Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
Tamu tak diundang


__ADS_3

...Vote, like dan komentar ya...



...🍃...


...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...🍃...


"Tu..tuan muda tenanglah..nyonya muda asline tidak terluka sama sekali...in-"


"KAU SUDAH BOSAN BEKERJA DI SINI HAH?!! BAGAIMANA BISA TIDAK TERLUKA?! KAU LIHAT DARAH ITU?! KURASA PAMAN DYAZEL SUDAH TERLALU TUA HINGGA TAK BISA MEREKRUT PEKERJA!!" Raungan kalap Rayga terdengar begitu mengerikan,bahkan kaca-kaca jendela bergetar akibat kerasnya intonasi suara pria berwajah tampan itu.


Maid wanita itu menunduk dengan tubuh menggigil,ini bukan salahnya bukan? lagipula salahkan saja mengapa tuan mudanya ini tidak tau apa yang sedang istrinya itu alami,lalu mengapa jadi dirinya yang seorang maid rendahan disalahkan?.


Dyasel menghela nafas berat.


Berjalan tenang dan kepala Butler paruh baya itu mulai menepuk bahu lebar tuan mudanya itu.


"Tuan muda..bisa dengarkan saya dulu?" Dyazel,berucap sabar.


Saat tempramen sedang bergejolak maka alangkah baiknya dihadapi dengan kepala dingin.


Asline sementara itu telah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut karena malu,sungguh dia ingin menghentikan kegilaan suaminya.Namun melihat wajah menahan tawa dibalik wajah-wajah ketakutan para maid yang kini berjajar di sudut kamarnya sudah cukup membuat asline rasanya ingin mati saja.


Andai dia bisa melakban mulut suaminya itu agar berhenti marah-marah dan membuatnya bertambah malu.


"APA?CEPAT BICARA ATAU AKU TIDAK AKAN MEMANDANGMU SEB-"


"Nyonya tengah datang bulan tuan muda..bukanya terluka!" Dyazel dengan senyum terpaksa memotong ucapan penuh amarah Rayga.


DUAAARRRR....


Mulut itu terkatup rapat,lurus sejalan dengan ekspresi wajahnya yang kosong.


Rayga...


Pria itu berdiri dengan perasaan campur aduk, terguncang.


Yah...


Jiwanya terguncang seketika oleh apa yang dikatakan sang Butler.


Kepalanya menoleh patah-patah kearah ranjang,dimana tubuh sang istri telah tenggelam sepenuhnya didalam selimut meninggalkan dirinya sendiri pada rasa malu dihadapan seluruh maid mansion itu.


"Khem....o..oh..ya..ya sudah bubar sana!" Ucap Rayga dengan wajah tanpa dosa,meski terbata-bata namun ekspresi wajahnya dengan cepat berbalik normal.


"Tu..tunggu!" Asline menyembul dari dalam selimut dan menghentikan langkah para maid.


"Ya Nyonya muda?" Sahut sang Butler sembari berbalik kembali menatap sang nyonya muda.


Asline dengan wajah memerah,menunjuk seorang maid yang terlihat seusia dengannya.


"Kau tetap disini dan bantu aku membersihkan diri...dan yang lain silahkan kembali ke vila" Asline berucap dengan senyum kikuk.


Semua telah keluar,menyisakan tiga orang didalam kamar mewah nan besar itu.


Rayga benar-benar merasakan rasa malu yang begitu besar untuk yang pertama kali dalam seumur hidupnya.


Dirinya fikir,ga*rah yang membakarnya tanpa sengaja telah membuat sang istri terluka hingga meneteskan darah,namun siapa yang menyangka bahwa itu hanya masa istimewa yang memang datang pada setiap perempuan?.


"Rayga kamu juga keluar sana!" ucap asline kesal,Rayga tersentak kaget kala suara ketus istrinya terdengar.


Pria itu menoleh kembali kearah ranjang,menaikan satu alisnya bingung.


"Kenapa lagi dear...aku disini saja ya.." Ucap Rayga melas,sungguh dia masih tak sanggup jika harus keluar dan menampakkan wajahnya kembali didepan para penjaga diluar sana.


"KELUAR!!!!!" akhirnya asline menjerit kesal dan rasa malu akibat ulah suaminya benar-benar berdampak mental!.


Rayga berlari terbirit-birit melihat sang istri sudah dalam mode senggol bacok!.


Blam...


Rayga menutup pintu kamarnya dengan tangan mengelus dada,sial ini sungguh mengerikan!.


Puft...


Rayga mengangkat wajahnya dan menatap tajam wajah-wajah menahan tawa para penjaga yang entah mereka sengaja atau tidak justru sibuk berlalu lalang didepan kamarnya.


"Sudah bosan hidup heh?!" Rayga dengan kesal berucap penuh intimidasi,aura dingin seketika menguar memenuhi seluruh lantai tiga.


Para penjaga itu menunduk ngeri, menggeleng ribut dan dengan penuh ketakutan mundur menjauh pergi.


"AKHHHHH!!!...... I'M GOING CRAZY!!!!!" pekik Rayga sembari mengusak rambut hitamnya putus asa.


..........🍃............


Hening.....


Kini meja makan mansion besar itu telah diisi penuh oleh seluruh keluarga besar Wiguna.


Semula rencana awal mereka akan kembali setelah makan siang,namun berita yang diberikan oleh Dyazel dipagi buta sukses membuat Anggi dengan ribut menyeret pulang seluruh keluarganya kembali ke mansion itu.


Wajah-wajah semua orang terlihat aneh,terutama sang kepala keluarga.

__ADS_1


Rafendra entah harus berkata apa,pria tua itu melirik cucu menantu juga cucu laki-lakinya dengan bibir berkedut.


Raino sibuk menunduk dengan bahu bergetar.


Raider dan sang ayah Rion saling melirik dengan wajah memerah menahan tawa.


Arkansas menghela nafas iba,memandang wajah jengkel putra sulungnya.


"Puft.....bwahahah....." Semua mata akhirnya terangkat dari piring mereka masing-masing,menatap sosok wanita paruh baya yang sudah tertawa keras dengan teh yang sukses menyembur kewajah Raino.


"Mami!!" Pekik Raino nelangsa, Victoria terkekeh dan mengelap wajah basah kekasihnya itu dengan senyum menahan tawa.


"Hahahaha..aduh...Rion tolong aku! hahaha..aku...aku tidak bisa mengendalikan tawaku!! hahaha" Kayra tanpa perduli wajah gelap putranya, Rayga.


Dirinya terus tertawa,bahkan Anggi sang ibu mertua sudah menggeleng dengan bahu ikut bergetar.


Rayga mengeram kala melihat sang ayah juga sang kakek terus mencuri pandang dengan tatapan aneh kepadanya,belum selesai kekesalan atas tawa ibu juga sang nenek.


"Honey stop ini masih pagi! perutmu bisa sakit jika tert... puft...tertawa ter-"


"Jangan drama papi! kalau mau ikut tertawa ya tertawa saja!" Ketus Rayga menatap Rion dengan manik berkilat jengah.


BWAHAHAHAHAHAH......


Dan yah,pada akhirnya mereka semua tertawa tanpa terkecuali.


Bahkan kakeknya yang berwajah datar untuk pertama kali bergitu lepas tertawa.


Arkansas bahkan sampai meneteskan air mata dengan suara mengelegar Raino dan Arshenio yang sudah terbatuk-batuk akibat tertawa.


Yah..


Mereka menertawakan dirinya!..


Rayga mengeram tertahan.


Grephh..


Tubuh tegap Zeus itu tersentak kala mendapat pelukan tiba-tiba dari sang istri.


Asline sendiri sudah mengubur dirinya dalam tubuh tegap suaminya.


"Rayga..aku malu!!! ini semua karena dirimu!! pokoknya semua karenamu! " Dengan suara bercicit asline mengomel kesal didalam dekapan hangat sang Zeus.


Rayga tersenyum pasrah.


"Ya sayang iya...ini salah aku bukan salah kamu" Jawab Rayga pasrah.


"Ya memang salahmu! coba kamu tidak teriak-teriak semalam mengumpulkan para maid?! pasti sekarang nenek,mami,Daddy,kakek dan semua orang tidak akan menertawakan kita! hiks..ini semua salahmu!!!!!!" Nah kan.


Hormon perempuan yang tengah kedatangan tamu memang tidak stabil.


Rayga meringis panik kala melihat sang istri mulai menangis.


"Diam!" Akhirnya Arkansas membuka suara menghentikan tawa seluruh anggota keluarganya,yah meski dirinya juga sempat tertawa tadi.


