Queen Of Zeus

Queen Of Zeus
Talk with funny


__ADS_3

...Vote,like dan coment ya 🌹...


...🍷 Happy reading 🍷...



"Senang ya...cella dapat bayi kembar...yah,meski laki-laki keduanya!"


"Rubi juga! Sungguh tidak disangka Ryu lancar ya....baru menikah sudah jalan sebulan saja baby-nya!"


"Belum lagi Diego! istrinya,Deliana diam-diam sudah mau meluncur! mana pake rahasia lagi jenis kelamin bayinya!"


"Ughhh..Aira ini pasti lebih senang! sebentar lagi dia kan sudah jadi ibu muda!"


"Hahahaha... bagaimana Line? sebentar lagi raels dan Victoria akan menikah dengan si kembar! end then...the new baby will coming soon!"


Asline mengusap wajahnya yang tanpa sadar telah basah oleh air mata.


Ingatan suasana saat mereka berbincang sebelum kembali dari acara Aira saat itu kembali terngiang.


Rayga masuk setelah selesai membersihkan diri.


Pria bertubuh atletis itu berdiri getir menatap istrinya yang duduk ditepi ranjang sembari menangis samar.


"Kenapa hm?" Rayga duduk disisi istrinya dan mengusap pipi basah itu dengan lembut.


Asline menerjang dan memeluk erat tubuh kokoh itu dengan tangis pilu.


"Aku.....hiks..aku juga ingin jadi seorang ibu, hubby....sudah setahun lebih kita menikah dan aku tak pernah sekalipun merasakan bisa mengelus perut yang membuncit karena ada bayi didalam sana...hiks...kenapa aku tak bisa seperti sahabat-sahabat ku?! " Rayga menatap wajah sedih itu dengan bungkam,bibirnya terasa kelu untuk bersuara dan hatinya remuk begitu suara hati istrinya yang selama ini selalu tersenyum bahagia ternyata menyimpan semua kesedihan itu sendiri!.


"Aku ingin memberimu hadiah seorang bayi kecil sebagai pelengkap pernikahan kita! tapi aku tidak tau... ada-apa dengan diriku hubby? mengapa sampai kini aku belum bisa mengandung seorang bayi? bayi-bayi kecil yang lucu dengan suara tawa mereka memenuhi seisi manor....bukankah itu akan terlihat lebih indah?" Ujar Asline dengan senyum getir.


Rayga bisa membayangkan,diantara perbincangan mengenai kehamilan.


Istrinya,Rayga bisa membayangkan seberapa hancur hati istrinya itu.


Rayga terdiam hanya mampu mengelus rambut panjang itu dengan senyum teduh.


Andai dirinya bisa berkata.


Dirinya bisa menunggu kedatangan bayi anugrah tuhan itu kapan saja,selama pernikahan mereka bahagia dan harmonis tuhan pasti akan memberi mereka anugerah itu nanti.


Yah,andai.


Tapi Rayga tak ingin membuat hati asline semakin sedih pada akhirnya.


"Apa kamu tidak muak pada istri seperti ku?" Asline mendongak,menatap wajah tampan itu nanar.


Rayga menghela nafas,istrinya terlalu banyak berfikir.


"Kenapa bicara begitu? meski pada akhirnya, bahkan jika Tuhan memberi kita anak saat kita menua nanti,aku tidak akan meninggalkan dirimu dear....aku tidak terlalu perduli anak-anak itu datang cepat atau lambat! yang harus kamu perhatikan hanya jatah ranjang ku... mengerti?" Rayga mengusir kesedihan itu dengan sedikit senyum jahil.


Asline mendelik kesal,wajah sedih itu seketika hancur berganti wajah jengkel.


Sungguh,volume otak seorang Rayganta ini benar-benar tidak normal! bayangkan saja jika ini terjadi dalam pembicaraan suami istri lain?.


"Dengar dear...coba kamu fikir....wanita akan mengandung selama 9 bukan lebih beberapa hari.Saat trimester pertama adalah waktu genting para suami dimana mereka dilarang menyentuh istri mereka saat usia kandungan masih muda! lalu trimester kedua..suami boleh meminta jatah, tapi dokter akan memperingatkan agar tidak terlalu keras,kamu tau aku suka tipe gaya kamasutra?" asline melongo,menatap wajah tampan yang nampak santai dengan kalimat frontalnya itu, dengan wajah asline seketika memanas.


