
"Cepat sana minggir!" teriak Syafiq.
Mobil di belakang sudah sangat dekat sekali karena tak sempat, Syafiq memutar mobilnya masuk antara jarak mobil jelita dan mobil penabrak itu dan Syafiq langsung rem mendadak agar mobilnya berhenti dan mobil ai penabrak juga berhenti.
Duuuuaaaakkk!
Hantaman keras ke mobil Syafiq hingga mobilnya penyok dan mobil si penabrak terbalik dan terpelanting.
"Syukurlah masih sempat," ucap Syafiq lega. Mobil Jelita pun berhenti seketika karena mendengar tabrakan keras.
Mobil Yedi pun datang dan segera berhenti. Yedi langsung menghampiri mobil Syafiq.
"Syafiq... Syafiq, kamu tidak apa-apakan?" tanya Yedi berusaha membuka pintu mobil.
"Aku nggak apa-apa," jawab Syafiq meskipun ada sedikit memerah di keningnya.
"Syukurlah jika kamu baik-baik saja, tapi mobilnya sudah tak berbentuk lagi," ucap Yedi memeriksa mobil Syafiq.
"Tidak apa-apa yang penting aku sudah menyelamatkan nyawa orang," ucap Syafiq.
"Dan juga bayarannya mahal," ujar Syafiq dalam hati.
Jelita menghampiri Syafiq yang berjongkok, kepalanya pusing karena terkena stir mobil.
"Ka-kamu, baik-baik sajakan?" tanya Jelita ragu-ragu.
Syafiq melihat ke arah Jelita tanpa berkata apa-apa dan ia kembali memegang kepalanya.
"Itu... ayo aku bawakan kerumah sakit," ucap Jelita merasa bersalah.
__ADS_1
"Sudah, tidak apa-apa, aku baik-baik saja jawab Syafiq.
"Ta-tapi, ini semua gara-gara aku yang nggak mendengarkan ucapanmu," ujar Jelita terbata-bata.
"Wah... ini gawat nih, ganti rugi," ucap Yedi membesarkan masalah.
"I-iya, aku minta maaf, ini kelalaianku, aku akan bertanggung jawab," ujar Jelita.
Semua orang sudah berkumpul sangat ramai dan tak lama kemudian mobil polisi datang.
Polisi pun turun dari mobil dan ada seorang polisi biasa Syafiq bertemu.
"Eh kamu lagi, apa yang terjadi denganmu?" tanya polisi itu.
"Mobil itu ingin menabrak mobil sedan yang di sana, jadi aku datang untuk menghalanginya agar dia tidak menabraknya," jawab Syafiq.
"Kamu tetap salah," tiba-tiba suara seorang wanita dia juga seorang polisi.
"Tapi tetap saja dia yang salah karena ia juga ngebut di jalan raya," ucap Glinda.
"Jika aku tidak menyelamatknya dia yang akan terluka," ujar Syafiq.
"Pokoknya kamu tetap salah," ucap Glinda ngotot.
"Polisi wanita memang merepotkan," gerutu Syafiq.
"Apa kamu bilang!" bentak Glinda.
Polisi pria itu hanya tersenyum.
__ADS_1
"Ayo ikut aku ke kantor polisi," ujar Glinda memborgol tangan Syafiq.
"Eh itu Buk polisi, dia tidak salah, aku yang salah karena tidak mendengar sarannya, jadi aku yang akan ke kantor polisi, jadi tolong lepaskan dia," ucap Jelita.
"Tolong jangan panggil saya Buk, saya masih muda dan yang bersalah itu dia, bukan kamu jadi harus dia yang di tangkap," ucap Glinda.
"Seharusnya dia juga di tangkap," ucap Syafiq menunjuk arah mobil yang terbalik itu.
"Tenang saja dia tidak akan bisa lari dalam keadaan pingsan dan terluka seperti itu," jawab Glinda menarik tangan Syafiq masuk mobil polisi.
"Yedi tolong amankan mobilku, setqlah itu kau baru ikut ke kantor polisi," pinta Syafiq.
"Aman itu," ucap Yedi mengacungkan jempol.
"Aku ikut," ucap Jelita menghampiri mobilnya dan siap mengikuti mobil polisi.
"Di saat seperti ini kau masih ingat dengan mobilmu," ucap Glinda kesal.
"Itukan mobilku, wajar saja jika aku khawatir, kan aku tidak khawatir denganmu Buk polisi," jawab Syafiq.
"Sudah aku katakan jangan panggil aku Buk!" bentak Glinda.
"Jadi aku harus panggil apa? Tante? Bibi? Mama? Apa Oma?" tanya Syafiq.
"Kamu ini ngesil banget ya, panggil aku kakak," jawab Glinda.
"Pppffffffttttt.... hahahahaha," Syafiq tertawa ngakak dan polisi pria itu juga ikut tersenyum.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih