
"Kau melakukannya pasti tidak sendirikan?" tanya Syafiq.
Lily melihat ke arah pacar kakaknya dan juga asisten pribadi kakaknya.
Mereka membulatkan matanya agar Lily tidak melihatnya ke arahnya lagi.
"Kamu nggak maukan di penjara sendirian, atau di hukum mati sendiri sedangkan mereka tetap berkeliaran menghirup udara segar dan menikmati hidupnya? Bisa jadi dalangnya bukan kamu tapi salah satu dari mereka otak pembunuhannya, dan kau tidak maukan di hukum sendiri tanpa mereka yang menemanimu?" pujuk Syafiq agar Lily menunjuk orang-orang bersamanya.
"Dia adalah yang membawa saya mrmbunuh kakak," ucap Lily menundukkan kepalanya.
"Dia siapa?" tanya Syafiq berjongkok di hadapan Lily.
"Tomi, pacarnya kakak," ucap Lily.
"Hey! Kamu jangan sembarangan bicara ya! Mana mungkin aku membunuh orang yang aku cintai! Kamu sengajakan ingin aku di penjara denganmu!" teriak Tomi tak terima.
"Yang satunya?" tanya Syaffiq.
"Asisten pribadinya," jawab Lily lagi.
"Tangkap mereka," perintah Syafiq.
"Apa! Hey pak bukan aku pelakunya, dia bohong!" teriak Asisten itu meronta-ronta saat di tangkap polisi.
"Saya juga bukan pelakunya! Lily katakan kepada mereka jika bukan aku pelakunya! Katakan!" teriak Tomi tak terima saat ia di tangkap dan di borgol tangannya.
"Katakan apa alasan dia mengajak kamu membunuh kakakmu?" tanya Syafiq kepada Lily.
"Karena kakak terus meminta putus dengannya dan ia merasa sakit hati, dan juga di bakar api cemburu yang terus menerus, ia pun akhirnya ia pun mengajak saya untuk membunuh kakak, awalnya saya nggak mau, tapi dia mengancam saya, jika saya tidak mau melakukannya, maka saya yang akan di bunuh," ucap Lily.
"Hey! Dasar pembohong besar, kau justru yang mengajakku membunuhnya, sekarang kau putar balik faktanya, dasar wanita ******!" teriak Tomi geram.
"Heh! Akhirnya kamu mengakui juga ya, mau di membalikkan fakta atau tidak, yang pasti kamu adalah salah satu pelakunya," ucap Syafiq menyengir melihat ke arah Tomi.
Tomi terdiam karena ia keceplosan.
"Asisten itu apa alasannya membunuh kakakmu?" tanya Syafiq.
__ADS_1
"Katanya di lelah di suruh-suruh terus, dan akhirnya Tomi melihat asisten itu kesal dan ia pun mendatangi dan mengajak perencanaa pembunuh itu," jawab Lily.
"Bohong! Bukan aku membunuhnya dan juga aku tidak ikut-ikutan dengan mereka, aku tidak ikut-ikutan!" teriaknya.
Syafiq berdiri dan menujuk ke arah sutradara itu. "Bukan dia, tapi tangkap sutradara itu," ucap Syafiq.
Mereka terdiam sesaat.
Sutradara itu berlari berusaha melarikan diri dan para polisi itu mengejar Sutradara itu karena larinya cukup kencang, maka polisi dengan terpaksa menembak dan tembakan itu mengenai paha bagian belakang dan ia terjatuh, polisi pun menangkapnya dan memborgol tangannya dan membawa berkumpul dengan pelaku lain.
"Aku tidak tau apa alasanmu, yang pasti kau adalah otak pembunuhanya," ucap Syafiq.
Sutradara itu memberontak. "Ya aku yang mengajak Tomi untuk membunuhnya dan juga menyuruh Tomi untuk mengajak adikknya untuk ikut andil, biar ia mati pun tidak tenang, wanita sok suci itu sudah memakiku saat aku mengajak berhubungan badan, dia menceramahiku dan memberi tahu istriku tentang masalah ini, hahaha.. aku senang dia mati, dan tidak menyangka adik kesayangannya yang ia lindungi malah ikut menjadi pelaku yang menghilangkan nyawanya, kematian yang sangat sadis untuknya, tentu saja saat aku masuk penjara aku di tamani orang terdekat dan keluarganya," ucapnya tertawa.