Rayga menatap istrinya kembali bersuara.


"Dan yang paling parahnya... trimester ketiga saat pembukaan persiapan kelahiran! aku bahkan tidak akan boleh menyentuhmu! bayangkan betapa nestapanya aku! Seperti melihat fatamorgana tapi aku bahkan tak bisa menyentuhnya?! Dear...aku bisa mati kering tanpa des*han mu diantas ranjang! belum lagi saat setan-setan kecil itu lahir nanti! mereka akan menangis sepanjang malam....membuatmu selalu memperhatikan mereka tanpa mau mengurus aku! Yah....kalau itu bayi perempuan yang manis dan menggemaskan tentu tidak apa! tapi kalau yang lahir bayi laki-laki? ...aku tak akan berfikir sebelum menyerahkan bayi itu pada Daddy! biarkan saja duda tua itu yang mengurusnya! aku tidak punya minat pada anak laki-laki yang nakal..." Rayga berucap sembari tersenyum tanpa dosa.


"Duda tua? itu ayahmu! anak setan?! itu juga akan jadi anakmu hubby!!! " Asline menjerit jengkel,gemas dan frustasi.


Rayga menatap manik asline lamat,manik mereka bertemu dalam sorot berbeda.


"Kamu lihat wajahku dear...ini wajah yang dimasa muda sudah kenyang mengurus saudara laki-laki! mereka liar...pemberontak dan juga pembuat masalah! tidak ada manis-manisnya!" Rayga berucap dramatis.


Asline menatap wajah drama itu maniknya berkedut menahan emosi.


"Satu lagi....anak laki-laki itu seperti anak monyet! mereka agresif,liar dan tidak manis!kalau kamu sangat ingin menimang bayi...tunggu saja salah satu dari istri ryu,alarik, Diego atau Dixon itu yang lahir,lalu aku akan merebut bayi mereka untuk menjadi bayimu! bagaimana mudah bukan? buat apa susah-susah menunggu bayi kita saat bayi lainnya ada?" Rayga berucap dengan wajah yang begitu polos.


Tak berdosa!


"Dan lagi...aku hanya menanti anak perempuan yang manis seperti dirimu...untuk anak laki-laki.....aku tak berminat!"


PLAKKKK.....!


Rayga yang selesai berucap menyampaikan pendapatnya tercengang.


"Dear...kenapa bibirku kamu pukul?" Rayga bertanya dengan wajah bodoh.

__ADS_1


"Masih untung hanya bibirmu yang aku pukul! semakin lama kamu itu berbicara asal letup saja! bersyukurlah aku tidak menjahit mulut laknat ini!!" Seru asline sembari menarik pipi tirus suaminya itu.


Rayga terkekeh dan meraih telapak tangan istrinya,mengecup tangan kurang ajar yang sudah memukul bibirnya.


Sungguh,jika itu orang lain sudah pasti tangan itu akan putus!.


Tapi ini istrinya,pasrah sajalah!.


"Kenapa marah coba? aku benar tau amour...lebih enak buat anak dari pada menjaga anak! kita buat tidak masalah kapan jadinya..lalu kalau yang lahir jantan buang saja pada Daddy... kalau yang lahir betina nah..itu baru anakku..." Ucapan laknat Rayga semakin melantur.


Hidung asline kembang-kempis dengan gigi bergemeratuk tajam.


"KAMU BEDEBAH TIDAK TAU MALU BIG BRO!! BERANINYA KAU INGIN MEREBUT BAYI KAMI!! SAUDARI IPAR CERAIKAN SAJA DIA!!!"


"ENAK SAJA MAIN REBUT BAYI KAMI...TIDAK TAU APA BUATNYA ITU SUSAH! DARI MALAM SAMPAI FAJAR!"


"BENAR...DIA BERKATA SEENAK JIDAT! CERAIKAN SAJA DIA ASLINE...."


Tak lama,kedua pasangan yang tengah ribut soal bayi itu dikagetkan oleh suara raungan protes dari sebuah speaker di sudut atas kamar.


Itu suara alarik,Ryuga juga Diego.


Ketiganya rupanya tak sengaja melihat dan mendengar percakapan mereka lewat cctv perekam yang iseng dipasang oleh alarik saat masih single dulu,siapa yang tau benda itu ternyata berguna .


