Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
That my broken memories


__ADS_3

...Vote,like dan komentar ya...



...🔱.....🔱...


...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...🔱.....🔱...


Ramai, Victoria berjalan dengan wajah datarnya dibelakang tiga orang gadis cantik yang sebentar lagi akan menjadi satu keluarga dengannya.Sementara disisinya ada raels yang berjalan dengan acuh tak acuh.


Dan satu lagi,seorang yang sudah ia anggap layaknya saudari kandung sendiri.


"Dengar ya Archa! no ice cream,no cookies and no dessert! jangan merengek pada kakak atau kakak yang harus menghadapi amukan ibu juga para kakak monstermu!" Raels berucap menatap tegas wajah polos adik iparnya itu.


Archana merengut,rencana berjalan dengan para calon kakak iparnya demi beberapa makanan manis gagal!.


Lalu untuk apa dia menyusun banyak rencana?.


Gadis manis putri Wiguna itu mengangguk pasrah.


"Dan Shura! kalau berani kabur dan sembunyi-sembunyi memakan makanan manis lagi,kakak gunting lidahmu!" Shura bergidik,anak laki-laki manis itu menatap wajah psikopat Aira juga victoria ngeri.


Mengapa kabur dari mulut harimau kini ia jatuh ke dalam kandang macan betina?!


Shura mengangguk lemas.


Victoria dan aira melirik puas.


"Nah..mari kita nikmati girl times! habiskan uang para monster itu!!" seru Raels heboh.


"Raels..kalau kamu lupa biar monster begitu juga kekasihmu..." Asline meledek puas menatap wajah merengut kesal raels.


Yah,kini semua telah terbongkar.


Hubungan mereka yang dijalin diam-diam diantara sahabat telah terbuka sempurna,dan yah.Saling mengerti dan memahami membuat persahabatan mereka terjalin semakin kokoh.


"Kalau itu jangan dibahas lagi Line! lagipula aku dipaksa..." gumam raels frustasi.


"Eh..tunggu,aku ingin ke toilet sebentar! kalian cari saja resto tempat kita makan siang" Raels berbalik meninggalkan sahabatnya yang menatap gadis itu geli.


"RAELS.. PERLU KUTEMANKAN?" Victoria berteriak tak perduli tatapan para pengunjung mall yang menatapnya aneh.


"NO...AKU SENDIRI SAJA!" balas raels yang tak kalah membuat para sahabatnya menggeleng miris.


Saat hendak berbalik mengikuti asline dan yang lainya.


Victoria terdiam,maniknya berkilat dingin.


"Apa itu tadi?" Victoria melihat,melihat sekilas saat seorang wanita berbelok dan nampak mengikuti sahabatnya.


"Ria....what happened? something wrong?" Asline menyentak keterdiaman Victoria yang tenggelam dalam fikiranya.


Rupanya asline kembali kala menyadari Victoria tak mengikuti.


Tersadar.


Menatap wajah cemas asline dengan senyum simpul.


"No..aku merasa sedikit lelah saja" Asline memicing tajam, kebohongan yang buruk.


"Kamu yakin? " asline bertanya serius.


Menyentuh pundak Victoria yang sedikit lebih tinggi darinya.


"Hm..sebaiknya kita susul Rubi dan yang lain,aku sudah merasa lapar.." Victoria berdalih.


Asline mengangguk pasrah tak baik juga dirinya memaksa victoria bicara.


Mereka belumlah sedekat itu.


........🌠........


Raels membasuh kedua tangannya,merapikan sedikit rambutnya yang terlihat berantakan.


"Bit*h....." Seorang wanita nampak berdiri disampingnya,berucap sarkas.


Raels mematikan kran wastafel,meniti wajah wanita itu dari cermin sisinya.


"Yatim piatu tidak tau diri! dasar murahan!!" Wanita itu kini menoleh,bersidekap dada dan menatap raels merendahkan.


"Murahan? kau sedang membicarakan dirimu sendiri nona? Miss Teresa!" Raels tau wanita ini,dia sering melihatnya kala mengantarkan dokumen ke WJC.


Wanita yang selalu menatapnya tajam dibalik senyum paksa formalitasnya.


Teresa mengepalkan kedua tangannya erat.


Wushhhh..


Grephhh..


Manik wanita itu berkilat saat tamparannya tidak berhasil dan kini lengannya dicengkeram erat oleh Raels.


Perempuan yang begitu ia benci dan pandang hina!.


"Don't you dare!!" Kecam Raels dengan wajah acuh tak acuh.


