
...Vote,like dan komentar ya ❣️...
...✒️.....✒️...
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...✒️.....✒️...
Langit telah menghitam begitu Rayganta dan Asline memasuki pelataran vila tua Fernandes,pasangan tua itu benar-benar ramah dan Rayga dapat melihat dengan jelas betapa kasih sayang yang mereka tunjukkan untuk Asline begitu nyata,dan tulus.
Kini sembari menunggu makan malam selesai dipersiapkan oleh para pelayan,tuan tua Ferdinan membawa Rayga dan asline duduk berbincang di sebuah pergola taman belakang.
Rayga menatap dingin wajah wanita tua yang kini tiba-tiba memusatkan pandangan pada dirinya,wanita tua itu tersenyum melirik wajah cantik Asline dengan tatapan,menggoda? entahlah.
"Tuan muda Wiguna,dari penampilan serta pembawaan diri anda.Saya dapat menyimpulkan sesuatu,bukankah pada usia ini seharusnya anda sudah menikah? hah...cucu kurang ajar kami saja sudah akan menikah dengan wanita itu...kamu sudah memiliki kandidat belum? atau jika belum......." Retha melirik wajah cantik Asline yang mendadak salah tingkah ia tatap dengan jahil.
Wanita tua ini benar-benar sesuatu!.
Rayga menyerigai,menatap wajah cantik Asline yang sedari awal pembicaraan ini telah menunduk,sibuk memakai kue-kue apa saja yang bisa gadis itu raih.
"Oh ayolah Retha...tidak ada gadis yang mungkin bisa setara dengan aura superior tuan muda Wiguna ini! hahaha...tapi..kalau tuan muda ini belum memiliki,apakah boleh kami memberi saran?" Tuan tua ikut bermain,kedua lansia ini tersenyum menggoda menatap sosok gadis yang sudah seperti cucu mereka sendiri.
Saling mengedipkan mata dan menatap wajah tampan pria muda itu,bibir tipis yang kini menarik seringai licik.
"Belum...saya masih single tuan tua.Dan saya masih berusaha" Ucap Rayga dengan tatapan intens yang terus teratas pada wajah cantik Asline yang kini telah nampak bak kepiting rebus.
"Imut sekali....ahh...calon istriku..."Batin Rayga gemas akan wajah malu-malu Asline.
Hahahaha....
Asline tersentak mendengar suara tawa keras Ferdinand,pria tua itu tertawa hingga setetes air mata jatuh dari sudut matanya.
"Astaga!! ada-apa dengan kalian para anak muda! calon sudah didepan mata masih saja main tarik ulur?! dan kau tuan muda....aku bahkan sangksi padamu,apakah kau bahkan pernah memegang tangan seorang wanita? yah...selain keluargamu mungkin?kau tau? beberapa kalangan bahkan sampai berani berspekulasi bahwa kau adalah......yah,kau taulah!" Retha berucap penuh makna,melirik sosok Asline yang semakin menunduk meski ia yakin telinga gadis itu sudah tegak mendengar semua yang mereka bicarakan.
Rayga tersenyum samar,menggeleng santai dan meraih cangkir kopi hitam miliknya,menyesapi rasa pahit nan menenangkan dari kopi hitam itu.
Asline mengangkat wajahnya saat tak ada balasan dari pria itu atas ucapan neneknya.
langit telah gelap, bayangan dari api unggun dan lampu yang tergantung diatas mereka.
Cahaya tamaram yang memancarkan bayangan dominan pria itu,duduk dengan tegak dengan kaki disilangkan penuh martabat.Pergelangan tangan yang dihias oleh sebuah jam tangan Rolex dengan kemeja putih dengan dua kancing terbuka,tanpa sadar.
Asline merasa sosok ini lebih megah dari perwujudan dewa,lebih tinggi dari kasta keluarga kerajaan sekalipun dan lebih jantan bahkan dari sosok model pria paling tampan sekalipun.
Pria ini....
Tuan muda Wiguna, sosoknya terlalu sempurna dengan aura tenang,dominan dan juga.
Menggoda!.
Degggg....
Tatapan keduanya bertemu.
Asline terhenyak,wajah tampan dengan seringai acuh tak acuh.Namun,manik tajam itu terlihat teduh.