"Kalian harusnya bersyukur...buat saja lagi untuk apa repot?! sudah bagus aku mau mengizinkan istriku merawat bayi kalian!" Rayga mendengar menatap cctv sinis.


Dan ketiga pria di ruang kontrol itu hanya bisa mengelus dada sabar menahan emosi.


"Dan...cepat matikan cctv itu! apa kalian mau menonton tutorial membuat bayi?! " Dan akhirnya raungan jengkel Rayga yang merasa terganggu atas ketiga atensi saudaranya itu memaki.


Lampu merah kedip cctv itu akhirnya mati,Rayga mendengus dan kembali menatap istrinya lamat.


"Dear...sudah dengarkan?" Rayga menarik turunkan alisnya jenaka.


Asline mendelik sinis dan bangkit dari ranjang tanpa menghiraukan wajah tak terima Rayga yang merasa ditinggalkan.


"Dear......" Ikut bangkit mengejar langkah istrinya.


"Apa?!" Balas Asline kesal.


Rayga terkekeh geli,menarik tubuh itu menghadapnya lagi.


"MIMPI!" Asline berjalan cepat meninggalkan Rayga yang tercengang namun tak lama tawa renyah pria itu menguar.


"Mimpi apa? Lihat saja akan aku buktikan! malam ini kamu akan menangis memohon ampun dear...." Rayga menyerigai dengan lidah yang menarik didalam rongga mulutnya.


Sungguh membayangkan kucing liar itu menjerit,memohon dengan air mata dan pakaian berantakan dibawah tubuhnya sungguh adalah pemandangan bak surga dunia!.


"Damn it! Why you up?!!" Rayga menatap kebawah, pusakanya berdiri tegak menantang menanti kepuasan.


Menarik nafas dalam-dalam.


"Sabar.....masih beberapa jam lagi...terpaksa main sabun.." Rayga menghela nafas frustasi.


...........


Sementara disisi Keluarga Sebasta.


Sera tersenyum haru, akhirnya apa yang ia impikan selama ini terjadi.


Bukan wajah acuh,namun senyum hangat ayah juga ketiga kakaknya.


"Makan ini sayang....papa harap kamu tidak keberatan akan rasanya nanti..papa masak sendiri.."Ricky menggaruk tengkuknya canggung melihat Sera menatapnya tak berkedip.


Sungguh dibalik kenakalan remaja putrinya,ada wajah yang begitu menggemaskan disana.


Pantas saja jendral gila itu bisa jatuh cinta pada putrinya,kemana saja dirinya selama ini hingga tak menyadari pesona anak gadisnya ini?!.


"Papa...enak...enak sekali....besok masak lagi buat Sera ya pa..." Sera dengan manik memanas mulai menyendok masakan sang ayah .


"Memang enak sekali ya dek? entah mengapa kakak malah merasa merinding melihat bentukan nasi goreng papa.." Rimba berucap tanpa sensor.


Ricky mendengus.


Putra sulungnya ini benar-benar minta di buang!.


Sera mengangkat wajahnya dari acara makannya.


Tersenyum dan berkata dengan senyum manis.


"Coba kakak makan..enak sekali.....coba saja!" Sera berucap dengan manik bergetar.

__ADS_1


Rimba,ares dan Alger segera menunduk dan dalam keraguan mulai memasukan sesendok nasi goreng hitam itu ke dalam mulut mereka.


Satu kunyahan.


Manik rimba melotot dengan ares yang segera menyemburkan nasi goreng rasa laut itu ke wajah Alger.


"ASIN!!!!!!" seru ketiga pria dewasa itu ngeri.


Ricky segera meraih nasi goreng putrinya dan memakannya.


Pria paruh baya itu menatap putrinya tidak percaya.


Anak gadisnya makan makanan asin itu dengan lahap,air mata menetes tanpa sadar.


"Sudah sayang...jangan dimakan ini terlalu asin sini biar papa ganti yang baru..." Ricky menghapus air matanya dengan senyum teduh berusaha meraih piring putrinya.


Rimba dan ketiga saudaranya menatap interaksi ayah juga adik perempuan mereka dengan sendu.