"Kau sungguh pandai membuat orang mati tidak tenang, jika begitu hukum mati saja untuknya untuk menemabi Lala di kuburan," ucap Syafiq.
Syafiq kembali berjongkok di hadapan Lily, bagaimana kalian membunuhnya?" tanya Syafiq.
"Saat pukul setengah 6, kakak di telpon sutradara untuk segera datang ke lokasi dengan tujuan agar kami melakukannya tidak di rumah dan bisa melakukan aksi di luar rumah. Aku keluar dari jendela dan Tomi sudah bersiap di dalam mobil, saat perjalanan kakak ke te.pat Syuting aku dan Tomi mengejar mobil kakak dan memberhentikan di tengah jalan yang belum di lewati orang, Tomi menangkap dan aku di suruh mengikat tali di lehernya dan aku melakukannya, karena dia memberontak, aku di suruh mengikat kakinya dan saat itu Tomi menyayat wajahnya dengan sangat marah, dia menyuruh aku untuk menyayat wajah kakak, aku menolaknya, dan akhirnya ia tak bernafas lagi, kami sepakat untuk membuangnya di dalam semak-semak sedangkan mobilnya kami ganti plat dan kami jual, setelah semua selesai kami kembali ke rumah masing-masing dan pura-pura tidur," jelas Lily.
"Pembunuhan yang sangat sadis," ucap Syafiq.
"Lily... kenapa kau lakukan ini Nak? Padahal dia sangat menyayangi kamu," ucap ibu dengan berderai air mata dan tak lama ia pun pingsan.
Ia pun langsung di bawa masuk ke ruang perawatan.
Dan para pelaku di bawa masuk ke dalam mobil polisi untuk di beri hukuman.
Ding ding
Misi selesai
Selamat Anda mendapatkan 60.000.000.000
Hadiah Anda menjadi 1.760.457.000.000
Selamat Anda mendapat 20 poin.
__ADS_1
Poin Anda menjadi 360 poin.
Syafiq langsung terkapar di lantai.
"Syafiq... Syafiq... bangun Syafiq.... kamu kenapa Syafiq, Suster! Suster! Tolong ini teman saya, dia pingsan," panggil Glinda panik.
Syafiq langsung di gendong dan di angkat di atas tempat tidur roda dan di bawa ke UGD.
"Sepertinya dia menguras otaknya dan karena ke lelahan makanya di pingsan," ucap Suster itu.
"Suntikan dia," ucao dokter itu.
Tiba-tiba Syafiq bangun karena mendengar suntik.
"Eh belum di subtik kok sudah bangun?" tangya Susternya.
"Aku nggak pingsan, aku hanya butuh air saja, karena dari tadi berbicara terus menerus tenggorokanku kering," ucap Syafiq menyambar botol berisi air dan meletakkan di bibirnya untuk di minum dan kemudian ia meneguknya.
"Jangan di minum!" teriak dokter itu.
"Kenapa?" tanya Syafiq melihat ke arah dokter tersebut.
"Itu...itu...(dokter ituTak tega untuk mengatakannya) itu... air infus," ucap dokter itu pelan.
"Apa!!!!!!!!!" Syafiq Syok dan pingsan.
xxxxxx
"Ayo bangun Syafiq, air infus itu tidak akan membuatmu mati," ucap Glinda kesal karena pahanya udah kesemutan.
"Eh..." Syafiq membuka matanya karena ia baru sadar bahwa ia terbaring di paha Glinda di sofa rumahnya.
Seketika ia bangun.
"Eh maaf, maaf, tapi makasih ya untuk membawaku pulang, dan juga baring di pahamu," ucap Syafiq tersenyum sambil mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Makan makananmu, aku mau berangkat ke kantor polisi, dan ngomong-ngomong kamu bilang ada satu mobil untukku, boleh berikan kuncinya padaku," ucap Glinda mengidip-ngidipkqn matanya.
__ADS_1
Bersambung