"Asline maaf sayang..kami semua tidak bermaksud menertawakan kalian berdua! oke sekarang mari selesaikan sarapan dan kita berkumpul di ruang keluarga!" Rafendra dengan penuh pengertian berucap sabar,yah iba juga dirinya melihat wajah malu cucu menantunya itu.Yah meski cucunya sendiri tidak tau malu!


Rayga malu hanya sesaat saja, selebihnya pria itu hanya merasa kesal.


Akhirnya semua kembali melanjutkan makan dengan asline yang tak mau jauh dari sang suami,dirinya malu hanya untuk sekedar menatap wajah-wajah geli seluruh keluarga besar suaminya itu.


Hingga..


"Maaf mengganggu sarapan Anda dan keluarga tuan besar...tapi didepan gerbang awal ada empat buah mobil dengan sebuah mobil Buggati hitam didepan memimpin..Morio kepala penjaga gerbang awal melapor bahwa mereka ingin bertemu tuan besar!" Dyazel menginterupsi acara sarapan pagi keluarga Wiguna itu.


Rafendra mengeryit tak senang.


"Arkansas siapa yang datang? apakah kau atau Rion tau siapa mereka?! bukankah Daddy sudah katakan! tidak boleh sembarang orang asing datang bertamu kemari?!!" Desis Rafendra tajam.


Rion melirik sang kakak.


Arkansas mengendik bahu acuh.


"Sepertinya tidak ada sangkut pautnya dengan kami dad! aku dan brother Kansas tidak merasa mengundang siapapun!" Ucap Rion santai.


"Boys?" Kayra melirik anak-anak lelakinya.


"Not Our Guest!!" Balas Raino karena tau pasti ketiga saudara lelakinya yang lain tak akan berbicara.


Rayga,raider dan Arshenio!.


Si triple es itu!...


Arkansas menatap dyazel dingin.


Butler itu mengangguk menunggu keputusan.


" Siapapun tamu itu..bawa ke sisi timur Mansion! kami akan datang setelah selesai sarapan,biarkan mereka menunggu!" Ucap Arkansas memutuskan.


Dyazel mengangguk dan pamit menjalankan tugasnya memberitahu kedua kepala gerbang masuk.


Sementara itu..


Victoria duduk dengan tubuh membeku.


Entah bagaimana rasa takut segera membanjiri hatinya!.


Grephh...


Gadis itu menoleh dan menatap kearah Raino yang melempar senyum teduh dan menggenggam tangannya.


" Kenapa? santai saja okey..." Victoria mengangguk akhirnya sedikit lega.


Senyum dan ucapan penenang Raino memanglah yang paling ia butuhkan.


Asline menatap intens pasangan itu,intuisi dalam dirinya berkata ada yang salah.


"Dear..kenapa melamun?" Rayga memutus tatapan asline pada pasangan Raino juga Victoria itu.


Menggeleng dan tersenyum lembut,asline kembali menyuap sarapannya dan sesekali akan memberi suapan juga pada suaminya itu.


Yah,tentu saja itu atas paksaan tidak tau mau sang Zeus yang tak perduli raut wajah jengah seluruh keluarganya.


"Kakak seperti bayi disuapi! archa saja makan sendiri!!!" Celetuk gadis remaja manis disamping arkansas itu,archana sungguh jengah melihat kelakuan absurd sang kakak.


Rayga menyeringai jahil,menatap sang adik dengan senyum mengejek.

__ADS_1


"kenapa? istri kakak juga..mau disuapi? sana minta sama Arshen atau Daddy!" ucap Zeus itu jahil.


Bibir archana melengkung kebawah,menatap asline dengan manik berkaca-kaca.


"Kakak cantik..lihat kak Rayga jahat sama archa!! jangan mau suapin kakak lagi kak..suruh kak Rayga tidur saja diluar!!" Archana berucap melas,mata bulat gadis itu penuh permohonan mengadu dengan dramatis.


Dan itu sukses membuat tawa kembali pecah akan tingkah manja putri manis mereka pada kakak iparnya itu.


Asline yang duduk di sisi kiri gadis itu mengusak rambut bercepol asal archana dengan gemas.


Sungguh,rasanya dia seperti memiliki adik perempuan yang manis.


"Setelah sarapan.. Kansas..Rion dan boys! kita temui tamu tak diundang itu hanya laki-laki dan perempuan tetap tinggal didalam!" Ucap Rafendra memutuskan.


........🍃.........


Sementara itu...