Meski dia yatim piatu, kehidupan keras telah membuatnya belajar agar tidak menunduk terhadap orang yang tidak bisa menghargai orang lain.


"Hahaha..kau hanya perempuan bayaran sementara Mr raider....setelah bosan kau akan dicampakkan seperti mereka! jangan terlalu tinggi memandang diri dasar miskin!" Teresa menyerigai begitu melihat perubahan ekspresi wajah raels.


Ada pukulan telak dimatanya!.


Teresa terkekeh licik.

__ADS_1


Raels menghembuskan nafas panjang,menatap wajah penuh kemenangan Teresa dengan senyum simpul.


"Murahan? bukankah aku sangat beruntung dengan perhatian tuan muda Raider? lihat....aku bahkan telah merasakan memakai cincin Rubi seharga 80 juta dollar..." Raels menaikan cincin yang kini tersemat dijarinya.


Cincin hadiah resmi hubunganya bersama raider di pulau pribadi dulu.


Wajah puas Teresa pecah!.


Giginya bergemeretuk menahan amarah,wajahnya memerah penuh dendam.


"TIDAK TAU DIRI! KAU HANYA GADIS MATRE YANG DIBAYAR UNTUK PERMAINAN RAIDER... JANGAN SOMBONG!!" amuk Teresa benci.


Menyentak cengkraman raels dan mulai menormalkan deru nafasnya yang memburu.


"Permainan? bukankah sahabatku begitu beruntung hanya dengan sebuah permainan dia mendapat sebuah cincin yang bahkan seharga setahun penuh gaji serta bonus kerjamu? bahkan mungkin harga nyawamu tak sepadan dengan cincin itu!" Teresa berbalik,mendapati dua orang gadis yang begitu ia kenal berdiri di depan pintu dengan satu bersandar malas didaun pintu yang telah tertutup dan satu lagi berdiri bersidekap dada menatap dingin dirinya.


"Jaga bicaramu Miss Gradian! ini bukan urusanmu!" Teresa berusaha tersenyum,meski wajahnya terlihat begitu mengerikan dimata kedua gadis cantik itu.


Asline dan Victoria.


Yah,keduanya memutuskan menyusul kala merasa raels terlalu lama berada di toilet mall.


Dan inilah yang mereka dapatkan.


"Jangan coba merusak hubungan sahabat kami!" Desis Victoria tajam.


Teresa tersenyum simpul.


"Aku? merusak hubungan sahabat kalian? hahah..hubungan apa? sahabat kalian itu pasti hanya boneka baru Mr raider! asal kalian tau...wanita yang dekat dengan Mr raider dulu begitu banyak dan juga berasal dari kalangan atas! sedangkan sahabat kalian? siapa dia? hanya jal*ng tidak tau diri!"Teresa begitu melambung tinggi,melihat wajah raels yang terlihat begitu menyedihkan.


Luka itu,dia berhasil menorehkanya di hati gadis yatim piatu itu.


Meski tenang,raels tidak dapat menyembunyikan.


Dia cukup terluka atas semua fakta ini.


Apa ia pantas?.


Untuk sesaat,atas semua kehangatan juga ketulusan yang diberikan sosok Raider.Dia lupa,lupa siapa dirinya yang pada kenyataannya tidak pantas berdiri disisi sang tuan muda!.


"JAGA MULUT KOTORMU ITU!!" Victoria meraung,berdiri tegak hendak memberi pelajaran hingga.


"Tenang Victoria... Raels...jangan dengarkan dia!" Asline berucap dengan wajah dingin.


Asline sudah basi dengan karakter wanita seperti Teresa.


Wanita yang buta akan cinta kala cinta itu bahkan tak pernah meliriknya.


Hingga bodoh menjadi gambaran pada akhirnya.


Mendekat dengan aura mencekam,Teresa meneguk salivanya gugup.


"Kau mengatakan sahabatku murahan? tapi sadarkah kau? kaulah yang tidak punya harga diri! jangan kira aku tidak tau bagaimana rumor tentang dirimu di perusahaan calon suamiku! kau adalah wanita cantik yang sayangnya dipandang layaknya sampah oleh raider yang lebih memilih sahabatku! masih bagus kau mengatakan sahabatku murahan...tapi kau....." asline menunjuk dada Teresa dengan senyum remeh,memandang seluruh tubuh Teresa dari atas kebawah dengan sorot memghina.


"Sahabatku murahan tapi kau...tidak punya harga diri!!" Asline menyerigai dingin.


