat panggung mini? " Gelak Aira yang dibalas gelengan jenaka kayra.
Benar-benar mulut calon-calon menantunya ini!
...🍃...
__ADS_1
...TBC...
Halo-halo......