Dyazel berdiri dengan deretan para bodyguard didepan pintu masuk,dan tak lama sebuah mobil Bugatti dan satu buah mobil sedan BMW seri berwarna putih berhenti di depan pintu masuk.Memang hanya dua yang diizinkan masuk,sisanya harus menunggu di gerbang awal.


Wajah Dyazel terlihat terhias senyum dingin.


Kepala Butler itu merasakan dengan jelas aura tidak baik dari tamu tak diundang itu.


Dan tak lama,pintu dua mobil itu terbuka.


Dari Bugatti keluar sosok pria seusia sang tuan muda ketiga.


Raino..


Dan tak lama mobil kedua terlihat sepasang suami istri dengan senyum formal.


"Selamat datang dikediaman clan Wiguna tuan Alinston..." Dyazel maju dan tersenyum formal.


Siapa diranah hukum tidak mengetahui keluarga Alinston?.


Mereka adalah para petinggi badan intelijen CIA!.


Dan putra mereka,Devano Peter Alinston adalah kepala penanggung jawab CIA saat ini.


Peter Alinston,pria paruh baya itu tersenyum formal meski sama sekali tak melihat arti seorang pelayan dimatanya.


Namun pria ini adalah kepala pelayan dari clan Wiguna,dan dia tak bisa mencari masalah dengan itu.


Peter mengangguk formalitas.


"Senang anda mengenal saya...?"


"Saya Dyazel kepala Butler mansion ini..mari saya antar menemui tuan besar kami!" Dyazel yang tau maksud dari tamu tuan-nya itu segera menginterupsi membuka jalan.


Para penjaga mansion berjejer dengan wajah dingin dan tatapan waspada mereka bak sekumpulan chitah yang mengawasi pergerakan musuh.


Devano,pria dengan kemeja hitam yang mengikuti langkah kedua orang tuanya dibelakang mendengus dingin.


"Sekumpulan an*ing ini!!" Batin pria itu memandang rendah para penjaga terlatih clan Wiguna itu.


Keluarga Alinston dibawa memasuki lorong menuju mansion timur.



Patricia,istri dari Peter menatap seluruh penjuru disepanjang lorong dengan begitu intens.


Benar...


Siapa yang tak mengetahui seberapa kaya clan Wiguna itu?.


Lorong itu dilapis batu marmer disetiap tiang bahkan lantainya.


Sentuhan gaya clasik abad pertengahan sungguh terasa kala diujung lorong terlihat sebuah undukan tangga cukup tinggi setelahnya.



"Setelah menaiki tangga anda sekeluarga bisa memasuki sebuah ruangan untuk menunggu tuan kami datang" Dyazel berucap dengan nada begitu tenang.


"Apakah tuan-mu itu begitu senang membuat para tamu kesusahan hanya untuk sekedar bertemu?" Devano berucap sarkas.


Ingin sekali dia membunuh Butler itu,lihat saja wajah tanpa keramahan itu sudah membuat darah panas Devano mendidih.


"Jika anda tidak senang..jangan datang bertamu tuan muda...Lagipula tuan saya tidak mengundang anda dan keluarga kemari? jadi tolong..jangan protes pada saya!" Ucap Dyazel sarkas.


Peter menatap putranya dengan tajam.


Sungguh Dyazel bukanlah bawahan yang bisa tunduk seperti pelayan pada umumnya.


Dia adalah kepala seluruh pekerja di mansion ini,apa yang dia lakukan telah dibawahi oleh keputusan mutlak sang kepala clan itu sendiri.


Jadi..


Tidak ada satu manusia pun yang dirinya takuti selama sayap besar clan Wiguna itu mengayomi dirinya dan seluruh pekerja dibawah asuhanya.


Akhirnya perjalanan diisi keheningan.


Dyazel tak membiarkan orang lain memandang rendah dirinya.


Akhirnya ujung lorong setelah melewati anak tangga terlihat.


Mereka berdiri didepan pintu besar berwarna putih dengan pahatan kepala seekor elang dari ukiran kayu jati terbaik terletak diatas pintu.


Kriettttt..


Pintu terbuka oleh dua orang maid.


Dan terlihat sebuah ruang besar dengan nuansa biru lembut lengkap dengan set sofa mewah didalamnya.



"Silahkan menunggu sembari maid akan menghidangkan camilan dan minuman untuk anda sekeluarga..saya permisi!"


Dyazel berlalu.


Dan keluarga Alinston kembali memindai seluruh ruang tunggu itu dengan segala pemikiran mereka.


...🍃...


...TBC...


__ADS_1


__ADS_2