
"Ha? Tapi belum di otopsi," ucap Glinda.
"Ayo sekarang di otopsi," ajak Syafiq menarik tangan Glinda masuk dalam mobilnya.
Syafiq pun melajukan mobilnya mengikuti mobil Ambulan yang sudah melaju terlebih dahulu.
"Wah... mobil barumu keren juga," ucap Glinda melihat sekeliling mobil Syafiq.
"Punyamu ada satu di rumah dan kalian ku belikan satu persatu, jadi kamu kalo kerja nggak perlu di antar sama Jelita lagi," ucap Syafiq.
"Wah.... beneran, makasih Syafiq," ucap Glinda senang dan memeluk Syafiq.
Seketika tersadarkan. Mereka saling berpandangan dan Glinda langsung melepaskan pelukannya.
"Ehem... maaf itu hanya refleks," ucap Glinda canggung.
"Tidak apa-apa," jawab Syafiq yang masih fokus melihat kedepan.
"Astaga! Kenapa aku merasa canggung, diakan boleh di katakan adikkku, selisih umur kami sangat jauh, cuma dia aja nggak mau panggil aku kakak," ucap Glinda dalam hati.
Tak berapa lama, mereka pun sampai di rumah sakit dan menunggu hasil otopsi.
"Ini hasil otopsinya sudah keluar, ia bernama Lala, seorang artis ternama sekali gus seorang penyanyi yang berumur 24 tahun meninggalnya sekitar 4 jam yang lalu, dan ini termasuk sangat baru," ucap Petugas otopsi.
"Baiklah terima kasih," ucap Glinda.
"Bolehlah aku menanyakan sesuatu?" tanya Syafiq.
"Ya silakan," ucap spasilis otopsi itu.
"Apa ada sidik jari seseorang yang menempel pada tubuhnya, atau segala sesuatu yang aneh atau mencurigakan?" tanya Syafiq.
"Hm... yang aneh mungkin ada, tapi untuk memastikan lebih jelas mari ikut saya," ucap Spasialis itu.
Syafiq, Glinda Brima dan beberapa petugas forensik juga mengikutinya untuk melihat kelanjutannya.
__ADS_1
"Mari masuk," ucap Spesialis otopsi mengajaknya masuk.
Mereka semua masuk dan mengelilingi mayat yang berada di atas ranjang yang tertutup kain putih.
Spesialis itu membukannya dan tubuh itu masih tetap seperti sedia kala.
"Saya menemukan hal-hal lain, sepertinya ada bekas tali dan tangan di lehernya. Saya juga menemukan benturan kepalanya seperti di benturkan ke tempat yang keras karena ada keretakkan di tengkoraknya, dan di kaki juga seperti di pegang oleh orang lain saat mereka melakukan kejahatan agar korban tidak bisa melawan, wajahnya di sayat begitu sadis hingga tidak bisa di kenali, sepertinya orang itu sangat membenci wajahnya" jawab Spesialis itu.
"Sepertinya pelakunya bukan satu orang, mungkin ada 2-3 orang ya," ucap Syafiq.
"Ya benar, yang hebatnya sidik jari mereka tidak ada di tubuh mereka, bisa jadi ini adalah pembunuh berencana dan mereka sudah mempersiapkan semuanya agar tidak di ketahui," ucap Spesialis itu.
"Dalam kata lain, meskipun mereka meninggalkan jejak, namun jejak itu tidak pernah di temukan?" tanya Syafiq.
"Saya rasa begitu cara kerja mereka, namun kejahatan tidak bisa dinsimpan lama, nanti juga akan terbongkar jika kita benar-benar mencari bukti dengan teliti," ucap Spesialis otopsi itu yakin.
"Anda benar, aku akan mengungkapkan kasusnya, aku harap untuk para polisi untuk menghubungi keluarga dan orang terdekatnya, seperti pacar atau sahabat, karena aku rasa yang melakukan ini adalah orang terdekat mereka," ucap Syafiq.
"Baik, aku akan menyuruh bawahanku untuk datang kekediamannya," ucap Brima. Ia pun beranjak dari tempat ia berdiri dan leluar dari ruangan tersebut, memberi perintah kepada bawahannya untuk memberi tahu keluarganya untuk segera datang ke ke rumah sakit.
"Hasilnya sudah keluar, dan hanya saja pealkunya belum di temukan, jadi biar kelurganya bisa melihat maka jenazah ini akan di pidahkan ke ruang mayat," ucap Spesialis itu tersenyum.
"Boleh aku meminta satu hal?" tanya Syafiq.
"Silakan," ucap Spesialis.
"Bolehkah aku mengungkapkan kasusnya di sini, di depan korban sebagai buktinya," ucap Syafiq.
"Silakan, sekalian bisa melihat dan menjelaskan apa saja yang mereka lalukan," ucap Spesialis itu setuju.
"Terima kasih atas persetujuan Anda," ucap Syafiq menundukkan kepala memberi hormat.
"Ya sama-sama, saya harap kamu segera menemukan pelaku secepatnya, agar jenazah cepat di kuburkan," ucap Spesialis itu menepuk pundak Syafiq.
"Ya saya usahakan," angguk Syafiq.
__ADS_1
"Jika begitu silakan petugas untuk membawanya ke kamar mayat, tapi ingat kalian jangan berisik di kamar mayat," pesan Spesialis itu.
"Eh... kenapa?" tanya Glinda heran.
"Nanti mayatnya pada melarikan diri," canda spesialis itu tersenyum kecil.
"Anda ada-ada saja, mana ada mayat bisa bangun, apa lagi melarikan diri, jika begitu kami permisi dulu ya, terima kasih sudah membantu pekerjaan kami," ucap Grizelda menundukkan kepala memberi hormat.
"Sama-sama," angguk spesialis itu dan para petugas membawa jenazah masuk ke ruang jenazah.
Tak berapa lama, keluarga dari artis ternama itu sampai di tempat.
"Di mana anakku?" tanya ibunya menangis.
"Mari buk saya antarkan," ucap Brima menuntun ibu itu ke kamar mayat.
Sesampainya di sana, ibu itu masuk ke ruangan dan Brima membawa ke samping mayat anaknya tersebut.
Pelan-pelan ibu itu membuka penutup wajahnya, dan ibu itu langsung menangis, wajahnya tak di kenali karena ada beberapa sayatan di wajah artis ternama itu.
"Anakku yang malang, kenapa kau menjafi seperti ini, siapa yang melakukannya? Ibu akan membalaskan dedammu," ucap ibu artis ternama itu menagis.
"Pelakunya akan segera kami temukan, bolehkah kami mengintrogasi orang yang ada di sini untuk mencari alibi, kita tidak tahu mungkin ada pelaku yang bersembunyi," ucap Syafiq.
"Apa! Di sini keluarga semua, mana mungkin mereka membunuh anak saya," ucap ibu itu tak terima.
"Ibu tenang dulu ya, kami bukan mencurigai keluarga ibu, takutnya saja begitu, jika semua punya alibi kami akan mencari pelaku yang lain," ucap Syafiq.
"Iya Buk, serahkan saja kepada petugas, biar mereka mengungkapkannya, ibu inginkan pelakunya segera di temukan dan ibu ingin menghukum seberat-beratnya 'kan," ucap bapak itu memegang pundak istrinya.
"Iya, asalkan pelakuya di temukan maka tidak apa-apa," ucap ibu itu.
"Baik pak, silakan mengintrogasinya," ucap bapak itu
Bersambung
__ADS_1