
"Memangnya salah aku memberi selamat kepadanya?" tanya Amara memandang ke arah Sahara dengan melipat tangannya di dada.
"Sangat salah," ucap Sahara menyilangkan tangannya.
"Dia saja mau bersalamandenganku, kenapa kamu yang marah," ucap Amara memandang ke arah Sahara dengan mengangkat alisnya.
"Hanya tidak menyangka saja, orang yang kau hina habis-habisan itu, kini kau tiba-tiba datang kepadanya dan malah memberinya selamat karena sekarang dia sudah kaya, sudah terkenal baru kau datang dan bermulut manis dengannya," ucap Sahara memajukan wajahnya.
"Lalu kenapa? Setiap orang bisa berubah," ucap Amara enteng.
"Sudah cukup, sebentar lagi dosen masuk," ucap Syafiq.
"Huh dasar menyebalkan! Awas ya kalau aku melihat kamu dekat-dekat dengannya," ancam Sahara.
"Iya nggak lagi," ucap Syafiq mengangkat kedua tangannya.
Sahara menunuk kedua matanya lalu menunjuk ke dua mata Syafiq. "Kamu dalam pantauanku," ucap Sahara, ia balik badan dan menyenggol Amara.
"Kenapa kamu takut dengannya, apa kamu pacaran dengannya?" tanya Amara.
"Ada apa denganmu?" tanya Syafiq.
"Apa kau pacaran dengannya?" ulangnya lagi.
"Hm... menurutmu?" Syafiq berbalik tanya
Amara terdiam dan ia pun langsung kembali ke tempat duduknya.
Dosen pun masuk. Mereka pun mengikuti materi yang di berikan.
xxxx
Pembagi materi pun selesai, anak-anak kampus berhamburan keluar dari kampus.
Syafiq mendekati Sahara yang menuju mobilnya.
"Sahara aku pergi dulu ya ke vila, kamu tolong ya carikan bajuku yang keren, nanti malam akubada wawancara di restoran," ucap Syafiq.
"Wawancara apa?" tanya Sahara.
"Ada stasiun televisi yang akan mewawancariku karena aku mendapat penghargaan dari komandan itu, nah aku ingin sekalian promosi restoran kita," ucap Syafiq tersenyum.
__ADS_1
"Kamu menyelam sambil minum air ya, oke! Alu juga akan mencarikan baju untuk kita berlima biar tampat keren, Tapi..." Sahara menampung tangannya.
"Apa? uang?" tanya Syafiq.
Sahara mengangguk.
Syafiq membuka tas selempangnya dan mengambil uang di tas dan meletakkan uang segepok di tangan Sahara.
"Hehehe... terima kasih, uang kamu sepertinya ada di mana-mana," ucap Sahara tersenyum.
"Syafiq!" panggil Amara mendekat.
Amara terkejut dengan uang yang sangat banyak di tangan Sahara.
"Hey! Kemana matamu melihat," ucap Sahara.
"Syafiq, ingin berbicara denganmu," ucap Amara.
"Ya bicaralah," jawab Syafiq.
"Kita bicara jangan di sini," ucap Amara yang langsung menarik tangan Syafiq.
Sahara juga menarik tangan Syafiq.
"Kalo aku tidak mau kenapa!" bentak Sahara.
"Kalian ini apa-apa'an sih, Kalian berdua merebut tanganku kalian yang bertengakar, padahal kalian tidak bertanya dulu denganku, lepaskan," ucap Syafiq.
Mereka berdua pun melepaskan tangannya.
"Katakan saja di sini, aku tak punya eaktu karena aku ada urusan," ucap Syafiq.
"Aku suka kamu," jawab Amara.
"Lalu?" tanya Syafiq.
"Jadian yuk!" ucap Amara tiba-tiba.
"Apa!" Sahara melihat ke arah Amara lalu melihat ke arah Syafiq.
Sahara langsung memepet dan mengandeng tangan Syafiq.
__ADS_1
"Kau nggak tanya dulu dia punya pacar apa tidak," ucap Sahara.
"Tadi aku sudah menanyakannya, tapi dia tidak menjawabnya, berarti dia tidak punya pacar," ucap Amara.
"Hey! Aku dan dia sudah pacaran, hanya kami saja yang tidak mau mengekpos status kami," ucap Sahara.
"Mana buktinya?" tanya Amara.
"Ini buktinya," ucap Sahara memperlihatkan uang segepok di tangannya. Lalu ia membuka tas selempang Syafiq lalu mengambilnya lagi dan memasukkan ke dalam tasnya.
"Dan mobil ini pemberian darinya, apa lagi, kami juga sudah satu rumah dan bahkan kami sudah sering tidur bersama, apa kamu ingin menjadi pelakor di dalam hubungan kami, bagaimana jika aku hamil, apa kau ingin mengambil ayah dari anakku," omel Sahara.
Syafiq hanya tersenyum sambil memandang Sahara.
"Apa itu benar Syafiq?" tanya Amara merasa amat sedih.
"Ya itu benar!" sahut Sahara cepat.
"Aku bertanya dengannya," ucap Amara.
"Jika dia berkata begitu, ya itulah jawabannya," ucap Syafiq membenarkannya.
"Jadi benar ya, kau berpacaran dengannya," ucap Amara sedih.
"Sudah tahu lebih baik kamu jauh-jauh darinya, atau aku akan memberi tahu kepada seluruh kampus jika kamu pelakor," ancam Sahara.
Amara pun pergi dengan air mata berliangan.
Setelah Amara pergi cukup jauh, Sahara melepaskan tangan Syafiq.
"Kamu kok garang banget ya," ucap Syafiq.
"Kamu boleh di ambil sama siapa saja, tapi bukan orang yang menghina kamu," ucap Sahara.
"Oh jadi kamu rela jika aku di ambil orang," ucap Syafiq menyengir.
"Hm... orang yang aku katakan hanya orang yang ada di dalam rumah kita saja, tidak di luar sana," ucap Sahara masuk ke dalam mobilnya.
Bersambung.
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
__ADS_1
Terima kasih