
"Katakan kenapa kamu membunuhnya," bentak Syafiq.
"Udah ah! Jangan main-main lagi," ucap Sahara memeluk Ailes.
"Hehehe… langsung saja, kamu pelakunya," ucap Syafiq menunjuk ke arah Al.
"Hey! Apa maksudmu!" ucap Al membelalakan matanya dan berdiri.
"Ini adalah buktinya," ucap Syafiq memperlihatkan ponsel di tangannya.
"Bukti apa?" tanya Al.
"Bukti jika kau menghubungi mereka bertiga," ucap Syafiq memutarkan rekaman di ponsel.
Terdengarlah percakapan mereka.
"Ini suara kamu 'kan? Tidak perlu aku bertanya lagi, sekarang kamu tidak bisa lagi Mengkambing hitamkan Ailes," ucap Syafiq.
"Sialan!" ucapnya.
Al melirik kiri dan kanan, ia pun lari kencang namun dengan sigap, Syafiq menarik bajunya hingga larinya terhenti.
__ADS_1
Polisi yang lain juga membantu menangkap Al dan langsung di borgol tangannya.
Al di dudukkan di kursi dan di kawal 2 orang polisi, tak lama komandan pun datang.
"Apa Saudara Syafiq sudah mendapati hasil investigasinya?" tanya komandanya.
"Ini pelakunya," ucap Syafiq menunjuk ke arah Al.
"Wah… tidak menyangka secepat ini Anda menemukannya," ucap komandan itu senang.
"Iya, dan kami akan menginvestigasinya," ucap Syafiq.
"Baiklah, saya pergi sebentar, karena ada yang ingin saya urus," ucap Komanda.
Al di bawa ke ruang investigasi, Sahara dan Ailes dan beberapa polisi duduk di luar dan melihanya lewat komputer, sedangkan Syafiq dan salah satu polisi masuk ke dalam.
"Katakan alasan kamu membunuhnya?" tanya Syafiq.
"Aku tidak membunuhnya, ketiga orang itu yang membunuhnya," ucap Al beralasan.
"Memang bukan kamu yang membunuhnya, tapi jika kamu penyebabnya mana mungkin mereka membunuhnya, kau adalah pembunuh secara tidak langsung," ucap Syafiq.
__ADS_1
Al terdiam.
"Pokoknya bukan aku yang membunuhnya, setidaknya hukumanku tidak terlalu berat dari pada mereka," ucap Al.
"Heh! Apa kamu tahu? Meskipun kamu tidak membunuhnya secara langsung, namun kamu adalah otak pembunuhannya dan hukumannya adalah hukuman mati," ucap Syafiq.
Al terkejut.
"Lebih baik kamu cerita yang detilnya, dengan begitu kami mempertimbangkan untuk tidak membuatmu hukuman mati," ucap Syafiq.
Al terdiam lagi.
"Ceritakan, mungkin aku bisa membantumu untuk meringankan hukumanmu, tidak ada yang bisa membantumu kecuali aku, orang tua mu pun tidak bisa membantumu, apa lagi jika keluarga Hera tau kau pembunuh aslinya aku rasa kau menyampaikan pesan terakhirpun sudah tak sempat lagi," bujuk Syafiq.
"Bermula pada malam hari," ucap Al membuka mulutnya dan seketika menjadi hening.
"Kami sudah berjanji untuk menikah, tapi malam itu aku datang ke rumahnya, tapi di rumahnya ada tamu, aku diam-diam ke rumahnya, satu keluarga datang dan mereka ingin melamar Hera. Pria itu dari keluarga kaya, aku juga dari keluarga kaya, tapi orang tuanya sangat rakus, mereka menerima pria itu. Dan tak hanya itu saja, saat keluarga itu pulang, aku mendengar pecakapan mereka jika orang tua Hera menyuruh Hera menerima pria itu, namun Heran langsung menerima pria itu. tapi lewat telpon dia bilang dia mencintaiku, setelah aku tanya dia pilih aku atau pria itu dan malah dia tidak bisa memilih dan malah ingin menikahkan aku dan pria yang melamarnya malam itu. Tentu saja aku tidak menerima kenyataan itu, dan aku pun menanyakannya lagi dan dia memilih pria itu karena dia lebih kaya dariku, setelah 3 tahun kami berpacaran dan dia malah memilih pria itu, apa itu tidak menyakitinperasaanku." jelas Al.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
__ADS_1
Terima kasih.