"Saya tak pernah suka bermain-main dengan perasaan nyonya tua,maka dari itu ibu saya selalu mengajari saya untuk tidak bermain-main dengan wanita" Rayga meletakkan cangkir kopinya,menatap wajah wanita tua itu dengan sopan.
__ADS_1
"Saya hanya menunggu.....menunggu gadis yang tepat untuk saya genggam dan saya jaga.Saya tak suka akan hubungan yang selalu berganti jika pada akhirnya tidak cocok.Saya menanti,satu orang gadis yang akan pada akhirnya akan saya sematkan cincin dan menjadi ratu di Resident tempat kami akan membina keluarga kecil kami,Intinya....saya masih menunggu dengan usaha" Rayga melirik sosok Asline yang menatapnya kosong,senyum teduh pria itu terbit meski Asline segera memalingkan wajahnya yang memerah cantik.
Tidak apa,masih banyak waktu!....
Rayga hanya tersenyum tipis.
Tuan tua tersenyum puas,menyesap teh hangat dicangkirnya dengan wajah penuh arti.
"Line, bagaimana dengan kakimu sayang? Asline....7 tahun telah berlalu sejak berita kematian kedua orang tuamu sayang...sejak saat itu kakek tetap teguh percaya bahwa kau masih hidup dan pasti selamat!" Ferdinand mendesah panjang,mengusap janggutnya yang panjang dengan wajah penuh penyesalan.
"Kaki Line baik kakek,hanya menunggu waktu agar kembali pulih" Menjawab lirih,Asline kembali menunduk tak mampu melihat mata teduh penuh kesedihan pria tua itu.
"Line...maafkan kakekmu ini nak! andai kami tau mereka akan membatalkan pertunangannya itu bergitu saja,kakek akan datang langsung ke ibu kota dan memberi pelajaran pada mereka semua! Asline kamu boleh marah nak,menangis bahkan membalas mereka atas penghianatan ini,kami akan berdiri di belakang dirimu meski itu adalah cucu kandung kakek sendiri" Ferdinand menghela nafas lagi,Retha mengusap punggung tua suaminya dengan prihatin.
Rayga duduk dengan wajah acuh tak acuh,meski sebenarnya di hati pria itu tengah terbakar!.
Melihat ekspresi kosong Asline yang terasa menyakitkan membakar hatinya,Rayga berusaha menjaga ketenangan tetap stabil.
Ia akan tenang hingga saat Asline,gadis itu sendiri datang meminta padanya.
Meminta penghancuran total!....
"Tidak kakek,kalian tidak perlu lakukan apapun pada Jonathan maupun paman Bryan.Asline sudah dewasa sekarang,dan apapun yang nanti Asline putuskan,semua akan terfikir dengan matang" Asline membawa kursi rodanya kearah kursi Ferdinan,menggenggam tangan tua itu dengan lembut.
"Kamu tenang saja sayang....Ini semua adalah usulan awal dari Chintya juga Lucinda...dua Medusa kurang ajar itu akan nenek beri pelajaran!!" Retha memeluk tubuh Asline dan memaki dengan jengkel,asline tertawa lembut meski neneknya itu mengumpat dan memaki,setidaknya kata-kata kasar itu untuk para Medusa yang sudah menganggu hidupnya.
"Tuan,nyonya tua...makan malam telah siap!" Kepala butler berusia 30 tahun itu datang dan mengangguk sopan.
"Terima kasih Kevin,kamu kembalilah " Ucap Retha bangkit .
Rayga meraih pengangan kursi roda dan Retha hanya bisa menggelengkan geli akan sifat posesif tuan muda Wiguna itu.
Pasangan tua itu mulai mempersilahkan Rayga dan asline memasuki ruang makan bergaya Eropa klasik dengan sentuhan modern minimalis.
"Kakek...kau mengganti furniture di ruangan ini? seingat Asline dulu tidak ada kursi,hanya meja kayu klasik dengan karpet sebagai alas duduk! " Asline berucap menatap kagum interior yang terasa baru dimatanya pada vila tua itu.
Rayga tersenyum lembut,mengelus pucuk rambut asline tanpa sadar.
Keduanya mematung salah tingkah,dan Retha hanya bisa tertawa renyah melihat kemanisan muda didepanya itu.
