SYSTEM MILIYADER

SYSTEM MILIYADER
BAB 215


__ADS_3

Glinda bersembunyi di balik tembok dengan meneteskan air mata.


"Apa aku terlambat, atau aku memang nggak pantas mendapatkannya? Tapi hati ini kenapa sakit? Seharusnya aku sadar diri jika aku tidak pantas mendapatkannya, tapu aku tak bisa membohongi hatiku," ucap Glinda menyeka air matanya dan ia kembali masuk kamar dan menyelimuti tubuhnya dan menahan air mata dan tangisnya.


"Jadi, mulai sekarang panggil apa nih?" tanya Syafiq sambil memegang helaian rambut Sahara.


"Panggil apa?" tanya Sahara tersenyum.


"Hm… panggil sayang aja deh, gimana?" tanya Syafiq.


"Tapi aku masih malu jika memanggil sayang," ucap Sahara merona.


"Tidak apa-apa, pelan-pelan saja, nanti juga akan terbiasa," ucap Syafiq.


"Iya," angguk Sahara.


"Ya sudah kamu tidur sana," ucap Syafiq.


"Lalu? Kamu nggak tidur?" tanya Sahara mengangkat alisnya.


"Aku akan tidur," ucap Syafiq mencium kening Sahara.


Sahara pun masuk ke kamarnya dengan senyum mengembang.


Syafiq pun menuju kamar yang lain untuk ia beristirahat.


xxxx

__ADS_1


Ke esokan paginya.


Glinda, Jelita dan Sahara sudah bangun, tapi hanya Grizelda yang masih tidur. Mereka semua sudah berkumpul di restoran samping Vila.


"Mana Grizelda?" tanya Syafiq.


"Tadi saat aku bangunkan dia bilang kepalanya pusing dan ingin istirahat saja, di lihat dari raut wajahnya sepertinya dia memang sakit," ucap Jelita.


"Nanti kita bawa dia ke rumah sakit. Tapi sebelumnya aku ingin mengumumkan jika mulai sekarang Sahara sudah jadi kekasihku," ucap Syafiq.


"Apa? Kamu serius?" tanya Jelita membelalakkan mata.


"Iya, kami sudah jadian tadi malam, doakan ya moga langgeng," ucap Syafiq merangkul pundak Sahara.


"Wah selama jadian ya, di tunggu traktirannya," ucap Glinda.


"Makasih kakak cantik," ucap Sahara memeluk Jelita.


"Iya, selamat buat kalian ya, jangan lupa bahagia," ucap Jelita manyun namun senyum bahagia terukir di bibirnya.


"Kalau dia ketahuan selingkuh atau nyakitin kamu, bilang sama kakak, biar kakak tembak dia dan beri hukuman mati," ucap Glinda.


"Sip," ucap Sahara mengacungkan jempol sambil tersenyum.


"Pak, buatkan kami steak sapi ya," pinta Syafiq.


"Baik Tuan," jawab mereka dan mulai mengerjakan pekerjaan yang di pinta Syafiq.

__ADS_1


"Aku coba panggil Grizelda ya, siapa tau dia mau makan," ucap Jelita yang beranjak dari tempat duduknya.


Mereka mengangguk.


Jelita pun pergi menuju kamar tempat Grizelda berbaring.


"Grizelda, ayo bangun kita makan yuk," ucap Jelita lembut sambil duduk di sisi ranjang melihat Grizelda yang menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Nggak kak, aku nggak lapar," ucap Grizelda dengan suara yang hampir tidak terdengar.


"Kenapa gitu? Nanti kamu tambah sakit lho, haish… sayang sekali kamu malah sakit di saat Syafiq dan Sahara sedang berbahagia," ucap Jelita.


Grizelda hanya diam tanpa menjawabnya.


"Ayo kita makan," ajak Jelita lagi.


"Nanti saja kak, aku sedang tak berselera," ucap Grizelda.


"Baiklah jika begitu, tapi nanti ke rumah sakit ya sama kakak," ucap Jelita lagi.


"Nggak kak, aku nggam sakit, aku hanya butuh istirahat saja, jangan ganggu aku dulu ya," jawab Grizelda.


"Apa kamu tidak apa-apa sendirian di sini, kami semua akan pergi," ucap Jelita.


"Tidak apa-apa, kalian lakukan saja kegiatan kalian," ucap Grizelda.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2