
Mereka pun keluar dari mobilnya.
"Yang mana satu nih rumahnya, kok pada sama semua ya?" tanya Syafiq kagum.
"Apa mungkin ini milik dia semua?" tanya bapak itu.
Sesampainya di salah satu rumah, mereka pun membunyikan bel rumahnya.
Ding dong!
Ding dong!
Pintu pun terbuka.
"Maaf cari siapa?" tanya pemilik rumah.
"Apa ibu kenal dengan pak Jamal?" tanya Syafiq.
"Pak Jamal yang cacat itu ya?" tanya pemilik rumah itu lagi.
Syafiq dan bapak itu saling berpandangan.
"Iya," angguk bapak itu.
"Oh rumahnya yang paling ujung sekali," ucap ibu itu.
"Baik Buk, terima kasih," ucap Syafiq.
"Ya sama-sama," angguk ibu itu menutu pintu rumahnya.
"Cacat? Semoga saja memang dia," ucap Syafiq.
"Iya," angguk bapak itu dan mereka pun menuju rumah tersebut.
Ding dong!
__ADS_1
Ding dong!
Ckrek!
Pintu terbuka.
"Ada apa?" tanya seorang wanita paruh baya yang sepertinya seorang pembantu di rumah itu.
"Hm... pak jamalnya ada di rumah?" tanya Syafiq.
"Kalian siapa?" tanya wanita itu lagi.
"Hm... kami...," Syafiq melihat ke arah bapak tersebut.
"Kami temannya, kami dengar jika ia sakit, jadi kami ingin menjengguknya," ucap bapak itu.
"Iya dia memang sakit, tapi dia tak ingin bertemu dengan siapa pun," ucap pembantu itu.
"Tapi kami khawatir dengan keadaan dia saat ini, kami sangat ingin sekali bertemu dengannya," rayu bapak itu.
"Astaga! Ternyata rayuan bapak juga nggak mempan," ucap Syafiq tertawa.
"Sepertinya dengan keadaan dia saat ini dia memang tak ingin bertemu dengan siapa pun," ucap bapak itu.
Syafiq melihat sekeliling berharap ia dapat ide. Dan ia pun berjalan menuju belakang rumah tersebut yang di ikuti bapak itu dari belakang.
"Waaaahhhh... pemandangan yang sangat mengaggumkan," ucap Syafiq terpesona.
Karena di belakang rumahnya adalah danau yang lebarnya sama dengan lautan.
Syafiq melihat ke atas gedung itu dan terlihat seorang pria di balkon tingkat 3 duduk si kursi roda sambil menatap danau tersebut.
"Pak, jangan-jangan dia adalah jamal?" tanya Syafiq menujuk ke arah pria itu.
"Ya benar itu," angguk bapak itu.
__ADS_1
"Hehehe... aku punya ide," ucap Syafiq menyengir.
"Hay pak jamal!" teriak Syafiq.
Pria itu melihat sekelilung mencari arah suara tersebut.
"Hey! kami di sini!" teriak Syafiq menyilang lalu membuka tangannya dengan lebar.
Pak jamal itu pun melihat ke arah Syafiq.
"Pak Jamal, boleh nggak aku minta sesuatu pada Anda, bisakah Anda datang ke vila di tepi pantai itu, aku mohon, minta maaflah dengannya, agar vila itu bisa aku tempati!" teriak Syafiq.
"Hey! Apa yang kau lakukan," ucap bapak itu kaget.
"Apa pun akan aku lakukan, itu juga demi kebaikan dia, aku rasa ia begini juga trauma dengan masa lalulnya," ucap Syafiq.
Pak Jamal hanya diam mentap Syafiq.
"Kenapa dia nggak ada respon? Apa aku kurang kencang teriakannya ya?" tanya Syafiq.
"PAK JAMAL, BISAKAH ANDA MENOLONG SAYA UNTUK MEMINTA MAAF DENGAN ARWAH YANG BERGENTANYANGAN DI VILA TEPI PANTAI ITU, JIKA ANDA MELAKUKANNYA AKU SANGAT BERTERIMA KASIH DAN WANITA ITU TIDAK AKAN BERGENTAYANGAN LAGI DI VILA ITU, SAYA MOHON INI JUGA UNTUK KEBAIKAN BAPAK, TERUTAMA KEBAIKAN DIA, KASIHAN DIA YANG TIDAK BISA LEPAS DARI MASALAHNYA DAN DIA TIDAK BISA TENANG, SAYA MOHON BIARKAN DIA BERISTIRAHAT DENGAN TENANG, AKU TAU BAPAK PASTI MASIH MENCINTAINYA KAN!" teriak Syafiq dengan suara yang hampir habis.
Namun pak jamal memutar kursi rodanya dan masuk ke dalam rumahnya.
"Astaga! dia malah masuk ke dalam rumahnya, sia-sia suaraku habis," keluh Syafiq.
"Kamu itu ngomong langsung kena di sasarannya, tentu saja dia sedih," ucap bapak itu.
"Berhubungan dia masuk aku akan meneriakinya sampai ia keluar, Satpamkan ngak juga ada, berarti aku bebas berbuat kerusuhan," ucap Syafiq.
"Pak Jamal, meskipun bapak sudah melenyapkannya, tapi jauh lubuk hati bapak pasti tersimpan rasa sayang kepada gadis itu, jika tidak, bagaimana bapak seperti itu saat ini, bapak pasti menyesalinyakan, kembalilah ke vila, minta maaflah dengannya, aku yakin jika dia pasti akan memaafkan bapak, atau mungkin bapak ada yang ingin di sampaikan, atau mungkin dia ada yang di katakan langsung dengan bapak, jika bapak mau marilah ikut dengan kami," teriak Syafiq lagi.
Pak jamal melihat Syafiq dari balik jendela sambil meneteskan air mata, sang pembantu ketika ingin nmenutup pintu kamarnya, pak jamal melarangnya dan ia ingin mendengar apa yang di bicarakan pria yang tak di kenal itu.
Bersambung
__ADS_1