
"Aku sangat takut Syafiq," ucap Sahara.
Syafiq mengengam tangan Sahara erat, untungnya jalannya lurus dan hanya terdapat sedikit belokan saja membuat itu tidak terlalu memegang setirnya.
Sedangkan mobil Yedi dan Brima sudah jauh di depan.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di vila.
Syafiq membukakan pintu mobil untuk Sahara dan membantunya untuk keluar dari mobil lalu memeluknya dan membawanya menuju restoran yang sudah tutup. Karena para koki dan pelayan sedang membersihkan peralatan dapur dan meja.
"Lho? Ada apa dengan Sahara?" tanya Glinda menekuk alisnya saat melihat Sahara di pelukan Syafiq dengan wajah pucat.
"Tadi di tempat bukit cinta apa kalian melihat warung?" tanya Syafiq.
"Hm… nggak, nggak ada apa-apa di sana," jawab Glinda mengeleng.
"Aku juga tidak melihatnya, aku hanya melihat asap kabut saja di sepanjang jalan," sambung Grizelda.
"Nah benar tuh, kami hanya melihat asap kabut saja di sepanjang jalan," ulang Yedi.
"Heh! udah di omongi sama Grizelda," ucap Glinda menepuk tangan Yedi.
"Upsss!" Yedi menutup mulutnya.
"Kau cari brantam ya Yedi," ucap Brima menaikkan tubuhnya ke punggung Yedi.
"Abang makan apa sih sampai seberat ini," keluh Yedi.
"Makan batu yang di masak mamak mu," jawab Brima ngasal.
"Oh ya aku sempat beli minuman di sana, yang mengherankan tadi aku minta air mineral, tapi malah di kasih air fanta," ucap Syafiq.
"Lalu di mana minumannya?" tanya Glinda.
"Ada di mobil," ucap Syafiq.
"Coba kamu ambilkan," ucap Glinda.
"Iya, tolong pegang Sahara," ucap Syafiq.
Glinda dan Grizelda memegang bahu Sahara dan membantunya duduk di kursi.
__ADS_1
Syafiq pun pergi masuk ke mobilnya dan mengambil 2 botol yang di belinya tadi.
"Ini, untung aja masih ada," ucap Syafiq.
"Lho? Ini bukan minuman fanta, ini warna merahnya lebih kental dari minuman fanta," ucap Brima mengambil 1 botol dari tangan Syafiq lalu membuka tutup botolnya.
Brima mencium baunya.
"Baunya sangat aneh, bukan bau minuman," ucap Brima membuang air merah itu secara perlahan sambil memperhatikannya.
"Astaga! Jangan-jangan ini darah," tebak Yedi.
"Aaaaaaaaaa……………!!!!!!!!" Mereka menjerit ketakutan dan saling berpelukan.
Sahara yang tadinya pucat menjadi bertambah pucat.
Syafiq memeluk Sahara. "Kamu jangan kayak gitu donk Yedi, jangan nakut-nakutinlah Sahara tambah takut nih," ucap Syafiq.
"Ehem… iya benar, kamu jangan bikin kekacauanlah, ini kan hanya air biasa aja cuma di tambah pewarna aja kok," jawab Brima.
"Iya, jangan nakut-nakutin kamu Yedi, kasian Sahara," sahut Glinda.
"Iya maaf-maaf, aku tadi cuma bercanda aja kok," ucap Yedi.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Syafiq.
"Ada asap putih yang keluar dari botol," ucap Sahara.
"Tapi aku tidak melihatnya, apa memang ada sesuatu di air itu?" tanya Brima.
"Ah… ini 'kan hampir larut, mungkin perubahan suhunya membuat air itu menguap dan mengeluarkan asap," jawab Syafiq.
"Mending simpan saja botolnya, besok coba kita periksa, besok kami sudah masuk untuk bertugas," saran Glinda.
"Iya, simpannya di kamar kita saja," ucap Brima.
"Tolong jaga Sahara ya, jika terjadi apa-apa padanya kasih tahu aku," ucap Syafiq.
"Baiklah, ayo Sahara." Glinda dan Grizelda membantu Sahara naik ke vila dan masuk kamarnya.
"Ayo tidur," ucap Glinda.
__ADS_1
"Eh... kalian udah pulang? Ada apa dengan Sahara," tanya Jelita bangun dari tidurnya.
"Tadi kami pergi ke bukit cinta, tapi mereka malah melihat warung di sana, tapi tiba-tiba warung itu menghilang," jawab Grizelda.
"Oh ya? Hm... tempat itu emang seram sih menurut aku," ucap Jelita.
"Oh ya kak Jelita ke mana tadi?" tanya Grizelda.
"Oh, aku tadi sama Bara lihat perusahaan dia," ucap Jelita.
"Wah... enak banget ya kalian, semuanya pada udah punya usaha dan bekerja," ucap Grizelda.
"Kamu 'kan juga udah bekerja," ucap Jelita.
"Kerja di tempat Syafiq aku jadi nggak enak hati, gajinya segede gaban gitu, gajinya nggak normal dengan perusahaan lain," ucap Grizelda.
"Kami kerja sana saja terus, nanti juga dapet uang yang banyak kamu bisa bangun usaha sendiri," ucap Jelita.
"Hey! Hey! Kalian ceritanya melenceng dari cerita awal sih," ucap Glinda.
"Oh iya, kembali ketopik, aku dulunya pernah ke sana juga, pulang udah larut sih sama teman cowok, aku melihat sepanjang jalan hanya ada kabut putih tebal, waktu itu aku melihat ada cahaya lewat, aku tidak menampiknya karena ku pikir itu lampu mobil yang lain, namun tiba-tiba aku merasa aneh sih, saat mobil kami dekat, aku hanya melihat cahaya tapi tidak melihat wujud mobilnya, saat aku tanya begitu, dia hanya bilang wajar jika tidak terlihat karena kabut, tapi saat kami menyalib mobil itu tiba-tiba mobil itu berada di depan kami, sehingga teman pria ku itu tak sempat menghindar dan menabrak mobil di depan. Yang mengherankan adalah kami malah menembus mobil itu seperti menembus bayangan dan akhirnya temanku langsung tanjap gas," ucap Jelita bercerita.
"Ih... menyeramkan," ucap Grizelda merinding.
"Udah Ah tidur yuk," ajak Glinda menarik selimut sambil memeluk Sahara.
"Ya udah tidur, aku juga ikut merinding," ucap Jelita dan menarik selimut juga.
"Kalian jangan tinggalin aku donk, aku juga takut," ucap Grizelda masuk ke dalam selimut Jelita dan Grizelda memeluk Jelita.
"Hey! Geli tau," ucap Jelita sambil tertawa.
"Kalau aku yang meluk geli, giliran aku yang meluk geli," ucap Grizelda.
"Mana ada aku di peluk sama dia," jawab Jelita.
"Alah... nanti lama-lama pelukan kalian tuh," ucap Grizelda mengodanya.
Bersambung
jangan lupa like vote komen dan hadiah
__ADS_1
Terima kasih