"Tidak asin pa...Sera rasa makanan ini enak sekali...ini...makanan pertama yang papa buat untuk Sera....sejak umur Sera 7 tahun...mama tidak pernah masak lagi di rumah...Sera lelah makan makanan cepat saji terus...jadi...masakan ini tidak apa-apa" Sera tersenyum lebar,rimba menunduk mengigit bibir bawahnya getir.


Alger menghela nafas dan ares mendongak menghalau air mata yang memaksa jatuh.


"Maafkan papa ya sayang...mulai sekarang papa akan selalu pulang dan masak buat Sera...papa janji,tanpa mama Sera akan selalu dikelilingi kasih sayang lagi seperti saat kecil dulu! papa dan ketiga kakak Sera akan janjikan itu!" Ricky mengelus kepala Sera dengan senyum teduh.


Sera mengangguk antusias.


Ini saja sudah cukup.


Sera tak akan meminta lebih,cukup perhatian ayah juga para kakaknya.


Hingga..


"Ohhh..enak ya...Aubrie di rumah sakit dan harus operasi demi menutupi luka wajahnya kalian justru main drama keluarga bahagia disini?! Ricky! Aubrie itu putri kita mengapa tidak satupun dari kalian datang menjenguknya?! dan kamu Sera! dasar pembawa petaka kamu! putri saya harus menjalani delapan jahitan diwajahnya karena kamu! bagaimana jika Mikhael meninggalkan Aubrie?! " Carol datang sembari memapah Aubrie yang wajahnya tertutup perban sebagian.


Sera yang hendak bangkit dan kembali ke kamarnya demi menghindari ibunya itu urung saat tangan sang ayah menahannya.


"Mau kemana sayang? kamu belum makan cukup,duduk dan jangan hiraukan mereka!" Ucap Ricky tegas.


Sera melirik ekspresi tenggelam ibunya,lalu mengangguk kaku.


"Sebaiknya mama pergi dan bawa putri mama itu kekamar ya atau bukan hanya wajah tapi aku juga akan merobek wajahnya!" Alger berucap jengah.


Ancaman Jendral muda itu masih terngiang jelas.


Bukan hanya karena ancaman,tapi Alger sadar itu memang kesalahan mereka,dan itu harus segera diperbaiki.


Melihat sikap suami dan ketiga putranya,Carol meradang begitu murka.


Namun elusan di lengan kirinya membuatnya sadar.


Aubrie tersenyum lembut.


"Mama jangan marah..mungkin kakak dan papa masih takut terhadap ancaman Jendral arshenio.Ma...aubrie sama mama saja tidak apa -apa,sekarang tolong bawa Aubrie ke kamar saja ma,Aubrie ingin tidur lelah sekali...." Carol mengangguk dan mengusap wajah polos berbalut perban itu dengan senyum nanar.


"Maafkan papa juga kakakmu ya sayang...mama akan bicara pada mereka lagi nanti,sekarang kamu tidur nanti malam mama bangunan untuk makan,mama akan masak sendiri makanan favoritmu!" Carol berucap penuh kasih.


Sera tertunduk,seakan acuh namun telinganya mendengar semua bagaimana kasih ibunya pada putri angkatnya itu!.


"Biarkan mama masak untuk wanita itu...kak Alger yang akan masak buat Sera! Sera masih suka udang asam manis kan? seperti kita kecil dulu?" Alger bertanya hati-hati.


Sera tersenyum lalu menggeleng lembut.


"Sera tidak suka udang lagi kak.... sebenarnya Sera alergi udang,tapi karena mama suka masak itu jadi Sera makan saja,Sera dulu takut mama kecewa jika Sera pilih-pilih makanan..."


Deggg..


Carol berdiri mematung.


Alergi? bukankah Sera saat kecil dulu makan lahap dengan udang saat dirinya masih punya waktu dulu memasak untuk Keluarganya?.


Sera....


Carol menatap putri kandungnya itu dalam kebungkaman.


"Saudari Sera mengapa bicara seperti itu sekarang? itu sudah lama sekali kalau alergi itu baru dikatakan sekarang! apa saudari ingin membuat mama merasa buruk sebagai ibu? tega sekali..." Aubrie menggeleng lemah.


Carol kembali ditarik masuk oleh perhatian palsu Aubrie.


Wanita paruh baya itu kembali menatap Sera penuh kebencian.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2