"Asline...dia itu ja*ang yang teriak ja*ang! memangnya harga dirinya berapa?" Victoria tersenyum provokasi.


Sudah cukup!.


"AKAN KUPASTIKAN TUAN MUDA RAIDER PADA AKHIRNYA AKAN MEMBUANGMU SEPERTI MAINANNYA YANG LAIN!" Teresa meraung keras,harga dirinya terinjak-injak oleh ucapan kedua gadis calon istri clan Wiguna itu.


"Hahaha.. lihat ja*angnya marah! " Victoria terkekeh dingin.


Raels diam,membiarkan kedua sahabatnya berbicara.


Hatinya sakit...


Dia pada akhirnya akan dibuang juga?.


"Aku..menantikan jika raider punya keberanian memyakiti sahabatku! Sudahlah..wanita penikmat dunia malam seperti dirimu jangan menyombongkan diri dihadapan kami!" Asline berucap jenaka.


"BRENG*EK!!!!! JANGAN MEMANDANG TINGGI DIRIMU HANYA KARENA KAU ADALAH CALON ISTRI CEO KAMI!!" Teresa sudah tak kuat lagi menahan amarahnya.


Mulut mereka,terutama asline sangat berbisa.


Victoria juga Raels tersentak begitu asline terdorong keras hingga mundur kebelakang oleh amukan Teresa.


"Beraninya kau!!" Asline berlari geram.


Bughhh..


Prankkkk...


"Wow...my bestie so cool!!" Victoria heboh sendiri,hilang sudah sifat agent-nya.


Asline menendang perut Teresa hingga tubuh wanita itu terhempas menghantam cermin toilet.


"BEDEBAH!! JAL*NG SIALAN!!!" Teresa maju,menarik rambut panjang asline dengan brutal.


Manik Raels melotot horor.


"Lepaskan tanganmu dari asline!!" raels menarik tubuh Teresa gusar.


Bughhh...


"RAELS....." Victoria tersentak kala siku Teresa menghantam hidung raels hingga mengeluarkan darah.


Wajah cantik asline memerah, emosi.


Grephhh..


Duakhhh..


"Akhh... perempuan gila!!!" Raungan kesakitan Teresa terdengar kala asline menghantamkan wajahnya dilantai.


Teresa meraih tasnya,mengambil sebuah belati dari sana.


Yah,belati yang akan digunakan pada awalnya untuk membunuh raels dan menyuruh seseorang membuang mayatnya nanti setelah rencana awalnya berhasil.


Namun semua gagal akibat kedatangan dua orang gadis ini!.


Asline juga victoria.


Entah kemana dua orang pria yang dirinya suruh berjaga di lorong pintu masuk toilet umum mall.


Sretthhh..


Sekali dorongan tubuh,Teresa berhasil menyeret ujung belati hingga gelang cantik peninggalan sang ibu asline,Amritha putus!.


Gelang yang putus disertai tetesan darah dari luka ditangan asline.


"MATI SAJA KAU JA*ANG!!" Teresa tertawa gila.


Degggg..


Raels menatap gelang yang kini tergeletak dilantai dengan pupil bergetar.

__ADS_1


Raels tau seberapa berharga gelang emas putih itu..


Gelang yang merupakan milik mendiang Amritha,perhiasan yang kini berada di tangan asline putrinya.


Dan kini benda bersejarah itu telah rusak.


Asline...


Gadis itu terdiam memandang kosong harta milik ibunya.


Gelang yang Santanu berikan pada Amritha kala peringatan pernikahan mereka yang ke lima saat asline kecil dulu.


Manik indah grey itu ditutupi badai.


Asline melepas ikat pinggangnya.


"Aku paling benci jika seseorang melukai kenangan masa laluku! dan kau sudah membuat ibuku menangis!!"


Ctasss....


"AKHHH....GILA...KAU GILA!!" Victoria menarik Raels,menghubungi Rayga cepat kala situasi mulai tak terkendali.


Asline...


Gadis yang biasanya tenang acuh tak acuh pada orang asing kini,dia seperti lepas kendali diri!.


"Menjauh.... psikopat!!" Teresa mengigil,langkah asline terdengar seperti melodi kematian.


"Beraninya kau...." Asline menyentak tangan Teresa yang mengacungkan belati padanya dengan kejam.


Klanggg..


Belati itu jatuh dengan raungan keras Teresa.


Degggg..


Grephhh..


"AKHH.. LEPAS...MAU APA KAU?!!" Teresa mengigil,teriakannya tak membuat asline Iba.