"Khem.....Hahaha benar sayang...kakek mengganti semua model rumah tua ini begitu mendengar pembatalan yang dilakukan sepihak oleh anak,menantu dan cucu kakek padamu.Kakek akan buang semua kenangan buruk itu melalui semua barang disini!" Ferdinan tertawa sumbang,tak tau lagi bagaimana cara menebus dosa keluarganya pada gadis malang ini.
"Sudah...sudah..mari duduk dan kita makan" Retha mengintrupsi,sudah tak sanggup melihat duka penyesalan dimata suaminya dan kesedihan dimata cucunya.
Para pelayan telah selesai bekerja, meninggalkan tempat dan kini hanya pasangan tua bersama dua tamu mereka yang ada.
Biasanya ruang ini akan terasa sepi karena hanya Ferdinan dan Retha saja yang tinggal.
"Asline duduklah didekat nenek nak,tuan muda duduklah disamping pria tua itu" Retha memberi perintah sesuka hatinya, Ferdinand mendengus jengkel dan duduk dengan pasrah.
"Tuan muda.....kudengar anda telah bekerja sejak umur 18 tahun....bekerja boleh saja,tapi menunda waktu yang tepat untuk menikah itu salah....lihat usia anda sekarang? sudah mau 26 tahun lebih bukan? wanita yang baik akan melewati waktu terbaik mereka jika menunggu kau berusia 30 tahun! dengarkan aku....jangan sendiri terlalu lama,jangan terlalu kaku sebagai seorang pria,terlebih kau punya segalanya.Harta,wajah yang tampan juga latar belakang yang hebat! jangan menunda lebih lama atau gadis-gadis yang baik nanti akan habis!" Retha mulai memberi nasehat,sedikit nada omelan terdengar dari kata-katanya,wanita tua itu melirik tajam wajah cantik cucu perempuannya.
" Benar apa yang dikatakan istriku tuan muda,waktu semakin menipis dan usia terbaik hampir terlewat! gadis seperti apa yang kamu cari? Jangan mencari terlalu jauh,lihatlah disekitar anda!" Tuan tua berucap jenaka,ada kilatan aneh dimata tuanya.
Uhukkkk.......
"Asline,kau kenapa sayang? minum dulu,makanlah pelan-pelan! kau ini masih seperti anak kecil saja!" Retha mengomel,namun tangan keriputnya dengan lembut menepuk punggung sempit Asline sementara Rayganta dengan seringai geli mengulurkan segelas air yang diterima dengan canggung oleh gadis itu.
"Tuan muda...usia seperti anda ini benar-benar masa puncak untuk membina rumah tangga dengan anak-anak yang lucu kelak! jangan terlalu menunda!" Tuan tua masih berkelakar jahil.
Asline mengangkat wajahnya yang entah mengapa merona mekar bak bunga mawar .
Menatap sosok yang kembali makan dengan tenang.
Pria yang duduk dengan postur tubuh tegak,wajah tampannya terlihat tenang bak kepingan salju pertama yang jatuh.
Pria muda ini....
Pria dengan garis wajah bak dewa agung yang duduk tenang memerintah dunia!...
Asline tersentak,menunduk dengan cepat kala rayga mengangkat wajah dan melempar seringai licik padanya.
Demi Tuhan......
Seringai itu....sangat membakar.
Asline menunduk dengan wajah yang terasa panas meski udara begitu dingin diluar sana.
Rayga menyerigai geli melihat rona merah pekat diwajah cantik itu.
"Asline...apakah begitu dingin hingga wajahnya begitu memerah? ini..minumlah susu hangat ini agar sedikit hangat..." Rayga menyerahkan gelas susu disamping cangkir tehnya.
__ADS_1
Rayga sadar,mungkin gadisnya tak akan suka panggilan biasa yang ia berikan pada gadis itu,kini ada tuan tua Fernandes,dan ia terpaksa mengganti panggilan untuk gadisnya sementara waktu.
Benar.....
Asline lemah akan cuaca dingin,wajah gadis itu mudah memerah karenanya.
Namun siapapun tak akan menyadari makna dari perlakuan pria tampan itu.
"Tapi...ini milikmu,aku...sudah punya" Cicit asline melirik wajah kedua lansia yang terlihat sibuk dengan makanan mereka,mendesah lega.
"Aku tidak suka susu" Ucap Rayganta acuh .
