
"Wah baguslah jika begitu," jawab Syafiq mengacungkan jempol.
"Ya udah, ini sudah hampir malam, hm... aku tidur di rumahmu yah, aku juga udah janjian Sama kak Glinda dan kemungkinan besar kamu jangan kaget," ujar Jelita tersenyum misterius.
"Apaan?" tanya Syafiq penasaran.
"Kami berencana pindah ke rumahmu," jawab Jelita tersenyum.
"Aaapppaaaaa!!!" teriak Syafiq terkejut.
"Aku juga akan pindah ke sana, rasakan sangat menyenangkan jika punya sahabat," ucap Jelita.
"Apa selama ini kamu nggak punya sahabat?" tanya Syafiq.
"Dulunya aku punya seorang teman yang kuanggap sahabat, dia bekerja sebagai sekretarisku karena aku sangat percaya dengannya, tapi siapa yang tau, lain lubuk lain ikannya, lain orang lain juga hatinya meskipun rambut sama hitamnya, dia malah mengambil data rahasiaku untuk ia berikan pada mantan pacarku, untungnya salah satu satpam merekamnya sehingga kami punya bukti, mengingat dia dulu pernah menolongku jadi aku melepaskannya dan tidak ingin berteman dengannya lagi, maka dari itu, mereka berdua berusaha untuk membunuhku," ucapnya.
"Jadi di mana dia sekarang? Kau tidak membawa pengawal bagaimana dengan nyawamu, kau pasti akan di incar terus," ucap Syafiq.
__ADS_1
"Saat ini aku dapat kabar jika dia di rumah sakit dan kau ingatkan saat kau menolongku sampai mobilmu penyok, yang mengendarai adalah dia, aku ingat tanda mobilnya meskipun mobilnya berganti kap atau berganti plat mobil," ucap Jelita.
"Oh begitu rupanya, lalu di mana sahabatmu itu?" tanya Syafiq lagi.
"Mungkin dia sedang mengurus kekasihnya itu, jadi untuk sementara waktu aku masih aman sebelum aku mendapatkan pengawal sepertimu," ucap Jelita tersenyum.
"Kenapa harus sepertiku, masih banyak orang yang lebih baik dariku," ucap Syafiq.
"Tapi yang benar-benar ingin mempertaruhkan nyawa sepertimu itu tidak ada," ucap Jelita.
"Aku melakukan itu bisa saja karena sebab," ucap Syafiq.
"Benar juga, ya udah kamu ajak Grizelda dan Sahara pulang, aku dan Yedi yang akan berjaga di sini," ucap Syafiq.
"Baiklah jika begitu, aku pulang dulu," ucap Jelita menenteng tas kecilnya dan menghampiri Sahara dan Grizelda yang menghias tangan dan kaki bibinya.
"Dari jauh aku lihat kamu mesra banget tadi sana jelita," ujar Yedi menghampiri Syafiq.
__ADS_1
"Mesra apaan, dia itu sudah punya orang yang dia suka," ucap Syafiq.
"Wah... kalau gitu kamu kalah saingan donk," ucap Yedi membelalakkan matanya.
"Apaan sih kamu, ya terserah dia mau suka sama siapa, atau mungkin suka sama denganmu juga boleh," ucap Syafiq terkekeh.
"Jika begitu, aku adalah orang yang beruntung, siapa sih yang tidak suka dengan ceo, cantik lagi," ucap Yedi menyeringai.
"Hmm... benar juga apa yang di katakan Jelita barusan, semua orang menyukai dia itu karena dia cantik dan kaya, bukan karena menyukai dia apa adanya," ucap Syafiq.
"Oh ya, dia ada mengatakan seperti itu? Wah... dia sangat memandang kedepan, pantas saja dia menjadi ceo, dia lebih mementingkan perusahaan dari pada cinta," ucap Yedi kagum.
"Kau aja yang tidak tahu jika dia pernah ingin bunuh diri prustasi karena putus," ucap Syafiq dalam.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
__ADS_1
Terima kasih