Gadis cantik berdarah Rusia mendorong tubuh Teresa memepet lantai,mengikat kedua tangannya dengan ikat pinggang fleksibel.


Berdiri...


meraih belati yang sudah terlempar itu.


"Asline..sadar....." Raels mengigit bibir bawahnya gusar,manik Asline terlihat begitu haus darah.


Sretthhh...


"AKHHHHHH....KAU...BEDEBAH...BERANINYA KAU MELUKAI WAJAHKU...WAJAHKU......" Teresa menangis keras kala ujung belati miliknya kini melukai wajahnya sendiri.


Asline menyayat wajah Teresa dari sudut bibir hingga mengenai telinga!.


Darahnya mengalir deras mengotori pakaian serta tangan putri Santanu itu.


"Perlu kau tau Teresa....aku bukanlah gadis yang akan diam melihat manusia tidak tau diri seperti dirimu! " Ucap asline dingin.


Dia telah hidup dengan kenangan akan kematian keluarganya,dalam kejahatan akan ketamakan dan iri hati!.


Dan Teresa sudah memancing kesabarannya,merusak benda kenangan kedua orang tuanya!.


"MATI KAU!!" asline berteriak murka.


Grephhh


Degggg..


"Dear....tenang sayang.....tarik nafas dan tenang"


Tubuh Asline melemas,pelukan hangat menyerang hatinya yang tengah terselimuti kabut es.


Rayganta.


Pria dengan mantel hitam itu memeluk tubuh gemetar calon istrinya dengan sakit hati.


Menatap dingin sosok yang terbaring dengan luka mengangga diwajah.


"No..urus wanita itu!" Titah Rayga,wajahnya begitu dingin dengan lapisan es yang begitu membekukan.


Raino melirik kekasihnya sekilas dan mulai memberi kode pada anggotanya.


" Menangislah sayang...menangis tidak membuatmu lemah!" Rayga benar-benar merasa hatinya dihantam ombak kala tubuh rapuh itu gemetar dalam pelukannya.


"Hiks..... dia...dia membuat ibuku menangis Rayga....hiks...lihat...gelangnya putus....ibuku pasti menangis melihat hadiah dari ayahku telah rusak ditanganku! aku hiks..aku bahkan tidak bisa menjaganya!" Pecah sudah tangis pilu asline.


Rubi,Aira, Raels dan Victoria.


Keempat gadis itu menunduk sendu,terlebih raels.


Archana dan Shura sudah dibawa pergi oleh Cristian.


Adiknya tidak boleh melihat kekerasan, terkecuali jika itu adalah alter Archara.


"Stttt..kita pulang ya sayang..gelangnya akan kukembalikan utuh,aku janji!" Rayga membujuk lembut,mengangkat tubuh lemas asline ala bridal.Melirik Rubi yang paham dan langsung mengambil gelang malang yang sudah putus itu, menyimpan benda itu sebelum memberikanya untuk diperbaiki oleh Rayga.


Maniknya menatap lengan aslien yang terluka meski hanya sebuah goresan.


Untung saja gelang itu menjadi penghalang ujung belati itu agar tidak langsung mengenai kulit calon istrinya.


"No...bawa wanita sialan itu ke gerbang timur!" desis Rayga bengis.


Raino mengangguk dan berlalu dalam diam membawa Victoria dan para sahabat gadisnya itu kembali.


Asline terdiam, menenggelamkan wajahnya yang basah di dada bidang beraroma hutan pinus segar itu.


Menangis dalam diam.


..........🔱..........


Archana menghela nafas panjang,rencana jalan-jalan dengan para calon kakak iparnya gagal entah mengapa?.


Sementara Shura telah tertidur pulas di bangku belakang.


"Kak cris....Archa ingin ke kebun buah milik papa Axel saja,Archana mau memetik anggur saja" Archana menatap wajah kalem kakak angkatnya itu.


"Tapi dek...Daddy sudah menyuruh kakak membawa Archa pulang! nenek Veleri sudah buat cup cake,nanti dihabiskan shura kalau kita tidak cepat!" Cristian menakuti,namun Archana terlihat menggeleng tidak takut.


"Tidak kak..Archa mau ke kebun anggur papa Axel! " Kekeh Archana mutlak.


Cristian menghela nafas panjang.


"Baiklah nanti kakak beritahu Daddy!" Cristian pasrah,memutar stir mobilnya berlawanan arah dari Mansion.


Semoga saja papa mereka Axel ada disana!.


Tidak tau saja apa yang akan menanti kedepan!.

__ADS_1


...🌠...


...TBC...


__ADS_2