"Baiklah...." Asline meriah gelas itu dan meneguk susu hangat dengan irisan stroberi segar diatasnya.
Rayga melirik gelas susu itu dengan seringai samar.
"Oh ia...ini sudah terlalu malam untuk kembali,kalian menginap saja di vila kakek.Masih ada banyak kamar yang tersedia" Ferdinan menatap wajah cantik Asline dan sosok tampan yang terlihat acuh itu.
"Tap-" Asline tersentak bahkan ucapanya terhenti begitu melihat apa yang sudah dilakukan Rayga.
"Tu...tuan muda Wiguna,itu...itu gelas...." Asline tersentak kaget,wajahnya semakin merona lebih pekat.
Rayganta dengan santai meneguk susu hangat dimana setengahnya telah habis diminum oleh Asline sebelumnya.
Pria itu meneguk hingga tandas.
Tidak suka susu?...
Omong kosong!...
"Serigala mesum ini?!!..." Asline menatap wajah tampan itu dengan wajah shock .
"Apa? oh...gelas ini,aku berubah fikiran dan tiba-tiba ingin minum.....Susu..." Ucap Rayganta dengan seringai licik menatap kearah dada bulat Asline yang tertutup sweeter putih bulu.
Asline melotot,mengikuti arah tatapan pria arogan itu dan seketika bibirnya membulat dengan tatapan horor.
Menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan melotot tajam penuh peringatan pada sosok tampan yang kini justru terkekeh tanpa dosa.
"Predator mesum sialan!!" Batin Asline melirik canggung pasangan tua yang kini terdengar tertawa renyah.
" Asline... malam semakin larut,setelah makan bersihkan diri lalu cepat beristirahat,mengerti nak" Retha meraih serbet dan mengelap sudut bibirnya membersihkan mungkin saja ada remah makanan yang tertinggal.
"Baik nenek" Asline mengangguk patuh.
"Tuan muda...lantai dua vila ada banyak kamar kosong,pilihlah satu yang anda rasa cukup.Kami tinggal di lantai satu sedang Asline memiliki kamarnya sendiri dilantai dua juga" Ferdinan bangun setelah selesai dengan makananya.
Tuan Ferdinan melangkah pergi,Retha menuntun keduanya naik tangga ke lantai dua.
"Para maid akan kembali ke rumah belakang jika kami telah selesai makan malam,jadi sekarang tak ada pelayan yang tersisa selain Kevin yang kini mungkin bersiap pulang karena dia memiliki istri dan anak di desa" Retha menjelaskan.
Asline tersenyum begitu tiba di kamar kecilnya yang terlihat masih sama.
Rayga tersenyum ikut melihat kamar masa kecil gadisnya.
"Nenek dan kakek tidak rela mengganti furniture kamar kecilmu disini sayang...jadi semua masih sama" Retha tersenyum sendu melihat manik berkaca-kaca asline.
"Tidak nek...ini...ini tidak masalah" Gumam Asline bernostalgia.
Karena kamar ini,adalah kamar yang didekorasi oleh ibunya bersama Retha dulu,saat ia masih kecil.
Kamar dengan sentuhan ibunya,amrita.
"Baiklah selamat malam sayang....tuan muda Wiguna!" Retha berbalik setelah memberi kecupan selamat malam di kening asline dengan senyuman manis.
"Malam juga..nenek" Gumam Asline melihat Retha yang mulai turun kelantai satu.
"Kamar yang manis,seperti pemilik nya" Rayga mengusap pipi lembut yang terasa sembab itu.
Keduanya saling menatap dalam diam,penuh makna.
"Jangan menangis....selamat malam....Dear" Rayga berbalik menutup pintu pergi meninggalkan Asline dengan senyum penuh kenangan.
...🔱...
...TBC...
Buat sebuah cerita itu tidak mudah,jadi El harap kalau kalian merasa jenuh akan alurnya,bisa beri masukan saja tanpa harus banyak kata-kata negatife yang buat down.
El buat ini ditengah mencuri waktu senggang sehabis bekerja,jadi tolong ya guys.Berilah komen yang berisi saran jangan selalu memberi kritik yang bersifat memojokkan!.
Jangan silent rider...sudah baca langsung kabur....bijak dalam membaca karena mencari ide itu tidak mudah 🤦
__ADS_1
Maaf kalau el curhat🏃