
Syafiq menjatuhkan uang 10.000.000 dari atas pohon yang rindang. Karena matanya sudah di selimuti dendam dan tak sadar lagi Syafiq memanjat pohon itu.
Bukkk!
Uang yang jatuh dari pohon membuat ia teralihkan.
"Ha? Uang?" tanyanya.
Ia melepaskan senjata tajamnya dan mulai mengumpuli uang yang bertebaran. Saat itulah Glinda keluar lalu menerpa pria tadi mereka pun 4 bergelut, Syafiq juga ikut turun dan menarik pria itu untuk memisahkan mereka berdua.
Syafiq memegang kedua tangan pria itu sedangkan pria itu meronta-ronta.
"Lepaskan!" teriaknya.
"Setelah kau melakukan kejahatan dan kau minta lepas, anak itu tidak bersalah. Tidak tau apa alasanmu membunuhnya," ucap Syafiq.
"Tentu saja aku harus membunuhnya, karena dia anak haram istriku dengan pria lain," jawabnya geram dan juga ia berusaha melepaskan pegangan tangan Syafiq.
Syafiq memukul pundaknya pria itu dan pria itu jatuh terbaring.
"Akan menelpon komandanmu sekarang," ucap S
yafiq
Glinda mengangguk. Ia memasukan potongan tubuh itu ke dalam karung yang sudah di sediakan oleh pria tadi, Glinda memasukkannya menggunakan plastik berwarna hitam.
Sedangkan Syafiq memungut kembali uangnya lalu menelpon polisi.
Tuuuut
__ADS_1
Tuuuut
Tuuuut
"Halo," jawab polisi.
Syafiq memberikan ponselnya kepada Glinda.
"Komandan kami menemukan pembunuhan sadis di jalan nangka. Seorang anak kecil di mutilasi oleh seorang pria yang mengaku jika ia membunuh karena sakit hati. Anak itu adalah anak haram dari istrinya dengan pria lain," ucap Glinda melapor.
"Baik kami akan ke sana sekarang," ujar komandan itu.
Para polisi itu pun berangkat menuju tempat yang di tujukkan.
Sesampainya di sana polisi segera turun dan berlari.
"Hay Pak polisi, kita bertemu lagi," sapa Syafiq.
"Kenapa sih kamu ada di mana-mana, apa jangan-jangan kamu yang melakukannya lalu kamu menuduh orang lain, seperti di film-film," tebak Brima sambil tertawa.
"Ayolah pak polisi, ini kenyataan, bukan Film-filman, aku juga tidak tahu kenapa harus aku yang menemukan penjahatnya," ucap Syafiq meskipun ia tahu jawabannya.
"Begini, apa jurusan kamu?" tanya Komandan itu.
"Manajement," jawab Syafiq.
"Kenapa tidak mengambil jurusan kriminal saja, karena kamu sering membantu kepolisian menemukan pelaku kejahatan dan kamu bisa bekerja menjadi polisi," ucap komandan itu.
"Tapi saya belum tertarik untuk bergabung di kepolisian pak, karena saya ingin jadi pembisnis," ucap Syafiq.
__ADS_1
Komandan itu mengangguk-angguk. "itu juga terbaik untukmu, tapi jika seandainya kamu ada berminat, cepat kasih tau kami ya," ucap komandan itu.
"Ya pak, akan saya kasih tau jika saya ingin bergabung," ucap Syafiq.
"Baiklah jika begitu, apa petugas forensik sudah selesai?" tanya komandan itu.
"Baiklah jika begitu, saya permisi dulu pak," ucap Syafiq.
"Baiklah, dan untuk Glinda kamu hari ini boleh libur, saya tidak mau kamu terlambat lagi dan ada kejadian seperti tadi," ucap Komandan.
"Baik komandan," angguk Glinda.
Brima tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
Sringg!
Tatapan tajam mengarah ke Brima.
"Ups!" ucap Brima menahan tawanya dan mulutnya dan pura-pura melihat ke arah lain.
"Awas saja kau Brima, hari ini kau mengejekku, lihat saja nanti kau," ancam Glinda.
Glinda masuk mobil Syafiq dan dengan terpaksa Syafiq harus mengantar Glinda kembali ke rumahnha untuk mengambil seragamnya yang tertinggal.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
terima kasih
__ADS_1