
"Kenapa hanya aku yang di penjara! Kita melakukan kejahatan sama-sama, kenapa hanya aku di penjara, kenapa kalian tidak ikut di penjara!" teriak Roni geram.
"Kami mana ada melakukannya, kau sendiri yang ingin masuk ke geng itu, untung kami tidak ikut-ikutan," ucap temannya.
"Sialan kalian! Teman macam apa kalian! Di saat aku ke susahan kalian malah pergi!" bentak Roni marah.
"Maaf Roni, orang tua kami tidak boleh kami untuk berteman dengan nara pidana, kami juga tak mau ikut-ikutan menjadi nara pidana, kami masih waras dan masih memikirkan masa depan kami dan orang tua, bukan menghancurkan diri sendiri demi kepuasan balas dendam, kau yang terlalu berlarut-larut dalam dendammu, lagian kami juga tak terlalu dendam dengannya, dia juga tidak menganggu kita," ucap temannya.
"Kalian yang sudah memprovokasi aku menjadi seperti ini! Kalian membuat aku di sini!" ucap Roni murka.
"Jika kau menyalahkan semua orang atas kejadian ini, kapan kau akan merasa bersalah dan mengakui kesalahanmu, jika begitu kau tidak akan berubah," ucap temannya.
"Sudahlah! Cukup! Kalian jangan memarahi anakku lagi, dia sudah banyak berbuat salah tapi tolong jangan kalian pojokkan dia di saat dia sedang terpuruk seperti ini," ucap Ibunya sambil menangis.
"Kami nggak memojoknya Tante, apa dia pikir orang yang mengikutinya harus mendapat hukuman sama dengannya meskipun kami tidak melakukan kejahatan," ucap temannya lagi.
"Jika kalian datang hanya untuk memarahinya kalian lebih baik pulang saja!" teriak ibu Roni.
Mereka berdua pulang tanpa permisi.
"Ya sudah Nak. Mama sama papa pergi dulu, nanti kami ke sini lagi," ucap ibunya pamit.
"Mama... jangan pergi, aku ingin ikut dengan ibu," ujar Roni menangis.
"Nanti Mama datang lagi setelah pergi, Mama hanya pergi sebentar saja," ucap Ibunya melepaskan tangan Roni.
"Mama..." lirih Roni tak rela jika ibunya pergi.
"Mari kita pergi," ajak ibu Roni berjalan terlebih dahulu.
"Bang, aku pergi dulu," ucap Syafiq.
"Iya, hati-hati di jalan," angguk Brima.
__ADS_1
"Mama!!!!" Teriak Roni menangis.
"Haish.... seharusnya jika kau sayang dengan ibumu kau seharusnya tidak berbuat seperti ini, jika tidak berbuat kesalahan maka tidak akan tau artinya menyayangi hidup," ucap Brima.
Syafiq dalam mobilnya dan pelan-pelan melajukan mobilnya, sedangkan orang tua Roni mengikuti mobil Syafiq dari belakang.
Mobil itu bergandengan di jalanan.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit tempat Yedi di rawat inap.
"Mari ikut saya Tante, Om," ajak Syafiq.
Mereka mengangguk dan mengikuti Syafiq.
Tok!
Tok!
Tok!
Syafiq masuk bersama kedua orang tua Roni.
"Eh Syafiq, lho? Siapa mereka?" tanya Ibu Yedi.
"Untuk apa kau bawa mereka?" tanya Yedi dengan tatapan dengan kebencian.
"Mereka datang untuk meminta maaf, aku harap kau memaafkan mereka, mereka tulus untuk meminta maaf, maka dari itu meraka datang," ucap Syafiq.
"Jadi kalian yang melakukannya pada anak saya!" ucap ibu Yedi geram.
"Tante, tante, tante. Tante tenang dulu ya, anaknya memang melakukan ke salahan, tapi mereka datang niat untuk minta maaf, maafkan mereka, lagian anaknya juga sekarang sudah di penjara," ucap Syafiq menenangkan.
"Iya, kami akan membayar semua biaya pengobatan anak ibu," ucap ibu Roni.
__ADS_1
"Baguslah jika kau bertanggung jawab dan aku sangat bersyukur jika anakmu masuk penjara," ucap ibu Yedi kesal.
"Jadi kami berdua sangat tulus meminta maaf, semoga anak ibu tidak ada dendam dengan anak saya," ujar ibu Roni.
"Katakan pada anakmu, jika dia keluar dari penjara jangan lagi mencari anakku dan jangan berani menyakitinya lagi atau aku akan meminta hakim untuk di penjara selama-lamanya, jika kau terlambat saja datang, aku ingin anakmu di hukum seberat-beratnya," ucap ibu Yedi kesal.
"Terima kasih ibuk, saya pasti akan menasehatinya," ucap ibu Roni.
"Baguslah jika begitu," ucap Ibu Yedi tetap masih kesal.
"Baiklah ibu, kami ada uang 10 juta, mohon di terima, semoga anaknya cepat sembuh," ucap ibu Roni mengeluarkan uangnya dari dalam tas dan menyerahkan kepada ibu Yedi.
Ibu Yedi menerimanya. "Terima kasih," ucap ibu Yedi.
"Jika begitu kami permisi dulu buk, semoga anaknya cepat sembuh," ucap ayah Roni.
"Iya," ucap Obu Yedi singkat.
Mereka pun keluar dari dalam ruang tersebut dan meninggalkan rumah sakit tersebut.
"Gimana Yedi? Apa sudah agak mendingan?" tanya Syafiq.
"Udah mendingan meskipun masih terasa sakit bekas di pijak oleh Roni," ucap Yedi.
"Roni sudah di hukum, aku harap kamu memaafkannya," ucap Syafiq.
"Jika itu maumu, aku menurut saja, tapi bukannya tanganmu ingin di potong Roni, tapi kamu baik-baik saja," ucap Yedi penasaran.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih
__ADS_1